Dear, Uti. Kamu menganggap ini surat untuk dirimu sendiri. Saat usiamu telah 25 lebih. Dua bulan lalu di tanggal kelahiran itu kamu terlalu sibuk. Kini kamu menyadari satu hal. Setelah menjalani banyak hal dalam seperempat abad. Banyak kesimpulan yang kamu tetapkan untuk kehidupanmu. Beberapa hal yang kamu anggap tak boleh hilang sampai nafas terakhirmu. Di titik itu, kamu menjadi sesosok makhluk egois.

Kamu makhluk egois yang menginginkan jika kelak mati, ada orang yang sedih kehilangan dirimu. Namun, kamu tidak sepenuhnya meninggalkan mereka. Melainkan ada tulisan-tulisan buah karyamu yang membuat hati mereka tersenyum selamanya. Kata-kata yang membangkitkan gairah hidup mereka. Setidaknya pernah menjadi teman mereka berproses menjadi orang yang lebih baik.

Kamu makhluk egois yang tidak ingin mati kecuali di jalan yang Dia cintai. Perkataan mereka yang seringkali menilai dirimu terlalu a, i, u, tidak membuatmu gentar melangkah maju. Meski di dalam lingkungan yang tak semua setuju. Pun setiap hari berbeda pilihan baju. Yang terpenting tunjukkan akhlak dan budi baikmu.

Kamu makhluk egois yang bila tiba waktunya, hanya ingin menikah dengan orang yang tidak mencintaimu pada posisi pertama. Melainkan ketiga setelah Allah dan Rasul-Nya. Mereka anggap kamu berlebihan. Tidak, sama sekali tidak bagimu. Memang begitu seharusnya. Begitu pula hatimu pada orang itu kelak.

Kamu makhluk egois yang bila saatnya nanti, hanya ingin bersuamikan sosok bervisi Qur’any. Membangun keluarga yang menjadikan Qur’an sedekat-dekat aktivitas sehari-hari. Ia hal pertama dalam memulai hari, ia pula hal terakhir untuk menutup hari.

Kamu makhluk egois yang percaya Allah akan mempertemukan dengan makhluk langka itu. Entah dari mana datangnya. Seseorang yang benar-benar menerimamu sepenuhnya, tidak terkecuali ayah-ibumu, seluruh keluargamu.

Kamu makhluk egois yang menginginkan anak-anakmu nanti hanya diberikan pendidikan terbaik untuk mereka. Baik di sekolah formal maupun non formalnya. Pendidikan tak boleh terpisah dengan tarbiyah mereka. Apa pun yang kelak terjadi, tak ada yang boleh menghalangi mereka menerima hak-haknya itu nanti.

Kamu makhluk egois yang tidak akan menghapus mimpi-mimpimu untuk dunia ini. Menjadikan secuil bagian bumi menjadi tempat bernafas yang lebih baik. Meski tangan kecilmu tak sanggup menggapai. Tapi pikiran besarmu mesti akan sampai. Jika bukan kamu yang mewujudkan mimpi itu, maka generasi penerusmu bekerja bagai rantai.

Kamu makhluk egois yang semena-mena menggunakan kata egois. Tolong jangan artikan ia seperti yang tercantum dalam KBBI. Kamu hanya sedang ego-is.

Selamat kuucapkan padamu. Atas segala pencapaianmu hingga kini. Kamulah yang pertama kali harus menyayangi dirimu sendiri, sebelum orang lain. Kamu pendukung terbesar untuk dirimu. Pegang erat prinsip hidupmu. Iman dan percaya adalah kunci segala permasalahan. Ingat bahwa setiap ujian memberi satu pesan ‘Jangan ada lagi yang bukan karena-Nya. Jangan ada lagi yang bukan karena-Nya.’

Selamat mengarungi hari-hari yang mungkin masih panjang. Atau sebenarnya tak lama lagi. Kita bertemu di taman syurga-Nya nanti.

 

Dari: suara baik

 

Bengkulu, 14 Agustus 2018

 

Gambar: letterstomy25yearoldself.com

Advertisements