Preface

Selama kurang lebih tiga bulan ke depan, blog ini akan sering dipenuhi dengan tulisan bertanda “NHW #X IIP”. NHW adalah singkatan dari Nice Homework (atau biasa kita sebut PR), sedangkan IIP adalah singkatan dari Institut Ibu Profesional, yakni sebuah komunitas berbasis online yang sedang saya ikuti saat ini. Semoga NHW-NHW yang tertuang tidak hanya sekadar pemenuh kewajiban, tetapi menjadi tulisan sepenuh hati yang punya nilai manfaat untuk pembaca di mana pun berada. #berasapenyiarradio

“Siapa yang kehilangan waktu belajar pada waktu mudanya; takbirkan dia empat kali; anggap saja ia sudah mati. Seorang pemuda akan berarti apabila ia berilmu dan bertaqwa. Jika dua hal itu tiada, pemuda pun tak bermakna lagi.” (Imam Syafi’i)

Sebuah pesan yang sangat jleb itu mendarat di salah satu WA Group saya pagi ini bagai pedang tajam yang nancep ke dada Goblin. Nggak berdarah, tapi kerasa sakitnya. (Jiaaaa dia baper). Rasanya ALlah takdirkan pesan itu datang di saat yang sangat tepat. Ya, tepat karena cocok jadi pengantar NHW yang baru mau saya kerjain ini. Hihihi. #oportunis

Selain itu, tepat pula untuk saya kembali berintrospeksi ngapain cape-cape ngikutin komunitas IIP ini. Teringat komentar salah satu teman laki-laki di kampus yang kemarin bilang ke saya, “Ikut IIP? Kamu mau meng-ibu-i siapa?” Hahaha.

Maksudnya mungkin si Mas mau bilang begini, “Nikah aja belum, kok udah ikutan komunitas begituan?” Hehehe.

Kalau saya sih mikirnya santai aja, entah ALlah nanti berkenan jadiin saya seorang ibu beneran atau nggak, namanya ilmu selalu ada gunanya. Bakal jadi ibu atau nggak, insyaaALlah ilmu yang mau saya kejar ini akan worth it aver after. Bisa diterapin di mana pun, buat siapa pun. So, waktu dapet info IIP buka Batch baru –yang antusiasme teman-teman saya baik yang single maupun double/triple cukup tinggi juga- saya berpikir why not buat ikutan?

Kembali ke topik NHW #1, kali ini NHW yang kami dapat merupakan kelanjutan dari materi perdana IIP Batch #4 yang disampaikan Senin lalu dengan tema “Adab Menuntut Ilmu”. Dari materi itu, tim fasilitator IIP mengembangkan jadi beberapa poin pertanyaan NHW yang harus kami kerjakan di media sosial/blog/atau dokumen google drive yang diunggah.

Berikut pertanyaannya, 1) Tentukan jurusan ilmu yang akan Anda tekuni di universitas kehidupan ini. 2) Alasan terkuat apa yang Anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut? 3) Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan Anda rencanakan di bidang tersebut? 4) Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang Anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?

Sejak pertama kali membaca NHW Senin lalu sampai detik ini, saya masih berpikir bahwa NHW pertama ini saja sudah berat euy pertanyaannya. Hehehe. Butuh kontemplasi yang lama kalau pengin serius merancang target buat kehidupan yang akan datang. Okelah, akan saya coba jawab NHW kali ini dengan versi universitas kehidupannya Maruti Ahs.

Pertama, jika kehidupan ini adalah sebuah universitas yang memiliki jurusan-jurusan untuk kita pilih, saya ingin masuk ke Jurusan Pasukan Anti Monster, bisa disingkat JPAM. Hihihi. Karena dalam hemat saya, sebagian besar manusia di dunia menginginkan kehidupan yang aman-damai. Bukan begitu? Sementara, perjalanan sejarah dunia yang panjang menunjukkan bahwa perdamaian masih menjadi sesuatu yang utopis hingga saat ini.

Bisa jadi di negara yang kita tinggali kita merasa sangat damai, tetapi tidak dengan manusia di belahan dunia lain. Bisa jadi detik ini kita merasa sangat aman hidup sebagai manusia, tetapi di detik setelahnya bahaya besar datang menerkam. Semua itu terjadi seperti sebuah pergiliran yang tinggal mengikuti titah Tuhan. Kita adalah aktor yang mengikuti skenario-Nya. Kapan perdamaian yang holistik itu akan tercapai? Saya rasa saatnya nanti akan ada, yaitu sesaat sebelum kiamat.

Maka, sebelum ada manusia yang bisa memprediksi lama/tidaknya kiamat akan datang, banyak orang yang masih harus berjuang keras menegakkan perdamaian dan keadilan itu. Ya, dalam wacana yang saya yakini, mungkin dua hal itu bisa disebut sebagai cita-cita tertinggi seorang manusia bagi dunia. Saya hingga kini pun menggenggam cita agar bisa termasuk ke dalam golongan mereka.

Kalau jadi masuk Jurusan PAM, mungkin yang akan jadi dosen nanti adalah Power Rangers. Dosen tamunya Ultraman. Kuliah umumnya diisi Kamen Rider. Wqwqwq malah nostalgia tontonan anak 90-an. Lalu, semua mahasiswanya disuruh pakai seragam seperti mereka, dan punya kemampuan untuk… “Berubah!” Wkwkwk.

Tidak.. tidak… tantangan yang dihadapi dunia nyata kita tidak seperti monster yang dilawan Power Rangers. Tetapi, perang di antara berbagai pemikiran, yang bentuk dan medianya menyerang lebih secara diam-diam. Yang ini justru lebih mengerikan.

Kembali ke dunia nyata, karena Jurusan PAM yang saya bayangkan hanya ada dalam dunia khayal, maka dengan masih memegang semangat yang sama untuk dunia, saya ingin menekuni jurusan yang sudah pernah saya jalani di universitas sesungguhnya. Yakni, bidang arsitektur dan kajian budaya/media.

Lima tahun saya bergumul dengan dunia arsitektur dan mendapat gelar sarjana darinya, rasanya sayang jika ilmu itu terbuang sia-sia tanpa ada sedikit pun yang bisa saya kontribusikan. Meski, rasanya untuk terjun secara profesional ke dunia arsitektur menjadi suatu hal yang masih tampak abu-abu bahkan mustahil saat ini. Sempat terpikir untuk menyudahinya saja dan banting setir ke bidang yang lain (karena ada beberapa pertimbangan yang saya merasa tidak cocok menjadi profesional di bidang arsitektur). Tetapi, saya tidak ingin menutup diri. Saya akan mengembangkan ilmu dan amal yang bisa saya kerjakan terkait arsitektur, jika datang kesempatan untuk melakukannya.

Yang kedua, adalah bidang ilmu yang telah saya tekadkan untuk lebih menyeriusinya (bahasa apa ini). Yaitu, literasi. Bisa dibilang saya memang terlambat mengetahui passion terbesar yang saya miliki ini. Walaupun tanda-tandanya sudah banyak muncul sejak saya masih duduk di bangku SD dan berlanjut sampai SMA. Tapi, qadarullah belum ketahuan 😀 #SiUtiGakPeka Baru kerasanya setelah memilih jurusan arsitektur dan aktif bersama para pegiat literasi semasa S1. Selesai lulus S1, saya beranikan diri mendaftar pekerjaan sebagai wartawan. Lamaran pertama ditolak, lamaran kedua diterima dan saya benar-benar mewujudkan impian menjadi wartawan meski hanya seumur jagung (1 tahun). Selepas bekerja sebagai wartawan, saya memutuskan untuk lanjut sekolah saja. Alhamdulillah, diterima dengan beasiswa di tempat saya sekarang kuliah, yakni Jurusan Kajian Budaya dan Media.

Banyak yang tanya, “Kuliah arsitektur kok jadi wartawan? S1 arsitektur kok S2-nya Kajian Budaya dan Media?” Jumlah orang yang melontarkan pertanyaan itu sudah tidak terhitung. Hampir selalu saya dapati setiap berkenalan dengan orang baru atau teman lama yang menanyakan kabar. Saya pun sudah terbiasa tidak kaget atau bingung untuk memberikan jawaban. Hanya senyum dan biasanya bilang, “karena menemukan jalan hidup yang lain, Pak/Bu.” Hohoho. Nggak selalu seperti itu sih jawabannya, tergantung siapa yang saya hadapi.

Kalau boleh cerita (semoga nggak bosen denger curhatan saya), kuliah di jurusan yang baru sekarang saya merasa sangat senang. Karena saya merasa kuliah belum pernah semenyenangkan ini. Saya menyukai semua materi yang ditawarkan di kelas. Meski… yah namanya belajar ilmu sosial yang berkiblat ke Barat, banyak juga teori yang tidak saya yakini kebenarannya. Prinsip saya, ambil yang positif, buang jauh yang negatif. Biner oposisi, dong? Biarin, emang salah? :p

Eh eh eh, ini saya udah cerita sampai mana, ya? Rasanya makin melenceng dari NHW XD *baca daftar pertanyaannya lagi* Jadi begitulah kira-kira, bunda-bunda. Tentang sedikit jurusan di universitas kehidupan yang ingin saya tekuni secara general dan konkritnya. Itu baru bicara peran saya sebagai individu.

Selain itu, peran untuk keluarga nanti. Menjadi ibu dan istri sepertinya sudah wajib dipelajari setiap wanita yang punya arah tujuan ke sana, ya. (Ada juga wanita yang lebih memilih menjadi single seumur hidupnya) Setelah keluarga, rasanya saya masih memiliki tuntutan peran untuk masyarakat sekitar. Untuk tetangga rumah, untuk masyarakat yang lebih luas, jurusan yang ingin saya tekuni masih seputar literasi dan mungkin keagamaan (misalnya, guru TPA gitu). Dua hal itu yang tampaknya sesuai kafaah ilmu saya –yang fakir- dan bisa saya bawa ke masyarakat.

Beberapa poin dalam daftar mimpi saya adalah mendirikan rumah baca, taman pendidikan Alquran, perpustakaan gratis, membangun website tentang pengetahuan literasi yang bisa diakses seluruh masyarakat Indonesia bahkan dunia, menjadi pemred sebuah media, menjadi penulis buku-buku, membuat penerbitan, mendesain perpustakaan atau juga sekolah alam, dan seterusnya yang terlalu panjang untuk disebutkan. Doakan ya, bunda-bunda, supaya saya diberi kekuatan dan kesempatan untuk mewujudkan semuanya.

Ternyata sangat banyak, ya jurusan yang bisa kita tekuni di kampus kehidupan ini. Ya, tak lain karena hidup sesungguhnya adalah proses belajar tak berkesudahan. Universitas tanpa ujung. Maka, mengutip pesan Imam Syafi’i sebelumnya, mereka yang berhenti menuntut ilmu dan belajar di kampus kehidupan ini seperti orang yang mati sebelum dicabut nyawanya. Penting bagi kita untuk selalu mendekat kepada orang yang haus ilmu, tak pernah puas memperbaiki diri. Agar kita pun tertular untuk senantiasa bersemangat menuntut ilmu.

Ilmu bisa diperoleh di mana saja. Tak sesempit ruang-ruang kuliah, tak sebatas lembaran-lembaran diktat. Bahkan setiap orang yang kita temui adalah ilmu. Kita adalah akumulasi dari kumpulan sejarah orang-orang lain. Maka, jangan lupakan adab, di mana pun ilmu kita dapat. Menuntut ilmu adalah salah satu cara meningkatkan kemuliaan hidup kita, maka carilah dengan cara-cara yang mulia (kalimat penutup NHW by IIP, Red).

Saya sendiri, masih harus banyak membenahi adab dalam menuntut ilmu. Baik itu dalam berinteraksi dengan orang lain, memperlakukan sumber ilmu seperti buku (mahasiswa masih sering melahap buku bajakan dan fotokopi-an, eh T-T), cara bersikap kepada guru, dan seterus-seterusnya. Menjaga keberkahan ilmu, salah satunya adalah lewat memelihara adab.

Mengapa adab begitu penting? Karena adab adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya. Adab mestinya didahulukan sebelum ilmu. Dengan begitu, akan terjadi pola harmonis antara ilmu dan penuntutnya. Semoga di ujung usia kelak, kita dicatat sebagai penuntut ilmu yang menebar cahaya bagi sekitarnya.

Featured Image: Si Uti Lari-lari di Sekolah Laskar Pelangi (dok. pribadi)

 

Bantul, 20 Mei 2017

19.59

Advertisements