Pernah tinggal di sebuah pondok pesantren mahasiswi di Yogyakarta, memberi kesempatan saya mengenal sahabat-sahabat sholihat yang luar biasa. Terima kasih, Allah, untuk masa remaja yang begitu indah! Meski usia saat itu tak lagi belia, bisa dibilang kami telah memasuki usia senja remaja. Hehehe.

Sepak terjang produktivitas mereka di kampus, dibarengi komitmen menjaga targetan ibadah harian tak henti mengalirkan inspirasi dari hari ke hari. Terkadang, inspirasi itu muncul dari kisah atau kejadian yang mereka bagikan setelah seharian beraktivitas di luar.

Seperti pagi itu, salah seorang teman yang merupakan tetangga kamar saya bercerita tentang peristiwa yang dia alami selang beberapa hari sebelumnya. Kejadian yang sempat membuatnya awkward dan bingung. Hingga ia merasa perlu bercerita dan meminta pendapat kami.

Di suatu sore, teman saya itu (sebut saja namanya Dewi) pulang dari kampus saat matahari hampir tenggelam. Hanya beberapa menit sebelum Adzan Maghrib tiba. Baru selesai mengurus tanaman di greenhouse katanya. Dewi mengayuh sepedanya dari kampus menuju kost. Selain tinggal di asrama, ia memang menyewa satu kamar kost yang berlokasi lebih dekat kampus. Maklum, saat itu Dewi yang merupakan mahasiswi Fakultas Biologi sedang dalam masa penelitian untuk skripsinya. Demi dua bulan lagi mengejar gelar sarjana.

Melewati Jalan Kaliurang yang ramai kendaraan, Dewi mengayuh sepeda di antara deretan mobil dan motor yang berjejer bagai ular. Ia berharap dapat tiba di kost sebelum waktu maghrib. Saat gang menuju rumah kost sudah dekat, dipilihnya jalur trotoar sembari menuntun sepeda di samping kanan.

Begitu tiba di depan gapura putih bertuliskan nama sebuah gang, Dewi pun belok kanan. Sedikit lega, sudah terbebas dari jalan raya yang padat merayap. Dewi kembali menaiki sepedanya. Namun, baru saja beberapa kayuhan, tangannya merasa dijatuhi titik-titik air. Langit yang sedari tadi gelap akhirnya menumpahkan hujan. Hujan rintik-rintik berubah kian lebat, menguasai jalanan. Dewi memilih berteduh di sebuah gapura kecil beratap seng.

Allahu akbar… Allahu akbar…

Ternyata adzan sudah berkumandang. Beradu dengan derasnya suara hujan yang langit limpahkan. Di sini lah peristiwa itu bermula. Loh, jadi dari tadi belum dimulai? Hehe. Sabar sedikit lagi, ya…

Dewi masih berdiri di sana. Berlindung di sudut tiang gapura berharap hujan segera reda. Dari arah Barat, sesosok manusia berjalan mendekat. Cahaya remang-remang dari beberapa rumah warga tak cukup menampakkan jelas wajahnya. Namun, terlihat orang itu seperti mencincing sarung. Sepertinya sedang bergegas menuju masjid sembari membawa payung.

“Mbak, kejebak hujan, ya?”

Dewi tak menjawab. Dia sedang menujukan pandangan ke arah yang berlawanan dari kedatangan pemuda itu.

“Mbak??,” tanya pemuda itu lagi.

“Oh, iya, Mas,” ujar Dewi yang baru tersadar pemuda itu memanggilnya sedari tadi.

“Ini, Mbak, pakai payung saya saja,” timpal sang pemuda.

“Eh, nggak usah, Mas. Saya nunggu agak reda saja,” jawab Dewi. Tentu ada perasaan tidak enak menerima bantuan dari orang asing.

Nggak apa-apa, Mbak. Pakai saja. Masjidnya sudah dekat. Rumah saya juga cuma di sana,” balas pemuda itu sembari menunjuk sebuah rumah yang sudah terlihat atapnya.

Dewi tahu orang tersebut berusaha meyakinkannya untuk meminjam payung. Namun, perasaan tidak enak bercampur takut membuatnya enggan menerima tawaran itu. Orang yang belum dikenal. Meski penampilannya tidak terlihat seperti orang jahat.

Nggak usah, Mas. Silakan, Mas lanjutkan jalan ke masjid saja,” ujar Dewi sambil menatap tanah. Tidak berani melihat langsung lawan bicaranya.

“Terus mbak mau menunggu sampai kapan? Ini hujannya masih deras lho, Mbak. Bisa-bisa masuk angin atau ketinggalan waktu shalat.”

“Ehmm, gimana kalau payungnya saya beli saja, Mas?” Dewi berpikir dengan membeli payung itu bisa menyelesaikan masalah. Kalau payung itu hanya berstatus barang pinjaman berarti dia harus mengembalikannya.

“Aduh, Mbak, saya bukan mau jualan payung. Ini saya pinjamkan saja, terserah mau dikembalikan kapan.”

“Eh, nggak deh, Mas. Terima kasih banyak. Saya tetap menunggu hujan agak reda saja.”

“Baiklah, Mbak. Kalau begitu saya pamit pergi dulu,” pemuda itu akhirnya menyerah dan meneruskan perjalanan ke masjid.

Namun, kisahnya belum berhenti sampai di sana. Lima belas menit berlalu. Dewi belum beranjak dari gapura itu. Beberapa orang jamaah terlihat berjalan keluar dari masjid.

“Loh, Mbak, masih di sini. Tunggu saya pulang sebentar ambil jas hujan. Mbak pakai sepeda kan? Tunggu nanti saya ke sini lagi,” tukas pemuda tadi saat melihat Dewi masih di tempat yang sama.

Nggak usah, Mas. Nggak perlu repot-repot. Saya nggak enak ambil barang orang,” ujar Dewi masih kukuh.

“Sudahlah Mbak tunggu saja, biar saya ambilkan sebentar,” kali ini orang itu membujuk tanpa menunggu jawaban Dewi.

Tidak bisa berkutik lagi. Belum sempat Dewi manyampaikan alasan lagi untuk menolak, pemuda itu sudah berjalan menjauh. Berlari kecil menuju rumah yang tadi sempat ia tunjukkan. Tidak sampai lima menit, pemuda itu sudah kembali. Menggunakan payung yang sama serta membawa jas hujan yang terlipat rapi.

“Ini, Mbak, silakan. Ayo Mbak lekas pulang, hari sudah gelap.”

“Tapi gimana cara saya ngembaliinnya, Mas?”

“Nggak usah dikembalikan, Mbak. Jas itu buat Mbak saja.”

Antara bingung dan kaget untuk menerima tawaran itu. Di satu sisi Dewi memang membutuhkannya karena hujan belum reda. Waktu pun sudah semakin malam, Dewi berpikir mungkin ini pertolongan Allah yang ditujukan kepadanya.

“Maaf sudah merepotkan, Mas. Terima kasih banyak. Semoga Allah membalas dengan yang lebih baik.”

“Aamiin.”

“Kalau begitu saya pergi dulu.”

Begitulah akhirnya. Bagi saya, kisah nyata yang dialami Dewi itu meninggalkan kesan yang cukup besar. Dari sisi si pemuda, mengajarkan tentang ringan tangan dan tidak tanggung-tanggung memberi pertolongan. Tipe suami idaman? Jadi teringat kisah Anna dan Abdullah Azzam di film KCB saat di dalam bus? Hehehe.

Dari sisi Dewi, kita bisa melihat adanya keteguhan memelihara izzah dan iffah yang saat ini semakin langka dimiliki kaum muda. Sikap tidak memudahkan diri menerima bantuan demi menjaga harga dirinya. Apalagi meminta-minta.

Izzah adalah kesucian atau kemuliaan. Sementara, iffah adalah kemampuan untuk menjaga kemuliaan itu. Iffah juga berarti menahan, yakni menahan diri sepenuhnya dari perkara-perkara yang Allah SWT haramkan. Seorang yang ‘afif adalah orang yang bersabar dari perkara-perkara yang diharamkan walaupun jiwanya cenderung kepada perkara tersebut.

Termasuk makna iffah pula, orang yang menahan diri dari meminta-minta kepada manusia. Perbuatan suka meminta-minta dapat menyebabkan kemuliaan seseorang jatuh. Terlebih perilaku yang lebih berat dari meminta-minta, seperti korupsi, mencuri, dan merampok, dapat menghinakan pelakunya.

Islam senantiasa menuntunkan setiap penganutnya untuk menjaga kemuliaan diri. Namun, pesatnya teknologi informasi saat ini membawa tantangan yang besar dalam kehidupan generasi muda muslim. Beragam ideologi masuk dengan akses yang begitu mudah, memunculkan perilaku umat yang terang-terangan melanggar batasan syariat. Sedih, ya…

Masih ingat, isu tentang pemerintah RI yang akan mendatangkan kelompok girlband asal Korea Selatan Agustus lalu? Meski tidak memiliki kesesuaian dengan kearifan lokal bangsa Indonesia, tetap banyak yang mendukung datangnya girlband tersebut ke tanah air. Sebagian besarnya adalah generasi muda, yang di antaranya merupakan fans setia dari girlband tersebut.

Meskipun tampak jelas pula bahwa girlband dari negeri ginseng kebanyakan merupakan wujud industri hiburan menjadikan perempuan sebagai target objektifikasi. Dengan tuntutan penampilan terbuka dan menari sembari menunjukkan lekuk tubuhnya. Dipadu dengan kepiawaian melantunkan lagu-lagu yang easy listening menghasilkan banyak penggemar. Tak terelakkan lagi, gaya berpakaian ala girlband ikut ditiru sebagian generasi muslim masa kini.

Lalu, kemana perginya iffah? Masihkah ada rasa malu kita di hadapan-Nya? Yang tak pernah sedetik pun kita lepas dari pengawasan Sang Maha Melihat. Sedangkan setiap dzarrah perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban. Yuk, kita mulai dari menjadi pribadi yang mulia dan memelihara kemuliaan itu. Berdiri bangga di atas Bumi-Nya, menjadi satu dari sekian banyak pemuda yang langka 😉

 

Bantul, 11 Agustus 2017

Tulisan ini dibuat sebagai salah satu naskah buku antologi Menyambut Generasi Z Muslim

 

Sumber gambar feature: Google Image

Advertisements