Belajar Karena Renjana

ren.ja.na /rênjana/
n rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya)

Seluruhnya 80 peserta. Berusia 25-50 tahun. Ya, saya termasuk di batas bawah. Masih (sangat) junior. Dari seluruh provinsi di Pulau Jawa.

Berkumpul selama 5 hari di Yogya. Menyatu karena kesamaan visi dan cita untuk literasi. Katanya Yogya kota penuh kenangan. Bahkan bagi yang ditinggalkan.

Itulah jadinya jika kita satu renjana. Materi, tugas, dan ujian-ujian serasa ikut UN bahasa Indonesia kembali tak kenal henti membuat remuk badan. Namun, hati demikian riang.

Bertemu dengan para pegiat literasi dari komunitas, penulis, guru-guru bahasa Indonesia terbaik regional Jawa. Tak pernah bosan. Kisah perjuangan mereka selalu membuat hati bergetar.

Namanya notabene seniman, suasana ruang tak pernah tenang. Deretan kekonyolan, lawakan, ledek-ledekan menghiasi. Sepanjang kelas kami tertawa saja. Hahaha.

Para pahlawan literasi. Semoga semakin banyak kesempatan mengabdi setelah ini. Merajut rindu jadi temu didekap asa yang kalbu.

 

Grand Inna Malioboro Hotel, 29 April-3 Mei 2019,

 

Setiap peserta diminta mempraktikkan aksi literasi ke masyarakat. Praktik kelas menulis kepada anak-anak SD oleh Uti.
Peserta lain berperilaku selayaknya sasaran aksi masing-masing fasilitator (dari anak-anak sampai narapidana bahkan PSK!)

 

 

 

 

 

 

 

 

Kelas B yang terdiri dari para pegiat literasi (kebanyakan seniman jadi sepanjang kelas ribut banget dan kacauuu pokoknya, seru!!!). Sedangkan kelas A berisi para guru mulia 🙂
Bersama kakak novelis kesayanganku, Kak Mell Shaliha

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bersama para mantan dan masih anggota FLP. Kak Mell FLP Hongkong, Pak Rafif FLP Jatim, Kak Imam FLP Cirebon, dan Uti FLP Yogya.
Endorse dulu, sist. Buku Kepak Cahaya karya Rafif Amir (FLP Jatim).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum semua, kamera nggak muat…
Bersama novelis Achi TM (tengah-pink)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebagian perwakilan Jogja
LLLL

 

 

 

 

 

 

 

😀

 

 

 

 

Advertisements