Setiap manusia adalah penulis bagi kehidupannya. Kita diberikan kesempatan untuk berusaha dan menentukan pilihan. Meski hasil akhir ada di tangan Tuhan.

Terhadap sesuatu yang terjadi di dunia ini, kita diberikan pilihan terhadap prasangka yang muncul terkadang tanpa diundang. Apakah prasangka baik atau prasangka buruk yang bersemayam.

Kepada saudara seiman, Rasulullah perintahkan kita untuk selalu berprasangka baik. Carilah 40 alasan untuk berprasangka baik pada saudaramu di balik sebuah keburukannya. Begitu kata sang baginda.

Terlebih kepada Allah, Sang Pencipta segala yang ada dan segala yang terjadi. Seorang yang masih menjaga iman di hati tidak diperkenankan berprasangka buruk terhadap ketentuan-Nya.

“Jangan pernah beri celah untuk berprasangka buruk kepada Allah.” Kalimat itu yang hendaknya selalu tersebut dalam hati ketika mengalami ujian demi ujian. Karunia-Nya tak terhitung, nikmat-Nya tak terbalaskan, hikmah-Nya tak terhingga oleh keterbatasan akal kita.

Lambat laun saya ikut menyadari, hidup ini ialah sejauh mana kita selalu meminta pertolongan-Nya dan sekuat apa kita menjaga prasangka baik kepada-Nya. Tidak ada satu pun yang mampu kita lewati tanpa pertolongan Allah sepanjang hidup ini.

Namun, menciptakan semua itu dalam benak kita bukan hal yang mudah. Sebab, itulah ujiannya, yang harus selalu kita lalui dalam beragam-ragam peristiwanya. Itulah yang Dia kehendaki. Agar kita pelan-pelan mengenal dan merasakan betapa besar kekuasaan-Nya.

Ujian demi ujian melatih keyakinan kita untuk senantiasa menjaga prasangka baik. Tentu itu tidak mudah. Terkadang justru sangat berat. Bagaimana agar hati memiliki prasangka baik?

Berprasangka adalah berimajinasi. Membangun prasangka baik seperti menciptakan imajinasi baik terhadap sesuatu yang kita prasangkai. Selain menguatkan hati, berprasangka juga tentang berkreasi dalam pikiran. Sebagaimana seorang penulis atau sutradara film, kita pun bisa menciptakan berbagai imajinasi baik untuk sesuatu yang kita sedang alami.

Pikirkan pula imajinasi-imajinasi tentang masa depan yang lebih baik. Setiap imajinasi yang kita ciptakan tentu sering diiringi pula dengan keraguan, “apakah memang demikian seperti yang aku pikirkan?” Tidak ada seseorang pun yang benar-benar tahu. Hanya Ia pemilik rahasia masa depan.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Telah jelas perbedaan antara husnuzhan dan ghurur (terpedaya  diri sendiri). Berprasangka baik mendorong lahirnya amal, menganjurkan, membantu dan menuntun untuk melakukannya. Inilah sikap yang benar. Tapi kalau mengajak kepada pengangguran dan bergelimang dalam kemaksiatan, maka itu adalah ghurur (terpedaya diri sendiri). Berprasangka baik itu adalah pengharapan (raja), barangsiapa pengharapannya membawa kepada kataatan dan meninggalkan kemaksiatan, maka itu adalah pengharapan yang benar. Dan barangsiapa yang keengganannya beramal dianggap sebagai sikap berharap, dan sikap berharapnya berarti enggan beramal atau meremehkan, maka itu termasuk terpedaya.”

Tidak ada yang salah untuk sebuah prasangka baik yang barangkali salah. Bukankah untuk setiap prasangka baik ada balasan yang Ia pasti berikan? Sebab kita telah mengikuti kehendak-Nya. Sebab kita telah mengikuti keinginan-Nya atas diri kita. Serta mengabaikan segala bisikan buruk yang menodai prasangka baik kita. Melawan setiap perasaan berat yang membebani penerimaan kita.

Dengan berprasangka baik, artinya kita sedang mendorong dan mendekatkan diri kepada Dia yang Maha Baik.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku tergantung persangkaan hamba kepadaKu. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingatku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diriKu. Kalau dia mengingatKu di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (H.R. Bukhari, no. 7405 dan Muslim, no. 2675)

Advertisements