Beginning is difficult. Kalimat itu terlontar dari Ernest Hemingway. Seorang penulis terkemuka asal Amerika. Saat mengungkapkan pendapatnya tentang proses menulis.

Bahkan salah satu penulis paling terkenal Amerika yang pernah meraih Pulitzer Prize dan nobel di bidang sastra itu mengalaminya. Masalah yang acap kali dirasakan oleh penulis pemula. Yaitu, memulai tulisan. Namun, berkali-kali pula Hemingway berhasil melawan kesulitan itu. Terbukti dari puluhan novel yang dia lahirkan dan ratusan bahkan ribuan karya tulis lainnya.

Saya juga teringat, pada kisah Helvy Tiana Rosa yang sedari kecil hobi menonton film kungfu. Bruce Lee, adalah salah satu aktor favoritnya. Namun, selama 30 tahun perempuan yang kerap disapa Bunda Helvy itu menonton kungfu, dia tetap tidak bisa kungfu.

”Seperti itu pula menulis. Sama seperti kungfu, harus practice,” ujar Bunda Helvy di sebuah talkshow yang pernah saya ikuti.

Beberapa tahun sebelumnya, saya pernah mendengar 3 tips menulis andalan Bunda Helvy. Yang juga dia sebutkan di dalam talkshow tersebut. Apa itu? Dia bilang hanya butuh 3 hal, yakni menulis, menulis, dan menulis.

Apakah kita termasuk orang yang berharap bisa menjadi penulis? Kalau iya, tidak perlu terlalu banyak wacana. Mari mulai menulis. Menulislah segampang kita berbicara. Menulislah sepanik kita tidak mengungkapkan keinginan lewat berbicara.

Jika sulit, mungkin kita butuh membentuk kebiasaan. Yang pastinya diawali dengan menulis kalimat pertama, paragraf pertama, kisah pertama, atau pun catatan harian pertama. Menurut saya, catatan harian, sama sekali bukan jenis tulisan yang patut diremehkan.

Ingat Soe Hok Gie? Pemuda pemberani yang mengisi media massa di zamannya dengan berbagai tulisan karyanya itu terbiasa menulis cacatan harian sejak berumur 14 tahun. Jurnal itu terus terisi hingga beberapa hari menjelang hari wafatnya Gie di usia 27 tahun. Hingga kini, kumpulan cacatan harian Gie yang terhimpun dalam buku Catatan Seorang Demonstran telah dicetak puluhan kali.

Kembali lagi, menjadi penulis dimulai dari suatu kebiasaan menulis. Membentuk sebuah kebiasaan bisa jadi ibarat melakukan hijrah. Kita mengganti kebiasaan yang kurang baik menjadi kebiasaan baik. Misalnya, mengganti kebiasaan tidur setelah subuh dengan 30 menit menulis.

Bulan Ramadhan rasanya menjadi bulan yang sangat tepat. Allah SWT menyediakan waktu khusus 30 hari untuk kita bertransformasi. Menahan nafsu, meninggalkan kebiasaan buruk, dan menjemput kemenangan untuk kembali suci. Termasuk, bertransformasi menjadi penulis sejati, jika mau. Yang tentunya tidak berhenti ketika Ramadhan berakhir.

Saya akan menantang diri saya untuk menulis satu tulisan setiap hari selama Ramadhan. Apa pun bentuknya. Lintasan opini atau pun cerita fiksi yang tetiba terpikirkan. Mungkin juga catatan harian dari setiap pengalaman berkesan.

Sebuah punishment jika gagal melakukannya? Sepertinya layak dicoba. Misalnya, jika tidak menulis, harus menulis dua tulisan di esok harinya. Atau jika tidak menulis, tidak boleh menonton film yang sangat sedang ingin saya tonton. Beranikah kita bertransformasi menjadi penulis?

 

*Diterbitkan (katanya, kalau jadi, belum lihat sendiri) di buku Catatan Harian Ramadhan FLP Wilayah Yogyakarta dengan judul tulisan Transformasi Menjadi Penulis (setelah dipikir-pikir lagi kesannya formal banget, ya. Hehe) Cekidot!

#Ramadhan…nulis,kuy!

 

 

Advertisements