Jika ada hadiah terindah yang dimiliki dunia saat ini, itu adalah Alquran. Alquran ialah satu-satunya mukjizat yang akan kekal hingga akhir zaman. Alquran ialah mukjizat terkuat bagi alam semesta. Alquran tidak pernah bosan menyajikan hidangan baru nan lezat bagi manusia di setiap zaman.

Rasulullah SAW sebagai manusia paling mulia menjadi teladan umat sepanjang zaman. Padanya Alquran pertama kali diturunkan. Selanjutnya, imamnya adalah Alquran, akhlaknya adalah Alquran. Alquran adalah musim semi di dadanya, mengenyahkan kesedihan hatinya, dan menjadi cahaya hatinya. Cahaya Alquran adalah yang paling terang di atas semua cahaya.

Tetapi, bagi umat Muhammad SAW kini, masihkah cahaya itu seterang sebelumnya? Bagi Alquran, cahaya itu tak pernah redup barang sekejap. Ia terjaga dan terpelihara oleh-Nya dan penduduk langit sebagaimana awalnya.

Namun, bagi mata-mata manusia yang memandang, cahaya itu sedang tertutup kabut. Hingga mata umat kini tak lagi melihat cahayanya sebenderang para sahabat dahulu. Mata manusia tersilaukan keindahan dunia yang mendustakan.

Kini, semakin banyak kabut yang menutupi cahaya Alquran. Keindahan dunia hanya seperti kabut pekat jika dibandingkan cahaya Alquran. Sementara, Alquran adalah Nur, cahaya yang Allah SWT turunkan untuk menunjuki manusia ke tujuan yang paling utama dan jalan yang paling lurus.

Budaya manusia abad baru menciptakan kabut-kabut yang mengalihkan pandangan dari cahaya Alquran. Mata manusia kini memandangnya sebagai cahaya-cahaya baru. Seperti kembang api yang bersinar indah dan memesona, namun sesungguhnya begitu singkat. Cahaya Alquran tertutupi cahaya-cahaya kecil dan singkat namun begitu ramai. Hingga hati manusia tidak lagi dapat merasakan keindahan serta kehangatan cahaya Alquran.

Tantangan bagi mukminin di zaman ini demikian besar. Sebab bertambah banyak cahaya-cahaya palsu yang mengalihkan kehidupan manusia dari cahaya Alquran yang kekal. Untuk itu, di setiap kondisi zaman diperlukan para ahlul Quran yang lebih aktual dan komprehensif dalam memahami Alquran. Kemudian, ia menerangi sekelilingnya dengan cahaya itu berdasarkan kondisi dan bahasa zaman.

“Maka, berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Alquran) yang telah Kami turunkan.” (At-Taghabun: 8)

Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi menjelaskan di antara ciri-ciri cahaya ialah cahaya itu sendiri merupakan sesuatu yang terang dan juga menerangi yang lain. Ia menyingkap hal-hal yang tersembunyi, menjelaskan hakikat, membantah kebatilan, menolak syubhat, membimbing orang-orang yang kebingungan atau jika ada jalan yang rumit.

Dia menurunkan Kitab-Nya agar kita mendalaminya, memahami rahasia-rahasianya, mengeluarkan karunianya, dan masing-masing menurut kadar kemampuan dan di mana dia berpijak. Di sana tidak ada sesuatu yang lebih baik selain dari memahami apa yang dikehendaki Allah dari diri kita.

 

Bantul, 27 Juni 2019