Tidak ada sesuatu yang terjadi di dunia ini secara kebetulan. Kadangkala, kesempatan tak terduga datang untuk mengubah jalan takdir. Menjadi batu lompatan besar dalam kehidupan. Seperti saya yang memiliki target untuk fokus menulis buku selepas rampung dengan urusan administrasi wisuda. Menjadi penulis profesional adalah suatu hal yang masih menjadi mimpi bagi saya. Baru mau memulai, ternyata Allah hadirkan kesempatan langka yang menegaskan mimpi itu.

Akhir Maret lalu, sebuah pengumuman menyatakan saya terpilih menjadi Instruktur Literasi Baca-Tulis 2019 tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sejak 2009 saya mulai terlibat dalam barisan para pegiat literasi. Dimulai dari hanya ikut bantu-bantu. Sekitar tiga tahun belakangan saya mulai berpikir untuk mendedikasikan diri di bidang ini. Seperti menemukan sebagian jiwa saya di sini.

Setelah mengikuti pelatihan instruktur literasi, saya merasa ia seakan ajakan untuk terbang semakin tinggi. Dari orang-orang yang ditemui dan materi yang diberikan dalam prosesnya, memberikan begitu banyak inspirasi.

Sebelumnya, saya mengirimkan berkas seleksi hanya untuk coba-coba. Tidak memiliki ekspektasi tinggi untuk diterima. Berkas yang diminta cukup banyak. Di antaranya daftar riwayat hidup, foto diri dalam kegiatan literasi, daftar karya tulis yang pernah dipublikasikan, dan esai dengan tema “Literasi Menyongsong Peradaban Masa Depan”. Selain itu semua, sesungguhnya ada satu syarat yang paling melumpuhkan rasa optimistis saya, yaitu kriteria usia peserta 25—45 tahun. Artinya saya berada di batas terbawah dan harus siap berkompetisi dengan orang-orang yang jauh lebih berpengalaman.

Namun, takdir datang tanpa pernah salah alamat. Tiga hari setelah mengirim seluruh berkas, pengumuman peserta terpilih tingkat provinsi keluar. Ada nama saya di urutan keenam dari sepuluh nama yang tertera. Enam di antaranya perwakilan guru bahasa Indonesia, sementara empat lainnya pegiat literasi termasuk saya.

Ini adalah kesempatan pertama saya terpilih dan terlibat dalam kegiatan yang dilangsungkan Balai Bahasa Yogyakarta (BBY) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Selama ini hanya sering mendengar saja sambil membayangkan bahwa Balai Bahasa Kemendikbud adalah lembaga tertinggi pemerintahan yang mengurusi perihal literasi. Kalau saya jadi PNS aka. ASN, mungkin saya akan melamar ke sana. Hehehe.

Sejak awal seleksi berkas, BBY telah menginformasikan bahwa dari hasil seleksi tingkat provinsi akan dipilih dua nama saja. Untuk lanjut ke tingkat nasional. Satu dari kalangan guru dan satu dari pegiat literasi. Sebelum terpilih dua nama, kesepuluh instruktur terpilih diwajibkan mengikuti pelatihan selama dua hari di BBY. Pelatihan yang sekaligus menjadi ajang penilaian selanjutnya.

Di tulisan kali ini, saya akan menuliskan pelajaran-pelajaran penting yang saya dapati dari pelatihan tersebut. Sebagai bentuk rasa syukur sekaligus mendokumentasikan hal-hal terkait literasi yang sungguh sayang jika dilupakan.

Sungguh saya merasakan kesempatan ini sebagai sebuah anugerah. Bisa berada di antara sembilan guru dan pegiat literasi yang luar biasa. Benar dugaan saya di awal, rata-rata bapak dan ibu yang lain berusia 35 tahun ke atas. Jadilah saya peserta paling bontot.

Pada pelatihan dua hari itu, kami saling bertukar informasi dan pengalaman berkegiatan literasi di lingkungan masing-masing. Juga bercerita tentang karya-karya tulis yang pernah dilahirkan. Tak sedikit dari bapak dan ibu di sana memiliki deretan prestasi lomba menulis di tingkat nasional. Juara 1 atau 2 dalam kategori berbagai jenis buku. Ada pula yang tulisannya di media sudah lebih dari 80 artikel. Saya mungkin sudah lebih dari 500 tulisan, tetapi itu karena kewajiban saat masih menjadi wartawan. Hehe.

Itu adalah inspirasi saya yang pertama. Tentang tingginya prestasi dan produktivitas berkarya mereka.

 

IMG-20190402-WA0005
Suasana saat mengerjakan tugas di tengah pelatihan

 

Inspirasi kedua, ialah terkait materi-materi yang disampaikan dalam pelatihan. BBY menghadirkan dua pembicara pakar dalam tema literasi. Hari pertama pelatihan diisi oleh Drs. Umar Sidik, M.Pd. dan hari kedua diisi oleh Drs. Herry Mardianto. Para pembicara kerap menyampaikan kondisi literasi masyarakat Indonesia saat ini. Ternyata, dapat disimpulkan bangsa kita berada di taraf memprihatinkan. Mungkin pula dapat dikatakan kita sedang mengalami “darurat literasi”. Membangkitkan literasi generasi penerus memerlukan jalan panjang dan kerja keras.

Banyak kajian dan penelitian yang membahas kondisi literasi di Indonesia. Dibandingkan negara-negara lain di dunia, tingkat literasi anak-anak dan orang dewasa di Indonesia masih sangat rendah. Berdasarkan hasil tes The Program for the International Assessment of Adult Competencies (PIAAC) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2016, tingkat literasi orang dewasa Indonesia berada pada posisi terendah dari 40 negara yang mengikuti program ini. (Abdini, 2017)

Selain itu, pada 2016 Central Connecticut State University merilis hasil “The World Most Literate Nation Study”. Studi ini menggunakan hasil penilaian Program for International Student Assessment (PISA) dan menambahkan ketersediaan dan ukuran perpustakaan serta akses terhadap informasi. Dari 61 negara yang diteliti, Indonesia berada pada posisi ke-60, satu tingkat di atas Botswana. Untuk kawasan ASEAN posisi Indonesia berada di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand. (Abdini, 2017)

Perlu diketahui, PISA diselenggarakan setiap tiga tahun sekali. Tujuannya untuk mengevaluasi dan meningkatkan metode pendidikan di suatu negara. PISA dilaksanakan dalam bentuk tes bacaan, matematika, dan sains yang dikerjakan selama 2 jam. Peserta tes adalah siswa berusia 15 tahun dari setiap negara. Sehingga, hasil PISA sesungguhnya menampilkan tingkat literasi atau kemampuan memahami siswa terhadap tiga bidang yang diujikan.

Dari segi definisi, National Institute for Literacy (NIFL) menyebutkan bahwa “literasi” ialah: kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat (dikutip dari http://www.komunikasipraktis.com/2017/04/pengertian-literasi-secara-bahasa-istilah.html). Education Development Center (EDC) juga menyatakan literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan keterampilan (skills) yang dimiliki dalam hidupnya.

Untuk mencapai kesejahteraan hidup, setidaknya ada enam literasi dasar yang perlu dikuasai seorang individu. Di antaranya, literasi bahasa dan sastra (baca-tulis), numerasi, sains, teknologi informasi, finansial, serta budaya dan kewargaan. Itulah kecakapan dasar yang perlu dimiliki setiap orang untuk aktivitas kesejahteraan, utamanya di abad ke-21.

Selain enam literasi dasar, terdapat dua komponen lagi yang menentukan kecakapan generasi abad ini, yakni karakter dan kompetensi. Di dalam komponen karakter terdapat nilai-nilai religiusitas, nasionalis, integritas, gotong-royong, dan mandiri. Sementara, pada komponen kompetensi terdapat kemampuan berpikir kritis, penyelesaian masalah kompleks, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi.

Terlebih, dalam rangka menyongsong Revolusi Industri 4.0 yang mana terjadi perubahan besar dan radikal terhadap cara manusia memproduksi barang. Penguatan komponen karakter, kompetensi, dan literasi agaknya wajib ditanamkan di dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Salah satu hal yang paling berpengaruh pada data literasi masyarakat Indonesia adalah rendahnya minat baca. Terutama dalam hal buku-buku bacaan. UNESCO pada 2012 menyebutkan persentase minat baca Indonesia sebesar 0,001%. Hal ini berarti dari 1.000 penduduk hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. (Fithrorozi, 2017)

Untuk mendorong kemampuan berliterasi, Kemendikbud telah mengeluarkan Peraturan Mendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Salah satu butir yang diatur dalam Permendikbud itu adalah Gerakan Membaca 15 Menit buku non akademika sebelum jam pelajaran dimulai. Kebijakan ini dapat dipandang secara positif untuk menumbuhkan budaya membaca pada seluruh siswa di Indonesia.

Herry Mardianto, saat mengisi pelatihan Instruktur Literasi Baca-Tulis BBY mengungkapkan Gerakan Literasi Nasional (GLN) tersebut konon mulai bangkit setelah Taufik Ismail melontarkan wacana Indonesia menghadapi generasi “nol buku”. Anak-anak Indonesia banyak yang belum pernah sama sekali menamatkan membaca satu buku saja. Hal ini memang nyata, bahkan salah satu guru MTsN dalam pelatihan yang sama mengatakan beberapa siswa di kelas IX belum pernah menuntaskan membaca satu buku. Guru itu adalah Bunda Yeti Islamawati, rekan saya sesama pegiat di Forum Lingkar Pena (FLP) Yogyakarta.

Kondisi berbeda terjadi pada generasi Indonesia tempo dulu. Pada rentang tahun 1939—1942 ada kewajiban membaca buku bagi siswa di sekolah. Pendidikan menengah umum Algemeene Middlebare School (AMS) di Yogyakarta mewajibkan siswanya membaca 25 judul buku setiap tahun, sementara AMS di Malang mewajibkan membaca 15 judul buku.

Teringat sebuah kesempatan saya bertemu muka dan berdiskusi langsung dengan Taufik Ismail pada 2013. Waktu itu bersama-sama dengan teman-teman FLP Yogyakarta. Beliau saat itu berucap, dengan kewajiban membaca tersebut wajar saja pendidikan masa penjajahan Belanda melahirkan tokoh-tokoh gemilang seperti Soekarna, Hatta, Sjahrir, dan para pendiri bangsa lainnya. Bagaimana dengan saat ini?

Kini, Indonesia harus bekerja keras untuk kembali berbenah. Pada Hari Sumpah Pemuda (28/10/2017) Presiden Joko Widodo menyampaikan sebuah pernyataan dari seorang profesor Universitas Harvard, yang menyatakan bahwa metode pendidikan di Indonesia dinilai tertinggal jauh dari negara-negara maju (padangkita.com, 30/10/2017). Bahkan, dibutuhkan waktu 128 tahun untuk bisa menyamai pencapaian pendidikan di sana.

Seperti juga disampaikan presiden, Indonesia memang memiliki tantangan lebih besar. Negeri ini terdiri dari 17.000 lebih pulau, sehingga seringkali sulit menjangkau pendidikan bagi masyarakat di daerah-daerah. Para pegiat literasi, memiliki peranan penting dan besar. Kontribusinya bagi pengembangan budaya cinta membaca dan menulis selalu dinantikan.

Pengenalan tersebut perlu dilakukan sedini mungkin. Pegiat literasi dan sekolah harus giat menjalin kolaborasi. Komunitas-komunitas baca-tulis jangan ragu untuk masuk ke kelas-kelas. Kita temui para siswa dan kenalkan budaya membaca dan menulis yang menyenangkan.

Seperti dikatakan Nell (1988 dalam Dewayani, 2018) tentang pentingnya “membaca untuk kesenangan”. Membaca untuk kesenangan adalah semua aktivitas membaca yang menumbuhkan kesenangan dan kepuasan dalam diri, sehingga menyebabkan seorang pembaca “tenggelam” dalam bacaan yang dibacanya. Jika telah tumbuh kesenangan pada diri seseorang terhadap membaca, maka aktivitas tersebut akan terus dilakukannya hingga akhir hayat.

Yang tidak kalah penting bagi komunitas, pembinaan membaca dan menulis memerlukan sistem yang terukur dan berkelanjutan. Sekolah dan forum-forum rutin masyarakat adalah sarana yang saya rasa cukup efektif. Sebab di dalamnya ada fasilitas dan aktivitas yang dapat berjalan kontinyu. Juga tak boleh ketinggalan, selalu upayakan anak-anak kita dikelilingi berbagai jenis buku. Biarkan mereka memilih tema-tema yang mereka sukai. Perpustakaan keliling (jika itu kontinyu) dan taman baca masyarakat perlu semakin banyak dihadirkan di setiap pelosok negeri.

Peradaban suatu bangsa sangat ditentukan oleh tingkat literasinya. Sejarah bangsa-banga telah membuktikan hal itu. Indonesia boleh dikatakan tertinggal 128 tahun dibanding negara lain. Namun, tidak ada kata terlambat untuk mulai berjalan dan berlari. Dengan dukungan semua pihak yang mengaku bagian dari NKRI. Sebab, jalan yang perlu disusuri masih panjang di depan mata. Masa depan Indonesia yang gemilang, membutuhkan kegiatan literasi sebagai fondasi.

Bantul, 7 April 2019

 

IMG-20190401-WA0008
Ini pose Salam Literasi ya, bukan Salam Dua Jari gaes

 

Referensi:

Abdini, Chairil. 2017. Yang Harus Dilakukan untuk Meningkatkan Tingkat Literasi Indonesia. https://theconversation.com/yang-harus-dilakukan-untuk-meningkatkan-tingkat-literasi-indonesia-83781 (diakses 1 April 2019)

Fithrorozi. 2017. UNESCO: Minat Baca Orang Indonesia Terpuruk. https://kominfo.belitungkab.go.id/2017/04/26/survey-unesco-minat-baca-orang-indonesia-terpuruk/

Dewayani, Sofie. 2018. Membaca untuk Kesenangan (Seri Manual GLS). Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

 

 

 

 

 

 

Advertisements