Tulisan di bawah ini adalah karya tulis ilmiah yang pernah saya kirimkan ke sebuah lomba. Namun, tidak menang. Karena itulah saya merasa perlu mempublikasikannya melalui blog ini. Agar ada yang membaca, setidaknya. Setelah membuat tulisan ini, saya merasa semakin bangga pada tanah kelahiran saya. Ternyata penting juga untuk mengetahui seluk-beluk sejarah kampung halaman. Terutama, bagi mereka yang ingin menjadikannya tempat mengabdi di hari tua menurut saya.

Sedikit bercerita tentang proses kreatif tulisan ini, saya mengerjakannya dalam tiga hari. Dua hari untuk studi literatur. Satu hari untuk penyusunan tulisan utuh. Selama dua hari melakukan studi literatur, menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Sebab saya melakukannya langsung di Perpustakaan Daerah Provinsi Bengkulu pada Agustus 2018 lalu. Letaknya di seberang jalan SMA saya, SMAN 2 Bengkulu.

Waktu saya untuk berada di kota kelahiran saat itu sangat terbatas. Di hari keempat saya harus kembali ke Yogyakarta. Selama dua hari “ngelembur” di Perpusda sejak pagi-sore (waktu tutup Perpusda), masih tidak cukup untuk membaca seluruh referensi yang saya butuhkan. Sehingga, saya memfoto halaman-halaman yang saya perlukan. Jumlahnya mungkin lebih dari 100 foto. Saya membaca halaman buku dalam bentuk foto-foto itu di rumah pada malam harinya. Alhamdulillah, tulisan ini bisa selesai juga.

Mohon maaf jika bahasa yang digunakan bukan bahasa blog. Karena ini memang karya tulis ilmiah dengan panjang tidak kurang dari 13 halaman A4. Tidak saya ubah sedikit pun. Selamat membaca.

***

SEMERBAK BUMI RAFLESIA MASA LAMPAU

Sejarah dan Gerakan Sosial Masyarakat Bengkulu Masa Pra Kemerdekaan

(Karya Tulis Ilmiah untuk mengikuti Lomba Karya Tulis “Sejarah Kampungku” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Kebudayaan UGM)

Oleh: Maruti Asmaul Husna Subagio

Sebuah video dalam platform YouTube bertajuk Film Dokumenter-Kampung Halaman (Bengkulu) menarik perhatian penulis sejak pertama dirilis pada 17 Maret 2018. Tidak bisa dipungkiri, alasan subjektif penulis yang memang kelahiran daerah asal ibu negara Fatmawati Soekarno ini. Di samping itu, video tentang Provinsi Bengkulu di dalam platform tersebut terbilang masih amat langka. Apalagi yang disajikan dalam konsep videografi yang estetis. Namun, video yang dikemas pemilik akun Fauzan Muhaimin tersebut mampu mematahkan anggapan tersebut.

Bagian awal video tersebut diantarkan dengan musik instrumental yang menimbulkan kesan ironi. Sembari di dalam layar muncul tulisan secara berurutan; “this is our feeling”, “about hometown”, “Bengkulu”, “pernahkah kalian ketika ditanya asalnya darimana orang-orang tidak tau Bengkulu itu dimana?” Berikutnya, muncul tiga sosok pemuda secara bergantian dalam frame berbeda yang semuanya menjawab “pernah”. Salah satu pemuda menjelaskan lebih lanjut, ia mendapat pertanyaan tersebut saat masa OSPEK perkuliahan. Sementara pemuda yang lain mengatakan, orang yang bertanya mengira Bengkulu terdapat di Sulawesi atau Kalimantan.

Mengenai introduction video dokumenter tersebut, penulis ikut tersenyum miris karena pernah mengalami hal yang sama. Beberapa netizen yang meninggalkan komentar pada video tersebut pun mengungkapkan “pernah”. Tampaknya wawasan masyarakat Indonesia dengan keberadaan provinsi-provinsi di negerinya sendiri sebagian masih memprihatinkan. Terutama bagi provinsi yang belum terkenal atau masih tergolong daerah berkembang. Adalah tugas utama anak daerah itu sendiri untuk membangun dan mengenalkan daerahnya kepada masyarakat luas. Tulisan ini adalah sebuah upaya untuk mengkaji perihal sejarah Bengkulu sejak wilayah ini masih berupa kerajaan-kerajaan kecil (sebelum 1685) hingga masa pra kemerdekaan Republik Indonesia. Selain urutan kronologi sejarah, ditemukan pula banyak gerakan-gerakan sosial masyarakat asli Bengkulu dalam melawan penindasan dari kolonialisme dan imperialisme.

Bahkan, dalam Buku Profil Provinsi Republik Indonesia seri Bengkulu yang digagas oleh Kementerian Dalam Negeri RI pada 1992, dinyatakan bahwa masyarakat Bengkulu telah memiliki kematangan politik sejak didirikannya organisasi-organisasi dan perkumpulan rakyat di daerah ini. Organisasi pertama yang didirikan di Bengkulu adalah Sarikat Islam pada 1915. Disusul dengan beberapa perkumpulan lain, seperti Insulinde, Muhammadiyah, Jong Islamiten Bond (JIB), Parindra, dan Taman Siswa. Juga organisasi lokal bernama Persatuan Pendidikan Bengkulu. (Ranni, 1990: 36)
Penulis membagi sistematika dalam pembahasan tulisan ini menjadi empat bagian, yakni profil Provinsi Bengkulu, asal-usul nama Bengkulu, zaman swapraja (masa kerajaan sebelum 1685), zaman pemerintahan kolonial (Inggris, Belanda, Jepang) yang juga menjelaskan beberapa gerakan sosial masyarakat Bengkulu yang pernah terjadi pada abad ke-19.

PEMBAHASAN
Profil Provinsi Bengkulu: Pesisir Barat Penghasil Emas

Bengkulu merupakan salah satu provinsi daerah tingkat I di Pulau Sumatera bagian selatan. Secara administratif wilayah ini berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat di sebelah barat laut, Propinsi Lampung di sebelah tenggara, Propinsi Sumatera Selatan dan Propinsi Jambi di sebelah utara, Samudera Indonesia di sebelah selatan, Propinsi Sumatera Selatan di sebelah timur, dan Samudera Indonesia di sebelah barat. Provinsi yang memiliki luas 19.978, 87 km2 ini meliputi daratan utama di Pulau Sumatera dan beberapa pulau kecil yang tersebar di perairan Samudera Hindia.

Beberapa pulau yang terletak di Samudera Indonesia yang termasuk dalam wilayah Provinsi Bengkulu adalah Pulau Enggano, Pulau Mega, dan Pulau Tikus. Pulau Enggano adalah satu-satunya pulau yang memiliki penduduk dari ketiga pulau kecil itu. (Buku Profil, 1992) Dari utara ke selatan Provinsi Bengkulu terbentang Pegunungan Bukit Barisan. Dari pegunungan ini berhulu Sungai Musi di pantai timur Sumatera (Selat Bangka) dan Sungai Menjuto, Ketahun, Lais, Lemau, Itam, Bengkulu, dan Selebar di pantai barat Sumatera. (Siddik, 1996: ix) Nama-nama sungai ini juga menjadi nama-nama kerajaan masa swapraja yang ada di Bengkulu.

Gambar 1. Peta Provinsi Bengkulu Sumber: http://bengkulu.bpk.go.id/?page_id=606 (diakses 28 Agustus 2018)

Di sepanjang jalur pegunungan Bukit Barisan terdapat tonjolan-tonjolan dengan puncak-puncaknya pada Gunung Hulu Palik, Gunung Seblat, Gunung Bukit Kaba, dan Gunung Bungkuk. Di antara gunung-gunung ini, Bukit Kaba termasuk gunung berapi tipe B, memiliki 12 lubang kepundan yang terus-menerus mengepulkan asap. (Buku Profil, 1992) Daerah lipatan Bukit Barisan menyimpan kekayaan alam berupa emas, perak, dan batu bara. Desa Lebong Tandai di Kabupaten Bengkulu Utara adalah sentra aktivitas pertambangan di Bengkulu.

Bahkan, dalam sebuah naskah kuno tahun 116 SM yang ditemukan di Tibet berjudul Berniaga ke Negeri Cina, bercerita bahwa “Negeri Lu-Shiangshe di seberang laut, Phaalas (Sumatera) yang makmur, perniagaannya menggunakan emas.” Yang dimaksud Lu Shiangshe itu sendiri merupakan Sungai Lusang yang terdapat di Lebong Tandai, Bengkulu Utara. (Benardie, 2004: 350) Benardie menjelaskan, perniagaan menggunakan alat tukar emas yang dimaksud dalam naskah kuno tersebut ialah pasir emas (hal yang biasa terjadi di daerah penambangan emas). Sebab, hingga kini belum ditemukan bukti-bukti pada masa sebelum masehi (SM) hingga 200 M di nusantara ada kelompok masyarakat yang menggunakan alat tukar mata uang dalam perniagaannya.

Asal-Usul Nama Bengkulu: Cerita Rakyat atau Penamaan Pendatang Cina
Sejauh penelusuran penulis, tidak banyak catatan tertulis yang menceritakan keadaan Bengkulu sebelum abad ke-15. Termasuk juga asal-usul nama daerah ini. Banyak sumber yang menjelaskannya berdasarkan cerita rakyat Bengkulu yang dipopulerkan hingga kini. Seperti yang disebutkan oleh Prof. Dr. Haji Abdullah Siddik dalam bukunya Sejarah Bengkulu: 1500—1990 bahwa kata Bengkulu berasal dari kata “Bangkai dari Hulu”. Hal itu berdasarkan kisah peperangan yang banyak menelan korban dan dibuang ke sungai yang terjadi di zaman kerajaan Bengkulu. Sementara, cerita lain mengisahkan kata Bengkulu diambil dari seruan “Empang ka hulu!” (buang ke hulu) yang diangkat dari peristiwa perang penyerbuan Kerajaan Aceh ke Kerajaan Selebar. Kisah kedua ini juga yang dikutip dalam Buku Profil Provinsi Republik Indonesia seri Bengkulu yang diterbitkan oleh Yayasan Bhakti Wawasan Nusantara.

Benardie (2004) dalam buku Bunga Rampai Melayu Bengkulu mengatakan asal mula penamaan Bengkulu dari cerita rakyat tersebut terlampau mengada-ada. Menurutnya, kata Bengkulu telah muncul jauh sebelum peristiwa-peristiwa tersebut terjadi.

Jika hal ini dapat disepakati benar adanya, maka kata Bengkulu itu telah ada sejak salah seorang anak Raja (Ratu Agung) memakai nama atau gelar Anak Dalam Muaro Bengkulu. Dengan demikian berarti pula kata itu telah digunakan jauh sebelum adanya peristiwa perang saudara terjadi dan berkecamuk pada tahun 1607—1636 M masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda memerintah Aceh, peristiwa yang telah menimbulkan bencana musibah, dan memunculkan kata Bangkai ke-hulu, atau Empang kehulu atau Bangka (pinang) dari hulu dsb. (Benardie, 2004: 349)

Menurut Benardie, kata Bengkulu tidak lepas dari kata Lu Shiangshe atau julukan yang diberikan para pendatang Cina ke daerah Bengkulu. Perjalanan sejarah negeri nusantara ini menunjukkan ada dua negeri yang pernah dikunjungi bangsa India dan Cina pada 264 hingga 195 M. Pendatang asing ini memiliki keterampilan di bidang kelautan, pertukangan, pertanian, serta seni budaya yang lebih tinggi dibanding penduduk pribumi. Negeri yang pertama dikunjungi adalah Lu Shiangshe di Provinsi Bengkulu dan Pha-Limbham di Provinsi Banten. Keduanya merupakan negeri penghasil emas.

Kata Lu Shiangshe atau Lu Shiang Tce diambil dari bahasa Mon (Hyunan) Cina kuno, akar katanya “Shiangshe” yang berarti kehidupan, keberhasilan, kejayaan, kemakmuran atau air yang sejuk dan segar yang biasanya dilambangkan dengan emas (Benardie, 2004: 148) Kata “Lu” berarti sungai. Dalam bahasa Melayu kuno kata “Lu” yang diambil dari akar kata “hulu” lawan dari “hilir” sudah sejak lama dikenal. Selain itu, kata “Lu” dapat juga berarti guru atau air yang mengalir secara terus-menerus, dalam bahasa Sansekerta disebut “Bhaga”. Dalam bahasa Indonesia kata itu diubah menjadi “Bangawan” atau “Bengawan” yang berarti guru atau sungai atau batang air. Kata Bengkulu yang terdiri dari dua kata, yakni “Bengku” dan “Lu” dalam bahasa Mon dan bahasa Melayu kuno memiliki arti “Batang Air”.

Peradaban di Muara Sungai Hingga Pegunungan (Zaman Swapraja di Bengkulu)
Pada abad ke-16 di daerah Bengkulu berdiri kerajaan-kerajaan baik di wilayah pesisir maupun pegunungan. Di daerah pesisir, beberapa kerajaan yang ada, misalnya Kerajaan Selebar dan Kerajaan Sungai Itam di daerah Lembak Bengkulu Utara, Kerajaan Sungai Serut di Bengkulu, dan Kerajaan Sungai Lemau di Pondok Kelapa Bengkulu Utara. Sedangkan, di daerah pegunungan Bukit Barisan (Rejang Lebong sekarang) terdapat Kerajaan Depati Tiang Empat. (Ranni, 1990: 25; Siddik, 1996: 1) Kerajaan-kerajaan kecil itu tidak berbentuk suatu negara dengan kekuasaan tunggal mutlak. Melainkan terdiri dari dusun-dusun yang dipimpin oleh seorang kepala dari hasil pemilihan oleh penduduknya. Para kepala dusun secara sukarela menggabungkan diri pada kerajaan. Berikut profil singkat masing-masing kerajaan kecil di Bengkulu (Siddik, 1996: 1—24):

1. Kerajaan Sungai Serut
Kisah tentang Kerajaan Sungai Serut salah satunya diambil dari naskah Melayu. Naskah tersebut mengatakan ada sebuah kerajaan kecil Sungai Serut yang berkedudukan di sekitar muara Sungai Serut. Seterusnya diceritakan bahwa raja pertama kerajaan ini adalah Ratu Agung. Ia dipercaya oleh rakyat sebagai dewa dari Gunung Bungkuk. Namun, seiring waktu kisah tersebut dianggap tidak masuk akal lagi. Ada riwayat yang mengatakan bahwa Ratu Agung berasal dari Majapahit, sementara Siddik (1996) menilai lebih tepatnya ia berasal dari Banten.

Raja Ratu Agung memiliki tujuh orang anak, yakni Raden Jili, Monok Mincur, Lemang Batu, Taju Rumpun, Rindang Papan, Anak Dalam Muara Bengkulu, dan Putri Gading Cempaka. Menurut Siddik (1996), pada masa pemerintahan Anak Dalam (1570—1615) wilayahnya mengalami perluasan di bagian utara dan selatan. Pada masa pemerintahannya pula, di akhir abad ke-16 telah berdatangan para pedagang Aceh untuk membeli lada dan hasil bumi lainnya. Menurut Tembo Bengkulu, putra Sultan Aceh yang juga seorang pedagang tertarik kepada Putri Gading Cempaka dan akhirnya berniat meminangnya. Namun, pinangan tersebut ditolak oleh Raja Anak Dalam hingga putra Sultan Aceh marah dan terjadilah peperangan. Dari peristiwa ini muncul beberapa versi cerita rakyat yang menjelaskan tentang asal mula nama “Bengkulu”.

2. Kerajaan Selebar
Selain Kerajaan Sungai Serut, pada abad ke-16 terdapat pula Kerajaan Jenggalo yang bertempat di sebelah selatan Kerajaan Sungai Serut. Kerajaan Selebar dikatakan dalam sebuah riwayat berasal dari Kerajaan Jenggalo. Disebutkan pula kerajaan tersebut didirikan oleh seorang rakyat pemberani dan bijaksana yang namanya tidak disebutkan. Ia memperluas wilayah kerajaannya ke daerah-daerah sekitarnya. Kata “Jenggalo” sendiri merupakan singkatan dari “jenggal” (kuasai) dan “segalo” (semua).

Ada pula riwayat yang mengatakan bahwa Kerajaan Selebar dibina oleh Rangga Janu, seorang kerabat Majapahit. Setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit karena penaklukan Kerajaan Demak pada 1518—1521 beberapa bangsawan Majapahit menuju Bengkulu. Di abad inilah diperkirakan Rangga Janu bersama adiknya datang ke Bia Paku yang merupakan wilayah Kerajaan Jenggalo. Setelah Raja Jenggalo wafat, Rangga Janu diangkat menjadi raja baru oleh rakyat karena tindak-tanduknya yang bijaksana. Rangga Janu memindahkan kedudukan pemerintahannya di Bandar Selebar yang letaknya lebih strategis dan menguntungkan perniagaan. Kemudian berkembanglah Kerajaan Selebar yang terkenal dengan rajanya Rangga Janu, bergelar Depati Payung Negara.

3. Kerajaan Depati Tiang Empat
Di daerah dataran tinggi Bukit Barisan, berdiri Kerajaan Depati Tiang Empat yang berpusat di Lebong. Wilayah kekuasaannya meliputi empat luak, yakni Luak Lebong, Luak Ulu Musi, Luak Lembak Beliti, dan Luak Pesisir. Kerajaan dipimpin oleh seorang Rajo Depati dengan empat depati yang lain. Pertalian antara keduanya seperti Rajo Depati memegang peti adat dan empat depati memegang anak kuncinya. Rakyat kerajaan ini terdiri dari suku bangsa Rejang seluruhnya.

Suku bangsa Rejang dikenal dengan adat dan hukum adatnya sendiri. Berbagai literatur karya ilmuwan Inggris pun banyak mengkaji tentang suku bangsa ini, sebab sistem adatnya yang menarik dunia ilmu pengetahuan. Adat Rejang merupakan dasar hukum suku bangsa Rejang. Ia mengatur hubungan perseorangan dengan keluarga hingga hubungan masyarakat dengan masyarakat hukum adatnya.

4. Kerajaan Sungai Lemau
Setelah Kerajaan Sungai Serut kalah dalam peperangan dengan Kerajaan Aceh, terjadi kekosongan kekuasaan Raja Ulu Bengkulu sebab rajanya, Anak Dalam, bersembunyi di Gunung Bungkuk. Akibatnya, pemerintahan Depati Tiang Empat di Lebong berselisih paham mengenai siapa pengganti Raja Ulu Bengkulu. Setelah melewati musyawarah, disepakati untuk mengirim utusan kepada Raja Minangkabau di Pagaruyung untuk membantu memecahkan persoalan tersebut. Sekembalinya utusan tersebut, Raja Pagaruyung mengirimkan Baginda Maharaja Sakti untuk menyelesaikan persoalan bekas Kerajaan Sungai Serut di Ulu Bengkulu.

Kedatangan Maharaja Sakti diperkirakan terjadi pada 1625. Berkat kebijaksanaannya dapat diatasi segala kesulitan antara para Depati Tiang Empat. Sebagai bentuk penghargaan atas tindakan beliau, dimintalah ia untuk menjadi raja Ulu Bengkulu. Permintaan itu pun disambut dengan baik dan Maharaja Sakti menjadi raja baru di Ulu Bengkulu. Sebagai tempat kedudukannya, Maharaja Sakti memilih muara Sungai Lemau, bukan muara Sungai Bengkulu tempat kedudukan Kerajaan Sungai Serut terdahulu. Pada masa pemerintahannya pula, dibangun adat serta lembaga Bengkulu dan penanaman lada yang merupakan penghasilan utama pada waktu itu diperluas.

5. Kerajaan Sungai Itam
Kerajaan Sungai Itam berkedudukan di muara Sungai Itam pada pertengahan abad ke-17. Rakyatnya terdiri dari suku bangsa Lembak. Raja pertama Kerajaan Sungai Itam adalah Aswanda yang diberi gelar Depati Bangsa Raja (1650—1686). Para keturunan Aswanda menganggap leluhurnya berasal dari Majapahit atau Pagaruyung. Pada masa pemerintahannya, East India Company (EIC) atau kongsi dagang Inggris tiba di muara Sungai Bengkulu.

Pada masa kerajaan-kerajaan kecil itu rakyat hidup dengan makmur. Kebutuhan hidup mereka terpenuhi dari kegiatan pertanian, perikanan, dan perniagaan. Kemakmuran itu pada perkembangannya mengundang kerajaan-kerajaan besar lain di Indonesia untuk datang ke Bengkulu. Di antaranya, Majapahit, Sriwijaya, Pagaruyung, Aceh, Banten, dan Palembang. (Buku Profil, 1992: 5)

Pada pertengahan abad ke-15 utusan Kerajaan Banten mengadakan kunjungan kerja ke Lampung dan Selebar (Bengkulu). Sungai Bengkulu pada waktu itu dijadikan batas wilayah Kerajaan Banten. Sejak saat itu Lampung dan Bengkulu secara yuridis berada di bawah Kesultanan Banten. Agama Islam pun mulai menyebar ke daerah itu. Mengenai masuknya Islam ke Bengkulu, terdapat pula pendapat yang mengatakan pedagang Aceh lah yang menyebarkannya. Pada periode yang sama, kekuasaan Kerajaan Aceh pun sampai ke Bengkulu, namun hanya terbatas hingga sebelah utara Teluk Ketahun (Menjuta). Sedangkan, sebelah selatan masuk dalam kekuasaan Kesultanan Banten. Penguasaan Bengkulu oleh dua kerajaan besar itu berakhir hingga Inggris datang dan menetap di Bengkulu pada 1685.

Zaman Kolonialisme
1. Pemerintahan Inggris: Masa Pendirian Benteng-Benteng Peninggalan di Bengkulu
Bengkulu merupakan satu-satunya provinsi di Indonesia yang pernah mengalami penjajahan oleh Inggris secara langsung. Inggris mulai menapakkan kaki di Bengkulu pada 24 Juni 1685, terus berlanjut hingga peralihan kekuasaan Inggris-Belanda pada 1824. Sebelum Inggris masuk ke Bengkulu, daerah ini telah dihuni suku-suku bangsa dengan berbagai mata penghidupannya. Suku-suku bangsa tersebut yang terbesar di antaranya, suku bangsa Rejang, Serawai, Lembak, Pasemah, Melayu Bengkulu, Muko-Muko, dan Enggano (Dalip, 1983). Mereka masing-masing memiliki bahasa daerah dan kebudayaan sendiri.

Bangsa Inggris masuk ke Bengkulu boleh dikatakan terjadi secara tidak langsung. Pada 1664 sebenarnya Inggris mengirim dua petingginya, Ralp Ord dan William Cowley ke Aceh untuk membuka kembali perusahaan dagangnya, namun tidak berhasil. Utusan Inggris tersebut akhirnya memutuskan mendarat di Bengkulu karena beberapa alasan. Pertama, adanya undangan raja-raja Bengkulu kepada EIC untuk membuka perwakilannya di Bengkulu. Kedua, daerah Pariaman –yang semula dijadikan sasaran EIC sebelum memilih Bengkulu- telah lebih dulu diduduki oleh Belanda. Ketiga, Inggris memang lebih tertarik pada Bengkulu karena banyak menghasilkan lada. (Buku Profil, 1992)

Sebagai langkah pertama menetapnya Inggris di wilayah Bengkulu, dibuatlah perjanjian antara Inggris dengan raja Kerajaan Sungai Lemau. Menyusul kemudian dengan Kerajaan Sungai Itam dan Kerajaan Selebar. Perjanjian-perjanjian tersebut pada intinya menitikberatkan pada pemberian monopoli perdagangan lada dan segala hasil hutannya hanya kepada Inggris. Setelah perjanjian itu dibuat, Inggris membangun kantor dagang sekaligus benteng pertahanan di berbagai pos. Yang pertama terletak di samping muara Sungai Serut. Mereka menamakan kantor dagang/benteng itu Fort York. Kemudian, pada 1714 dibangun benteng kedua sebagai pengganti Fort York yang dianggap sudah merisaukan kondisinya terutama dari sisi kesehatan. Benteng kedua yang dibangun di daerah Tapak Paderi ini diberi nama Fort Marlborough. (Ranni, 1990: 28)

Pada 1715 Inggris mendirikan lagi pos-pos di sebelah selatan, yakni di Krui dan Pulau Pisang. Di sebelah utara pada 1717 dibangun pula pos di Muko-Muko. Dengan begitu, pesisir Bengkulu hampir seluruhnya telah diduduki oleh Inggris. Pada 1818 Thomas Stamford Raffles datang ke Bengkulu dan menjadi letnan gubernur di sana. Raffles berkeinginan membangun kota pelabuhan Bengkulu yang mampu menandingi pelabuhan Batavia. Namun, dapat dikatakan secara keseluruhan rencananya tersebut gagal. Ia hanya berhasil mendirikan bandar Singapura pada 1819. Raffles meninggalkan Bengkulu pada 11 April 1824 menggunakan kapal Fame menuju Singapura. Namun, kapal tersebut terbakar ketika baru sekitar 25 mil meninggalkan kota pelabuhan itu. (Buku Profil, 1992: 10)

Hubungan antara penduduk Bengkulu dan Inggris yang semula bersifat perdagangan yang damai lambat laun berubah. Kolonial Inggris kian tidak berperikemanusiaan kepada masyarakat pribumi. Berbagai peristiwa yang disebabkan oleh orang Inggris menimbulkan kemarahan dan kebencian warga. Secara berangsur-angsur muncul tekad masyarakat untuk mengusir Inggris dari Bengkulu. Salah satu perlawanan yang paling banyak memiliki jejak dokumentasi adalah peristiwa Bukit Palik pada 1807 menyebabkan terbunuhnya Residen Thomas Parr (Setiyanto, 2015: 73—76). Puncak kemarahan rakyat semakin menjadi pada masa pemerintahan Thomas Parr yang dinilai menindas dan arogan. Setelah peristiwa pembunuhan residen Inggris pertama itu, terjadi pembalasan oleh pasukan Inggris kepada rakyat Bengkulu yang lebih membabi buta. Hampir separuh rakyat menjadi korban dalam pembalasan itu (Ranni, 1990: 32). Untuk memeringati peristiwa itu pihak Inggris membangun kuburan yang tidak jauh dari Fort Marlborough.

2. Pemerintahan Belanda: Dimulainya Organisasi dan Perkumpulan Politik Rakyat
Berdasarkan Traktat London 1824 berakhirlah kolonialisme Inggris di Bengkulu dan digantikan oleh Belanda. Kekuasaan memang bertukar, namun penjajahan tetap berlangsung dengan cara dan prinsip yang sama. (Ranni, 1990: 33) Secara resmi, Belanda baru mulai menjalankan administrasi pemerintahannya di Bengkulu pada 1838. Selama penjajahan Belanda tidak ada kemajuan yang patut dibanggakan, baik di bidang sosial, ekonomi, maupun kebudayaan. Bahkan, Bengkulu mengalami kemerosotan karena hasil bumi seperti cengkeh, kopi, dan lada menurun. (Buku Profil, 1992: 10).

Belanda menginginkan untuk menguasai dan mengatur secara keseluruhan penghasilan dan hasil bumi di Bengkulu (Buku Profil, 1992; Ranni, 1990). Jika dalam penjajahan Inggris kekuasaan oleh raja-raja dikurangi dan dibatasi, maka dalam pemerintahan Belanda hal tersebut secara berangsur-angsur sama sekali dihapuskan. Pergantian sistem ini berpengaruh besar, karena rakyat Bengkulu sangat menghormati ketua adatnya.

Penindasan pada rakyat pribumi semakin bertambah-tambah. Pihak kolonial juga memberlakukan sistem kerja tanam paksa untuk penanaman kopi, pembuatan pelabuhan, dan jalan-jalan. Selain itu, untuk menambah keuangan negara pemerintah Belanda menggantikan pajak keluarga menjadi pajak per kepala. Hal ini dirasa sangat memberatkan rakyat. Kemarahan rakyat memuncak dengan hebat sehingga menimbulkan beberapa peristiwa perlawanan pada masa penjajahan Belanda ini.

Salah satunya menyebabkan terbunuhnya Asisten Residen Knoerle pada 1833 di daerah Mentiring. Disusul kemudian penghancuran sepasukan tentara Belanda oleh rakyat Bengkulu di daerah dekat Dusun Tertik pada 1853. (Buku Profil, 1992: 11; Ranni, 1990: 33) Peristiwa perlawanan oleh rakyat masih terus berlanjut hingga akhir masa pemerintahan Belanda. Satu lagi kejadian yang memicu huru-hara besar antara Belanda dan rakyat Bengkulu ialah di daerah Bintunan pada 1873. Sebelumnya, rakyat Bengkulu berhasil membunuh Asisten Residen van Amstel dan Kontroler Carsten. Akibat pembunuhan yang dianggap keji oleh Belanda itu meletuslah pertempuran-pertempuran secara serentak di daerah Bintunan, Seblat, Ketahun, Lais, Tanjung Terdana, Seluma, dan daerah di sekitar Kota Bengkulu.

Upaya pendidikan baru secara agak merata menyentuh rakyat setelah Belanda menerapkan politik etis di Indonesia. Namun, pendidikan yang diberlakukan juga masih mengikuti sistem kolonial. Tujuannya tetap untuk kepentingan dan keuntungan penjajah. Tidak semua rakyat bumiputera dapat masuk ke sekolah-sekolah yang didirikan. Anak rakyat biasa misalnya, hanya bisa masuk hingga kelas tiga di Sekolah Desa.

Memasuki awal abad ke-20, seiring dengan berembusnya kabar mengenai kebangkitan bangsa-bangsa Asia dan di Pulau Jawa mulai terbentuk perkumpulan dan organisasi, hal itu berpengaruh pula pada kebangkitan di Bengkulu. Untuk pertama kalinya, di bawah pimpinan Haji Muhammad pada 1915 berdirilah Sarikat Islam di Bengkulu. Disusul dengan beberapa perkumpulan lain, seperti Insulinde, Muhammadiyah, Jong Islamiten Bond (JIB), Parindra, dan Taman Siswa.

Selain itu, muncul pula organisasi lokal bernama Persatuan Pendidikan Bengkulu (PPB) yang didirikan oleh Dr. Mochtar bersama rakyat Bengkulu. (Ranni, 1990: 36) Kedatangan Bung Karno untuk menjalani masa pengasingannya di Bengkulu pada 1938 turut menambah cerahnya suasana politik di Bengkulu. Bung Karno menjadi kawan akrab warga Bengkulu. Ia mendirikan debating club, perkumpulan sandiwara Monte Carlo, dan sebagainya.

Sementara itu, suasana dunia sudah mulai memanas. Perang Dunia II telah dimulai. Pada 10 Mei 1940 Jerman menduduki Negeri Belanda, Belgia, dan Prancis. Pada 18 Desember 1941 Gubernur Jenderal Hindia Belanda mengumumkan perang terhadap Jepang. Hingga pada 8 Februari 1942 tentara Jepang tiba di Bengkulu. Pada hari itu juga residen Belanda yang terakhir, C. Mayor, menyerah kepada Jepang dan berakhirlah masa kekuasaan Belanda.

3. Pemerintahan Jepang: Tiga Setengah Tahun Paling Menyiksa
Upacara peresmian penyerahan kekuasaan Belanda atas Bengkulu kepada Jepang dilakukan di sebuah hotel di Bengkulu, yakni Hotel Centrum yang merupakan kepunyaan seorang Belanda bernama De Witt. Rakyat menyaksikan di pinggir-pinggir jalan sembari ikut merayakan iring-iringan konvoi pasukan Jepang memasuki Kota Bengkulu. Awalnya, ada rasa kelegaan pada rakyat Bengkulu atas runtuhnya penjajahan Belanda. Terlebih dengan semboyan yang dibawa Jepang yang mengaku sebagai “saudara tua” yang akan membawa perbaikan. Namun, hal itu tidak terbukti sama sekali. Di masa tiga setengah tahun pendudukan Jepang, rakyat Bengkulu justru mengalami penindasan yang semakin menyiksa.

Jika di masa pemerintahan Belanda, para “pejabat” rakyat masih mengalami perlakuan istimewa oleh pihak kolonial, maka hal itu tidak berlaku lagi pada masa kekuasaan Jepang. Para “pejabat” juga mengalami kekerasan dan penghinaan. Terlebih lagi perlakuan terhadap rakyat biasa. Mereka diburu untuk bekerja sekuat tenaga terus-menerus tanpa diperhatikan kondisi makanan, perumahan, dan kesehatannya. Rakyat ditindas dan diperas, hasil bumi mereka yang sedikit pun dirampas. Bagi rakyat yang telah beranjak dewasa selalu diikuti bayang-bayang akan dipekerjakan sebagai romusha. Menjadi romusha artinya harus meninggalkan rumah dan keluarga selama berbulan-bulan. Sebagian hilang atau menemui ajalnya selama menjadi romusha, sementara sebagian lain dapat kembali ke kampung halaman dengan kondisi yang mengenaskan.

Penderitaan yang ditimbulkan Jepang tersebut baru berakhir pada 15 Agustus 1945 ketika Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Mulanya, kabar itu masih disembunyikan oleh tentara Jepang yang mengisolasi rakyat dari segala informasi luar. Namun, hal itu tidak dapat dibendung lagi. Para pemuda dan tokoh-tokoh perlawanan setempat segera mempersiapkan diri. Di berbagai tempat timbul berbagai upaya perlawanan merebut senjata dari tentara Jepang. (Buku Profil, 1992: 12)

Bengkulu dapat dengan cepat beraksi menyambut berita kekalahan Jepang, sebab pergerakan kebangsaan di daerah ini yang sudah lama tumbuh. Organisasi politik pertama yang muncul di Bengkulu adalah Sarikat Islam pada 1915 (Ranni, 1990: 36). Perkumpulan ini dapat berkembang pesat sebab tujuan dan garis perjuangannya berdasarkan ajaran Islam. Disusul dengan organisasi-organisasi lainnya yang semakin mematangkan intuisi politik masyarakat Bengkulu.

PENUTUP
Catatan sejarah Bengkulu telah dimulai sejak masuknya pendatang Cina pada sekitar abad 264 SM. Dari naskah kuno tahun 116 SM para pendatang Cina telah mendokumentasikan bahwa ada negeri di sekitar Bengkulu dan Palembang yang saat itu telah menggunakan pasir emas dalam perniagaannya (Bernadie, 2004). Asal-usul nama Bengkulu yang paling terkenal ialah yang bersumber dari cerita rakyat di abad ke-16. Namun, ada pula pendapat yang mengatakan nama itu telah muncul jauh sebelumnya, yaitu sejak datangnya pendatang Cina di era sebelum masehi.

Wilayah Bengkulu terdiri dari beberapa muara sungai dan pegunungan. Selanjutnya, daerah-daerah muara dan datara tinggi itu menjadi asal mula peradaban suku-suku bangsa di Bengkulu yang berbentuk kerajaan kecil. Sebelum masuknya para pendatang Inggris, di Bengkulu telah terbentuk beberapa suku bangsa yang memiliki kebudayaan dan bahasa daerahnya sendiri. Bahasa dan budaya suku bangsa itu pun sebagian masih bertahan hingga kini. Turun-temurun menjadi bahasa yang digunakan masyarakat Bengkulu modern di beberapa kabupaten. Hingga kini di Provinsi Bengkulu terdapat puluhan variasi bahasa daerah yang masih dipertahankan masyarakat.

Di masa pemerintahan kolonial, Bengkulu merupakan satu-satunya provinsi di Indonesia yang pernah merasakan langsung pemerintahan Inggris. Sama seperti daerah lainnya di nusantara, Bengkulu pun merasakan masa kolonialisme Belanda dan Jepang. Selama pemerintahan kolonial tersebut, muncul bentuk-bentuk perlawanan dan gerakan sosial dari masyarakat Bengkulu yang tidak tahan pada ketidakadilan dan penindasan yang terjadi. Berbagai organisasi rakyat bersifat nasional dan lokal pun didirikan. Pengasingan Bung Karno ke Bengkulu sempat menambah cerahnya suasana politik bagi rakyat Bengkulu.

Secara garis besar, Bengkulu juga seperti daerah-daerah lainnya di Indonesia, memiliki cikal bakal kebudayaan dari nenek moyangnya sendiri. Bengkulu juga memiliki tokoh-tokoh pahlawan yang berjuang membela kepentingan rakyat dan memberi sumbangsih pada kemerdekaan. Dengan menghayati perjuangan para pendahulu, sudah selayaknya generasi penerus Bengkulu bekerja keras, membangun Bengkulu yang semakin berkembang dan mengejar ketertinggalan yang selama ini terjadi. Tentu hal itu dapat dilakukan dalam segala bidang. Termasuk misalnya seni kebudayaan, kesusastraan, pendidikan, politik, dan ekonomi.


Daftar Pustaka

Benardie, Hakim. (2004). Bengkulu dalam Lintasan Sejarah Phamnaläyu. Sarwit Sarwono (Eds.), Bunga Rampai Melayu Bengkulu (hal. 322—365). Bengkulu: Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu.

Buku Profil Propinsi Republik Indonesia (Bengkulu). (1992). Jakarta: Yayasan Bhakti Wawasan Nusantara.

Dalip, Achmaddin, M. Ikram, Mardanus Safuan, Arsik Hawab, Affandi Abidin. (1983). Sejarah Perlawanan terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Bengkulu. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Ranni, M. Z. (1990). Perlawanan terhadap Penjajahan dan Perjuangan Menegakkan Kemerdekaan Indonesia di Bumi Bengkulu. Jakarta: Balai Pustaka.

Setiyanto, Agus. (2015). Gerakan Sosial Masyarakat Bengkulu Abad XIX. Yogyakarta: Ombak.

Siddik, Haji Abdullah. (1996). Sejarah Bengkulu 1500—1990. Jakarta: Balai Pustaka.

 

Featured Image: Dokumentasi Penulis (Senja di Pantai Panjang, Kota Bengkulu)