Another curhat colongan melatarbekalangi tulisan kali ini. Weeell, kebanyakan tulisan di blog ini, sih emang isinya gitu. Halah. Jadi, pertama-tama yang mau saya ceritakan adalah terkait kondisi saya saat ini. Ceilah kondisi, kayak mau ngejelasin kondisi cuaca terkini aje. Hehe. #geje

Bukan tentang berat badan yang makin hari makin bikin jarum timbangan bergerak ke kanan. Bukan…

Bukan tentang pipi yang makin lama makin menggembung kayak keentup tawon. Bukan…

Bukan tentang diet dan olahraga kardio yang tiap hari gagal saya lakukan. Bukan…

Serius bukan itu neng? *mikirlagi*

 Hahaha… Suer bukan… Becanda, sih. Anggap aja yang ngalamin itu semua tadi bukan saya.

Back to the topic, Life is Jihad, Man. Yah, to be honest saya sedang berusaha keras mencamkan kalimat itu dalam-dalam. Dalam hari-hari saya beberapa pekan terakhir. Meninggalkan kehidupan super hectic di ibu kota menuju kehidupan super gabut (gaji buta, Red) di rumah. Ya bayangannya kalau dulu jam 21.30 -jam di mana saya sedang menulis sekarang ini- masih harus stand by di kantor untuk menunggu tulisan kelar diedit, sekarang di jam segini nggak ada lagi kerjaan yang belum kelar, pokok’e it could be the best time to sleep.

Yah, begitulah pada intinya menjalani kehidupan serumah bersama orang tua, tinggal numpang, makan ikut rumah, bangun pagi yang dikerjain cuma kerjaan rumah tangga, exp nyapu, nyuci piring, masak, bersihin kamar mandi, nggak segampang kelihatannya. Kok saya kerjaannya gini amat?

Ya, beginilah nasib seorang calon mahasiswa baru –yang tak kunjung mendapat kepastian kapan mulai kuliah-. Berkali-kali saya samperin pascasarjana UGM dan telponin kantornya, selalu dijawab dengan “Jadwalnya masih dirapatkan, Mbak”.

Ditambah lagi, efek ngelanjutin sekolah pasca yang cross major bikin kepala makin have no idea mesti belajar apa. Cuma meraba-raba beberapa buku yang kira-kira nyambung sama beberapa subjects.

Seperti de javu ke masa lulus SMA dan nungguin masuk kuliah S1 dulu lah kira-kira. Berbulan-bulan libur sambil deg-degan nunggu pengumuman. Tapi yang ini beda, Sob. Umur udah nggak muda. Usia udah terbilang tua. #lahsamaaja. Masa disamain umur 23 sama umur 16 tahun? (Umur gueh lulus SMA dulu #narsisdikit #wkwkwk) Huhuhu…

Kalau dulu masa-masa gabut begini yang saya inget cuma habis di depan TV, baca novel, ngulet di kasur, sesekali nyari ilham tulisan di atas genteng (serius!). Belum punya blog, belum ada facebook, intinya belum ada medsos buat nge-share tulisan. Mungkin banyakan waktu nganggur yang kebuang sia-sia di masa jahiliyah dahulu kala.

Mengulang lagi yang sempat saya bahas tadi, ya. Hidup ‘gabut’ itu nggak semudah dan seenak kelihatannya. Sebenarnya saya juga nggak gabut-gabut amat, sih. Masih berguna setidaknya sebagai anak rumah tangga dan menemani ibu yang sedang butuh banyak ditemani di rumah karena sakitnya. Cuma kurang rajin untuk nyari kerjaan, nulis di media, atau ikutan lomba misalnya. Hehehe. Nah, itu dia yang bikin berasa gabut. So, the problem’s solved! The end of the story.

Oh, belum…belum… dari tadi cerita muter-muter saya belum sampe ke main idea nya, ya. Wkwkwk. Yah, jadi begitu, Sob. Apanya? Menjadi manusia yang berguna itu tantangannya ternyata macam-macam, ya. Bisa berupa kesempitan waktu dan juga kelapangan waktu. Itu baru dari sisi ketersediaan waktu. Masih ada beribu pintu lainnya yang bisa jadi ujian buat manusia, tergantung titik terlemah seseorang itu. Kesehatan, harta, kedudukan, kepengangguran, kejombloan, sampai yang paling kekinian sepanjang zaman, ujian dengan si cinta. #halah

Kali ini, based on my experience, untuk menegakkan jihad pada setiap episode kehidupan itu susah-susah gampang. Atau gampang-gampang susah? Jihad berasal dari kata, jahada, atau bersungguh-sungguh. Rasanya kita harus setuju bahwa jihad bukan identik dengan perjuangan di medan perang saja, ya. Tapi jihad juga bisa dengan lisan, harta, atau jiwa.

Mengutip dari kalimatnya Michael Schumacher soal keberuntungan, “The harder you work, the luckier you get.”

Lalu, apa bentuk jihad yang sedang saya lakukan sekarang? Ya pastinya keep on the track “bersungguh-sungguh”. Jihad di saat kerjaan menumpuk di depan mata, mungkin lebih gampang karena kita sedang bergerak bersama sebuah sistem. Misalnya, di zaman tugas kuliah nggak habis-habis. Begadang dan kopi pun jadi teman setia. Paling nggak itu jelas kita harus ngerjain apa, harus nyelesaiin apa. Masih juga ada teman kosan yang sama menderitanya. Hehe.

Tapi, jihad di waktu gabut, buat saya tantangannya lebih berat. Butuh sentuhan kreativitas dan sekerat kemauan keras untuk bertahan pada tujuan hidup. Mungkin jauh berbeda dengan yang saya lakukan di umur 16 tahun dulu. Sekarang saya sudah sedikit lebih sadar tentang ke mana hidup ini harus menuju. Buat saya, jannah dan menjadi bagian dari keluarga Allah di sana. Aamiin…

Dari Anas ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri dari manusia.” Lalu Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu Ahlul Qur’an (Orang yang membaca atau menghafal Al-Qur’an dan mengamalkan isinya). Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.” (HR Ahmad)

Yuk bangun, Uti! Manfaatin waktu gabut yang semakin sedikit ini untuk banyak hal. Kalau di-list target kerjaan bisa banyak banget, sih. Salah satunya muroja’ah hafalan jus-jus buah yang sekarang tiarap dan hampir kehabisan nafas. Astaghfirullah… Yap, karena hidup itu sungguh sebuah jihad.

 

Bantul, 7 Agustus 2016. 23.14.

 

Advertisements