Perempuan itu hanya duduk diam. Lama terpaku menatap henpon di tangannya, memainkan jari-jarinya. Warna cerah baju dan rok krem panjang semakin menjadikan ia satu-satunya makhluk kontras di bengkel itu. Sementara, pelanggan bengkel yang lain ikut membantu pekerjaan montir.

Sekitar 15 menit berlalu. Seorang bapak yang juga pelanggan bengkel itu menyapa. Memecah konsentrasi si perempuan yang sedari tadi hanya bergumul dengan henpon. Bapak itu memberi tahu sebuah teknologi bernama ban tubeless. “Wah, ban tubeless…” ujar si perempuan dalam hati.

Ia terpana pada kecanggihan ban tubeless dari penjelasan bapak itu. Seakan baru pertama kali mengetahui bahwa di dunia ini ada ban tubeless. Selama ini ia sering membaca frase ban tubeless di pinggir jalan, tanpa tahu wujud dan fungsinya.

“Kalau buat perempuan, pakai ban tubeless lebih praktis, Mbak. Kalau bocor atau kena paku bisa nambal sendiri.” (menurut penjelasan sang bapak, ada cairan di dalam ban tubeless yang bekerja otomatis menambal kebocoran)

Begitu kira-kira instisari dari percakapan panjang bapak dan si perempuan. Bagi si perempuan, bapak itu seperti sudah tahu rutinitasnya mengunjungi bengkel hampir setiap bulan sekali. Yang rata-rata karena masalah yang sama, ban bocor. Entah mengapa ban motor itu cepat sekali bermasalah.

“Mungkin karena pakai merk yang kurang bagus, Mbak. Atau tekanan pas ngisi kurang pas jadi cepat aus,” begitu diagnosa sang bapak.

Pikir si perempuan, bisa jadi ada benarnya. Terlebih motornya sering digunakan berkendara minimal 30 kilometer setiap hari. Auslah ban itu.

Mungkin memang ada baiknya ia mencoba ban tubeless. Berdasarkan informasi sang bapak, saat membeli ban tubeless perlu memberitahu jenis motor yang digunakan. Karena ukuran ban tiap jenis bisa berbeda. Selain ban-nya, perlu juga ditambahkan beberapa komponen pendukung yakni dop dan cairannya.

Soal harga, ban tubeless lebih mahal. Untuk ban-nya saja bisa sekitar 150-170 ribu. Entah berapa harga komponen pendukungnya.

Tetapi, untuk kondisi-kondisi darurat saat ban bocor, misalnya malam hari atau di tempat yang jauh dari tukang tambal ban, ban tubeless akan sangat kooperatif. Recommended buat sis-sis dan agan-agan yang pengin praktis atau sering punya masalah dengan ban motor.

Tentang kekurangan ban tubeless, belum sempat didapat dari percakapan itu. Dari pembacaan sebuah artikel di internet, ban tubeless juga dapat bocor hanya saja prosesnya lebih lama. Selain itu, jika sudah rusak berat perbaikan ban tubeless lebih rumit dan mahal.

 

Featured Image: dokumentasi pribadi

Advertisements