Dengan pertolongan Allah, tidak ada yang tak mungkin. Pengalaman saya menulis tesis dalam “dua minggu” adalah secuil buktinya. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Eh, sebentar, kenapa ada tanda kutip di antara kata dua minggu? Jawabannya akan saya berikan di dalam postingan –yang sekaligus membersihkan sarang laba-laba dan jamur-jamur subur di blog- ini. 🙂

Masih dalam kondisi baper karena status sebagai mahasiswa akan segera berakhir, saya menulis snippet of my life as a student ini. *huhuhu kampus biru yang selama sembilan tahun ini merangkul dan mendidikku sebentar lagi harus jauh. Bisa dikatakan saya benar-benar tumbuh dari “rahim” kampus ini. Dua tahun belakangan bahkan saya diizinkan kuliah gratis SPP darinya. Ada sebuah puisi ala-ala yang saya dedikasikan untuk kampus biru “Kampus Kehidupan”.

Kembali ke tulisan ini, saya maksudkan untuk mengingatkan diri saya sendiri. Tentang beberapa petualangan yang belum pernah saya lalui, pelajaran bagi fase-fase kehidupan berikutnya, dan makna perjuangan itu sendiri. Sebab, diri ini beberapa waktu yang lalu pernah mengabadikan sebuah kutipan lewat platform Instagram:

“Apalah arti umur panjang, jika hari demi hari hanya menjadi pelajaran yang keesokannya segera kita lupakan. Maka, menulis adalah jalan keluar untuk mengabadikan ingatan.”

Demikian sedikit bagian narsisis sebagai pendahuluan. Pendahuluan? Tampak sekali pengaruh menulis tesis belum sirna. Huuuft. Jika di antara pembaca sekalian pernah membaca tulisan saya dua tahun yang lalu di blog ini, yang berjudul “Setahun di Ibukota”, jenis tulisan kali ini hampir sama. Akan menjadi rekaman jejak saya setelah melewati suatu fase besar hidup.

Jika dulu berbicara tentang pengalaman saya satu tahun menjadi wartawan di ibukota, kali ini tidak akan saya jelaskan pengalaman kuliah S2 selama dua tahun. Bisa-bisa jadi tesis baru lagi. Wkwkwk. Tetapi, kembali sesuai judulnya, cukuplah saya ceritakan tentang proses menyusun tesis selama “dua minggu++” belakangan. Seorang teman, Uni Yova, bilang di tulisan “Setahun di Ibukota” saya curcol. Di tulisan ini juga hal yang sama dan perlu Anda maklumi sebelumnya, mungkin akan banyak curhat colongan di dalamnya. Kalau bukan semuanya. Hehehe.

Semua dimulai enam bulan yang lalu. Di awal semester empat kuliah –saya masuk S2 pada 2016- saya dan teman-teman satu angkatan diberi kesempatan untuk memilih dosen pembimbing tesis kami. Tesis saya -yang saat itu sudah selesai bentuk proposalnya- mengambil wilayah kajian new media dan cyber culture. Singkat cerita, saya mengambil kesempatan untuk memilih dua nama calon dosbing (dosen pembimbing, red).

Syukur alhamdulillah, setelah melalui rapat dewan jurusan, saya diberi dosbing dalam pilihan pertama yang saya ajukan. Menurut saya beliau termasuk dosen yang selama ini paling banyak berkonsentrasi pada wilayah penelitian saya, new media dan cyber culture. Masalah muncul dari sisi yang lain. Saya dihadapkan pada sebuah konsekuensi dan tantangan yang tidak kecil. Bapak dosbing akan segera meninggalkan Indonesia pada akhir Juli untuk melakukan riset selama delapan bulan atau lebih. Yang artinya, saya sebisa mungkin harus lulus sebelum ditinggal pak dosbing.

Dengan mengambil konsekuensi itu, saya seringkali ketar-ketir. Terutama melihat perjalanan para senior di jurusan sebelumnya. Sejauh dua angkatan di atas saya, baru satu mahasiswa saja yang berhasil lulus tepat dua tahun. Bayangan penelitian tesis yang susah –dan kenyataannya kajian budaya/media itu rumit bin complicated, terutama di bagian analisis. Kalau nggak susah bukan tesis namanya sih, tapi caption atau status hehe– membuat saya kadang berpikir, ya nggak apa-apa lah kalau belum selesai dan harus ganti dosbing. Meskipun setelah itu terbayang juga tentang keribetan berikutnya jika ganti dosbing; harus diskusi dari awal lagi dan kemungkinan kerangka berpikir yang saya bangun tidak disetujui oleh dosen baru. Runtuhlah bangunan tesis yang sudah dirancang selama enam bulan.

Ditambah lagi, selama semester empat waktu saya untuk tesis rasanya 80% baru dihabiskan untuk penelitian lapangan saja. Belum masuk kepada analisis apalagi penulisan tesis. Ya, hidup saya memang tidak hanya terkonsentrasi pada tesis, ada FLP yang pada saat bersamaan juga sedang sibuk-sibuknya. Menjalankan rangkaian penerimaan anggota baru. Sejak Desember—April 2016 fokus saya lebih banyak untuk kegiatan FLP (ditambah penelitian tesis dan rumah orang tua yang sedang saya tinggali sendiri menuntut diurus ini-itunya).

Alhasil, memasuki Ramadan Mei lalu tesis saya sama sekali belum ada wujudnya. Ibarat tubuh manusia, mungkin baru tampak telinga atau hidungnya. Hanya bermodal proposal dan kerangka pemikiran yang ada di kepala, serta data penelitian mentah yang sudah terkumpul lengkap. Pulang ke kampung halaman 14 Juni, tesis baru sampai bab 1 yang totalnya berisi 27 halaman (udah dihitung cover, hiks).

Sejak saat itu, saya sudah berniat mengalihkan fokus perhatian pada tesis saja. Kegiatan di organisasi pun sudah libur selama bulan puasa hingga pertengahan Juli. Saya pasang target tertinggi, sebelum libur FLP berakhir tesis sudah rampung hingga sidang. Kalau belum rampung pun, aktivitas di FLP mungkin terpaksa dikorbankan, saya tidak mau. Target harian pun saya pasang, yaitu menghasilkan progres tiga halaman tesis setiap harinya. Mengapa tiga halaman? Sebab target saya tesis akan rampung pada halaman ke-100 kurang lebih. Jumlah itu sama dengan jumlah halaman tesis senior-senior yang saya baca di perpustakaan kampus.

Pulang ke kampung halaman, saya alokasikan waktu dua pekan. Tiket kembali ke Jogja sudah di tangan untuk 21 Juni. Yang mana ketika awal pergi, sesuai target yang saya canangkan, setidaknya secara kuantitas halaman tesis sudah mencapai 27+(14*3)=69 halaman kurang lebih. Wkwkwk. IPA banget kepala ini berpikir.

Tetapi, ternyata distraksi selama pulang ke kampung halaman tidak mampu saya tanggung untuk mencapai target itu. Bukan sekadar keribetan menyiapkan pernak-pernik lebaran dan acara beres-beres rumah. Namun, Allah juga datangkan beberapa hal cukup besar (bukan hanya satu) yang membuat konsentrasi ini tidak bisa melanjutkan tesis sama sekali. Saya harus pulang ke Jogja sesuai tiket yang sudah dipesan, dengan membawa progres tesis yang tidak seberapa. Waktu itu baru sampai pada bab 2 dengan 40-an halaman saja.

Sampai di Jogja 21 Juni, belum lagi bisa langsung melanjutkan penulisan tesis. Pikiran untuk bisa sidang pada Juli dan tidak jadi sidang hampir sama besarnya. Motivasi terbesar saya ketika itu adalah semangat dari ibu. Sejak masih di rumah menjelang kepulangan ke Jogja, lewat telepon setelah saya kembali ke Jogja, dan banyak pesan Whatsapp, ibu tidak berhenti menyampaikan, “Ibu doakan terus Uti bisa sidang sebelum Pak Budi berangkat ke Singapur, wuk.”

Teman-teman dan kerabat dekat pun banyak yang mendoakan. Di FLP ada Pak Doktor Ganjar dan Mbak Ari, yang hampir sama yakinnya dengan ibu ketika menyemangati. “Saya doakan lulus Juli dengan hasil terbaik tanpa revisi, Mbak.” Ujar Pak Ganjar yang entah sudah berapa kali menyampaikan kalimat itu.

Motivasi dari orang-orang lain pun masih saya ingat. Salah satu tetangga di Bengkulu yang juga berprofesi sebagai dosen, Mbak Dwi, berpesan yang sama dengan Bu Iput, guru di SDIT Salman Al Farisi Pogung (yang saya dekat dengan beliau karena kerjasama FLP dengan SDIT Salman). Keduanya meyakinkan, “Kalau Mbak Uti kan penulis, jadi gampang.”

Walaupun saat mendengar kata-kata itu dari mereka, saya hanya bisa mendoakan, kenyataannya progres menulis tesis belum tampak lancar.

Selama satu minggu berada di Jogja, sampai akhir Juni itu target menulis sehari tiga halaman belum juga berjalan lancar. Secara ideal mungkin target tersebut cenderung terburu-buru. Pada kondisi normal menulis tesis harus membagi waktu antara membaca puluhan literatur buku dan jurnal (nasional dan internasional), menganalisis, dan menulis.

Dalam hemat saya ketiganya harus selalu berjalan seimbang. Pembagian waktunya bisa sehari membaca literatur, hari berikutnya menganalisis, hari berikutnya lagi menulis. Atau melakukan ketiganya dalam satu hari, namun tentu saja untuk menghasilkan tiga halaman setiap hari memerlukan menajemen jiwa dan raga tingkat tinggi. #semacamkanuragan xD

Bulan pun berganti, tepat 1 Juli saya memberanikan diri menemui pak dosbing untuk bimbingan. Itu pun setelah mendapat ajakan dari teman seangkatan yang mana dosbing kami sama, yang terlebih dahulu sudah oke janjian dengan pak dosbing. Dengan progres tesis yang baru mencapai 53 halaman. Sudah sampai bab 4 tapi baru sub-judul untuk sebagian besar bab 3—4. #modalnekad. Sementara, si teman bimbingan sudah menyerahkan draft tesis utuh hingga kesimpulan.

Salah satu tips untuk merampungkan tugas akhir (skripsi, tesis, disertasi) memang secara rutin menjaga konsultasi dengan dosbing. Ibarat tanaman yang layu kembali tersiram hujan. #ciyaaa Masukan-masukan dan arahan baru dari dosen seringkali meningkatkan semangat hingga level 100 persen. Syukur alhamdulillah kami mendapat dosbing yang bersahabat dan selalu memberikan sikap optimistis dalam konsultasi.

Di sisi lain, kondisi beliau yang akan segera meninggalkan Indonesia –dengan kesibukan berlipat karena banyak sekali yang harus beliau selesaikan sebelum kepergian- membuat kami harus lebih mandiri mengerjakan tiap substansi tesis, tidak semua bagian bisa dievalusi.

Setelah mendapat banyak masukan dan motivasi dari pak dosbing untuk segera sidang pertengahan Juli, saya langsung pasang ikat kepala. Sejak hari itu hingga dua pekan setelahnya, saya tidak pernah tidur sebelum meneyelasaikan minimal lima halaman baru tesis. Dengan pertolongan Allah, diberi kelancaran. (Tips diri sendiri: amal harian pun diupayakan ikut meningkat dan selalu konsisten, apalagi saat itu masih Syawal). Bahkan, terkadang dalam satu hari bisa menambah 7—10 halaman (termasuk gambar). Draft utuh selesai pada 15 Juli. Keesokan paginya, saya langsung menuju rumah pak dosbing untuk menyerahkan draft dan meminta acc untuk maju sidang.

Satu kemudahan lainnya, jadwal sidang saya sebenarnya sudah direncanakan oleh bagian administrasi jurusan, Mbak Nova -yang super sekali baiknya, she is the goddess of KBM in my eyes– pada Jumat 20 Juli. Bahkan, sudah ada sejak draft tesis belum wujud.

Kembali pada momen bimbingan terakhir pada 16 Juli pagi itu, tanpa saya duga, pak dosbing memberi acc dan langsung tanda tangan pada draft tesis yang saya serahkan. Tanpa mengoreksi satu pun halaman, dari sekitar 100 halaman baru yang saya tuliskan sejak bimbingan terakhir! “Sudah, langsung saja besok saat sidang.”

Tentu saja perasaan hati ini antara senang dan was-was sama besarnya.

Sehari sebelum sidang saya sampaikan permohonan doa kepada teman-teman dan guru-guru terdekat. Berharap petolongan Allah hadir tersebab doa-doa mereka. Hari itu tiba juga. Jumat 20 Juli, sidang dimulai dengan presentasi saya dan masukan serta pertanyaan secara bergiliran dari dua dosen penguji, satu dosen pimpinan sidang, dan satu dosen pembimbing.

Mbak Monic, sebagai dosen penguji yang dapat giliran pertama, menyampaikan ketertarikan pada tema yang diangkat. Begitu juga hampir seluruh dosen lain di ruangan. Bu Nana, salah satu dosen representasi kolaborasi smart and beauty di jurusan kami tanpa diduga melontarkan komentar, “selama minggu-minggu ini baru kali ini saya membaca tesis yang enak banget dibacanya. Mengalir dan kalimat-kalimat yang sulit dimengerti hampir nggak ada.”

Tentu saya tidak menyangka akan ada komentar itu sama sekali mengingat durasi kejar tayang penulisan tesis ini yang hanya memaksimalkan waktu dua minggu. Rasanya sisi teknis penulisan itu memang “menyelamatkan”. Sebab, masukan dan komentar di luar itu untuk tesis saya jauuuh lebih banyak, terutama di bagian analisis. Selama dosen bersidang untuk menentukan nilai dan saya diminta keluar ruangan sebentar, ekspektasi tentang nilai turun sudah. Kembali masuk ruangan, keputusan lulus/tidak lulus dibacakan oleh pimpinan sidang, lengkap dengan nilai yang keluar (angka dan huruf). Alhamdulillah… sedikit jaraknya dengan nilai maksimal.

Sebagian perjuangan di semester akhir sudah selesai. Setelah ini masih banyak pekerjaan rumah menanti. Dari penelitian tesis yang saya angkat, sebuah jurnal nasional terakreditasi sudah melewati tahap review I redaksi, berikutnya menanti pengumuman sebuah konferensi tingkat internasional yang diselenggarakan pihak jurusan sendiri.

Saya menyadari setiap tugas akhir memiliki tantangan dan perjuangannya sendiri-sendiri. Bukan tentang cepat-lambat atau baik-buruk nilai yang kita cari. Namun, seberapa kuat pengaruh studi yang kita jalani dalam memberi perspektif baru untuk kehidupan itu sendiri. Memaksimalkan seluas-luasnya peran untuk kebermanfaatan. Ia hanya salah satu jalan –yang kita pilih- untuk meraih setapak demi setapak keberkahan yang Ia ridhokan.

Mohon doanya selalu dari pembaca sekalian, untuk keberkahan studi ini hingga akhirnya nanti.

 

Bersama ibu bapak doktor dosen penguji dan pembimbing
Advertisements