“Makanan sehat dan mahasiswa itu tidak ekuivalen.” Benar! XD Sepintas saya setuju dengan pernyataan ini melihat kenyataan yang ada, pada diri sendiri maupun teman-teman senasib sepenanggungan. Alias mahasiswa penghuni kost-an (walaupun kost-an saya sekarang agak spesial pakai telor, yakni berkonsep pesantren mahasiswi). Tetapi hampir tak ada yang spesial jika bicara soal makanan. Kami pun makan nasi seperti manusia lainnya. Dengan tempe dan sayur sekadarnya, sebulan sekali kadang masak ayam atau daging bersama. Itu pun dibagi rata. Serata tulang dengan daging yang membalutnya. Pun soal mie instant, dan rekan-rekannya seperti kopi, ciki-ciki-an, jajanan kaki lima, yang notabene masuk satu perguruan silat bernama makanan tak sehat. Memang jika dikonsumsi berlebihan klub makanan tersebut bisa berakibat serius bagi penurunan kesehatan.


Cerita sedikit tentang masa lalu. Saya sedari kecil dibesarkan oleh bapak dan ibu yang mencurahkan kasih sayang penuh pada saya seorang. Alasannya hanya satu, saya sejak lahir hingga sekarang belum pernah merasakan kehadiran pendamping alias saudara kandung alias anak tunggal. Tetapi bukan itu yang ingin saya ceritakan sejujurnya. Ini dia cerita aslinya. Sedari kecil, saya tidak pernah dilarang secara keras oleh orangtua untuk memakan mie instant and the genk yang notabene tergabung dalam perguruan makanan tak sehat itu. Alhasil saya yang mulai beranjak remaja sangat suka mie instant dengan tingkat intensitas konsumsi yang cukup tinggi, kadang seminggu sekali. Bahkan sering ketika tidak ada makanan ringan di dapur saya mengembangkan jiwa kreativitas dengan men-cemil mie instant mentah seolah-olah ia adalah mie gemes atau mie kremes yang banyak dijual untuk anak SD. Nyam.. Nyam.. mie gemes rasa soto atau bumbu kari yang lezat sekali.Sampailah pada suatu hari, ketika tidak sedang ber-‘uzlah di gua hira atau pun tidak sedang berselimut, saya mendapat pencerahan untuk total berhenti mengonsumsi mie instant –baik mentah maupun matang- untuk selamanya-lamanya waktu yang saya mampu bertahan. Hingga saat menulis curhatan ini total sudah 2 tahun lebih saya hidup tanpa mengonsumsi mie instant. Bagaimana shiroh perjalanan saya mengubah perilaku sedramatis itu? #memang adakah drama yang ingin mengisahkan perjalanan saya ini?# Begini ceritanya.. Berawal dari sebuah kajian kemuslimahan yang kalau tidak salah temanya “Healthy Life, Hidup Sehat Ala Rasulullah” (atau kalau salah tidak apa2 semoga dimaafkan teman2 FMT, intinya substansinya seperti itu). Sejak awal mengucapkan salam pembuka, mbak yang mengisi kajian sudah menyihir saya seketika. Merasakan energi positif yang beliau bawa karena sebelumnya saya sudah berkenalan dan berbincang sembari mengantar beliau menuju lokasi kajian. Beliau adalah sosok muslimah yang sering mengucap subhanallah.. subhanallah.. setiap ada hal baik yang saya ceritakan di sepanjang perjalanan menuju lokasi kajian. Subhanallah.. jatuh cinta pada perkenalan pertama. Kembali pada bahasan kajian yang beliau sampaikan, di pertengahan kajian ada satu cerita yang beliau sampaikan dengan mimik wajah dan gerak tubuh menggebu yang saya ingat hingga sekarang.

Begini kiranya cerita beliau, “Yuk, kita lihat sosok para Imam besar seperti Imam Syafi’I yang cerdas dan cemerlang. Saat berusia 9 tahun beliau telah hafal qur’an, setahun kemudian kitab Al Muwatha’ karangan Imam Malik yang berisikan 1.720 hadis pilihan juga beliau hafal di luar kepala. Dengan sederet daftar prestasi dan kecerdasan lainnya berhasil membuat beliau dalam usia yang sangat muda (15 tahun) telah duduk di kursi mufti kota Mekkah. Mari kita renungkan sosok Ibu Imam Syafi’i. Teman-teman mungkin sudah tahu tentang kisah seorang pemuda yang tidak sengaja memakan buah delima milik orang lain. Ia segera mencari pemilik kebun buah delima itu untuk meminta kerelaannya. Alhasil ternyata sang pemilik kebun tidak mau merelakan buah yang sudah dimakan tersebut, kecuali sang pemuda mau menikahi anak perempuannya. Anaknya yang digambarkan sebagai sosok yang buta karena tidak digunakan untuk melihat pemandangan maksiat, tuli karena tidak digunakan untuk mendengar perkataan buruk, dan bisu karena tidak pernah mengucapkan kata-kata kotor. Pemuda dan anak perempuan pemilik kebun itu akhirnya menikah. Dari hasil pernikahan itu lahirlah Imam Syafi’i. Sungguh cerita yang sarat dengan teladan. Bayangkan sosok ibunda Imam Syafi’I pastinya rahim beliau pun sangat terjaga. Makanan tak sehat tidak dipersilakan masuk ke dalam rahimnya. Semacam, mie instant.. pasti Ibunda Imam Syafi’I tidak pernah makan mie instant.”

Ya, mbak tersebut menyinggung tentang mie instant. Bukan hanya mbak tersebut, saya pun berani pastikan ibu Imam Syafi’I tidak pernah mengonsumsi mie instant karena makanan yang asalnya dari Jepang tersebut baru diciptakan tahun 1958 sedangkan ibunda Imam Syafi’I hidup sekitar tahun 700 Masehi. Saya sudah tahu sejak lama tentang akibat buruk mengonsumsi mie instant, namun mungkin seperti sifat sebuah hidayah, saya seperti pertama kali mendengar tentang efek buruk mengonsumsi mie instant. Ya, motivasi yang dicerna saat itu adalah menjaga rahim untuk mempersiapkan buah hati sekualitas Imam Syafi’i.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan seorang ilmuwan bernama Thomas Bouchard di tahun 1979, ia menemukan bahwa pengaruh peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kandungan terhadap kecerdasan tiga kali lebih besar dibanding apapun yang diperbuat oleh orangtua sesudah bayi lahir. Temuin ini manghadirkan fakta ilmiah yang memotivasi pentingnya menjaga rahim. Tentunya memulai kebiasaan sedari dini mengonsumsi makanan sehat, tidak hanya ketika hamil. Lebih lanjut tentang kecerdasan seorang anak, faktor genetik seorang Ibu sangat berpengaruh. Menurut ahli genetika dari UMC Nijmegen Netherlands Dr Ben Hamel “Pengaruh itu sedemikian besar karena tingkat kecerdasan seseorang terkait dengan kromosom X yang berasal dari ibu”. Daya pikir dan tingkat kecerdasan seseorang tentunya berkaitan dengan makanan yang ia konsumsi. Para wanita yang ingin menjadi ibu tentunya perlu mempersiapkan hal ini. ^_^

Itu baru satu ilmu dari cerita pertama. Saya mulai mengurangi konsumsi mie instant dan hampir berhenti sama sekali, kecuali sekali-sekali ^,^ Pencerahan masih berlanjut. Kali berikutnya Allah titipkan lewat kajian dengan tema Palestina dalam rangkaian acara Palestine Week di masjid Mardliyah. Apa hubungan antara Palestina dengan mie instant? Kajian yang saya ikuti mengungkapkan fakta-fakta terbaru tentang kondisi rakyat Palestina yang sangat memprihatinkan akibat serangan bertubi kaum penjajah. Dibumbui dengan praktik konspirasi yang dilakukan kaum Yahudi di seluruh penjuru dunia. Salah satu yang disinggung adalah mie instant. Sang ustadz yang menjadi pembicara memaparkan bahwa rakyat Indonesia telah banyak yang menjadi korban iklan. Seperti iklan mie instant yang dicitrakan begitu sedap dan penuh kenikmatan. Padahal kandungan makanan tersebut lebih banyak yang bersifat negatif ketimbang positif bagi tubuh. Tidak main-main jika dikonsumsi berlebihan akan menyebabkan kemunduran kerja otak dan kecerdasan masyarakat Indonesia (analisis pribadi, red). Hmm, konspirasi.. Jika ingin tahu lebih dalam tentang kandungan mie instant bisa cek tautan berikut http://www.sahabatsehat.info/2012/12/bahaya-mie-instan-bagi-kesehatan-tubuh.html

Begitulah, setelah mendengar kajian kedua saya semakin mantap pada pendirian memutuskan hubungan dengan mie instant, yang pada awalnya masuk dalam daftar makanan favorit. Mungkin karena kajian kedua dikaitkan dengan tema konspirasi, yang selalu menarik perhatian saya untuk membaca atau mendengarkan dengan seksama. Mie instant adalah sahabat setia yang sangat mengerti –sebagian- kebutuhan  anak kost. Saya masih memaklumi, bila dikonsumsi tidak berlebihan. InsyaaAllah masih dapat dikontrol. Pun disaat genting seperti bencana alam, alternatif makanan yang pertama dicari sebagian besar korban dan relawan adalah mie instant. Namun yang tahu kapasitas menahan diri itu pastinya diri kita sendiri. Ada yang mampu menahan sekali-sekali dan mengatur dalam rentang waktu yang lama, ada pula yang harus berhenti sama sekali jika sekali mencoba tidak mampu menahan diri. Apa pun pilihannya, sikap terbaik adalah menautkan diri pada perintah Allah. Terkait memilih makanan, Allah telah firmankan, “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi.” (QS.al-Baqarah : 168). Selain halal, syarat yang Allah perintahkan juga baik. Maka jika masih mengikuti nafsu memakan makanan yang kurang baik, azzamkan diri untuk berproses menjadi sesuai dengan yang Ia inginkan. Saya rasa itu cukup untuk memulai ikhtiar. Semangat mencoba, teriring nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran kepada saudara yang dicinta = )

Advertisements