Memulai arsitektur, itu artinya mengenang peristiwa masa-masa 2009 menjadi maba. Detik pertama saya menginjakkan kaki di kampus arsitektur, saat itu pula saya mengenali makna arsitektur melalui karya-karya indah mahasiswa senior di sana. Sebelumnya, hanya kata-kata bisu dari mbah Google bahwa arsitektur adalah seni dan ilmu merancang bangunan yang *bla-bla-bla. Saya tidak paham.

Di kuliah pertama pengantar arsitektur, definisi filsuf Vitruvius dalam tiga kata ajaib tentang arsitektur sedikit membantu. Ia merumuskan tiga unsur yang harus dipenuhi dalam arsitektur adalah Estetika (Venustas), Kekuatan (Firmitas), dan Kegunaan / Fungsi (Utilitas). Jika hilang salah satu di antaranya maka belum lengkaplah bangunan ber-arsitektur. Meskipun penilaian subjektif dan relativitas arsitektur kadangkala lebih kuat daripada perhitungan logika pasti nya.

Sempat tidak yakin di awal kuliah, haruskah melanjutkan di tempat ini? Jika saat itu saya jadi berhenti dan mencari kuliah di tempat lain, dapat dikatakan yang saya kenali hanyalah ujung belalai arsitektur. Satu semester penuh kami kembali ke masa-masa TK (benar! Taman Kanak-Kanak). Ada sebuah matrikulasi di setiap sabtu pagi yang mengharuskan kami menggambar daun, boneka panda, tangan kiri, kotak pensil, hp, dan apa pun yang ada di sekitar kami. Lambat laun kesulitan sketsa semakin meningkat dan kami ter-engah-engah. Semakin buruk nilai sketsa yang kami dapat, semakin banyak PR mengulang gambar, dan semakin sedikit waktu tidur. Semakin membesar pula kantung mata. Yah, bahkan masa “balita” menjadi arsitek pun sudah mendapat tanda resmi asosiasi para arsitek, “kantung mata”.

Setidaknya, ini sebuah hasil yang bisa saya abadikan (satu2nya yang layak diabadikan) untuk bertahap memaknai arsitektur…

TKAD teknik pena
kaku. sebuah sketsa tangan menggunakan drawing pen/rapido. bernilai B- *haru