DI TENGAH SAMUDERA (1)

-Adinata-

Aku selalu suka laut. Pemandangannya menenangkan. Aku suka mendengar debur ombak yang menimpa karang. Terdengar seperti simfoni bagiku. Saat suntuk, laut adalah pilihanku.

Kali ini, justru sebaliknya. Aku benci laut. Pemandangannya sudah tidak menenangkan lagi. Sudah terlalu lama aku dan juga orang-orang dengan harapan yang menyala di hatinya bercumbu dengan laut beralaskan sebuah perahu. Perahu bukan kapal. Jangankan untuk berlarian, bergeser saja susah karena perahu ini begitu kecil untuk menampung kami. Aku dan mereka.

Aku berusaha tegar dan selalu menularkan semangat kepada yang lain walau sejatinya aku juga sama gelisahnya dengan mereka. Gelisah tanpa ujung. Terlebih saat perahu kecil ini ditolak untuk hanya sekedar singgah dan membiarkan kaki-kaki ini mencium bumi walau hanya sesaat. Harapan di hati mereka semakin redup atau bahkan mati, hilang sama sekali. Lalu apa yang dapat menguatkan?

Rumah telah hancur oleh tangan-tangan penguasa yang merasa diri adalah makhluk yang paling berhak atas tanah yang telah sekian tahun menjadi tempat pulang. Terusir dari tanah sendiri karena sebuah perbedaan. Bukankah perbedaan itu indah karena di dalamnya ada banyak warna? Aku kesal dengan sikap mereka yang membenci perbedaan dan berusaha melenyapkannya. Apa yang ada di dalam hati dan otak mereka?

Perahu bergoyang. Awalnya aku merasa mual, tapi sekarang rasa itu sudah menguap berganti dengan kegelisahan dan ketakutan. Aku hanya sendiri di sini. Memeluk ketakutanku sendiri. Ayah, Ibu, Kakak.. aku ingin memeluk kalian. Aku sudah tidak tahan berada di tempat ini.

Seorang bocah perempuan mendekatiku. Namanya Sarah. Rambutnya ikal berwarna cokelat, secokelat kulitnya yang terbakar matahari. Sarah adalah satu-satunya anak di perahu ini. Ia hanya bersama dengan ibunya yang setiap hari meratap dan tidak memedulikan Sarah lagi. Bocah itu memeluk lenganku seakan ingin menenangkan hatiku yang mulai diselubungi tabir ketakutan.

“Kak…”

Aku hanya menatapnya sambil tersenyum. Bola mata Sarah benar-benar teduh. Ia seakan tidak takut atau pun gelisah dengan semua ini. Sarah seakan benar-benar menenangkanku.

“Aku ingin pulang.”

Aku mengangkatnya dan meletakkannya di pangkuanku. Perempuan di sampingku sedikit bergeser. Tanpa suara. Hanya ekspresi kecemasan akan harapan yang semakin mengabur.

“Nanti pasti kita akan pulang. Nanti. Bersabarlah.” Aku berusaha menghiburnya. Hanya itu satu-satunya yang bisa aku lakukan sekarang.

Aku memeluk Sarah. Mataku seketika berair. Pandangan menjadi samar. Pulang. Masihkah bisa kembali pulang setelah semua perpecahan yang terjadi? Semua yang ada di sini ingin pulang, tapi pulang ke mana? Hanya kuasa-Nya yang mampu membuat kapal ini berhenti berlayar dan pulang. Entah akan pulang ke mana.

Semua orang mulai menjadi gila. Siang yang panas di tengah hamparan air maha dalam semakin panas dengan orang-orang yang mulai barbar. Berawal dari air minum yang semakin menipis, membuat persatuan yang tadinya baik-baik saja menjadi retak dan hampir pecah.

Aku sudah tidak punya kuasa. Omonganku hanya omong kosong. Nyatanya sebuah semangat belum cukup untuk menghilangkan rasa takut ini. Aku hanya duduk di ujung perahu sambil memeluk Sarah.

[]

Jiwaku terpanggil. Aku tidak bisa membiarkan mereka menunggu lebih lama. Tanpa berpikir panjang, aku datang dengan membawa pelita harapan. Aku ingin mereka yang sudah terlalu lama terkungkung ketakutan dan kesedihan perlahan bangkit dan mengambil kembali hak yang telah dirampas. Sayangnya, aku bertindak bodoh waktu itu.

Sebulan lalu, aku hanya menuruti keinginan hati yang aku anggap sebagai panggilan jiwa. Tidak dalam barisan jama’ah, tapi berdiri sendiri dan yakin dengan ilmu yang telah aku dapatkan selama empat tahun ini. Aku bergerak karena hatiku. Membuat barisan, terlalu lama dan mereka tidak akan pernah bisa menunggu. Aku bergerak. Segera. Tanpa perlu menunggu terlalu lama.

Aku habiskan uang tabunganku untuk datang ke tanah Burma. Aku yakin Dia akan mengganti semua ini dengan yang jauh lebih baik. Sekarang hanya inilah yang bisa aku berikan. Memberikan semangat. Menguatkan jiwa mereka walau raga mulai rapuh. Aku ingin memberi lebih, tapi tangan ini tidak mampu menjangkaunya.

Perjalananku lancar. Aku seperti sedang berlibur. Sampai di Bandara Yangon aku langsung menuju Aung Minglar. Aku memilih menggunakan taksi. Aku memandang wajah kota ini dalam diam. Kota ini memang baik-baik saja, tapi di bagian lainnya, entah ada kedamaian atau justru ketakutan berkepanjangan. Aku sengaja tidak menaiki taksi hingga sampai tujuan. Aku ingin melanjutkan perjalanan dengan kakiku sendiri. Aku rasa cara ini lebih baik dibanding menggunakan taksi. Aku malas menghadapi campur tangan orang-orang tidak penting. Bisa saja sopir taksi itu salah satunya.

Aku mengangsurkan 7000 kyatt kepada sopir taksi sesuai dengan perjanjian awal. Senja sebentar lagi datang. Aku tidak ingin membuang-buang waktu. Rakhine tidak terlalu jauh berdasarkan pantauan peta digital di ponselku. Sepanjang perjalanan tampak biasa saja. Tidak ada hal yang membuatku tidak nyaman.

Tidak sulit untuk masuk ke Rakhine. Aku tunjukkan identitasku sebagai mahasiswa dari Nusantara yang akan mengadakan penelitian. Cara ini lebih aman daripada aku harus bicara terang-terangan. Tentunya aku tidak akan kesulitan untuk masuk ke wilayah ini.

Suasananya sepi. Temaram senja mulai menyapaku. Hanya ada beberapa orang yang melintas. Aku mendatangi sebuah rumah yang tampak sederhana. Aku sapa pemilik rumah, seorang wanita paruh baya yang duduk sendirian di teras kecilnya. Aku memperkenalkan diriku dengan bahasa setempat yang sudah aku pelajari selama setahun belakangan. Wanita itu bernama Layla. Ia menyambutku dengan ramah walau aku melihat sorot kecemasan dan ketakutan dalam matanya. Aku mulai berbasa-basi. Setelah berbincang cukup lama, Layla mulai terbuka dan menerima kehadiranku. Mungkin ia telah menangkap semangatku yang hadir di sini? Entahlah. Layla mulai bercerita banyak tentang hidupnya yang berantakan. Dimulai sejak tiga tahun lalu.

“Dulu, hidup saya tidak seperti ini. Saya hidup normal-normal saja walau berbeda dengan orang-orang dari negeri ini. Ya, saya memang berbeda. Semua berjalan normal sampai akhirnya, entah siapa yang memulai, kehadiran saya dan orang-orang seperti saya yang berbeda ini mulai menjadi sorotan.

Ini rumah saya. Apa hak mereka mengusir saya dari tanah ini? Saya tetap bertahan walau suami saya tidak pernah kembali. Terakhir berpamitan, suami saya hanya ingin memperjuangkan keadilan. Anak sulung saya, memilih untuk pergi tanpa restu saya. Sekarang saya tidak tahu lagi di mana anak saya berada.

Lebih baik saya mati atau pergi meninggalkan tempat ini jika mereka terus memaksa saya untuk menanggalkan identitas yang sudah lama melekat. Saya ingin melawan, tapi saya tidak bisa. Saya hanya diam dan berharap suami saya akan kembali.”

Bocah perempuan berambut ikal cokelat muncul dari balik pintu. Layla meraih anak itu dan mendudukkannya di pangkuan. Wajahnya menggemaskan. Kutaksir usia bocah itu sekitar 6 tahun. Tatapan matanya meneduhkan.

Langit berwarna kemerahan dan remang-remang sudah datang saat obrolanku dengan Layla masih mengalir lancar. Sarah, anak bungsu Layla, sedang bermain-main sendiri. Layla mengajakku masuk ke rumahnya. Ia masih ingin berbicara denganku. Ia ingin bercerita banyak. Sudah lama ia hanya memendam rasa ini sendiri tanpa membaginya.

[]

Tetap bertahan atau pergi. Mereka memutuskan pergi. Aku ikut serta. Entah ke mana tujuan ini. Mereka hanya ingin mencari bantuan, siapa saja, agar keadilan ini bisa mereka raih. Aku harus tetap bersama mereka walau situasi sudah semakin mencekam. Aku ingin menguatkan mereka secara jiwa. Hanya itu yang bisa aku berikan.

Berhari-hari, berminggu-minggu, hanya menginjak kayu yang terombang-ambing di samudera maha luas. Aku sudah mulai kehilangan tujuan datang ke negeri ini. Mereka benar-benar memutuskan pergi dan membiarkan tanah milik mereka diambil begitu saja.

Aku hanya manusia biasa. Aku mulai lelah dan hanya sendirian. Aku sempat menyesal kenapa memutuskan untuk bergerak sendirian. Saat harapanku juga seakan ikut hanyut di laut ini, siapa yang akan mempertahankan pijar itu? Mereka tentu tidak mengambil urusan. Menjaga pijar harapan di hati mereka saja susah bukan main, apalagi harus membaginya denganku.

Aku hanya duduk di ujung perahu dengan Sarah dalam pangkuanku. Layla sudah benar-benar kehilangan harapan. Ia sudah tidak mau bercerita padaku lagi. Ia lebih memilih untuk meratap dan semakin memperburuk jiwanya. Sarah pun terlupakan.

Seorang pria menciptakan percik api di siang yang panas ini. Aku memeluk Sarah erat. Aku benci situasi ini. Tinggal menunggu waktu hingga salah satu dari mereka berkurang karena persoalan yang sebenarnya sepele. Situasi sudah semakin gila. Perahu ini bergoyang bukan lagi karena sentuhan air laut yang sedikit meliuk, tapi karena dua sosok tinggi besar dengan kulit legam saling mendorong.

Aku sudah tidak tahan lagi. Aku menatap permukaan laut yang tenang. Kenapa aku terlibat sejauh ini? Bisa saja aku tetap tinggal di rumah, menjalani hidup dengan damai.

Aku tersadar. Apa yang baru saja aku katakan? Aku beristighfar. Hatiku mulai berdialog sendiri. Telingaku berdenging karenanya.

Jika aku mengakhirinya, maka semua ini tidak akan lagi aku rasakan. Entah laut ini bisa menjadi tempatku bersembunyi atau tidak. Aku ingin lari dari semua ini.

Apa aku gila? Jangan tinggalkan mereka. Aku harus tetap bertahan, apapun yang terjadi. Ingat tujuanku datang jauh-jauh ke tempat ini. Buat apa berjuang sedemikian rumitnya jika pada akhirnya hanya ada kata menyerah?

Aku ingin lari.

Jangan, jangan tinggalkan mereka.

Aku ingin bersembunyi. Aku sudah tidak tahan.

Aku harus kuat. Aku harus bertahan. Ada Dia bersamaku.

Aku tidak peduli dengan pria yang saling beradu mulut itu. Sarah masih berada dalam pangkuanku. Lisanku hanya diam namun hatiku sibuk berdialog dengan diriku sendiri.[]

Jogja, 3 Juli 2015

 

 

Malam di Kapal (2)

-Mujiatun-

 

Shuge tidak tahu. Aku senang dia membiarkanku istirahat sejenak. Paling tidak dia sudah memberi aku waktu seminggu dari sebulan yang aku ajukan. Yah, dengan sangat alot. Tapi kalau mudah tentu itu bukan Shuge. Pria itu kini pasti sedang lembur mengerjakan pekerjaan yang aku tinggalkan.

“Minumannya tuan?” seorang pelayan berjas rapi sudah berdiri di sampingku. Ia membawakanku sebotol anggur. Aku mengangguk. Ia menuangkan minuman berwarna merah itu ke gelasku yang sudah kosong.

Aku memperhatikan pelayan itu. Ia lelaki yang masih muda. Mungkin diawal tiga puluhan atau malah belum. Perawakan dan kulitnya bagus. Tampan! Aku jadi bertanya kenapa ia tak jadi model saja. Tapi, ia juga bisa menuangkan anggur dengan sangat tangkas dan elegan. Ah, bisa aku maklumi, kapal pesiar ini memang berkelas. Begitu pun pelayannya.

“Ada yang lain tuan?”

Aku menggeleng. Ia berpamitan dan mengundurkan diri.

Mataku mulai menerawang jauh. Aku tak melihat apa-apa kecuali gelap. Bulan tak mau membantuku, apalagi bintang. Mereka diapit awan yang sedari senja berarak. Meski demikian aku merasa nyaman dengan kegelapan ini.

Aku hanya seperti melihat cermin diriku sendiri. Gelap yang pekat.

“Apa ada putri duyung di sana?”

Aku menoleh. Tersenyum kecil. Eliza sedang melangkah dengan anggun ke arahku. Dia wanita yang menarik. Humoris, cantik dan dari kalangan keluarga kaya. Namun aku pikir dia terlalu terbuka, apalagi tentang ketertarikannya akan sesuatu. Ah, bukankah ini menarik. Aku hitam pekat, ia terang benderang.

“Pesta sudah dimulai. Kau tidak ikut?”

Aku menengok dek kapal paling atas. Higar bingar musik terdengar. Ramai-ramai mereka berjingkrak seperti ringan pundak mereka.

“Aku pikir pesiar tujuannya bukan itu. Bukankah di daratan clubing juga banyak?”

Eliza tergelak. Oke, aku berhasil menghiburnya mesti aku tak ingin.

“Ya, tujuan kita memang sedang lari kan? Aku pikir tak apa jika sedang berlari menikmati suguhan sejenak.”

Aku menggeleng, “kau sepertinya suka bermain tebak-tebakan. Aku tidak lari, Mungkin kalian yang sedang berlari.”

“Kau masih menyangkal. Sudah jelas, dari sekian banyak manusia di kapal ini, kaulah yang paling jelas sedang berlari. Ben, pria berwajah kotak yang bersamaku tadi, ia lari dari istrinya yang ketahuan mengkhianatinya.” Eliza menengguk anggurnya.

“Rosa, perempuan di samping kamarku, ia lari dari pekerjaanya yang menjemukan, dan aku, kau tau kenapa aku ada disini. Aku masih penasaran, apa hal yang membuatmu lari.” Mata biru Eliza menatapku. Aku merasa sedang ditelanjangi.

“Pertama, kita sedang berlayar, bukan lari. Kedua, mungkin benar, hanya aku yang tidak berlari di sini.” Aku menengguk habis anggurku. Tiba-tiba tenggorokanku terasa kering.

“Oke aku menyerah. Kau pria keras kepala.”

Eliza kembali memandangku aku membiarkannya. Mataku memandang lautan gelap.

“Aku keatas. Kau mau ikut? Pasti jawabannya tidak.”

“Kau terlalu pesimis. Ayo,”

Sepertinya Eliza sedikit kaget. Namun ia segera mengamit lenganku dan menarikku  ke atas. Jika benar aku sedang berlari, bukankah lebih baik menikmati suguhan dari pelarian.

Siapa yang tahan dengan gelap yang pekat.

**

Aku tidak tahu. Waktu jelas bagiku hanya ada dua, siang dan malam. Jamnya entah, dan aku sudah putus asa untuk mengetahuinya. Tidak penting lagi. Apa yang lebih penting lagi ketika nyawa sudah di ujung tanduk?

Ayesa tertidur di sampingku, tidak berbaring. Tubuhnya setengah bersandar ketubuhku. Kakinya tak bisa selonjor karena sempitnya ruang yang kami punya. Tidak hanya Ayesa, manusia-manusia disekelilingku pun tertidur dengan posisi yang sama. Wajah-wajah mereka tertelungkup. Aku bersyukur, setidaknya aku tidak perlu menatap wajah mayat hidup.

“Segera masukan beberapa bajumu ke tas,” perintah ayah tiba-tiba. Namun aku biasanya memanggil bab, panggilan ayah di desa kami. Ia masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. Ayesa berlari di belakangnya. Aku memandangnya, bertanya dengan isyarat mata. Ada apa? Ia hanya mengangkat kedua bahu.

“Kita kemana, Bab?”

“Berlayar,” jawabnya singkat. Ia sibuk memasukkan beberapa barang ke dalam tasnya. “Tak usah banyak-banyak. Kita akan membeli yang baru jika sudah sukses disana.” Katami melihat Ayesa yang nampak bingung memilih barang yang akan dibawanya.

Benar, kami membawa barang seadanya. Dengan tergesa kami meniggalkan rumah. Sebuah mobil pik up enunggu kami di ujung kampung. Sudah banyak penumpang yang memenuhi mobil kecil itu. Namun mobil itu masih belum bergerak.

Beberapa menit kemudian ada tiga orang lagi datang. Benar-benar penuh dan kemudian mobil bergerak meninggalkan kampung.

Tubuh Ayesa bergerak tiba-tiba. Aku pikir ia terbangun. Namun matanya masih terpejam. Hanya raut wajahnya yang berubah. Cemas, takut, atau, entahlah. Namun sedetik kemudian wajahnya kembali tenang. Bahkan dalam mimpi pun kami tak bisa damai.

Ombak malam ini cukup tenang. Aku yakin bintang bertaburan dan angin yang sepoi-sepoi.  Aku ingat Rohlan, tetanggaku yang bercita-cita berlayar mengarungi tujuh laut. Sayang ia tak bisa turut, mati seketika tertembak peluru. Namun siapa yang lebih disayangkan sekarang? Ia yang mati duluan atau aku dengan kondisi perlahan-lahan mati.

Mati. Aku ingat bab. Entah di mana tubuhnya sekarang. Mungkin sudah dimakan hiu atau ia kembali ke pelabuhan. Kembali ke tempat asal kami.  Siapa pun tak ada yang menyangka bahwa ia akan mati di tengah lautan sedangkan seumur hidupnya ia selalu berada di darat.

“Seperti apa Malaysia itu ya?” tanya Ayesa setelah aku menghiburnya tentang  kematian bab. Aku menjanjikan kehidupan yang lebih baik di Malaysia, meski tanpa bab.

“Entah. Namun pasti di sana kita tak perlu lari lagi.”

“Kenapa kita lari? Bukankah rumah kita di sana?” mata bulat Ayesa menatapku.

“Kita akan menemukan rumah baru di Malaysia dan kita bisa punya uang dan bisa makan apa saja.”

“Apa saja? Aku ingin makan burger,” kata Ayesa dengan pengucapan kata burger yang aneh.

“Ya, apapun. Tidak ada lagi serdadu berseragam yang menakutkan. Juga tidak ada tembakan-tembakan.”

“Sepertinya Malaysia tempat yang bagus. Aku harap bab bersama kita.”

“Kita akan baik-baik saja.” Aku mengelus rambut Ayesa yang bercampur air laut.

Memang, harapanku adalah untuk hidup baik-baik saja. Meski tanpa bab ku pikir kami akan baik-baik saja. Namun harapan itu tinggal harapan. Sudah berbulan-bulan sejak terakhir kami melihat daratan, sudah berpuluh malam sejak tubuh bab diturunkan ke laut, namun kami tak juga sampai di negeri yang menjanjikan itu.

Lambat laun aku mulai percaya, negeri makmur itu hanya cerita saja, dongeng belaka. Aku ingat kakek Yusuf yang senang sekali bercerita. Ia bercerita tentang banyak sekali negara indah. Negara makmur. Ia menceritakannya dengan begitu detail dan meyakinkan hingga aku percaya bahwa kakek Yusuf telah keliling dunia untuk melihat mereka semua. Namun akhirnya aku tau, seumur hidupnya kakek Yusuf  tak pernah keluar dari desanya.

Ah, kita akan baik-baik saja? Mungkin esok pagi tubuhku yang akan diturunkan ke laut.

**

Dua dini hari. Aku sudah tidak bisa lagi berdiri. Eliza masih berada di tengah arena pesta. Sepertinya ia tak terpengaruh bergelas-gelas alkohol yang ia teguk.

“Mau saya antarkan ke kamar anda, Tuan?” seorang pelayan memegang tubuhku yang sempoyongan.

Aku mengangguk. Pelayan itu lalu memapah tubuhku. Kami meninggalkan keramaian, menuruni tangga dan melewati lorong-lorong.

“Apa kau sedang berlari?”

“Ya, Tuan?” Tanya pelayan itu bingung.

“Eliza bilang semua orang di kapal ini sedang berlari dari kehidupan mereka di darat. Apa kau juga begitu?”

“Ah, Tuan. Yang benar saja. Apa yang perlu dihindari dari kehidupan mereka sehingga kapal pesiar menjadi pelarian mereka. Saya pikir, mereka adalah orang-orang yang berbahagia dengan hidupnya.”

Aku memandang pemuda itu. Nampaknya ia bersungguh-sungguh. Ia tak sedang mengejekku.

“Semua penumpang di kapal ini adalah orang kaya. Semua bisa mereka dapatkan. Untuk apa mereka berlari dari kehidupan yang membahagiakan itu. Mungkin jika orang seperti saya, ada kemugkinan untuk lari. Tapi bukan berlari menghindar, namun berlari menjemput kebahagiaan saya untuk hidup bahagia bersama keluarga,” pelayan itu tersenyum. Senyum optimis pertama yang aku lihat di kapal ini.

“Ah, anda sudah sampai di kamar anda, Tuan.”

“Oh ya, terimaksih,”

“Tuan, besok siang kapal akan kembali mendarat. Semoga sisa pelayaran anda menyenangkan,” katanya sebelum meninggalkanku.

Kamar gelap menyambutku. Aku ingin kembali memanggil pelayan itu. Aku tidak ingin sendirian. Namun, aku urungkan. Lelaki macam apa yang takut gelap. Ah, tidak hanya gelap. Tiba-tiba aku sadar, aku terlalu sering membohongi diriku sendiri. Aku takut gelap. Aku juga takut sendiri.

“Sekali melangkah kau tak akan bisa kembali,” kata Shuge ketika mengajakku bergabung dengan proyeknya. Proyek ambisius yang mampu merubahku yang hanya arsitek biasa menjadi pria kaya hanya dalam hitungan bulan.

Tiba-tiba aku membenci Shuge yang telah menawariku untuk bergabung dengannya. Namun aku lebih membenci diriku sendiri.

“Kemenangan bersama kita, Dam.” Kata-kata Shuge terngiang. Membuatku mual. Sehari setelahnya aku memutuskan untuk cuti. Berlari. Lari dari kenyataan bahwa aku turut andil dalam pembunuhan ribuan nyawa di negara miskin itu.

Kupaksa tubuhku yang sempoyongan keluar dari kamar. Bagaimana bisa aku bertahan sedangkan bayangan tubuh mereka yang tanpa nyawa mengikutiku tanpa henti. Aku menyusuri lorong-lorong kapal yang sunyi.

Aku dengar dengan kapal mereka pun berlari, namun mereka berlari menuju harapan. Namun bagiku sama sekali tak ada harapan. Dan ketika aku sadar tubuhku telah melesat kelautan.

**

Padang rumput yang luas tanpa batas. Burung terbang berpasangan. Menukik tajam, tanpa kepakan sayap. Angin semilir. Tidak ada bau asin, atau keringat manusia yang lama tak diguyur air bersih. Tidak ada wajah pucat putus asa. Hanya ada wajah bab yang bersinar.

Wajah bahagia bab. Apakah ini surga seperti yang ia ceritakan ketika aku kanak-kanak. Jika benar, aku tak menemukan wajah Ayesa. Mungkin dia masih berada di kapal. Dia akan ke Malaysia sendirian. Tidak. Aku hanya perlu menunggu sebentar lagi, wajah Ayesa akan muncul disini. Juga wajah seluruh kapal. Malaysia hanya omong kosong belaka.

Aku betah. Tentu saja. Aku mati, itu sudah bukan lagi masalah meski sebenarnya aku selalu takut mati. Tapi begini lebih baik. Lebih baik kan? Tiba-tiba aku tidak yakin. Wajah Ayesa tak muncul-muncul. Aku mencari wajahnya ke segala arah. Namun hanya suaranya yang terdengar.

“Ka, mereka menolong kita. Nelayan menolong kita!”

Aku tidak dapat mencerna seluruhnya. Ayesa nampak bahagia, cukup itu saja. Namun menit selanjutnya ia menangis seraya mengguncang-guncang tubuhku keras. Bibirnya memanggil namaku tanpa henti.

END

 

 

Jangan Tanya Mengapa! (3)

-Aeya Tabina-

 

Dan jantung ini bergemuruh

Mengapa?

Kami tak sedarah

Tak pula saling kenal

Dan airmata ini berjatuh

Mengapa?

Jarak terlampau jauh

Pernah bersua pun tidak

Kudengar kisah mereka lewat cerita orang

Kutatap mereka lewat layar televisi

Kubaca peristiwa mereka lewat surat kabar

Mengapa?

Mengapa tak hanya sampai pada mata atau telinga

Malahan mereka begitu nyata, nampak dan terasa.

Rohingnya

Nama yang belum pernah terucap bibirku

Rohingnya

Nama yang belum pernah terjamah batinku

Rohingnya

Nama yang mendadak membuat darah ini berdesir

Rohingnya

Nama yang melilit dada ini tatkala airmata mereka luruh

Dan nama yang kini telah menjadi luka

 

Apakah perlu menjawab mengapa?

Apakah perlu alasan untuk mengapa?

Saudara dengan iman yang sama

Saudara dengan cinta yang sama

Saudara dengan rindu yang sama

 

Dan duka itu telah sampai disini

Disini, ditempat yang disebut dengan lubuk hati

Dan jangan tanya mengapa, untuk rohingnya aku berduka

 

 

MANUSIA PERAHU (4)

Solli Murtyas

 

Tulisan ini bukanlah tulisan biasa. Saya menuliskannya sebagai ungkapan gejolak jiwa. Sulit sekali untuk dipercaya bila semua ini terjadi di zaman sekarang ini. Di mana kita hidup di zaman kebebasan, masa dimana setiap orang memiliki hak untuk menentukan jalan hidup kebebasannya sendiri sesuai dengan keyakinannya. Merekalah muslim Ras Rohingya, sulit untuk tak merasakan kepedihan yang mereka derita bila seseorang telah berinteraksi langsung dengan mereka.

Sebagai seorang nelayan yang harus menghidupi kelima anggota keluarga, sungguh menjadi satu perjuangan sendiri bagiku. Di tengah himpitan ekonomi karena harga solar senantiasa membumbung tinggi, jaring peraturan pemerintah yang semakin membatasi gerak kami dan harga ikan kami yang tak mampu bersaing dengan ikan impor. Ini gila! Kita bisa mati di negara yang katanya memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Mataku ingin terpejam, namun hatiku tak rela. Saudaraku di Myanmar sana terlunta mempertahankan hak hidup sebagai manusia yang layak untuk hidup seperti halnya manusia di penjuru dunia lainnya. Bagiku, ini lebih ‘gila’!

Malam itu aku berlayar seperti biasa. Nampak dari kejauhan sebuah perahu dengan cahaya seadanya terombang-ambing tanpa terdengar suara deru mesin.

“Tolong kami, tolong kami tuan..” terdengar suara samar namun semakin jelas ketika perahu kecilku mendekat. Seketika perahu sederhana ini kupercepat dan aku terkejut. Sebuah perahu kayu, hanya bertutupkan plastik terpal sebagai atap berisi ratusan orang. Sebagian besar pemuda dan ibu-ibu dengan penampilan yang tak lebih baik dari pengemis yang sering kutemukan di pasar ikan Langsa.

Melihat raut wajah mereka, aku menangkap berjuta rasa yang mereka ingin ceritakan. Namun cepat aku mengerti bahwa mereka terdampar di laut sudah lebih dari seminggu.Tanpa berpikir panjang, langsung kubawa satu dirigen solar ke atas kapal asing tersebut. Kemudian kutuangkan solar ke tangki mesin yang sudah kering kerontang kehabisan bahan bakar. Mesin menyala dengan jerih payahku dibantu dengan beberapa pemuda yang tanggap dari mereka.

Sejenak kulayangkan pandang ke berbagai sudut kapal yang sesak dengan manusia. Ada dua tingkat ruangan. Ruang pertama adalah ruang mesin dan lantai kedua adalah dek kapal. Sebagian besar orang berada di atas dek kapal. Hanya beberapa orang saja yang ada di dalam ruang mesin. Mereka yang di ruang mesin bukanlah teknisi, melainkan orang-orang yang terpaksa berdiam di sana karena sudah tak ada tempat lagi di dek kapal. Kondisi di dalam ruang mesin tersebut sungguh mengenaskan, ruang tersebut amat pengap, sempit dan berbau tidak karuan. Tingginya tidak lebih dari satu meter, sehingga orang-orang tak mampu berdiri tegak di dalamnya kecuali anak kecil. Namun tak ada seorang pun anak kecil di sana, yang ada hanya bapak-bapak dan pemuda. Di atas, pemandangannya tidak jauh lebih baik, lantai kayu begitu kotor dan bau, aku terkejut ternyata aktivitas buang hajat mereka di sekitar tempat mereka berdiri karena di sana tidak ada toilet. Hati ini semakin pilu ketika mendapati bahwa mereka ternyata sudah hampir sebulan terkatung di atas laut!

Aku kembali ke perahu kecil. Mengajak mereka untuk merapat ke dataran Langsa agar mereka mendapatkan pertolongan setidaknya bahan makanan dari warga yang iba melihat kondisi mereka. Aku optimis akan banyak nelayan yang akan membantu. Salah satu pemuda di perahu asing itu mampu mengendalikan kapal, sehingga saya hanya memberikan petunjuk arah agar mereka dapat merapat. Jarak menuju daratan sekitar dua setengah kilometer. Pikirku paling tidak tiga jam kami dapat merapat ke sana.

Tak terduga, di tengah perjalanan kami dihampiri kapal patroli polisi air dari TNI-AL. Mereka bertanya perihal kapal asing tersebut hingga mengapa alasanku mengajaknya merapat ke daratan Langsa. Kami diminta untuk menunggu satu kapal patroli lainnya yang membawa bantuan makanan, minuman dan bahan bakar. Beberapa jam kapal tersebut datang dan membawa 10 dus mie instan, 10 dus air dan satu drum solar. Mulanya aku tak menyimpan kecurigaan sama sekali kepada polisi patroli tersebut. Namun ternyata, mereka tidak mengijinkan kapal tersebut merapat ke dataran. Kapal pengungsi Rohingya tersebut digerek ke perbatasan laut wilayah Indonesia dan Malaysia.

Aku tak paham jalan pikiran para tentara patroli tersebut. Namun aku tak mampu berbuat banyak. Mereka dengan serta merta menggerek kapal pengungsi sementara orang-orang di dalamnya menangis dan berteriak, “Izinkan kami merapat tuan, kami sudah sebulan terombang di laut… kami mohon tuan… Mohon…”

Pilu sekali aku mengingat kejadian itu. Aku merapat kembali ke daratan dengan hampa. Merasa diri ini tak mampu berbuat banyak kepada saudara-saudaraku yang betul-betul membutuhkan bantuan. Tinggalah mereka manusia perahu yang entah kapan ombak membawa mereka merapat. Dan aku masih menunggu beriring senja yang kian memekat berubah menjadi malam…

 

Referensi feature Rohingya dari media:

http://www2.jawapos.com/baca/artikel/17864/Pilu-saat-Dengar-Takbir-di-Tengah-Laut

http://www2.jawapos.com/baca/artikel/17822/Dor-Dor-Kapten-Kapal-Menembaki-Penumpang-yang-Protes

https://www.jpnn.com/news/kisah-ngeri-pengungsi-rohingya-saling-bunuh-di-kapal-yang-takut-berkelahi-nyebur-ke-laut

 

Featured Image: http://www2.jawapos.com/baca/artikel/17822/Dor-Dor-Kapten-Kapal-Menembaki-Penumpang-yang-Protes

Advertisements