Hayo, ngaku… siapa yang sedang membaca tulisan ini masih berstatus jomblo? Saya! Saya!!! *heboh sendiri sambil angkat jari* Upsss… Lagipula, kenapa harus malu dengan status jomblo bukan? Jika memang itu salah satu ikhtiar kita untuk menjaga kesucian. Yup, kesucian diri dan juga hati, kawan.

Meski mungkin di usia belasan hingga dua puluhan seperti kita ini banyak pertanyaan yang datang bagi kaum jomblo seperti, “Pacarnya mana?”, “Udah punya pacar belum?”, “Apa?! Udah setua ini elo belum pernah pacaran? Ya ampun, hambar banget hidup lo pasti… Nggak kebayang deh gue.” Hehehe. Pernah mengalaminya? Kalau pernah, kita sama! *Tos dulu dari jauh!*

Eh, sebentar, Kak. Emang jomblo apa, sih? Gubrak… Makanan yang terbuat dari tempe itu? Itu mah combro… Dicocol pakai sambel goreng, mantappp. Kalau jomblo, dicocol pakai sambel goreng mah, paitttt… Sudah jomblo, dicolokin sambel, entar jadi jones alias jomblo ngenes. Eh eh, apa lagi tuh jones? Ya, itu.. jomblo ngenes.

Eit, sebentar. Tadi masih ada yang tanya jomblo itu apa, ya. Jika kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) nggak akan ketemu istilah jomblo. Karena itu adalah bentuk tidak baku dari “jomlo”. Yap, di dalam KBBI tertera istilah baku untuk jomblo yaitu “jomlo”. Yang di sana tertulis bahwa artinya adalah gadis tua (1), pria atau wanita yang belum memiliki pasangan hidup (2).

Jadi, cukup jelas ya jomblo itu apa. Istilah lainnya kaum jomblo sering juga menyebut dirinya single alias kemana-mana dan ngapa-ngapain masih sering sendiri, hihihi...

Lalu, menurut kalian apakah jomblo itu sebuah status yang memalukan? Atau bahkan aib?? Di mana zaman sekarang kita nggak jarang menemukan teman-teman kita yang masih sama-sama mengenakan seragam putih abu-abu atau bahkan putih biru naik motor berboncengan erat dengan lawan jenis yang mereka sebut pacar tanpa malu-malu? Sementara yang jomblo dianggap tabu. Dianggap tidak trendy? Karena tidak mengikuti trend pacaran?

Percayalah bahwa pacaran itu hanya sebuah trend budaya yang dibuat oleh masyarakat kita sendiri, Sob. Tidak ada landasan hukum negara apalagi agama. Lebih-lebih, tidak ada yang mewajibkan manusia di atas muka bumi untuk harus pacaran. Pun dengan alasan agar lebih mengenal sebelum menikah atau sekadar menyalurkan rasa cinta. So, nggak perlu khawatir kalau sampai sekarang kamu belum pernah merasakan yang namanya pacaran. Hehehe.

Boro-boro diwajibkan, justru Islam sebagai agama wahyu yang dengan sempurna mengatur keseluruhan hidup manusia, dengan tegas melarang pacaran. Banyak ayat Alquran maupun hadits telah menerangkannya, Sob. Salah satunya dalam QS. Al Isra: 32 yang berbunyi “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.

Sadarkah kita bahwa larangan itu sebenarnya adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya? Yap, Dia-lah Allah yang menciptakan kita, dan Dia-lah pula yang paling tahu seluk-beluk, luar dalam, samping kiri-kanan, depan-belakang, setiap makhluk-Nya. Hehehe. Ibarat kita punya HP, pasti ketika baru membeli HP itu (kalau bukan second hand ya, hehe) kita akan dapat buku manual penggunaannya. Maka, Allah ibaratnya adalah sang produsen HP, sementara Alquran adalah buku manual HP tersebut.

Sebelum kita lanjutkan, izinkan saya menceritakan sebuah cerita nyata. Alkisah sekitar 12 tahun lalu, ada seorang gadis baru lulus dari bangku Sekolah Dasar. Maka, seperti banyak anak-anak lainnya ia sibuk memikirkan cara untuk masuk ke SMP favorit. Ternyata, pilihannya tak hanya jatuh pada sebuah SMP favorit di kota tempat tinggalnya, tetapi ia juga memilih untuk mengikuti seleksi masuk ke kelas spesial. Dengan masuk ke kelas tersebut, ia dapat lulus dari bangku SMP hanya dalam waktu 2 tahun. Kelas itu dinamakan kelas akselerasi.

Singkat cerita, perempuan belia itu berhasil masuk ke kelas dan sekolah yang diinginkannya. Dua tahun kemudian pun ia lulus dari bangku SMP. Saat masuk masa penerimaan siswa baru ke bangku SMA, ternyata gadis itu tidak kapok dengan pengalamannya dua tahun belakangan. Dia pun bertekad untuk masuk kelas akselerasi kembali di bangku SMA. Ya, lulus SMA hanya selama dua tahun pula! Bisa dibayangkan bahwa gadis itu totalnya “melompati” waktu 2 tahun dari teman-teman sebayanya.

Apa yang ingin saya sampaikan? Tahukah kalian apa yang membuat gadis tersebut begitu bersemangat mengikuti program akselerasi? Ternyata, dia berkata begini, “Saya tidak ingin masa remaja saya terhabiskan untuk kegiatan yang sia-sia. Salah satunya masuk ke perangkap “pacaran”. Dengan waktu yang singkat, saya harap bisa lebih fokus pada hal akademis dan kesibukan-kesibukan yang baik.” Jegerrrr….

Ya, saya masih ingat betul alasan yang tidak terduga dan terkesan agak “idealis” itu. Karena gadis muda tersebut adalah diri saya sendiri sekian tahun yang lalu. Hehehe… Wah, jadi ketahuan usia asli penulisnya, nih.

Tapi, beneran deh, Sob. Di balik larangan pacaran dalam agama kita itu banyak alasan logis yang mampu menguraikannya. Berikut ini saya sampaikan tujuh di antaranya yang saya kutip poin-poinnya dari artikel di annida-online.com:

 

  1. Cinta Allah akan terus terjaga dalam hati saat kita menghindari pacaran

Salah satu nikmat terbesar dalam hidup adalah saat kita terus disirami oleh cinta Allah. Weeeezzz… Ngaku cinta Allah nggak, Sob? Sering ya rasanya kita bilang dan mengaku-ngaku mencintai Allah, Allah is number one. Tetapi, jangan-jangan semua itu hanya kata-kata gombal! Tak lebih dari manis di bibir saja. Tidak disertai dengan sikap dan perbuatan seseorang yang benar-benar cinta. Hiks… Kalau kita ingin mendapat balasan cinta Allah yang utuh, jangan sampai kita hanya memberi “cinta palsu” atau hanya sisa-sisa cinta kita ke Allah ya, Sob. #akanterusbelajar

  1. Menghindari diri dari perbuatan yang sia-sia

Ini mirip alasan yang disampaikan si gadis di cerita tadi. Hihihi. Kebayang kan kalau orang pacaran biasanya susah lepas satu sama lain. Nggak itu di sekolah, di kampus, atau pun di dunia maya. Masa remaja yang sebenarnya adalah masa-masa puncak kita menggali potensi, mengasah bakat, hard skill dan soft skill, bisa bubar jalan kalau terlalu sibuk pacaran. Bukan hanya menyita waktu, tetapi juga hati dan pikiran kita akan ditambahi masalah-masalah yang sebenarnya tidak perlu kita pikirkan.

  1. Menghemat uang

Ini benar bangetzzz… Buat kehidupan kita sendiri aja masih ditanggung biaya orang tua, tetapi sudah gaya-gaya-an menuhin kebutuhan anak orang. Traktir makan dia, beliin dia sepatu atau boneka. Apa kata dunia? Hehehe. Lebih baik uang jajan yang lebih kita tabung untuk suatu hari nanti melamar calon pasangan hidup yang sesungguhnya, Sob. #ehhh

  1. Membuat kita maksimal memoles diri supaya datang jodoh terbaik

Memoles diri di sini bukan maksudnya mematut wajah dengan polesan make-up ya, Sob. Hehe. Tetapi, terus meningkatkan kualitas diri kita baik dari segi iman, akhlak, personal skill, maupun kebermanfaatan bagi lingkungan sekitar. Masa remaja adalah masa-masa kita mencari jati diri. Maka, manfaatkanlah sebaik-baiknya. Hingga jodoh itu datang, kita sudah menjadi diri yang bernilai tinggi di mata-Nya maupun manusia. Eits, jangan lupa ikhlas niatnya lillahi ta’ala, bukan sekadar memantaskan diri demi sang jodoh. #deuh

  1. Tidak akan ada istilah mantan pacar dalam hidup

Punya mantan pacar rasanya gimana sih? Hmm… macam-macam kasusnya, Sob. Apalagi di zaman digital ini, punya mantan pacar terkadang seperti ada “pengawas” yang selalu mengintai. Bahkan, ketika kita tidak punya hubungan apa-apa lagi, bisa ada saja si mantan yang masih sering kepo-in medsos kita. Seorang teman bahkan bercerita bahwa mantannya selalu mem-follow teman-teman pria baru dalam hidupnya. Padahal hanya teman-teman kampus biasa. Heuuuu

  1. Membuat momen pernikahan menjadi begitu indah dan sakral

Pernikahan yang tanpa pacaran, ibaratnya seperti sebuah gerbang cinta yang megah. True love start after marriage. Saat peristiwa akad yang sakral terucap, saat itu juga cerita cinta yang indah bermula. Selamat merayakan cinta berdua!

  1. Menikmati masa pacaran yang indah sesudah menikah

Di sinilah baru pacaran itu dibolehkan. Hehe. Ibarat orang setelah berpuasa (baca: menahan diri dari pacaran), maka pacaran setelah pernikahan adalah berbuka-nya, yang akan jadi kenikmatan dan keindahan berlipat ganda daripada yang sudah icip-icip dahulu. Tahan sampai bedug maghrib, ya! #loh Hehe…

 

Itu tadi beberapa alasan yang mungkin bisa membuka mata kita, bahwa menunda pacaran sampai tibanya pernikahan itu jauh lebih indah, kawan! Jadi, tidak perlu lagi minder dan malu jika masa-masa remaja kita dihiasi dengan status jomblo dong, ya. Hehe.

Lalu, kalau dalam hati mulai timbul virus merah jambu (VMJ) atau kerlap-kerlipnya rasa jatuh cinta bagaimana? Nggak apa-apa, itu sangat amat wajar, Sob. VMJ tidak timbul dengan sendirinya, namun dipengaruhi oleh banyak sekali hormon dalam tubuh kita yang beranjak dewasa. Jika dijelaskan, bisa akan sangat ilmiah, lho. VMJ juga salah satu cara Allah mengenalkan kita tentang rasa cinta yang ada dalam diri manusia.

Jika benar penempatan dan pengungkapannya, maka cintalah yang bisa membuat hidup manusia menjadi tenteram dan merasa aman. Ya, seperti dalam banyak lirik lagu, cinta adalah anugerah! Pada hakikatnya, hanya ada dua jenis cinta yang perlu kita jaga, Sob. Pertama, adalah mencintai Allah. Inilah poros cinta, segala cinta yang lain harus kembali kepada cinta ini. Kedua, mencintai apa saja yang dicintai Allah. Cinta kedua ini kadarnya tidak boleh melebihi yang pertama.

So, cari deh nanti pasangan hidup yang lebih mencintai Allah daripada kamu atau dirinya sendiri. Karena memang sudah seharusnya begitu. Mereka adalah orang-orang yang termasuk dalam golongan shalih-shalihah. Begitu pula dengan kita, selalu mendahulukan cinta kita pada Allah dibanding cinta-cinta yang lain. Salah satu bentuk cinta itu adalah menjauhi larangan-Nya dan mengikuti perintah-Nya. Juga membenci apa yang dibenci-Nya dan mencintai apa yang dicintai-Nya.

 

Tulisan ini dibuat sebagai salah satu naskah buku antologi Menyambut Generasi Z Muslim

 

Feature Image: Dokumentasi Pribadi

 

Referensi:

http://annida-online.com/7-alasan-logis-mengapa-islam-melarang-pacaran.html (diakses 29 Agustus 2017)

https://kbbi.kemdikbud.go.id (diakses 29 Agustus 2017)

 

 

 

Advertisements