Oleh: Yusuf Malik

Keumuman teman-teman kita mengategorikan sebuah masyarakat modern atau tradisional adalah melalui penggunaan teknologi dalam masyarakat tersebut. Misal dalam bidang informasi, berupa smartphone. Pabrik-pabrik, kendaraan bermotor, perahu bermotor, dll. Selain itu, para sarjana juga menggunakan demokrasi dan rasionalitas sebagai patokan. Contoh saja Indonesia, Indonesia dianggap sebagai negara yang modern karena demokrasi berkembang cukup pesat, meski ada catatan. Turki juga masuk kategori negara maju karena demokrasi di sana juga berkembang cukup baik. Beralih dari sistem parlementer ke sistem presidensial melalui sebuah sidang wakil rakyat yang sangat demokratis.

Teman-teman, Islam sangat cocok bagi tempat tumbuhnya modernitas. Kita tahu bahwa Islam pertama kali muncul di sebuah daratan yang mengenal sistem perbudakan, seperti di belahan dunia yang lain juga mengenal sistem perbudakan. Saat  itu adalah masa berjayanya romawi di Barat dan Persia di Timur. Setelah Islam berkembang maka lambat laun perbudakan menjadi tidak diakui di dunia. Hal itu dibuktikan dengan terbitnya undang-undang internasional tentang larangan perdagangan manusia.

Ada beberapa kebijakan dalam Islam yang mengisyaratkan keseriusannya dalam menghilangkan sistem perbudakan. Dengan dua hal berikut ini, perbudakan tidak diakui lagi. Tanpa revolusi berdarah atau sejenisnya, perbudakan hilang. Pertama, setiap orang yang melakukan pelanggaran syariat yang berat maka salah satu bentuk pertobatannya adalah membebaskan budak. KH Maman Imanul Haq, Ketua lembaga dakwah PBNU, pernah mengatakan ada tiga prioritas dalam hukum kafarat. Pertama, orang melakukan senggama di siang hari harus memerdekakan seorang budak. Kedua, puasa selama dua bulan berturut-turut. Ketiga memberi makan 60 orang miskin (www.cnnindonesia/gaya-hidup.)

Kedua, dalam Islam membebaskan budak masuk kategori amal yang besar. Artinya membebaskan budak sangat dianjurkan dalam Islam. Karena sesungguhnya dalam Islam, tidak menganut stratifikasi sosial kecuali berdasarkan ilmu yang tercermin dalam perilaku-perilaku orang bertakwa.

 

Katakanlah: ”Adakah orang yang mengetahui sama dengan orang yang tidak mengetahui? (Az-Zumar: 9)

Dan sebuah ayat,

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian disisi Allah adalah orang-orang yang paling bertaqwa.” (Al-Hujurat: 13) 

 

Sedangkan pretisius-nya seorang yang memerdekakan budak ada dalam hadits yang diriwatkan oleh Tirmidzi dari Abu Umamah.

“Siapa saja seorang muslim yang membebaskan seorang budak yang muslim, maka perbuatannya itu akan menjadi pembebas dirinya dari api neraka”.

 

Kamu tahu kan, pertama kali revolusi Prancis sebagai tanda modernisasi itu meletus, yang menjadi tuntannya adalah persamaan hak antara buruh (pekerja) dan pemilik modal (mandor/tuan tanah). Islam jauh sebelum revolusi meletus, sudah mengusung asas persamaan antar manusia. Dan asas persamaan (mengakui bahwa setiap manusia adalah merdeka) adalah asas dasar masyarakat modern.

Dalam ilmu hukum era modern, yang dikenal dengan hukum positif, menganut satu buah usul yang membebaskan orang gila dari jeratan hukum. Pasal 44 ayat (1) KUHP berbunyi:

Tiada dapat dipidana barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya, sebab kurang sempurna akalnya atau sakit berubah akal.

 

Nah dalam Islam, syariat tidak dibebankan kepada orang yang tidak berakal, belum dewasa. Jadi dalam setiap kewajiban umat Islam, pasti ada syarat sah. Yang artinya, jika seseorang melakukan sesuatu namun belum mencukupi syarat-syarat tersebut, seseorang tersebut terbebas dari kewajiban. Apa saja; berakal (tidak gila, tidak tidur, dan tidak hilang kesadaran) dan dewasa, ber-Islam dan mampu.  Orang-orang yang tidak iman (berkomitmen) tidak ada kewajiban baginya, bagi yang tidak mampu pun ada keringanan.

Jadi teman-teman, jika kamu tidak mengikatkan diri ke dalam sebuah ikrar syahadat, maka kamu tidak terkena konsekuensi dari ikrar tersebut. Boleh makan babi, moleh minum khomer, boleh seks bebas, boleh melakukan nikah sejenih dan boleh riba. Namun, banyak ahli mengatakan secara moral kemanusiaan itu semua merusak. Maka, jika ada suara di luar sana yang mengatakan bahwa umat Islam akan memaksakan syariatnya kepada orang non Islam, itu tidak benar.

Dalam dunia modern, harta atau kekayaan adalah sebuah aset, berarti sangat penting. Bagi Islam, membela diri (melindungi nyawa dan harta) adalah sebuah kewajiban. Karena nyawa seorang muslim dalam Islam sangat berharga, jika kamu mati dalam melindungi hartamu dan harta umat Islam atau umat yang dalam jaminan keamanan umat Islam. Maka kematian orang tersebut tergolong syahid. Untuk paragraf ini, kesimpulannya adalah Agama Islam hadir, salah satu fungsinya adalah melindungi nyawa dan harta benda yang hak.

Begitulah Islam yang kita imani, sangat demokratis, dan mengajarkan orang pada tangungjawab pada komitmen serta melakukan segala sesuatu secara sadar.  Itulah agama yang saya kenal, Allah melalui Nabi Muhammad mengabarkan kepada kita bahwa Allah begitu dekat. Dia berkata, selalu bersama orang-orang yang berpikir dan berzdikir. Yakinilah jika kamu tidak hidup dengan cara Islam, maka orang-orang Eropa akan menjadikan Islam sebagai cara hidup mereka. Dan sekarang orang-orang Eropa berbondong-bondong masuk Islam.

 

Tulisan ini dibuat sebagai salah satu naskah buku antologi Menyambut Generasi Z Muslim

 

Feature Image: Alhambra Palace (Spain) from Google Image

Advertisements