Indonesia sudah lama memperingati hari buruh, sejak 1920. Tetapi, peringatan itu sempat hilang di masa orde baru karena hari buruh dan serikat pekerja sering dikaitkan dengan partai sosialis/komunis. Barulah 2013, Presiden SBY waktu itu meresmikan kembali hari buruh internasional atau May day sebagai hari libur nasional.

Apa pun latar belakang di baliknya, hari buruh tetaplah mengingatkan tentang kesetaraan dan keadilan yang masih perlu diperjuangkan. Pekerja-pekerja masih harus bersatu untuk mengangkat haknya, pemilik-pemilik modal masih harus terus diingatkan bahwa sebagian yang mereka miliki adalah hak bagi ‘si miskin’. Bukan semua milik mereka, tak pantas dinikmati berfoya-foya. Apalagi bersenang-senang di atas penindasan orang.

Kalau pekerja semua sudah merasa sejahtera, mungkin tidak ada lagi hari buruh. Mungkin masa itu baru akan datang sampai dunia mendekati kiamat. Wallahu a’lam. Ikat kepala kita masih harus terus dijaga kuat. Misalnya dengan belajar sebaik-baiknya, bekerja sebaik-baiknya, dan bermasyarakat sebaik-baiknya. Orang-orang yang berusaha dengan usaha terbaik, seringkali paling besar merasakan nikmat hasilnya.

Namun, menjadi yang terbaik, sesungguhnya bukan kita yang menjadikannya. Menjadi yang terbaik butuh meminta. Seandainya seluruh dunia telah berusaha untuk sebuah cita, tak akan jadi tanpa izin-Nya, seandainya seluruh dunia tidak mau berusaha untuk sebuah cita, tetap akan jadi jika memang kehendak-Nya. Menjadi yang terbaik, selain usaha sekuat baja, butuh meminta kepada-Nya dengan penuh ketundukan. Tidak dinodai dengan kesombongan.

Terus saja berusaha menjadi terbaik. Bukan setengah-setengah meski payah. Sembari terus juga meminta. Meminta kita dijadikannya, meminta cita kita ada yang menyampaikannya. Meski tangan kecil kita tak cukup sanggup. Setidaknya kita pernah ikut memimpikannya, pernah ikut menyumbangkan karya kecil untuknya.

Semoga Ia Memilih kita menjadi hamba terbaik dari makhluk-Nya. Memilih kita menjadi anak terbaik dari orang tua kita, teman terbaik dari sahabat-sahabat kita, murid terbaik dari guru-guru kita, saudara terbaik dari keluarga kita, pasangan terbaik dari suami/istri kita, orang tua terbaik dari anak-anak kita, pendukung terbaik bagi pemimpin-pemimpin kita, bangsa terbaik bagi tanah air kita, dst. Sampai kita harus berucap selamat tinggal pada semua itu.

 

Bantul, 1 Mei 2017

09.14

Advertisements