“Kegiatan akhir pekan sering dikaitkan dengan waktu luang, karena di akhir pekan kebanyakan orang bebas dari rutinitas seperti kerja atau sekolah. Tema ini mengajak teman-teman sekalian tidak hanya membahas soal kegiatan akhir pekan yang antimainstream, tapi juga mengajak kita berpikir kembali apakah kegiatan berakhir pekan itu benar-benar perlu? Atau, mungkin saja akhir pekan hanya konstruksi yang menjebak kita masuk dalam rutinitas baru yang sebenarnya gak terlalu diperlukan? Seperti apa mengisi waktu luang yang ideal menurutmu?”

Bagiku tema BBKU kali ini sangat menarik. Tampaknya sederhana, tapi kalau direnungkan bisa sangat politis dan menyangkut sesuatu yang besar. Yap, tentang akhir pekan. Darimana asalnya akhir pekan? Mengapa ada akhir pekan? Dst. Sayangnya, aku tidak bisa menuliskannya sesuai jadwal awal, yakni Sabtu (8/4) kemarin. Aku menemui kendala teknis, mungkin juga pengaruh tempat tinggalku saat ini, sinyal di Bantul terkadang timbul-tenggelam. Itu terjadi lagi tadi malam. Beruntung Rena sebagai Admin BBKU kembali berbaik hati untuk memberi perpanjangan waktu kepada kami. Walaupun, semisal perpanjangan waktu itu pun tak ada, tadinya aku masih berniat menuliskan tema itu hari ini. Ya, karena ini masih akhir pekan 😀

Semestinya, sesuai deskripsi tema yang dibuat oleh Gisel –sebagai pengusul tema- akan lebih baik jika aku membekali tulisan ini dengan teori yang dibangun para tokoh cultural studies mengenai leisure time. Tentunya sangat menarik. Tapi waktuku tidak cukup, hihi. Karena itu, di tulisan kali ini aku akan mencoba memaknai akhir pekan dari perspektif diriku sendiri dan sedikit berbagi apa yang aku lakukan di akhir pekan ini.

Di dalam kehidupan sosial sebagian besar masyarakat dunia, kurasa ada kesamaan dalam memaknai akhir pekan. Pertama, akhir pekan dimaknai sebagai hari libur dari rutinitas yang dominan dilakukan di hari lain. Meski, bagi yang berprofesi sebagai orang kantoran dan wirausahawan –misalnya- rutinitas yang terjadi bisa sangat berbeda. Tetapi para wirausahawan –yang minoritas, coba lihat berapa persen masyarakat yang berprofesi wirausaha, hampir di semua negara tidak sampai 5%- pun akhirnya mengikuti yang mayoritas dalam melabeli Sabtu dan Minggu sebagai akhir pekan.

Kesamaan kedua, seperti yang sudah aku sebutkan sebelumnya, fakta empiris menunjukkan akhir pekan -jika kita sepakat memaknainya sebagai hari libur berjamaah (meski tidak seluruh manusia punya rutinitas sama)- di sebagian besar negara merujuk pada Sabtu dan Minggu. Mungkin di beberapa negara yang minoritas ada hari lain yang digunakan sebagai akhir pekan? Kalau aku tidak salah –mohon dibenarkan kalau salah- Arab Saudi menetapkan Jumat sebagai hari libur karena dimensi kultural masyarakat Islam yang menganggap bahwa Jumat adalah hari raya. Lalu, mereka tetap bekerja seperti biasa di hari Minggu. Mungkin ada negara lain yang libur di hari Senin? Ya, ini hanya persoalan dinamika mayoritas-minoritas yang membutuhkan rule untuk dapat hidup selaras. Di mana biasanya minoritas mengikuti mayoritas, dengan catatan mayoritas tidak boleh berlaku seenaknya tanpa memandang kepentingan dan hak-hak minoritas yang juga harus dihormati. Bagaimana dengan Indonesia? Ah, silakan kita renungkan sendiri 😀 Untuk masalah berakhir pekan, aku rasa Indonesia masih mengikuti arus terbesar dunia global. Sejak merdeka hingga saat ini, tanggal merah di kalender belum pernah bergeser dari hari Minggu. Ditambah dengan bonus libur sehari sebelumnya untuk beberapa instansi. Horeeeeey!

Itu tadi sedikit perspektif yang bisa aku sampaikan tentang akhir pekan yang dimaknai masyarakat dunia kita. Lalu, bagiku pribadi, apa itu akhir pekan? Jika akhir pekan aku maknai sebagai hari di luar rutinitas yang paling dominan, maka akhir pekan adalah kebebasan. Alasannya sederhana, karena aku tidak harus terikat pada jadwal dan tenggat waktu yang seringkali memburu. Bukan hanya masalah waktu, tetapi juga sistem. Saat ini contohnya, aku terpaksa tunduk pada semua sistem di instansi pendidikan yang aku ikuti. Meski, dalam hati kadangkala tidak cocok. Misalnya, tentang kendala tempat tinggal yang jauh. Setiap hari aku harus menghabiskan waktu dan juga bensin untuk perjalanan PP rumah-kampus-rumah selama dua jam. Waktu yang sama dengan satu kali pertemuan kuliah. Namun, tidak jarang yang terjadi justru kuliah tiba-tiba dibatalkan atau diganti jadwal. Tentu aku sudah sangat sadar dan harus menanggung risiko itu termasuk risiko-risiko rumah jauh lainnya. Sembari aku juga berimajinasi tentang sistem lain yang dapat lebih diterima. Apa tidak mungkin misalnya jika perkuliahan dilakukan secara online? Secara teknologi, tentu ada harapan besar. Namun, bagaimana dengan kebijakan harus mengisi kehadiran 75 persen untuk bisa ikut ujian? Hufffft, sungguh sulit kucerna apa faedah dari kebijakan itu, di zaman yang sudah berubah pesat seperti ini.

Itu pemaknaanku yang pertama. Yang kedua, aku juga memaknai akhir pekan sebagai keluangan waktu untuk memikirkan orang lain. Bahkan manusia lain di berbagai belahan dunia. Maksudnya? Hmm, dengan “jeratan” jadwal dan sistem yang harus aku ikuti di hari-hari biasa, aku berpikir bahwa sebagian besar waktu di hari-hari itu hanya habis untuk kehidupanku sendiri. Meski sebenarnya tidak juga, apalagi saat ini kuliahku jurusan KBM, yang sangat mempertimbangkan aspek moral dan sosial untuk keberlangsungan hidup banyak orang. Tapi, tetap saja, jurusan itu pun memiliki karakter wacana dan “konstruksinya” sendiri. Jika aku tidak membuka diri untuk berbagai wacana dan “konstruksi” yang lain, mungkin aku hanya hidup seperti katak dalam tempurung di dunia ini.

Sekian sesi mendongengnya. Sudah cukup panjang lebar aku mengutarakan opini yang mungkin bisa dibilang sok kritis dan sok ilmiah, tapi mungkin juga nggak ada apa-apanya. Hehehe. Sekarang aku tidak ingin ketinggalan untuk berbagi tentang aktivitas akhir pekan terbaru ini. Tidak ada pantai, tidak ada hutan, tidak ada tamasya atau berlibur ke tempat wisata bersama orang-orang tersayang. Karena emang lagi nggak ada yang ngajakin, hiks… (jiyaaa, malah baper) Tidak apa-apa juga kalau dianggap akhir pekanku kali ini membosankan, tapi bagiku tidak sama sekali. Hehehe. I’m single and very happy… #emotnyanyi (jiyaaa, baper lagi). Nggak lah, cuma pencitraan. Xoxo.

Minggu pagi, seperti biasa, saat aku punya waktu pagi yang agak luang, aku kembali menjadi pendengar setia radio Pro 3. Sudah terdoktrin di dalam kepalaku, tentang jargon “Pro tiga, RRI… jaringan berita nasional~~~”. Lalu, “Pro tiga, RRI, suara identitas ke-Indonesia-an”. Dilanjutkan dengan instrumen lagu “Nyiur Melambai” yang khas. Beberapa judul lagu nasional lainnya tak pernah terlewat diputar setiap hari. Selain juga lagu-lagu populer Indonesia maupun mancanegara yang rata-rata berasal dari tahun 70-80-an. Kubayangkan pendengar terbanyak frekuensi ini orang-orang di atas usia 40. Kecuali beberapa anak muda yang menjadi anomali? Memang tidak ada niat untuk menggaet pendengar muda? Kalau dijawab sudah bisa jadi bahan riset KBM mungkin.

Aku jadi memiliki kebiasaan itu tidaklah spontan. Awalnya aku berpikir “Ngapain denger radio kayak gini? Isinya berita semua. Sama sekali tidak menambah khazanah pergaulan nak muda.” Tapi, pikiran itu hanya kusimpan dalam hati. Sementara, ibuku hampir tidak pernah absen menyetel Pro 3 setiap hari. Satu komentar ibu yang aku ingat sampai sekarang saat ia sedang asyik mendengar Pro 3, “Denger Pro 3 itu kayak baca koran, ya” ibu bicara sembari mengulek sambal di dapur. Jadi beliau melakukan tiga pekerjaan sekaligus, memasak, mengobrol denganku, dan mendengar Pro 3. Aku melakukan multitasking yang hampir sama, kecuali pekerjaan memasak yang lebih sering kutinggal karena statusnya aku hanya bantu-bantu ibu. Menduakannya dengan aktivitas lain di layar HP atau mengerjakan tugas lain. Hehe.

Tetapi, sudah sebulan ini ibu tidak tinggal bersamaku. Karena alasan pekerjaan. Hanya ada aku dan bapak di rumah. Maka seterusnya aku yang harus mengerjakan tugas memasak sendiri. Untuk aku dan bapak. Sesekali kalau masakan yang jadi cukup banyak, kami bagi untuk simbah yang tinggal di belakang rumah kami. Sembari meracik bahan-bahan sayur bayam bening dan telur dadar pagi ini, aku menyetel Pro 3. Sesuai jargonnya, frekuensi ini menyajikan berita dari berbagai provinsi di Indonesia.

Dari Lampung, penyiar mengatakan sedang digelar kompetisi olahraga triathlon saat ini. Dari Bengkulu, yang juga provinsi tempat aku lahir dan tinggal hingga remaja, Kejaksaan Tinggi-nya akan menggelar konferensi pers tentang perkara korupsi yang akan dihentikan proses penyidikannya. Dari Ponorogo, aku baru tahu bahwa di sana baru saja terjadi bencana longsor. Penyiar mengatakan sebabnya adalah penebangan hutan yang massif dalam beberapa kurun waktu terakhir dan pembangunan yang kurang memikirkan daya tampung lingkungan. Sedangkan, dari Surabaya, pagi ini di digelar kampanye Masyarakat Anti Hoax di acara car free day yang berlokasi di Taman Bungkul. Salah satu narasumber dalam kampanye itu berkata bahwa berita hoax dapat dikenali dari bahasanya. Berita hoax biasanya ditulis dengan bahasa profokatif sehingga menyulut emosi pembaca untuk menyebarkan berita itu. Penyebar berita hoax tidak mesti orang jahat, bisa juga dia adalah orang baik yang tersulut emosi. Maka niat baik saja tidak cukup, tapi harus cerdas dalam menghadapi seluruh informasi yang membanjir di era ini. Ya, menurutku ini informasi yang menarik untuk dibagikan. Lebih-lebih kalau suatu hari mahasiswa KBM bisa berbuat sesuatu bersama-sama.

Lalu, ada satu informasi lagi yang menurutku cukup unik. Masih dari Pro 3. Dirunut dari berita CNN yang meneruskan dari NASA, pada 19 April nanti akan ada sebuah asteroid yang melintas di atas Bumi. Kabarnya pecahan benda langit ini berukuran 650 meter dan termasuk ukuran yang besar di antara asteroid yang pernah melintas. Jaraknya dari Bumi diperkirakan 1,6 juta kilometer yang mana sama dengan 4,6 kali jarak Bulan dan Bumi. Sekaligus juga jarak yang paling dekat antara asteroid dan Bumi selama 13 tahun terakhir. Ini membuat asteroid itu nanti memungkinkan untuk dilihat dengan alat bantu teleskop. Di akhir berita, penyiar mengaitkan peristiwa tak biasa ini dengan peristiwa cukup penting yang akan terjadi di ibukota pada tanggal yang sama. Adakah kaitan antara melintasnya benda langit dengan pilkada putaran kedua gubernur DKI? Xp

Mendengar dan membaca berita, bagiku adalah langkah awal untuk menjadi manusia yang lebih bermakna. Seperti Pak Kris pernah bilang, “Apa gunanya hidup ini kalau tidak bermakna bagi orang lain?” Apalagi kalau ingat, bahwa hidup ini sangat singkat. Hanya 1 atau 1,5 hari akhirat. #azeek Ketika kita tahu di luar sana ada manusia yang membutuhkan bantuan, di situlah kesempatan kita untuk mulai melakukan sesuatu. Minimal niat untuk membantu di dalam hati, atau mendoakan kebaikan dan kecukupan kebutuhan hidup buat mereka. Kalau mampu lebih dari itu, maka berbuat. Jalan yang dapat dilakukan tentu sangat beragam. Datang langsung ke lokasi bencana, mengirim bantuan dari sebagian harta, mengajak orang lain untuk membantu melalui media sosial, kalau disebutkan mungkin ada ribuan cara. Seperti yang sedang terjadi pada saudara sebangsa kita, korban longsor Ponorogo. Syukurlah Pro 3 menyebutkan bahwa ketersediaan bantuan pangan sudah sangat cukup.

Selasa, 4 April lalu, aku mendengar ada keramaian di media sosial. Bertebaran gambar dan video mengerikan. Akibat serangan senjata kimia beracun yang diluncurkan kepada ratusan penduduk Suriah. Tepatnya di desa Khan Sheikhoun, provinsi Idlib. Bersebelahan dengan Aleppo, yang lebih dulu mendapat serangan bertubi beberapa bulan sebelumnya. Shehab Agency melansir 100 orang meninggal, Al Jazeera melansir 58 orang meninggal. Sementara 500 luka-luka. Sebagiannya hanya anak-anak yang masih pakai popok. Video itu memperlihatkan proses kematian mereka yang tampak sangat tersiksa. Anak-anak menjerit dan kesakitan karena perlahan-lahan syaraf mereka dirusak hingga meninggal. Senjata ini tentunya terlarang di dunia internasional digunakan untuk manusia. Penemu racun sarin pun pertama kali menemukannya untuk digunakan kepada serangga. Tapi Assad tampaknya lebih kejam dari binatang buas. Salah satu video lain memperlihatkan serangan yang tetap diluncurkan di atas rumah sakit yang sedang merawat korban luka-luka.

Itu baru segelintir kisah. Aku yakin ada jauh lebih banyak kisah-kisah manusia yang tampak “tidak beruntung” lainnya di dunia ini. Dibanding dengan nasib mereka, akhir pekanku sekilas tampak lebih beruntung. Negara yang aman, lingkungan yang damai, makanan yang cukup, dan udara bersih yang melimpah. Sekilas tidak kekurangan sesuatu apa pun. Tapi, aku tidak benar-benar tahu, siapa sebenarnya yang lebih merugi.

Turunkan tensi, kami kirimkan satu buah lagu ke ruang dengar Anda *gaya penyiar RRI* *tur kok wagu tenan*:

Persembahan pengiring akhir pekan yang teduh 🙂

 

Featured Image: https://www.dream.co.id/news/misteri-arus-balik-mematikan-di-pantai-parangtritis-ternyata-160620a.html

 

Bantul, 9 April 2017

10.24

Advertisements