Ingin jujur kuakui, aku hanya membuat sebuah tulisan kepepet hari ini. Liburan membuatku terlalu asik di pagi hingga siang hari, dan terlalu enak tidur di sore hingga malamnya. Beruntung masih terbangun sebelum jam batas posting BBKU. Hingga di baris ini aku masih bingung ingin menulis apa.

Namun, kupikir yang paling tepat adalah menulis yang paling dekat. Dengan apa yang sedang kualami. Semoga tetap ada faedahnya, meski ini sebuah “ketergesaan”. #okelah #okeyes

Ketergesaan biasanya muncul sebagai sebuah konsekuensi dari perbuatan kita yang lain, misalnya menunda. Aku teringat salah satu cerita pendek di buku teks pelajaran Bahasa Indonesia saat SD, cerpen itu berjudul “Menunda Itu Masalah”. Tiga kata yang tajam dan mudah diingat menurutku. Buktinya sudah belasan tahun berlalu aku masih ingat pada judul hingga sekelebat bentuk visual tulisan itu. Menurut tulisan itu, perilaku menunda dapat berujung pada masalah. Baik itu berupa kehilangan kesempatan sama sekali atau masih berkesempatan melakukan suatu hal namun di bawah tekanan ketergesaan.

Lalu, apakah ketergesaan memanglah sebuah masalah? Jika ketergesaan adalah sebuah ruang waktu, bagiku tidak selalu. Tergantung pada sikap kita mengelola ketergesaan itu. Di sisi lain, ketergesaan seringkali membuat kita merasa kehilangan kesempatan untuk melakukan yang terbaik. Tapi, sebentar. Ataukah justru yang terbaik justru muncul di ruang ketergesaan? Kembali lagi, menurutku kuncinya adalah pada sikap seseorang. Bagaimana ia mengondisikan niat, hati, dan usaha di dalam sebuah ruang ketergesaan.

Kita tidak pernah tahu apakah ketergesaan akan berujung menjadi musibah atau berkah, hingga kita ditunjukkan hasilnya. Yang mungkin perlu menunggu. Bisa segera, bisa pula setelah hitungan tahun. Namun, kucoba ingat kembali satu pepatah, bahwa “hasil tidak pernah mengkhianati usaha”.

Dari sebuah kata motivasi yang sering muncul di kolom status orang-orang itu, aku mencoba mengerti bahwa ketergesaan berbeda dengan menyegerakan. Keduanya mungkin memiliki sifat yang hampir sama, yakni melakukan sebuah tindakan dalam waktu yang cepat. Namun, dari kesan bahasa yang dapat kutangkap -sebagai orang awam yang bukan ahli bahasa pastinya- yang satu mengandung emosi kegelisahan, sedangkan yang satu lagi mengandung emosi ketenangan.

Ketenangan dan beban masalah bukanlah dua hal yang bertentangan. Sikap kedua ini -ketenangan- tampaknya lebih menguntungkan dibanding yang pertama, memikul beban masalah dengan kegelisahan. Ketenangan sangat berpengaruh pada kejernihan pikiran. Juga lebih dekat dengan keadilan pengambilan keputusan. Maka, jika pun aku suatu saat akan terjatuh pada ruang ketergesaan kembali, akan kucoba menjalaninya dengan mengubah gelisah menjadi tenang.

Sikap itu tidak hanya aku terapkan pada sebuah pekerjaan, tapi juga dalam pergaulan. Termasuk saat menilai orang, terutama yang belum terlalu dikenal. Ketergesaan dalam menilai, hanya akan menimbulkan prasangka. Sementara, prasangka bukanlah fakta. Prasangka masih jauh dari sikap adil. Selayaknya prasangka tidak patut untuk dipilih sebagai keputusan, sebelum kita meyakininya sebagai fakta. Mengutarakan prasangka pun perlu ekstra kehati-hatian. Pada tempat yang tepat, pada orang yang tepat, dengan tujuan mencari kebenaran, bukan pembenaran. Karena jika salah, yang akan datang adalah kerugian. Bagai boomerang untuk diri kita sendiri, yang juga bisa mengenai orang lain.

Ya, aku hanya berharap diriku terjaga dari sikap ketergesaan yang tidak diiringi dengan keadilan. Keadilan berpikir, keadilan berusaha, keadilan berprasangka, keadilan menetapkan sebuah penilaian dan keputusan.

 

Gambar: Google Picture

 

Bantul, 5 April 2017

23.59

Advertisements