Di suatu sudut di dunia ini, ada sebuah realitas yang nyaris tak kasat oleh mata manusia. Dia adalah kehidupan para peri jari. Sesuai namanya, peri-peri jari tak neko-neko, dinamai jari karena memang tubuhnya seperti jari manusia. Seluruh tubuhnya jari, dari ujung “kaki” hingga ujung “kepala”nya. Dia berjalan dengan jari, bernafas di dalam jari, ber-ekskresi lewat jari, dan seluruh hajat hidupnya disalurkan lewat tubuhnya yang wujudnya menyerupai dua jari manusia.

Ukuran mereka hanya sedikit lebih besar dari nyamuk, sehingga masa hidupnya pun hampir sama. Jika nyamuk mampu bertahan hidup selama 2 minggu sampai 1 bulan, masa hidup peri jari hanya 30 hari. Meski tubuhnya kecil, peri jari ditakdirkan menanggung tugas yang besar untuk kelangsungan dan keseimbangan hidup makhluk-makhluk di dunia. Di antaranya sebagai peri-kemanusiaan dan peri-keadilan. Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan dunia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa… dan seterusnya masih panjang lagi. Hal itu telah termaktub dalam Undang-Undang Desa (UUD) peri jari.

Meski wujud mereka tidak secantik, seganteng, dan seelegan peri-peri yang dikonstruksikan dalam film dan cerita manusia selama ini, peri jari masih layak disebut peri. Meski bentuknya sungguh tak karuan, membuat manusia lari terbirit-birit jika tak sengaja menangkap keberadaanya, peri jari tetaplah peri yang mulia. Karena sungguh besar cita-citanya, bagi planet bumi. Melebihi Kardini, seorang sosok wanita Jawa dari kalangan manusia yang hobi berkirim surat dan menulis artikel yang diterbitkan hampir di seluruh dunia. Para peri jari telah dikaruniai kemampuan yang hampir mirip, namun lebih powerfull. Jika sudah berkumpul, kehebatan mereka melebihi kelompok superpower Guardian of The Galaxy. Suer lah…

Di antara para superpower selalu ada salah satu yang lebih menonjol. Tak cukup menyebutnya hanya dengan julukan superpower, karena dia sang superduperbaperpower. Dia juga kepala desa salah satu klan peri jari. Dia adalah orang terpilih dan dimandati kekuasaan yang besar dalam mengatur tugas-tugas yang diembankan kepada klan ketiga peri jari. Konon kehidupan peri jari terbagi dalam beberapa klan. Klan pertama dan kedua sudah melewati masa hidupnya yang hanya 30 hari. Adalah klan ketiga sebagai klan terbaru yang meneruskan estafet tugas para peri jari.

Oh ya, setiap peri jari memiliki nomor punggung. Ada 26 peri jari di klan ketiga. Kepala desa yang superduperbaperpower tadi memiliki nomor punggung 4. Konon si nomor punggung 4 adalah semacam sosok reinkarnasi dari klan kedua. Dia bisa terpilih menjadi kepala desa karena di kehidupan yang lalu menunjukkan sisi yang sangat aktif kontributif dan penuh motif. Salah satu hobinya adalah berpikir. Kelebihannya yang lain adalah hafal tanggal lahir peri-peri spesies lain, juga nama dari peri-peri baru yang bahkan belum mengenalnya. Hal itu membuat para peri baru spesies lain kagum dan bertepuk tangan atas kehebatannya. Bahkan tanpa sepatah kata mutiara layaknya pemimpin negeri manusia yang sering manis di bibir. Si nomor punggung 4 cenderung tak banyak bicara. Kesan yang ditangkap pertama dia pastilah peri baik-baik. Tak banyak gaya. Meski sangat sulit sebenarnya menemukan “peri baik-baik” di dunia para peri yang sudah terkontaminasi asap pabrik #lahh.

Hingga momen yang meruntuhkan label “peri baik-baik” pada si nomor punggung 4 akhirnya tiba. Yakni ketika dia menjabat sebagai kepala desa. Mulai banyak peri yang membongkar kedok aslinya sebagai bocah tua nakal. Udah tua aja nakal, gimana pas kecilnya, ya? Apakah lebih nakal? Atau sama saja? Atau justru masa tuanya adalah pelampiasan atas kenakalan masa kecil yang belum tersalurkan? (Fyi, para peri jari memang diberi ngelmu ilmu selalu skeptis dalam berprasangka) Si nomor punggung 4 pun sukses melancarkan kenakalannya yang menghegemoni setelah menjadi kepala desa. Sungguh hampir semua bentuk kenakalan agaknya telah diluncurkan ketika dia menjabat di klan ketiga peri jari. Mulai dari yang sering disebut kenakalan remaja, kenakalan orang dewasa, hingga kenakalan orang dalam kubur kalo masih bisa juga ada. Baru terungkap, bahwa profesi sampingannya adalah maling jemuran. Di waktu lain, dia sering memerintahkan para peri menyetor air susu, tapi bisa dia balas dengan memberi air tuba. Pun ketika ada peri yang menyetor air sirup marjan keringetan seperti yang dinantikan ketika bulan sebelum lebaran (ribetz ngetz ngejlasinnya), dia kembalikan gelasnya, yang sudah berisi air comberan. Iyuw…

Begitulah kekuasaan beroperasi di atas jari-jari si nomor punggung 4. Kini, tampuk pemerintahannya sudah tinggal kenangan. Dia sudah lengser dan cukup pantas disebut berdedikasi dalam menggerakkan kehidupan para peri di klan ketiga. Tak disangkal sebagian peri bersedih karena harus berpisah. Mungkin pula ada peri yang belum tersalurkan gondoknya akibat ulah si kepala desa. Namun, semua kehidupan yang telah dilewati para peri jari memberi banyak pelajaran, tentang konsistensi, ide yang tak berhenti, dan juga kesenewenan keakraban. Setelah ini mereka hanya akan tertidur lelap yang panjang. Selanjutnya, mungkin akan dibangkitkan kembali mengemban tugas para peri.

Nb. Cerita di atas hanyalah karangan fiksi semata, jika terdapat kemiripan di sana sini itu karena disengaja. Namun, sebagai murid Papi yang sudah diajari tentang polivokalitas dari Saukko, komentar pemirsa bebas disampaikan di kolom komen, ya. *stay healthy, keep wonderful, peace, love, and gawl *keep writing, eating, sleeping

 

Bantul, 30 November 2016 (++)

 

Featured Image: Google

Advertisements