Ini sepenggal kisah tentang Penerbit Bulan Bintang. Penerbit yang di tahun 70-80an mencapai masa kejayaannya dengan menyajikan buku-buku bergizi buah karya kaum cendekiawan Indonesia maupun luar. Saya teringat pernah menyimpan potretnya di Instagram. Rupanya postingan ini berjodoh dengan hari pahlawan. Ya, rasanya dia layak disebut sebagai salah satu pahlawan yang tidak bisa kita lupakan. Begini sedikit gambarannya kini yang pernah saya temui…

new-picture-5

Suasana Gudang Buku di Penerbit Bulan Bintang (Dokumentasi Pribadi)

Jalan Kramat Kwitang I No 8 Jakarta Pusat itu tampak sepi
Saya berhenti di sebuah bangunan mirip rumah bercat hijau
Di tembok luarnya terpampang tulisan Bulan Bintang lengkap dengan logo warna emas

Kalau biasa ke toko buku, yang terbayang mungkin Gramedia, Gunung Agung, Togamas
Buku-buku disusun apik penuh lampu
Dibungkus plastik dan diletak tegak agar cantik
Saya pun baru kenal Bulan Bintang dari seorang guru

Di “toko buku” yang ini, lampunya saja baru dipasang saat saya datang tadi siang
Benar-benar tukangnya sedang naik tangga untuk pasang lampu yang terang di foto itu
Kata pak tukang, “Ini rumah mewah tapi nggak ada lampu.”
Entah berapa lama pak pengelola -yang kelihatan di foto itu juga- bertahan-tahan masuk gudang buku tanpa lampu. “Memang selama ini nggak pakai lampu,” katanya

Bapak tua yang setia itu menjaga Bulan Bintang sejak 80-an
Satu lagi pengelola yang saya kenal, bu Yanti, menjaga Bulan Bintang sejak masih gadis
Sekarang usianya mungkin di atas 60

Kondisi buku di sini, tidak ada yang diletak tegak agar menampilkan judul mengundang seperti di toko buku kebanyakan
Semua terbaring seperti pasrah menunggu pembeli yang datang 1-2 kali sepekan
Sampul plastik? Jangan bayangkan
Debu, sampul terlipat, kertas buku yang sudah menguning, seolah menjadi karakter tetap

Buku di sini banyak yang dicetak sejak 70-80an
Penerbit Bulan Bintang sendiri berdiri 1951
Dulu dia tonggak tajam yang melesatkan karya para cendekiawan
Prof Dr Teungku M Hasbi Ash-Shiddiegi
Prof Dr Hamka
Mohammad Natsir
Mohamad Roem
M Yunan Nasution
Prof A Hasjmy
dan lainnya
masih abadi sampai kini

Saya sendiri pulang dengan kantong kresek berisi 7 buku
Buku paling mahal 35 ribu
Yang paling murah 5 ribu dan 8 ribu
Seharga gorengan pinggir jalan, ya?
Saya tanya harga buku kumpulan puisi Dalam Mawar karya L.K. Ara. “Ini masih banyak, kasih 5 ribu aja,” kata bu Yanti dengan ringannya
Setelah buku ditotal, entah antara naluri perempuan atau anak kos pengangguran saya keceplosan minta diskon #duh… Dan dikasih 10 persen!

Bagaimana kondisi di sini 10-20 tahun lagi?

 

Bantul, 10 November 2016

23.39 Waktu Indonesia Bantul

 

Featured Image: Google

Advertisements