Ada yang bilang bahwa kita adalah buah dari kumpulan sejarah perjalanan hidup orang lain. Bahkan entah apakah kita bisa disebut eksis? Sementara yang membentuk kita sekarang rasanya hanyalah hasil pengamatan kita atas diri orang-orang lain yang kita temui –secara langsung maupun tidak-.

Yah, aku bukan mau bicara hal-hal filsafati. Hehe. Kali ini aku ingin bicara tentang my idol sebagai peserta Bulan Blogging KBM UGM (BBKU) yang patuh dengan tema yang sudah ditetapkan Om Mimin. Tapi aku bingung my idol ku siapa, yang aku bahas di sini entah nyambung entah nggak yang penting nulis ya, sis.

Tidak bisa dielakkan lagi, bahwa banyak sekali orang yang memberi pengaruh dalam hidupku. Sebagian dari mereka adalah orang-orang terkenal, sebagian lagi teman-teman dekat dan orang-orang di sekitarku sendiri.

Tapi, mereka semua di mataku masihlah manusia biasa. Tidak seperti the role model yang akan aku ceritakan. Yaitu, ibu. Bagiku ibu seringkali tampak seperti malaikat. Lalu, bapak. Keduanya tidak terbandingkan. Tapi kali ini yang aku bahas cukuplah satu dulu. Hihuhuuuww….

Kembali membahas ibu. Ibuku aslinya tidak kupanggil “ibu”, tapi “ibuk” (dengan K) atau “buk” atau “boook” (waktu aku masih kecil dan sering minta jajan). Jadi, inilah sekilas gambaran tentang ibu di mataku…

 
Ibu adalah sesosok wanita yang kini berusia 54 tahun 8 bulan.
Ibuku kecil adalah anak kelas 3 SD yang setiap pulang sekolah disuruh mencabut kangkung di sawah oleh orang tuanya. Untuk selanjutnya dijual.
Ibuku kecil juga anak yang sangat tekun belajar, sampai hafal nomor halaman dari setiap materi yang dia pelajari!
Ibu dibesarkan oleh ayahnya yang merupakan pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan ibunya yang merupakan ibu rumah tangga sekaligus wiraswasta.
Ibu sudah terbiasa dengan pola pendidikan orang tua yang menuntut kerja keras.
Itulah yang menjadi pengaruh paling besar pada karakter ibu sekarang, yang kuat, independen, dan sangat rajin dalam hal domestik hingga tugas-tugas besar.

Ibuku saat SMP adalah anak yang dengan tekun mengikuti les bahasa inggris setiap pulang sekolah.
Saat itu ibu sudah punya mimpi untuk sekolah ke luar negeri yang akhirnya dapat ia wujudkan.
Ibu akhirnya bekerja di sebuah universitas negeri di Bengkulu, kota kelahirannya dan juga kelahiranku. Saat ditanya apa profesinya, dia dengan bangga menyebut dirinya guru.
Sebagai seorang pengajar, ibu meyakini pentingnya mengasah diri untuk terus belajar.
Ibu rela LDR dengan bapak selama dua tahun lamanya setelah dua minggu usia pernikahan! Untuk menjalani tugas belajar.
Hingga kini status mahasiswa (tingkat ketiga) pun belum lepas dan masih ia perjuangkan.

Walau begitu, ibuku juga seperti ibu-ibu lainnya yang suka memasak dan pandai menyulap berbagai menu.
Memasak tampaknya adalah salah satu hobi ibu.
Beberapa tahun belakangan, hobi ibu yang lain adalah bermain Instagram. #hghghg 
Saat tidak sedang sakit, ibu memang aktif di beberapa media sosial, terutama Instagram dan Facebook.
Beberapa kali ibu meminta dibuatkan blog, tapi sampai kini belum jadi.
Berkali-kali ibu bilang ingin menulis, ingin membuat buku, tapi juga belum jadi. (sama kayak anaknya, hghghg)
Lihat saja sebentar lagi, tulisanku ini paling juga akan mendapat komentar dari ibu di kolom komentar.

 

Sudah segitu dulu ceritaku tentang ibu. Tentu itu hanya secuil kecil kisah yang bisa aku bagi. Tentu ada kelemahan-kelemahan ibu sebagai manusia biasa yang tidak terungkap di sini.  Masih banyak pula kekuatan ibu lainnya yang bagiku sangat super. Sampai aku berpikir, sudah hebat kalau aku bisa meniru ibu setengahnya saja. Bagaimana caranya seorang manusia bisa berubah menjadi malaikat? Yang perhatian kepada anaknya tidak pernah datang terlambat..

 

Bantul, 8 November 2016

21.25 Waktu Indonesia Bantul

 

Gambar: Dokumen Pribadi

Advertisements