Hari ini saya jadi makin ingat mati. Sudah heboh di beberapa grup WA, tentang kecelakaan mobil avanza yang membawa sekelompok mahasiswa Magister Profesi Psikologi UGM Sabtu (5/11) kemarin. Ada dua orang korban meninggal yang menghembuskan nafas terakhir setelah dibawa ke rumah sakit. Dan salah satu dari yang meninggal itu kawan saya. Enam lainnya masih dirawat.

Dia yang bernama Rizka Fitri Nugraheni. Yang saya baru ketahui kemarin juga bahwa Rizka adalah anak dari wakil dekan Fakultas Teknik UGM, Lukito Edi Nugroho. Dia anak sulung dari 4 bersaudara dan perempuan satu-satunya. Sedih sekali membayangkan kedua orang tua Rizka kehilangan putrinya.

Kami memang baru kenal sekitar 2 bulan belakangan, namun Rizka adalah kawan yang sangat baik. Bahkan memberi banyak pelajaran hingga akhir hayatnya. Dia juga pembelajar yang penuh prestasi. Saat S1 Rizka diterima di Fakultas Psikologi UI melalui jalur undangan, otomatis tanpa tes. Lalu, melanjutkan S2 di Magister Profesi Psikologi UGM. (Saat kecelakaan di Pasuruan kemarin Rizka bersama teman-temannya masih dalam masa kerja profesi di salah satu Rumah Sakit Jiwa di Malang selama 2 bulan.)

Saat upacara pemberangkatan menuju makam tadi siang, pihak perwakilan dari Fakultas Psikologi UGM memberi testimoni bahwa Rizka sudah menyelesaikan ujian kerja profesinya dengan hasil yang sangat baik. Bahkan para pengujinya berkata bahwa sewaktu melakukan ujian Rizka sudah tampak seperti psikolog ahli… :”

Selanjutnya, pihak dari RW pun mengatakan bahwa Rizka adalah orang yang aktif dengan kegiatan di lingkungannya. Beliau sebutkan kalau Rizka sangat banyak berkontribusi dalam kegiatan 17 Agustusan lalu.

Saat disampaikan sambutan-sambutan itulah tubuh saya merinding. Air mata pun ikut jatuh. Bapak-bapak yang menyampaikan sambutan saja suaranya bergetar dan seringkali tercekat. Rizka, kami jadi saksi bahwa kamu orang yang baik. Semoga kamu pergi dalam jalan yang Dia ridhoi.

Bahkan setelah kepergiannya, Rizka memberi saya banyak pelajaran. Dengan banyaknya kebaikan yang telah dia torehkan selama hidup. Dengan kesaksian orang-orang tentang kebaikan yang dia bawa. Lewat kesederhanaan gadis 24 tahun itu.

Entah apa jadinya kalau saya yang ada di posisi Rizka. Mungkin tidak ada apa-apa yang bisa dibanggakan. Kebaikan yang mana yang sudah dirasakan orang, lebih-lebih yang sudah diterima menjadi amal.

Manusia yang hidup bebas berbuat apa saja. Ingin jadi baik melebihi malaikat atau lebih buruk daripada setan pun bisa. Seperti Fir’aun yang mengaku dirinya Tuhan. Setan saja tidak begitu. Hidup itu bebas dan berlimpah pilihan. Tapi ketentuan setelah mati hanya satu. Mungkin ini pandangan yang bisa dikatakan “positivis” tentang hal yang saya yakini. Hahah. #kemakanomongandosen Benar atau tidaknya, menurut hemat saya sih mari belajar lebih dalam saja tentang apa yang sudah kita yakini. Ah, masih harus banyak sekali belajar. Dan ngerjain tugas Teori Media. #backtotheBlankPage

 

Bantul, 6 November 2016

20.36 Waktu Indonesia Bantul

 

Ilustrasi: Google

Advertisements