Merajut, ternyata adalah aktivitas yang bisa sangat menguntungkan. Selain harga jualnya mahal, merajut bisa dilakukan sembari multitasking dengan aktivitas lain. Seperti yang saya lakukan hari ini, merajut sembari menyimak kembali video-video downloadan Dimas Kanjeng demi tugas Teori Media.

Dua hari yang lalu saya sama sekali belum berpikir kalau saya akan belajar merajut. Saya sangat mengapresiasi setiap karya rajutan yang sering di-post dalam media sosial teman-teman saya. Yang menunjukkan itu buah karya mereka. Yang mungkin juga telah berminggu-mingu atau berbulan-bulan dirangkai oleh jari-jari lentik mereka.

Bagi saya, itu sebuah mahakarya. Tampaknya hanya orang-orang sabar yang mampu menghasilkannya. Ada teman yang membuat sepatu bayi, vest untuk anak kecil, syal, tas untuk perempuan, dan berbagai kreasi mulai yang biasa hingga yang unik lainnya. Saya belum pernah bercita-cita bisa seperti mereka, bahkan untuk menghasilkan satu gantungan kunci rajut saja. Rasanya saya tidak akan mampu (pesimis duluan), karena saya tidak setelaten itu.

Sampai akhirnya… saya diberikan seorang sahabat yang pandai merajut. Dia adalah Henny. Henny pun pernah menghadiahi saya barang-barang yang sangat berharga, yaitu gantungan kunci rajut berbentuk burung hantu dan tas cantik berwarna toska…semua buatannya sendiri.

#belumsempatuploadfotonya

Sampai akhirnya… saya menemukan barang imut ini di Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) #kebeneranfotonyamasihadadiHP

20160908_1854011
Produk di stand Naygadabra. Sungguh makhluk kecil mirip “Larva” itu membuat diri ini ingin memilikinya. Jadi kepengin bikin sendiri.

Sampai akhirnya… pulang dari kampus Kamis kemarin saya mampir di Calzone Express Jalan Bantul. Lalu hujan mengguyur Bantul. Lalu saya teringat Henny, yang bekerja di sebuah toko penyedia bahan dan alat rajutan yang letaknya hanya sekitar 200 m dari sana.

Sampai akhirnya… saya terkesima dengan aneka warna benang-benang yang dijual di “Poyeng” (toko tempat Henny bekerja). Lalu mencoba membeli satu gulung benang beserta jarum rajutnya yang tampak seperti tusuk sate. Tapi ini tusuk sate super, 5 batang saja harganya Rp 25.000,00.

Sampai akhirnya… saya les privat kilat dengan Henny untuk diajari cara merajut paling dasar. Masih level kerak bumi di antara para perajut mapan. Henny bilang teknik yang dia ajarkan bernama cast on dan knit (semoga nggak salah tulis).

Sampai akhirnya… seperti foto yang tampil di paling atas ini, saya punya target baru dalam perjalanan hidup saya. Yaitu membuat sebuah syal berwarna coklat muda karya jejemari saya yang bulet-bulet seperti jari Dae Jang Geum ini. Kalau ia berhasil terwujud, saya sudah sangat bangga pada diri sendiri.

Bantul, 4-5 November 2016

dimulai 23.30, selesai 00.30

Ket: nulis gini doang makan waktu 2 hari. Kurang berdedikasi apa coba. #hahaha #injurytime #BBKU3 #yangpentingnulis

Advertisements