Kali ini saya menulis masih dalam rangka mengikuti Bulan Blogging KBM UGM (BBKU). Jika kamu belum tahu dan ingin tahu apa itu BBKU bisa baca ulasan singkatnya di post saya sebelum ini: “Klik aku”

Hari ini adalah hari ketiga. Dalam tataran ideal yang dikonstruksikan BBKU (bleh, ribet banget ngomongnya), setiap peserta selayaknya sudah menulis tiga tulisan. Namun, saya absen menulis di hari kedua kemarin. Alasannya sederhana, saya ketiduran…dan baru bangun keesokan harinya. Nampaknya kelemahan di masa lalu belum juga terobati. Setiap baca tulisan berat nan serius, seringkali mata ini terasa berat menahan kelopaknya sendiri. Apalagi tulisan itu tidak ditulis dalam Bahasa Indonesia. Tambah berat saja beban yang menimpa mata ini rasanya. (Setan memang selalu kreatif menciptakan godaannya hzzzz)

Nah, semua itu lengkap tersaji dalam menu pelajaran S2 saya saat ini. Terlebih kemarin yang membuat saya ketiduran ialah saat membaca buku Media and Cultural Studies Keyworks yang tebalnya seperti bantal kotak orang Korea. Pan gue jadi ngerasa ala-ala Puteri Mahkota di zaman Dinasti Joseon gitu. (minta diguyur ember biar bangun…dari mimpi) For your information (buat yang non-KBM), buku yang tadi saya sebut itu adalah buku “babon”-nya Cultural Studies. Yang mana ujar salah satu dosen saya, yang saya sebut Bu Nana, kalau khatam membaca buku berisi 755 halaman itu maka bisa dianggap lulus dari KBM.

Sebelum ocehan saya jadi ngalor-ngidul terlalu jauh, langsung saja saya akan mulai membahas topik terkini untuk hari ini. Yang masih ada hubungannya dengan topik tidak-menulisnya-saya kemarin. Yaitu, tidur. Dimohon pembaca tidak sambil tergoda mempraktikkannya, tidur. #krik

Tidur bagi saya adalah salah satu kenikmatan setelah makan sate padang. Namun, seperti halnya kenikmatan lain yang sering kita alami, segala yang berlebihan itu akan membawa kerugian bagi diri sendiri. Maka, saya pun berusaha untuk menyeimbangkan waktu tidur per hari sesuai ilmu yang pernah saya dapat dari mereka yang ahli dan tokoh terkemuka dunia ini yang pastinya semua pernah merasakan tidur.

Menurut dokter spesialis tidur, dr. Andreas Prasadja yang pernah saya wawancarai sendiri, kesehatan tidur seseorang sangat berpengaruh pada performa dan kesehatan tubuhnya. Menurut dokter yang konon katanya merupakan satu-satunya dokter spesialis tidur di Indonesia itu, kesehatan tidur orang Indonesia secara umum masih sangat buruk. Hal tersebut dilihat dari banyaknya orang Indonesia yang mengalami kantuk di siang hari. Kata sang dokter, “Kalau tidur cukup, nggak akan ngantuk.”

Kata beliau lagi, kebutuhan tidur yang cukup untuk orang usia remaja dan dewasa muda (saya masih masuk nggak ya? Wkwk) adalah 8,5 sampai 9 jam. We-o-we nggak tuh? Berarti kalau gitu sepertiga lebih usia kita sudah habis untuk tidur. Ditambah lagi pas bayi dan kanak-kanak (yang masih sering disuruh tidur siang karena bagus juga buat pertumbuhannya), waktu tidur bisa jadi separuh lebih dari waktu sehari.

Lalu, bagaimana dengan kebutuhan tidur orang dewasa? Kalau menurut pandangan pribadi saya sih, semestinya tidak sebesar porsi tidur remaja seperti di atas. Orang dewasa artinya orang yang sudah mampu mengatur kehidupan dan segala aktivitasnya dengan baik. Jika ingin hidup teratur, mendisiplinkan waktu tidur setiap harinya adalah yang terbaik. Yah sekitar 6-7 jam sehari sudah sangat cukup untuk orang awam. Berbagai risiko penyakit pun dapat ditekan. Tapi, ada kalanya manusia tidak bisa lari dari yang namanya “begadang”, ya tinggal atur-atur saja kapan ada waktu lain untuk mengganti tidur yang kurang.

Namun, kalau agak mendongak ke atas (jangan bayangkan langit-langit atau plafon…cuma ada cicak), tokoh-tokoh besar itu waktu tidurnya sangat sedikit. Contoh tokoh besar itu, misal saja Pak SBY (oops). Besar dan gagah…ditambah dengan kantung matanya yang tidak kalah besar dari punya orang rata-rata. Jujur saya suka tersentuh kalau lihat air muka beliau, seperti begitu banyak kesibukan dan perjuangan yang beliau jalani. Barack Obama dan Sigmund Freud, menurut salah satu sumber internet* tidur selama 6 jam sehari. Sementara, Thomas Alfa Edison dikatakan tidak tidur malam, namun dalam sehari-harinya dia tidur selama kurang lebih satu jam beberapa kali dalam sehari**. Nabi Muhammad SAW pun dikenal sangat sedikit dalam tidur. Beliau terbiasa tidur setelah isya’ dan menghidupkan malam-malamnya dengan beribadah.

Sebagai penutup, saya mengambil simpulan bahwa setiap jenjang usia manusia memiliki kebutuhan tidur yang berbeda. Anak kecil membutuhkan banyak tidur untuk perkembangan otak dan tubuhnya. Sementara bagi orang dewasa, lebih dituntut mengatur waktu untuk memaksimalkan produktivitasnya. Betewe, menyangkut produktivitas, menarik juga untuk jadi bahasan saya di tulisan lainnya.

Akhir kata, karena jam di handphone ini sudah menunjukkan pukul 23.33, mari kita akhiri saja. Saya pun sudah ingin beranjak ke kasur untuk tidur. Selamat tidur, rakyat Indonesia.

 

Referensi:

*https://anekainfounik.net/2015/03/07/ini-kebiasaan-jam-tidur-12-tokoh-dan-pemimpin-terkenal-di-dunia/

**http://bisnis.liputan6.com/read/2186649/kebiasaan-jam-tidur-para-orang-terkenal-di-dunia

Sumber Gambar: Pinterest

 

Bantul, 3 November 2016

Advertisements