Sudah berulang-ulang aku berulang tahun, belum pernah aku membuat tulisan tentang ulang tahun. Seperti orang-orang lain pernah melakukan, entah itu berisi perenungan atau kisah kejutan dari orang kesayangan. Terkecuali tahun ini, di ulang tahun yang ke-23 kali ku dalam tahun masehi.

Alasannya cukup sederhana. Jujur angka 23 memiliki sedikit keistimewaan bagiku. Karena di tanggal itulah aku lahir. Di tanggal itu pula aku memulai hari pertama “terjun ke dunia nyata” (baca: liputan sebagai wartawan -yang mana itu terasa sebagai hari pertama aku agaknya terlahir kembali dan perjalanannya sudah aku tuliskan di sini-). Serta, di tanggal itu juga aku memasang beberapa target besar untuk hidupku sendiri (sebagiannya batas usia maksimal… #ahha).

23 Juni 1993. 23 tahun sudah berlalu dalam kehidupanku. Apalah artinya usia. Ternyata bagiku ada. Ada orang yang bilang, usia dua puluhan adalah saat-saat kau akan memulai hidup yang sebenarnya. Saat-saat seorang manusia telah menemukan siapa dirinya. Yang sering juga mereka sebut jati diri. Ternyata, itu berlaku pula bagiku.

Segala puji hanya bagi Allah. Aku merasakan begitu banyak skenario indah yang telah Dia turunkan selama perjalanan hidupku. Hingga titik ini, Dia telah mengizinkanku lulus S-1 dua tahun yang lalu. Mengenal banyak sekali orang-orang baik selama menjalani kuliahku. Lalu, Dia juga telah memberiku kesempatan satu tahun “menimba ilmu” di dunia nyata. Pada bidang yang muncul dari keinginan hatiku, mencicipi rasanya jadi wartawan di ibukota.

Dia juga, yang memberikan aku keberanian untuk menyelami bidang yang aku geluti di dunia kerja, dengan menempuh jenjang master. Ada dua hal yang sempat membuatku harus mengumpulkan banyak keberanian. Pertama, aku harus menyeberang cukup jauh dari latar belakang S1 di jurusan Teknik Arsitektur dan kedua, memutuskan resign dari pekerjaan wartawan dua bulan sebelum mendaftar S2. Ya, bahkan sebelum aku memiliki jaminan diterima di jenjang pendidikan lanjutan itu. Namun, pengumuman diterima sebagai mahasiswa program beasiswa di jurusan Kajian Budaya dan Media UGM pada 1 Juli lalu, menjadi salah satu hadiah terindah dari-Nya. Takdir yang satu ini memberi keyakinan baru bagiku bahwa Dia ridho dengan jalan yang aku pilih. Aamiin, semoga saja.

Maka, saat sedang menulis ini, aku hanyalah calon mahasiswa pengangguran yang masih hidup menumpang di rumah eyang dan bertahan pada status single-and-very-happy 😀 Yap, di usiaku yang sebulan lalu menginjak 23. Di belakangku, sebenarnya ada banyak target hidup yang terlewatkan bersama usia yang tinggal kenangan. Misalnya, menulis novel di usia 18 tahun (terinspirasi dari penulis favorit pertamaku, Christopher Paolini, yang menulis saat masih sangat muda). Nyatanya, sudah 5 tahun berlalu dari usia 18 tahun aku belum juga insaf untuk menulis buku 😦 Namun, Dia menggantikan yang sebagian dengan sebagian pencapaian lain yang sebelumnya tidak pernah terbayang. Ya, begitulah hidup berjalan.

Pada akhirnya, dari titik tolak usia ini aku memiliki firasat hidup baruku benar-benar baru dimulai. Hidup dalam jalan yang aku pilih sendiri. Hidup yang sudah harus bertumpu pada kedua kakiku sendiri. Hidup dengan kesadaran penuh! Hidup dengan pertanggungjawaban penuh atas apa yang telah aku pilih. Hidup dengan mencurahkan seluas-luasnya kemampuan ini. Hidup yang hanya mencari, mengharap, dan memaksudkan hidup untuk meraih ridho-Nya.

Yang di bawah ini sedikit kejutan dan kado manis yang sempat datang pada 23 Juni 2016 lalu. Tanpa terduga 😀

Salam cinta untuk kalian, saudara-saudari terkasih…

 

IMG_6741

Ceritanya Ramadhan kemarin saya menghabiskan waktu untuk belajar bahasa inggris di Pare. Tepatnya di TEST English School. Nggak nyangka di sana bakal ketemu sisters di dorm (all of them are younger than me *Haha) yang seru, nggemesin, dan spektakuler. Hehe. Mereka juga yang nyiapin surprise ini so that day became an epic birthday.

 

IMG_6746
Asal muasal perang berawal

 

IMG_6755
Habis perang terbitlah wajah mereka yang belepotan.

 

IMG_6757
Dan member Test yang lain..

 

IMG_6759
Sebagian anak dorm (plus Koi as penyusup :P) after that such of epic night class. Hari itu totalnya dikerjain 3 kali, dari Koi-Upi-Puspa pas buka puasa, night class, dan sisters in dorm.

 

And then…. Another sweetest gift from the sweetest one…. Sebuah pesan Whatsapp dari Henny….

DSC07830 - Copy
@Blanco Cafe, Jogja 22 Juli 2016

 

So, ini dia….

“10 hari yang lalu, aku benar-benar lupa hingga ada Mas Ad mengirim pesan di grup FLP mengatakan bahwa dirimu sedang berulang tahun. Aku ingin segera mengucap selamat dan memberi doa-doa untukmu. Tetapi yang terjadi adalah aku justru diam dan terus menunda-nunda. Aku ingin menyelesaikan pekerjaan-pekerjaanku dulu baru meluangkan waktu untukmu.

Kamu tahu, Uti? Pekerjaanku ternyata tak kunjung usai. Hingga detik aku menuliskan ini, setumpuk pekerjaanku masih terbengkalai. Lalu aku sadar, betapa egoisnya aku. Sekedar menyapamu saja perlu pikir panjang. Padahal kita dianjurkan untuk menebar salam kepada saudara seiman.

Maka kuputuskan, saat ini juga aku ingin menulis ini buat Uti. Pertama, selamat atas lolosnya beasiswa S2 yang Uti ajukan. Aku turut bahagiaaaaaaaaa sangat. Jadi mahasiwa lagi, yeay! 🎊🎉💐

Kedua, 23 Juni 2016, 23 tahun Uti kini, 23 doa untuk Maruti Asmaul Husna Subagio (hahaha, nyontek Uti, biarin!)

1. Hafizhah *aamiin aamiin ya Allah .. 😇
2. Istiqomah menulis minimal 1 pekan sekali 😍📝✊🏻
3. Tahun depan menerbitkan buku perdana. Novel boleh, kajian media boleh 😁📕📗
4. 2 tahun ke depan rampung tesis, cumlaude 💻📔🎓
5. Diberi kesempatan oleh Allah mendalami dunia media sampai ke Guardian di Inggris sana 🇬🇧
6. Bisa menandingi para jurnalis oportunis dengan menuliskan berita yang sesuai fakta, tidak memanipulasi media untuk kepentingan segolongan orang (duh, ngomong apa sih aku .. intinya, semoga Uti teguh di jalan kebenaran meskipun disenggol kanan kiri oleh para lawan) 🏹
7. Jadi penulis produktif mencerahkan seperti Asma(ul) Nadia *ehh 😎
8. Segera dipertemukan dengan jodohnya. Hidup semakin berkah dan produktif dalam pernikahan. *suit suit 🏂
9. Setia bersama melimove. Membersamai teman-teman dalam menyikapi media dengan bijak. 📷
10. Setia bersama FLP. Walaupun jarak memisah, mungkin suatu saat semakin jauh, kita tetap saudara kembar di FLP 🙈🙉
11. Setia menjadi pecinta sate padang *ngga tahu juga kenapa~ 🍢🍡
12. Sekolah ke Inggris dengan beasiswa *tesis atau S3 📚📖🎓
13. Jadi da’iyah yang menggabungkan ilmu arsitektur dengan ilmu media 🏡📰
14. Punya anak yang doyan baca *emot sama dengan atas 👦🏻👧🏻📚
15. Tulisan-tulisan Uti bertebaran menghiasi media 📰💻📡
16. Istiqomah dalam tarbiyah 😇
17. Minum air putih 8 gelas sehari *biar produktif nulis tapi ga dehidrasi 🍼 *ini air putih kenapa emotnya botol susu? 🤔
18. Buka lembaga pengkajian media saat ilmu semakin mumpuni 📺📻🗞📡
19. Dijauhkan Allah dari sifat lalai, malas, dan kesewenangan manusia 😷
20. Menjadi sahabat yang cerah ceria ☀ dan ngga ragu mengingatkanku 😞
21. Pandai menggunakan waktunya untuk berkarya 📜
22. Terjaga dalam ketaatan, selama 24 jam setiap harinya 🕛
23. Uti-Henny jadi sahabat sampai surga :’)

Sekian doa dari saya. Apabila ada salah tulis, mohon dimaklumi *eh.
Jangan dianggap berat ya Uti, aku tahu ini ngga berat kok buat Uti 😁
Tetap saling menyemangati merengkuh anak tangga akhirat
Mungkin 23 poin itu sudah jadi checked list dalam 23 tahun lagi… 30 tahun lagi…
Salam~ 😘😘😘

Aaamin aamiin ya Allah…

Semoga semakin banyak orang-orang yang mencintai-Mu di dekat diri ini. Agar menular pula nikmatnya mencintai-Mu.

 

Bantul, 29 Juli 2016 (Setengah jam menuju pukul 24.00, saat ibu-bapak sudah sampai ke alam lelap)

Advertisements