(Petikan pelajaran dari Novel Gadis Jeruk karya Jostein Gaarder)

Lagi kangen dengan novel Gadis Jeruk. Novel karangan penulis asal Norwegia, Jostein Gaarder ini menjadi salah satu cerita favorit saya. Kesan yang terbekas belum pudar. Meski sudah hampir dua tahun lalu membacanya. Cerita yang membekas lama, bagi saya adalah salah satu indikator karya yang bagus dan berhasil.

Sebenarnya, cerita dalam novel Gadis Jeruk sederhana. Seorang anak laki-laki 15 tahun bernama Georg menemukan surat yang ditulis mendiang ayahnya secara tidak sengaja. Surat itu ditulis sang ayah dalam masa kritisnya sebelum meninggal. Di surat itu diceritakan kisah pertemuan sang ayah dengan si Gadis Jeruk, gadis misterius yang ternyata memiliki peran besar dalam kehidupannya.

Layaknya novel karya Gaarder kebanyakan, ciri khasnya sering menyajikan cerita sederhana namun memiliki nilai filosofis yang dalam. Dunia Sophie, karya Gaarder yang lain mungkin merupakan yang paling tebal dan lebih familiar dikenal orang sebagai novel filsafat. Karya filosofis Gaarder lainnya, Misteri Soliter. Namun, jangan khawatir, Gadis Jeruk tidak seberat kedua novel itu. Dalam terjemahan bahasa Indonesianya, Gadis Jeruk hanya berisi 256 halaman. Namun tidak kalah dalam makna filosofisnya.

Sejak membaca novel itu, pikiran saya terbuka pada sebuah pandangan baru. Sebuah sudut pandang yang sering membayang dan mengingatkan saya pada novel tipis itu. Entah apakah sudut pandang itu juga yang diinginkan Gaarder hadir bagi para pembaca Gadis Jeruk? Saya tidak tahu.

Yang jelas dari mengikuti setiap alur dan detil ceritanya saya jadi tersadar, bahwa setiap peristiwa yang terjadi pada hidup kita memiliki makna dan maksud tersendiri. Satu peristiwa dengan peristiwa lainnya bagai untaian sebab akibat yang terajut rapi. Yang akhirnya mengantarkan kita kepada takdir dan pencapaian besar.

Seperti yang tadi saya katakan, novel ini terangkai dari cerita sederhana. Kisah hidup sehari-hari kebanyakan manusia. Namun, seringkali ada kejutan di balik peristiwa yang sederhana. Yang baru akan kita sadari setelah sekian waktu berlalu.

Kita menjalani roda kehidupan, memainkan peran masing-masing, seakan berjalan di atas tanah yang datar. Monoton. Kita bermimpi, menaruh harapan, tapi tak kunjung terkabul, mungkin itu bagian paling melelahkan. Perlahan semangat kita menghilang. Hari-hari menjadi gugusan waktu yang harus dilalui dengan kebosanan.

Padahal, bisa jadi kita lupa. Bahwa setiap manusia yang hidup merupakan bagian dari alam semesta. Tuhan telah menuliskan garis takdir manusia dan semua makhluk ciptaan-Nya. Tidak ada seperseratus detik pun nafas yang lepas dari pengetahuan-Nya. Sedangkan Dia adalah penulis skenario terbaik.

Mungkin kita kurang belajar dari planet dan bintang-bintang, yang tak pernah bosan melaksanakan titah perputarannya selama jutaan abad. Jika seluruh usia hidup manusia dikumpulkan, mungkin belum bisa mengalahkannya. Tapi kita seringkali berputus asa dengan pekerjaan yang baru berjalan hitungan bulan atau tahun. Begitu juga sebuah penantian.

Mungkin kita kurang menunduk pada lebah di taman bunga. Kurang menyisihkan waktu kita untuk meninggalkan meja kerja. Untuk sekadar menghirup napas di halaman belakang rumah kita. Dengan secangkir teh hangat mengamati hewan-hewan kecil yang tinggal di sana.

Seekor lebah gendut hinggap di atas kelopak asoka. Ilmuwan berkata, lebah itu lebih kuat daripada sebuah helikopter. Kelajuan terbangnya jauh melampaui kelajuan sebuah helikopter dengan perbandingan bobot beban yang sama. Jam terbang sang lebah pun jauh lebih banyak daripada helikopter mana pun yang diciptakan manusia. Dari sanalah ilmuwan mengambil pelajaran dan menciptakan. Belajar dari makhluk kecil yang diciptakan Pencipta semesta raya. Betapa detil dan besarnya manfaat dari sebuah ciptaan-Nya yang kecil.

Berdesakan di dalam trem, melipat cucian yang menggunung, membunuh waktu sendirian di kafe, membantu orang yang barangnya terjatuh, terlihat sekilas seperti aktivitas biasa saja. Namun bagaimana jadinya jika berdesakan di dalam trem, membuat seorang gadis yang membawa sekarung jeruk tak mampu menahan dekapannya? Jeruk-jeruk itu jatuh berserakan dan kau membantu memungut beberapa jeruk yang berhenti di ujung sepatu.

Tidak ada yang spesial sampai di sana. Hingga suatu ketika, saat singgah di sebuah kafe, kau melihat gadis itu lagi. Masih membawa sekantung besar jeruk seperti sebelumnya. Dia termenung. Tidak menyadari keberadaanmu. Lambat laun, kebiasaannya membawa sekarung jeruk yang tak biasa menghidupkan rasa penasaranmu. Mengaktifkan sensor analitismu. Untuk apa jeruk-jeruk itu? Kemana sang gadis membawanya setiap hari? Mengapa dia selalu membawa jeruk? Dan kau mulai terusik untuk menemukan jawaban. Yang tanpa disadari, adalah perjalanan menuju takdir yang besar. Sederhana namun penuh kejutan. Selamat merayakan hidup!

“Dongeng hebat apakah yang sedang kita jalani dalam hidup ini? Dan yang masing-masing dari kita hanya boleh mengalaminya untuk waktu yang singkat? Mungkin teleskop ruang angkasa akan membantu kita untuk mengerti lebih banyak tentang hakikat dongeng ini suatu hari. Barangkali di luar sana, di balik galaksi-galaksi, terdapat jawaban apa sebenarnya manusia itu.” (hal 177)

“Jika hidup itu bagaikan sebuah dongeng singkat yang harus berakhir dan kita harus pergi meninggalkan segalanya, maka dalam kehidupan yang singkat ini apa yang harus kita kerjakan?”

 

Bantul, 8 Juli 2016

 

 

Advertisements