Masa-Masa Awal di Dunia Kewartawanan

Selesai dari masa training, 23 Maret 2015 bertepatan hari Senin, adalah debut pertama kami menjadi wartawan yang terjun ke lapangan. Saya dan teman-teman seangkatan sudah disuruh liputan dengan sistem tandem. Masing-masing kami dipasangkan dengan seorang wartawan senior. Saya dapat desk pendidikan, sesuai request yang saya ajukan di awal. Antara desk pendidikan atau seni budaya. Alhamdulillah…

Hari pertama, berangkat dari kos 9.30 pagi. Saya dan senior yang jadi tandem, namanya Mbak Puji –halooooo Mbak Pujiiiii kangeeeeen beraaaaaat- *maaf intermezzo* berangkat dari kos kami yang berdekatan dengan angkot M09 dilanjut Transjakarta *bukan busway ya nyebutnya*. Tempat liputan pertama kami –yang mutlak ditentukan Mbak Puji- adalah Dinas Pendidikan DKI Jakarta.

Yang paling berkesan hari itu adalah pertama kali saya mengenal Mbak Puji. Beliau usianya 10 tahun lebih di atas saya. Beliau sangat kalem di kesan pertama, irit bicara. Percakapan kami lebih banyak dari saya yang mulai bertanya macam-macam. Rasanya waktu itu saya banyak tanya sekali seputar pengalaman liputan dan budaya di kantor. Saya pikir, semua wartawan banyak bicara. Ternyata tidak. Karakter wartawan juga seberagam karakter manusia umumnya. Tapi ke depan saya tahu, Mbak Puji diam-diam menghanyutkan. Beliau waktu itu sudah masuk tahun ke-6 menjadi wartawan. Beliau sangat cekatan dalam liputan, mengejar narasumber, dan menulis berita sampai jadi. Beliau salah satu wartawan andalan Jawa Pos dan panutan saya sampai sekarang. #uhuk #uhuk #ihhiyy 🙂

Hari kedua, masih bersama Mbak Puji. Kami pergi liputan masih dengan kendaraan umum. Waktu itu motor Mbak Puji sedang diservis. Kalau tidak, tentu kami sudah pakai. Hari kedua itu, saya merasa mulai frustasi. Pekerjaan macam apa ini? Gimana bisa wartawan-wartawan itu bertahan dengan pekerjaan seperti ini?? Kata saya dalam hati waktu di angkot bareng Mbak Puji. Dan masih saya ingat betul.

Yang berputar di kepala waktu itu, wartawan sehari dituntut menulis 3 berita. Sementara, arahan dari redaktur tidak hadir setiap hari. Apalagi di pendidikan, kata Mbak Puji. Sangat jarang. Mungkin sebulan bisa dihitung jari. Kemana kaki harus melangkah? Berita apa yang harus dibuat? Sama sekali belum terpikir oleh saya waktu itu.

Dua minggu pertama, kemana-mana saya ikut Mbak Puji. Di minggu kedua kami liputan sudah dengan motor masing-masing. Salah satu tujuannya, supaya saya segera hafal jalan-jalan Jakarta. Saat itu beban paling besar adalah memikirkan bahwa saya harus liputan kemana-mana sendirian dengan motor pribadi. Pengalaman saya dengan apa pun di Jakarta, terutama jalan-jalannya tentu nol besar! Tapi mau nggak mau harus dihadapi.

Hanya dua minggu saja, saya tandem dengan Mbak Puji. Selebihnya, kami sudah harus jalan sendiri-sendiri. Mbak Puji di pendidikan, saya diberi desk baru di kesehatan dan lifestyle. Selama di kesehatan, saya merasa beruntung. Karena setiap hari bertemu beragam dokter. Bahasan tentang bayi, ASI, gizi, hingga penyakit lansia berulang-ulang setiap hari. Banyak pengetahuan baru. Banyak manfaatnya juga untuk kehidupan sebagai ibu dan tua nanti.

Di satu dua bulan pertama, target berita dalam sehari masih dua. Beda dengan wartawan senior yang minimal 3, kadang-kadang 4 sampai 6.

Tiba juga saatnya menelusuri hutan belantara Jakarta. Yang jalan rayanya bisa selebar 2—4 kali Ringroad Jogja. Kalau kelewatan, muternyaaa sungguh uadooooh (bahasa Jawa=jauh, Red). Sebelum berangkat liputan, saya selalu tanya-tanya teman, mau ke sana lewat mana. Tidak lupa membayang-bayangkan jalan –yang nggak kebayang-bayang juga- lewat google maps. Sehari sebelum liputan, malamnya selalu khusyuk di depan google maps. Kalau sudah ada rencana lokasi liputan esoknya. Di jalan, kadang saya nggak bisa ngandelin google maps. Karena berkali-kali dilihat tetap nggak ngerti jalannya. Alhasil, sehari saya bisa tanya ke orang di jalan sampai 20 kali. Paling kurang 5—10 kali. Itu masa-masa sebulan pertama liputan sendirian.

Tapi sekarang, ada peningkatan lumayan signifikan. Jalan utama Jakarta Pusat-Jakarta Selatan sebagian saya hafal. Ke wilayah Jabodetabek lain juga pernah (terpaksa) motoran. Sekarang kalau dibandingkan, saya lebih hafal jalan-jalan Jakarta ketimbang Jogja. Karena di Jogja sangat amat jarang jalan-jalan. Paling sekitar jalan kampus-rumah di Bantul.

Cultural shock lainnya buat saya adalah budaya salaman dan pulang malam. Dua-duanya adalah hal yang selalu saya berusaha hindari. Dulu, sebelum jadi wartawan, ‘ujian’ salaman –dengan non mahram, ya- hanya datang setahun sekali. Yaitu, saat lebaran. Tapi, setahun jadi wartawan, ‘ujian’ itu harus dihadapi setiap hari. Hasilnya pun seperti iman, kadang naik kadang turun.

Lalu, pulang malam. Ini cerita tentang bekerja di industri media cetak harian yang setiap Subuh produknya sudah ditunggu para agen koran. Jam kerja wartawan tak pernah sama. Hari ini bisa mulai ke lapangan jam 6 pagi, esoknya bisa jadi jam 12 siang. Tapi di Jawa Pos Jakarta, kami selalu pulang rata-rata paling cepat jam 21 malam. Biasanya wartawan harus ke kantor dan menunggu tulisan selesai diedit redaktur.

Kalau tulisan bisa kelar cepat, pulang pun bisa lebih awal. Tapi, kadang juga tergantung lagi ke redaktur. Seminggu sekali, kami ada rapat redaksi. Isinya membahas liputan khusus tiap pekan dan tulisan feature harian selama dua pekan ke depan. Kalau rapat, paling cepat wartawan dan redaktur sama-sama pulang jam 1 malam. Tergantung cepat-lamanya bahasan.

Saya saat kuliah, tinggal di sebuah asrama mahasiswa. Yang hampir seperti pesantren –dan memang dinamai begitu-. Di sana, ada peraturan kami harus sampai asrama paling lambat adzan maghrib. Setelahnya, tidak boleh keluar lagi. Karena malam terlalu bahaya untuk perempuan. Kecuali, ada hal yang mendesak di kampus.

Karena pulang malam saat bekerja, saya yang biasanya dengan mudah bangun di sepertiga malam di asrama, atau dibangunin ibu saat tinggal di rumah di Bantul, untuk bangun subuh saja butuh segenap perjuangan. Menyalakan alarm setiap 10 menit di 2 handphone, membeli jam weker yang bunyinya sangat bikin terkaget-kaget, minta dibangunkan teman kos, semua dilakukan.

 

Masa-Masa Pertengahan

Masa on job training (OJT) kami habis di enam bulan pertama bekerja. Enam bulan jadi wartawan, tuntutan kantor berkali lipat lebih berat, seiring dengan gaji yang juga meningkat. *kayaknya nggak perlu dijelasin ya. hehe*

Di enam bulan itu, tuntutan target berita kami (wartawan angkatan baru, Red) sudah sama dengan wartawan senior. Sehari minimal 3 berita. Satu hari bisa berkelana di dua sampai tiga tempat liputan. Tempatnya tidak bisa diprediksi. Pagi di Jakarta Barat, siangnya bisa di Depok, Jakarta Timur, atau Utara. Jenis tempatnya pun sangat random, pagi bisa di sekolah kumuh yang hampir rubuh, siangnya harus pindah ke mall andalan sosialita papan atas Jakarta. Padahal baju dan kostum kami nggak ganti dan itu-itu saja. *nikmatnya jadi wartawan* Kalau stock berita sudah cukup, kadang cukup liputan di satu tempat saja.

Di masa-masa enam bulan itu, meski tuntutan lebih berat, tapi tantangan terasa lebih ringan. Karena link narasumber yang semakin lengkap, jalan-jalan Jakarta yang semakin bisa dihafal, dan kemampuan menulis semakin lancar. Kalau di awal kami bisa menulis satu berita (1,5 halaman) selama 1,5 jam, lewat masa enam bulan bisa selesai dalam 30 menit saja. Bahkan kadang 15—20 menit.

Di mana tempat menulis? Yang pasti tidak terkejar kalau wartawan menulis hingga sampai di kantor dan duduk nyaman. Kami diberi deadline berita pertama pukul 16.30 sore. Setelah itu harus hadapi kemacetan Jakarta. Alhasil, menulis sambil berdiri dengan tubuh doyong karena desakan penumpang lain di KRL pun pernah, menulis dengan menumpang duduk di emperan jalan pun pernah, menulis di mushola mana saja yang terdekat paling sering.

Alat yang saya –dan sebagian besar wartawan- punya hanya HP. Sebagian lagi membawa tablet. Kalau laptop terlalu berat dibawa-bawa. Saya sendiri paling nyaman menulis di Evernote. Tulisan feature 5 halaman pun kadang saya tulis di HP 5,5 inch. Semakin ke sini, di waktu-waktu tertentu menulis di HP buat saya lebih nyaman. Karena bisa sambil tiduran atau gaya bebas apa saja asal HP di tangan. Iya kan?

Saya juga dapat cerita dari Bunda Helvy saat ikut talkshow beliau, bahwa pak Dahlan Iskan menghasilkan tulisan-tulisan hebatnya -yang hampir tak pernah absen sehari saja- dengan media WA. Bukan laptop!

”Pak Dahlan Iskan menulis di WA,” kata beliau.

Saya tidak bisa bayangkan se-hectic apa kesibukan mantan direktur utama PT Jawa Pos Group dan mantan menteri BUMN itu sekarang. Tapi beliau dulu puluhan tahun menjadi wartawan. Pastinya sangat paham resepnya bisa produktif menulis dalam kondisi apa pun.

Setiap Senin, catatan New Hope beliau muncul di halaman pertama Jawa Pos. Saya lebih sering membacanya daripada tidak. Diam-diam saya juga mengikuti gaya tulisan beliau yang nyaman dibaca sampai habis.

New Picture (4)
End year party carnival di kantor. Januari 2016

 

Teman Geng Tempat Semua Cerita Tercurah

Meski badai menghadang, bersyukur Allah masih memberi kami teman seangkatan yang selalu kompak. Persahabatan kami memang lebih dekat dibanding teman sekantor di media lainnya –rasanya-. Karena ada tuntutan ke kantor setiap hari untuk wartawan Jawa Pos. Bersyukur dan bahagia mengenal mereka. Yang sering ramai di grup WA. Bahkan sampai di antara kami nanti ada yang jadi menteri, jadi pemimpin redaksi, jadi pengusaha ternama, jadi ibu rumah tangga, kami sepakat tidak akan keluar dari grup angkatan. Bahkan kalau WA sudah tidak zamannya, kami pindah ke media sosial lain. Hehhhe…

Juga teman sekantor yang tidak seangkatan. Mereka sama baiknya dan tak pelit berbagi ilmu. Beberapa senior bahkan sangat ngayomi kami. Wartawan kubu perempuan sering ngumpul di satu ruangan, kemudian curhat apa saja. Di manakah itu? Maaf yang ini rahasia, ya, hehehe.

New Picture (2)
Pas reuni 1 tahun. 4 April 2016. Hayo aku yang mana?

 

Masa-Masa Akhir di Dunia Kewartawanan

Sudah nggak banyak yang mau saya ceritakan. Intinya, sejak awal mendaftar saya berniat jadi wartawan tidak untuk waktu lama. Apalagi waktu itu datang dengan sangat buta Jakarta. Bisa bertahan 1 tahun, sudah lebih dari ekspektasi saya. Dari perjalanan itu, nggak terbayangkan sebelumnya ujian dan pertolongan Allah hadir sebanyak itu.

Satu hal lagi yang saya syukuri, bekerja di Jawa Pos koran sangat membantu mengasah kemampuan dan kehalusan menulis. *yap, ini bonusnya* Karena kami tidak hanya dituntut -dan dilatih sesekali- untuk menulis berita reportase biasa. Sebagai koran yang sangat perhatian pada unsur human interest, setiap wartawan Jawa Pos ditugasi membuat tulisan feature (berita kisah) bergantian. Rata-rata tiap wartawan kebagian 2 minggu sekali. Feature di Jawa Pos terbit setiap hari.

Mencari ide feature baru memang selalu menjadi tantangan paling sulit. Tapi kami jadi punya kesempatan bertemu dengan sosok-sosok inspiratif. Mengamati, mengeksplorasi, mendeskripsikan, dan berusaha menularkan sisi inspiratif atau unik sang tokoh. Menuliskannya, buat saya menjadi satu hal seru tersendiri.

Mungkin ada juga yang bertanya bagaimana hubungan atasan dengan wartawan terkait independensi wartawan menulis berita? Sejauh yang saya alami tidak ada banyak masalah. Karena desk yang saya tempati (pendidikan, kesehatan, dan lifestyle) bukan desk yang riskan. Beda lagi kalau bicara desk lain seperti politik, ya.

Di mana pun, wartawan perlu berpegang pada prinsip. Wartawan juga bisa bersiasat. Wartawan punya andil memilih berita terbaik untuk ditayangkan.

Jelang satu tahun bekerja, sempat saya galau juga. Akankah berlanjut dan menetap lebih lama di Jakarta? Atau sudahi saja? Pilihannya antara lanjut bekerja yang sudah masuk ke zona enjoy, atau S2. S2 di jurusan yang saya mau (sejak belum mendaftar kerja), hanya menyediakan beasiswa buat saya maksimal tahun ini. Syarat maksimal 2 tahun setelah lulus S1. Tempatnya pun di Jogjakarta.

Saat konsultasi dengan kepala kompartemen di kantor, saya diberi beberapa opsi untuk tetap lanjut S2 sambil bekerja. Tapi saya pikir semua opsi itu tidak ada yang pas. Sehingga, harus memilih salah satu dan meninggalkan salah satu.

New Picture (1)
Status facebook di suatu masa…

 

Jakarta, 15 Mei 2016

Advertisements