Intro

Kebiasaan lama masih terbawa. Masih suka menunda menulis. Padahal, niat ingin buat catatan ini sudah ada sejak masih di Jawa Pos. Sekarang, sudah 1,5 bulan sejak saya mengundurkan diri dari perusahaan koran yang dibesarkan pak Dahlan Iskan itu. Setelah satu tahun (lebih 1 minggu) saya bekerja di sana.

Kata seorang teman, Jawa Pos adalah kapal tongkang luar biasa besar. Kata seorang redaktur, Jawa Pos Group punya kurang lebih 200 brand se-Indonesia. Sampai ada misalnya Maluku Post, Radar Jogja, Radar Depok yang disebut juga cicitnya Jawa Pos koran. JPNN, disebut sebagai jaringan media terbesar di Indonesia. Saya jelaskan ini karena akan beda cerita selanjutnya kalau kami bekerja di perusahaan media lain.

Yang akan saya tuliskan adalah segala hal yang saya rasa penting diabadikan selama satu tahun menjadi wartawan. Mungkin isinya akan terlalu detail. Juga terlalu curhat. Meminjam istilah anak Youtubers yang banyak bikin VLOG di zaman kekinian sekarang, ini adalah Draw My Life saya versi tulisan.

Emang, (nyadar banget, Red) kalau gue bukan siapa-siapa. Beda pake banget sama Youtubers yang emang Draw My Life nya ditunggu-tunggu sama 100.000 subscribers –misal-. Tapi saya nulis ini juga bukan buat siapa-siapa. Lebih buat diri sendiri yang mungkin akan ada manfaatnya untuk kehidupan di masa depan. Hanya sebuah rangkuman dan renungan setelah hidup dengan segenap kemampuan dicurahkan. Setelah lebih dari 365 hari dilewati. Setelah tak kurang dari 1095 tulisan dihasilkan. Sebagai wartawan (sangat amat) pemula.

Oh ya, selain menjelaskan apa yang saya alami, tulisan ini juga mengandung satu pesan penting yang harus saya camkan dalam-dalam selamanya. Yaitu, tentang cita-cita menjadi seorang penulis *doakan yah…* –salah satu tujuan jadi wartawan agar terbiasa menulis-. Bahwa, menulis bisa di mana saja. Menulis harus setiap hari. Menulis itu sama dengan berbicara, hanya bedanya dicatat dan tidak. Ini jadi satu pesan atau tiga, ya? Hehehe.

”Menulis sama dengan berbicara,” kata Bunda Helvy Tiana Rosa di salah satu kesempatan saat saya temui.

Jika kita mampu berbicara, apalagi lancar saat bercerita, maka seharusnya menulis pun bisa. Kalau sudah terbiasa, seperti halnya manusia butuh tempat curhat saat punya pikiran yang terendap, kalau tidak dicurahkan maka terasa ada yang kurang. Begitu juga bagi penulis (orang yang sudah terbiasa menulis maksud saya), hari-harinya terasa kurang bahkan panik jika belum menulis.

Percayalah, menulis hanya butuh 10 persen bakat. Selebihnya, 90 persen, menulis adalah urusan tekad dan latihan. I’m really really sure that You Have to Practice to be a writer. Every day kalau bisa. Sesedikit apa pun, walaupun satu paragraf nggak apa-apa. Menjadi wartawan satu tahun ini, membuat kami –saya dan teman-teman seangkatan di Jawa Pos- merasa menulis reportase harian (belum sampai indepth reporting, ya) adalah hal yang sama sekali mudah. Insyaa Allah. Seperti mengetik SMS atau Whatsapp (WA). Karena kebiasaan. Juga tekanan yang, ehemm… Mungkin akan saya ceritakan nanti lebih jauh.

New Picture

 

Masa Pendaftaran

Saya dapat informasi open recruitment reporter Jawa Pos dari teman di salah satu Whatsapp group. Waktu itu, keinginan jadi wartawan agak meredup. Karena sebelumnya saya udah pernah ditolak dari media cetak lain, sebut saja Republika. *beneran nyebut* Bisa baca pengalaman saya ikut semua proses pendaftaran Republika di Secicip Republika

Saat lowongan Jawa Pos itu masuk, niat saya sudah condong untuk mendaftar S2. Tapi, dilihat dan dilihat lagi itu broadcast kok bikin kepikiran terus, ya. Memang sudah lama saya punya perasaan, kalau belum mencoba jadi wartawan misi hidup rasanya ada yang kurang. #etttsaaaahhhh #hihu

Jadi, saya putuskan untuk mencoba saja. Dengan keyakinan diterima yang lebih kecil daripada saat mendaftar Republika. Kenapa? Banyak faktor sih. Salah satunya agar nggak begitu patah hati kalau nanti ditolak lagi. Hohoho… Saya waktu itu seperti mau membuktikan teori, kalau bingung pada beberapa pilihan, yang penting dicoba saja. Serahkan pada Allah nanti dipilihkan yang mana. Insyaa Allah akan yakin seiring berjalan takdir.

Proses pertama, seleksi administrasi. Syaratnya biasa aja. Ijazah, transkrip nilai (IP minimal 3,00 kalau nggak salah), foto close up dan foto seluruh badan, KTP, surat lamaran, contoh tulisan reportase yang pernah dibuat (ini yang nggak semua media mensyaratkan). Untuk latar belakang jurusan, kayaknya sudah banyak yang tahu ya kalau jurusan apa pun bisa diterima jadi wartawan. Nggak harus ilmu komunikasi atau anak sosial. Saya sendiri loncat dari S1 Arsitektur. #ciaaaat #Pede-aja

Pengumuman seleksi administrasi nggak lama. Nggak sampai 2 minggu kalau nggak salah. Lalu, saya ditelepon sekretaris redaksi Jawa Pos Jakarta untuk ikut seleksi wawancara. Di Jakarta. Hanya diberi waktu 2 hari awalnya (saya baca pengumuman di email agak terlambat). Lalu, melobi pihak Jawa Pos untuk minta waktu beberapa hari lagi. Dengan alasan belum pesan tiket. Alhamdulillah dikasih.

Sampai di Jakarta, esoknya saya ikut tes wawancara di kantor Graha Pena. Jl Kebayoran Lama No 12 Jakarta Selatan. Gedungnya lumayan tinggi (11 lantai) dan serba biru. Jaraknya cuma 3 bangunan dari kos saya sekarang. Waktu itu saya sudah tahu, kalau kantor Graha Pena Jakarta hanya kantor cabang. Kantor pusat Jawa Pos ada di Surabaya. Tinggi dan luasnya berkali-kali lipat. Belum bisa perkirakan berapa kali karena belum pernah ke sana.

Tes wawancara berlangsung lancar. Saat itu tiap peserta diwawancara dalam satu ruangan oleh hampir 10 redaktur! Satu lawan (+-)10! Hampir semua redaktur yang memimpin setiap desk turun, termasuk kepala kompartemen Metropolitan (edisi Jawa Pos Jakarta) waktu itu. *salam hormat ke Pak Ibnu*

Yang saya ingat pas wawancara, kami diminta perkenalkan diri dalam bahasa inggris. Saya ditanya buku apa yang pernah dibaca dan paling berkesan. Juga mengapa berkesan. Salah satu redaktur –pak Hoed- waktu itu tanya, ”Udah tahu kan kerja wartawan gimana?”.

Saya jawab, ”(senyum) Ya, hmm… Kerja wartawan katanya 24 jam (maksudnya harus siap kapan aja bisa dipanggil).”

”Oh, nggak… Kerja kita bahkan 25 jam. (terus ngomong alasannya kenapa 25 jam, tapi saya lupa),” balas Pak Hoed lalu ketawa diikutin semua yang ada di ruangan waktu itu.

Dan baru saat itu juga, dari penjelasan Pak Hoed juga, saya tahu kalau hasil rekrutmen angkatan saya ini akan ditempatkan di Jakarta. Untuk melengkapi personil wartawan Metropolitan. Itu sama sekali nggak saya bayangkan sebelumnya. Dari awal niat mendaftar, yang saya bayangin nanti bisa milih mau ditempatkan di bagian lain Pulau Jawa. Atau 1—2 bulan di salah satu provinsi di Jawa, termasuk Jakarta nggak apa-apa, lalu di-rolling ke provinsi lainnya.

Tapi, ternyata… saya salah besar. Agak ragu lagi waktu itu, kerja di Jakarta sama sekali nggak pernah masuk daftar hidup saya.  Bahkan kalau bisa, saya hindari. Dari lahir sampai kuliah, saya hidup di kota kecil dan damai. Hahaha. Tapi karena udah sampai sana (baca: udah jauh-jauh berkorban tiket) akhirnya saya lanjutkan proses seleksi.

Setelah satu-satu peserta selesai wawancara, kami disuruh masuk lagi ke ruangan tadi. Kali ini untuk ikut seleksi tulis. Masing-masing kami diberi sebuah amplop. Isinya kertas berisi 11 soal (kalau nggak salah). Dari 11 soal itu, kami disuruh menjawab 8 soal yang paling kami mengerti jawabannya.

Daaaaan apakah isi soalnya? 11 soal yang semuanya panjang-panjang itu, bikin saya semakin yakin nggak akan diterima. Karena isinya isu terkini seputar DKI Jakarta semua. Semua bidang (lebih lanjut di media disebut desk). Ada isu politik tentang kebijakan Ahok membesarkan gaji lurah, perkotaan tentang apa bedanya KRL/MRT/LRT, olahraga tentang Persija, lifestyle tentang tempat rekreasi di Jakarta dan kuliner khas Jakarta.

Sejujur-jujurnya, cuma 2 soal yang bisa saya jawab dengan yakin waktu itu. Enam sisanya? Mengarang bebas dari sedikit pengetahuan yang pernah nyangkut. Oh meeeeen, saya sama sekali buta Jakarta. Tepatnya juga nggak punya ketertarikan ngikutin isu Jakarta sebelumnya. Tapi, sesuai syarat, 8 soal tetap saya isi. Yang pasti tentang Persija bukan salah satunya.

Selesailah proses seleksi hari itu. Sebelum pulang, kami diberi amplop lagi. Isinya adalah pengumuman yang lolos seleksi ke tahap berikutnya. Di amplop yang saya dapat, isinya bertuliskan Selamat Anda Lolos ke Tahap Berikutnya. Alhamdulillah, harus lanjut lagi ternyata. Dan kami pun masih harus menjalani tes kesehatan dan psikotes di hari yang berbeda. Sampai akhirnya resmi diterima.

 

Masa Training

New Picture (5)
Buku catatan selama training. Di meja rapat kantor yang serba biru.

Dari informasi teman-teman saya yang lulusan komunikasi, ilmu jurnalistik mereka dapatkan di 3 semester kuliah. Rata-rata saat 3 semester akhir. Tapi, di industri media, wartawan –yang notabene lulusan dari beragam jurusan- ini rata-rata hanya mendapat pendalaman materi jurnalistik 5 hari di awal. Sebelum terjun ke lapangan. Setiap media punya treatment berbeda untuk wartawannya. Saat sudah bekerja, training juga sering diselipkan sekitar 1x sebulan.

Masa training 5 hari itu saya jalani dari 16—20 Maret 2015. Semua ilmu paling dasar untuk bekal terjun ke lapangan diberikan. Saya menikmatinya seperti ikut seminar ke seminar media saat kuliah. Tapi yang ini gratis. Hahaha

(bersambung ke Bagian 2)

Jakarta, 15 Mei 2016

 

Advertisements