Aku bukan orang yang bisa cepat berpikir. Dalam apa pun. Dalam menjawab dan membalas pembicaraan. Apalagi itu sebuah pertanyaan. Apalagi yang belum pernah aku dapati sebelumnya. Atau isinya sama, namun penyampaiannya berbeda.

Maka aku hanya bisa menjawabnya dengan senjata terakhir, yaitu diam. Namun diam terkadang bukan jalan terakhir ketidakberdayaanku. Terkadang dia kupilih sebagai yang utama. Lebih jelasnya, akan kulanjutkan kemudian.

Dalam menjawab pembicaraan aku merasa buruk. Sejak pertama kali berlatih debat di sebuah ekskul saat SMP, aku langsung tidak suka dengan ‘adu mulut’ itu. Sampai SMA pun masih ada kegiatan berlatih debat dalam ekskul yang aku ikuti. Tentu aku tidak ikut ekskul debat, tapi karya ilmiah remaja yang ada debatnya. Aku masih belum tertarik. Lebih karena ketidakberdayaan tadi.

Pikiranku bekerja, tapi bicaraku terbata, ketika sampai di lidah. Buyar semua argumentasi, miskin intonasi, apalagi gertakan menekan lawan yang khas dipakai para juru orasi. Tak ada bakat sama sekali. Walau perlahan, kemampuan itu berangsur agak mendingan. Sedikit sekali.

Dalam menulis, aku pun tak jauh beda. Menjawab SMS, menjawab WA, seringkali dilakukan lebih lama ketimbang orang biasa. Banyak yang menjadi pertimbangan. Salah satunya, pentingkah untuk membalas? Tidak semua pertanyaan membutuhkan balasan -selain diam-. Hal itu bisa aku pikirkan 10–100 kali sebelumnya.

Merangkai tulisan apa pun, aku butuh waktu relatif tak sedikit. Meski menjadi penulis adalah profesi yang paling aku kagumi sejak SD. Tidak seperti debat. Karena itu aku sering sanksi ingin menjadi penulis. Benarkah aku bisa? Mungkin butuh latihan seumur hidup untuk akhirnya berhak menyandang status penulis. Atau belum juga..

Diam

Ya, aku ini orang lamban. Dalam berpikir dan membalas. Apa pun. Namun, jika kamu temui aku tidak juga membalas pertanyaan, tidak usah kamu pikir aku masih dalam proses berpikir. Antara diam yang berpikir dan diam sebagai jawaban, masing-masing punya batasnya.

Entah benar atau tidak. Jangan biarkan dirimu terpenjara.

Ketidakpastian,
Jangan gantungkan ia pada manusia mana pun
Hanya kita sendiri yang mampu menghancurkan sebuah ketidakpastian
Dengan secercah keyakinan
Dari Allah yang Memberi kekuatan

Jakarta,
28 April 2016

Advertisements