(Alhamdulillah berkesempatan bertemu dengan beliau yang sangat produktif di usia muda. Seorang guru, mantan TKI, penulis 17 buku, penulis puluhan/ratusan(?) tulisan di media, perempuan inspiratif versi media nasional dan internasional, pengusaha, penggerak kaum marginal. Man jadda wa jada. Semoga kita bisa memetik inspirasi dan lebih semangat!!!)

Heni Sri Sundani Jaladara, Penggagas AgroEdu Jampang Community yang Masuk Daftar 30 Under 30 Forbes Asia

 

Menjadi TKI di Hongkong Sembari Kuliah, Bisa Lulus Cumlaude*

 

Sejak kecil Heni Sri Sundani Jaladara akrab dengan hidup susah. Namun, berbagai perjuangan hidup dia lewati hingga mengantarkan keberhasilan. Dari menjadi TKI di Hongkong sembari kuliah dan berhasil lulus cumlaude. Sepulangnya ke Indonesia, Heni mendirikan AgroEdu Jampang Community bersama suami yang kini telah memiliki 35 kampung binaan.

 

MARUTI ASMAUL HUSNA SUBAGIO

 

Saat sedang melaksanakan umrah pada Februari lalu, berkali-kali telepon genggam Heni berdering. Namun, tak ada satu pun dari panggilan masuk itu yang terjawab. Ternyata, sang penelepon juga mengirimkan pesan singkat. Dia mengaku berasal dari majalah Forbes dan meminta waktu untuk wawancara. Heni menolaknya. Karena memang niatnya sedang fokus melakukan ibadah di tanah suci.

 

Tidak sampai di situ. Pada hari berikutnya, pihak dari majalah Forbes menghubungi lagi. Kali ini dia meminta Heni mengirimkan curriculum vitae (CV) lengkap. Untuk kedua kali Heni meminta maaf. Sebab, tidak bisa memenuhi permintaan majalah tersebut karena dia tidak membawa laptop.

 

Beberapa hari sepulang Heni ke Indonesia, dia mendapati sebuah email. Berisikan ucapan selamat bahwa dia terpilih menjadi 300 Pemuda yang Menjanjikan di Asia. Atau yang dikenal dengan istilah 30 Under 30 Asia versi Majalah Forbes. Perhargaan itu dibagi menjadi 10 kategori yang berarti ada 300 anak muda dalam daftar tersebut. Ke-300 orang itu masuk dari ribuan nominasi dari berbagai negara Asia dan dinilai oleh 30 juri. Beberapa di antaranya, desainer Kenzo Takada, aktris Hollywood Michelle Yeoh, Kaifu Lee, Solina Chau, dan Allan Zeman.

 

Dari 10 kategori itu ada 17 warga negara Indonesia yang masuk dalam daftar. Sebut saja salah satunya musisi muda yang baru mendapat nominasi Grammy Awards Joey Alexander dalam kategori entertainment and sport. Heni Sri Sundani Jaladara terpilih untuk kategori social enterpreneurs.

 

”Di email ada tulisan selamat anda terpilih ke dalam 300 pemuda yang menjanjikan di Asia. Saya pikir itu hoax,” ujar perempuan kelahiran Ciamis, 2 Mei 1987 itu.

 

Prestasi terbaru Heni itu tidak muncul dengan usaha yang singkat. Sederet prestasi gemilang lainnya telah menghiasi perjalanan hidup Heni. Salah satunya Perempuan Inspiratif NOVA 2015. Bahkan, perjuangan keras kehidupan melekat di hidupnya sejak usia dini. ”Saya punya 1000 alasan untuk menyerah. Tapi saya punya satu alasan untuk tidak menyerah. Berasal dari keluarga broken home, sejak kecil saya tidak kenal ayah,” tuturnya.

 

Masih teringat lekat dalam memori Heni, saat dia dinyatakan lulus sarjana pada 2011. Waktu itu, Heni langsung mengabari sang nenek melalui telepon. Mereka sedang terpisah negara. Heni di Hongkong dan neneknya di Indonesia.

 

“Mak, Alhamdulilah neng jadi sarjana. Hari ini neng diwisuda. Terima kasih atas semua doanya,” ucap Heni sumringah melalui telepon waktu itu.

 

Di ujung sana masih saja senyap, tidak ada jawaban. Lalu samar Heni mendengar  suara Emak –panggilan Heni untuk sang nenek- perempuan sederhana penuh kasih yang sudah membesarkan dan merawatnya sejak kecil.

 

“Sarjana itu apa neng?,” jawab emak dalam bahasa Sunda.

 

Mendengar reaksi emak, tak terasa air mata Heni menetes. Lalu, dengan berusaha menjaga suara agar tidak terdengar sedih, Heni menjelaskan kepada emak bahwa sarjana itu seperti insinyur dan guru. Karena hanya kata insinyur dan gurulah yang diketahui emak.

 

Tiba-tiba, ungkap Heni, terdengar isak emak di ujung telepon. Isak yang terputus-putus oleh jaringan sinyal yang selalu buruk. Memang sinyal telepon baru sampai ke kampung Heni di awal 2011. Itu pun setelah harus berlari ke tempat yang lebih tinggi atau ke tengah persawahan. Semasa kecil dia tinggal di sebuah kampung bernama Rancatapen yang termasuk kabupaten Ciamis.

 

Sebelum telepon itu ditutup, emak bertanya di tengah isaknya. ”Neng, kapan pulang? Emak sudah tua, nanti umur emak nggak sampai. Emak ingin melihat kamu menjadi guru di sini. Ajari anak-anak kampung biar pinter dan jadi sarjana seperti neng,” kata emak.

 

Rupanya, ucapan Heni di masa kecil sangat membekas dibenak emak. Heni setiap hari bilang kepada emak bahwa dia ingin menjadi sarjana. Ingin menjadi guru. Guru yang tidak perlu dibayar agar para orang tua tidak perlu bersedih seperti emak. Juga orang tua teman-teman Heni yang bersedih karena harus menjual beras dan hasil kebun mereka untuk membayar sekolah anaknya.

 

Menjadi guru adalah cita-cita Heni sejak kecil. Tepatnya sejak hari pertama menginjakkan kaki di kelas 1 SD. Saat itu, untuk sampai di SD tempat dia bersekolah, Heni harus menempuh perjalanan 1 jam dengan berjalan kaki. Melewati jalanan tanah menyusuri sawah, empang, dan perkebunan karet yang gelap membentang. Dia bersama puluhan anak kampung lainnya biasa berangkat ke sekolah pukul 06.00 pagi.

 

Heni selalu bahagia menyambut pagi karena dia bisa bersekolah. Tidak semua anak di kampungnya bisa bersekolah. Sebagian harus membantu orang tua mereka bekerja. Meski selama SD Heni hanya memiliki satu pasang seragam dan satu pasang sepatu saja.

 

Bukan hanya kesulitan itu yang harus Heni lewati. Saat sampai ke sekolah, seringkali ibu gurunya tidak masuk karena berbagai alasan. Entah itu sakit, ada urusan keluarga, atau pun rapat. ”Jadi semangat kami berjalan kaki ke sekolah selama 1 jam itu menjadi sia-sia,” tutur Heni.

 

Mendapati perlakuan itu, tekad Heni semakin bulat untuk menjadi guru. Selama 6 tahun Heni berhasil melalui semua kesulitan itu dan lulus dengan nilai Ujian Nasional tertinggi di sekolahnya. Selanjutnya, dia memilih melanjutkan sekolah ke SMP. Pilihan itu tidak biasa bagi anak miskin di kampungnya saat itu. Banyak tetangga yang mencibir, mereka mengatakan Heni tak akan bisa menyelesaikan sekolah. Apalagi saat itu ibu Heni tidak lagi bekerja sebagai buruk pabrik di Bekasi karena emak yang sudah mulai sakit-sakitan.

 

Berbekal uang pesangon sang ibu, Heni mendaftar ke SMP yang berada di kecamatan. Sekolah itu jaraknya 2 kali lipat lebih jauh dibandingkan SD yang ada di desa. Akan tetapi, tekad Heni sudah bulat. Dia harus sekolah meskipun perjuangan jelas sangat berat dan melelahkan. Dua jam berjalan kaki saat berangkat sekolah dan dua jam saat pulang.

 

Perjuangan Heni tidak sia-sia. Dia berhasil membuat emak dan ibu bangga dengan menjadi juara kelas. Yang membuat lebih bahagia, Heni mendapatkan beasiswa. Setidaknya, dia tidak akan terlalu menyusahkan emak dan ibu lagi.

 

Tiga tahun berlalu. Selama 3 tahun berturut-turut Heni berhasil menjadi juara kelas. Sejak bisa membaca, memang Heni selalu ingin membaca. Bahkan, saat duduk di SD dia sering menghabiskan waktu istirahat di gudang tua yang di dalamnya terdapat banyak buku. Gudang tua itu menjadi tempat Heni berkeliling Indonesia dan dunia. Tentunya lewat buku-buku yang dia baca. ”Dari buku NH Dini saya tahu bahwa di luar kampungku ada satu negara indah yang bernama Paris. Dari buku NH Dini pula saya bercita-cita naik pesawat,” tukasnya.

 

Selepas SMP, Heni memaksakan diri melanjutkan pendidikan ke SMK yang berada di kota. Kata Heni, emak dan ibunya sampai menangis mendengar cita-citanya saat itu. Sekolah yang tak mungkin bisa dia tempuh dengan berjalan kaki tentunya. Tapi tekadnya menjadi guru membimbing keyakinan Heni bahwa sekolah adalah keharusan.

 

Selama duduk di bangku SMK, Heni terus memutar otak bagaimana caranya agar bisa terus sekolah. Dia menjalaninya sambil berjualan dan membuka jasa pengetikan. Keterampilan Heni menggunakan komputer banyak dia dapatkan saat menjadi pengurus organisasi siswa intra sekolah (OSIS).

 

Tiga tahun di SMK mengantarkan Heni menjadi lulusan akuntansi dengan skill yang cukup mumpuni. Sampai di sana, Heni sempat benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Dia tahu bahwa biaya kuliah tidak sedikit, namun dia sangat ingin kuliah.

 

Inspirasi pun datang tidak terduga. Suatu hari Heni teringat guru bahasa mandarin di sekolahnya. Guru itu pernah menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Korea selama 2 tahun. Lalu kembali ke Indonesia untuk kuliah dan sekarang menjadi guru. Heni pun bertanya sana-sini bagaimana caranya menjadi TKI.

 

Setelah melalui proses yang sangat panjang, dari mulai merayu emak dan ibunya hingga proses belajar di Balai Latihan Kerja selama hampir 4 bulan, akhirnya Heni terbang ke Hong Kong.

 

Satu tahun pertama di sana sangat berat bagi Heni. Dia belajar memahami bahasa, budaya, dan juga ritme kerja di Hong Kong. Meski tenggelam oleh kesibukan pekerjaan, dia tetap mengingat mimpinya, yaitu kuliah dan menjadi guru.

 

Gayung pun bersambut. Suatu hari Heni mendapat informasi bahwa ada satu kampus yang menawarkan kuliah IT dengan metode belajar jarak jauh. Heni tidak membuang kesempatan ini. ”Lega sekali rasanya setelah setahun berjibaku dengan pekerjaan rumah yang tak pernah selesai itu akhirnya saya bisa kuliah. Meski dengan risiko harus bekerja lebih keras,” tandasnya.

 

Sembari bekerja dan kuliah, perlahan-lahan Heni sering mengirimkan tulisan ke koran, majalah, dan tabloid berbahasa Indonesia di Hong Kong. Sehingga, bukan hanya kemampuan menulisnya saja yang terasah, akan tetapi dia tidak lagi kesulitan membayar uang kuliah.

 

Dia juga aktif berorganisasi. Baik itu organisasi kepenulisan maupun advokasi. Dari situlah Heni mengerti bahwa selama 2 tahun itu majikannya membohonginya. Dia tidak dibayar seperti yang seharusnya, sebagaimana yang tertera di kontrak kerja. Pengalaman itu mendorongnya mengedukasi teman-teman TKI lain agar tidak mengalami hal yang serupa.

 

Setiap bulan Heni selalu mengalokasikan gaji untuk membeli buku. Bahkan, selama 6 tahun di Hong Kong, dia memiliki lebih dari 3000 buku. Dari pengalaman semasa di Hongkong, Heni sempat membuat satu cerpen berjudul Surat Berdarah untuk Presiden. Cerpen itu menceritakan kisah sahabat TKI Heni yang meninggal digigit anjing. Sepulangnya ke Indonesia kelak, cerpen itu pun mengantarkan Heni mengikuti festival sastra internasional di Ubud, Bali. Ubud Writers and Readers Festival.

 

Setelah kontrak kerja 2 tahun habis dengan majikan pertama, Heni beralih mencari majikan baru. Beruntung, dia mendapatkan majikan yang sangat baik. ”Mereka juga berasal dari keluarga miskin dengan 10 bersaudara. Tapi majikan saya mendapatkan beasiswa untuk bersekolah ke Amerika dan berhasil meraih posisi tinggi di perusahaan. Kata mereka, untuk menjadi seperti mereka, saya harus sekolah,” ujar Heni.

 

Dengan majikan yang baru, waktu bekerja Heni lebih fleksibel. Dia lebih mudah menyelesaikan tugas-tugas kuliah bahkan untuk menulis lebih produktif lagi. Bahkan, 6 tahun di Hong Kong Heni sudah menulis lebih dari 17 buku dan puluhan tulisan yang dipublikasi di berbagai media. Baik media di Hong Kong maupun Indonesia.

 

Pada perkuliahan yang kedua, Heni mendaftar di kampus Saint Mary’s University. Jika sebelumnya dia mengambil kuliah Diploma-3 IT, kali ini dia memutuskan untuk kuliah di jurusan Manajemen Wirausaha. Selain linier dengan ilmu semasa SMK, Heni melihat bahwa tren wirausaha sangat menjanjikan. Dia bersyukur dengan kemudahan yang Tuhan berikan karena kemudahan sangat jarang dia alami selama hidup. Heni bisa menyelesaikan kuliah lebih cepat dengan hasil cumlaude.

 

Setelah cita-cita menjadi sarjana tercapai, tibalah saatnya Heni pulang ke Indonesia pada 2011. Setibanya di kampung, Heni menangis sedih. Sebab, tak ada yang berubah dengan kampung halamannya. Jalanan tanah gundul yang dia lewati sejak SD masih sama. Teman-teman bermainnya telah menua dengan kehidupan yang tidak lebih baik dari orang tuanya.

 

Lalu, berbekal buku-buku yang dia bawa dari Hongkong, Heni segera mendirikan perpustakaan di rumah orang tuanya. Perpustakaan pertama di kampung itu. Sama seperti dirinya, anak buruh tani miskin yang menjadi sarjana pertama di sana.

 

Waktu terus berjalan dan semakin banyak anak-anak kampung yang lalu-lalang ke kediaman orang tuanya.             Pada Maret 2012 Heni merasa sangat beruntung. Sebab, dirinya resmi menikah dengan seorang pemuda yang dikenal dari sebuah acara NGO. Diboyong Aditia Ginantaka, sang suami, Heni pun berpindah ke Bogor.

 

Di sana, perlahan Heni dan suami membangun keluarga kecil mereka. Dari seorang bibi yang bekerja di rumah mereka, Heni dan suami menyadari bahwa banyak sekali warga kampung sekitar perumahan yang hidup tidak layak. Mereka sebagian besar bekerja sebagai pembantu rumah tangga, sementara para suaminya bekerja sebagai buruh tani, tukang ojek, atau buruh kasar. Mereka tinggal di rumah-rumah reot yang dihuni oleh 2 hingga 3 keluarga. Padahal, satu keluarga paling sedikit memiliki 3 anak. Bahkan lebih banyak yang memiliki 5—11 anak.

 

Anak-anak kampung bermain, berlarian bertelanjang kaki. Parahnya bukan hanya bermain air, tapi sebagian besar warga kampung memang memanfaatkan selokan sebagai tempat untuk aktivitas mandi cuci kakus (MCK). Bersama dengan kerbau dan bebek. ”Banyak anak kampung yang mengalami penyakit kulit kronis sampai bernanah dan radang,” ungkap Heni.

 

Melihat kondisi ini, Heni berdiskusi dengan suami. Mereka sampai pada satu kesimpulan untuk membantu mereka. Lalu, digagaslah sebuah langkah untuk mendidik dan memberikan pendampingan belajar kepada anak-anak petani miskin. Yang kemudian mereka beri nama Gerakan Anak Petani Cerdas.

 

”Awalnya gerakan ini diselenggarakan di 1 kampung saja, yakni kampung Sasak dengan jumlah siswa 15 orang. Kemudian saya bersama suami menyelenggarakan kegiatan serupa di kampung Jampang dengan memanfaatkan saung milik petani,” jelas Heni.

 

Ada 3 pelajaran penting yang diberikan kepada anak-anak. Pertama, kemampuan linguistik, yakni berbahasa asing. Kedua, kemampuan literasi, yakni baca, tulis, dan diskusi. Serta yang ketiga adalah kemampuan mengasah logika seperti pelajaran matematika dan bisnis. Selain itu, Anak Petani Cerdas juga dibekali dengan kemampuan komputer, pertanian, peternakan, perkebunan dan bahasa daerahnya.

 

”Saya selalu menanamkan kepada mereka bahwa pendidikan itu adalah senjata paling ampuh untuk memutus mata rantai kemiskinan,” tutur Heni.

 

Seiring berjalannya waktu, Heni melihat banyak sekali anak yang menderita gizi buruk dan kekurangan gizi. Karena alasan itulah dia akhirnya membuat wadah komunitas yang dinamai Agroedu Jampang Community. Komunitas ini diharapkan menjadi wadah bagi para petani dan keluarganya untuk sama-sama mendapatkan edukasi, pelatihan kemandirian, akses kepada layanan kesehatan dan sosial agar mereka  hidup lebih baik.

 

Kini komunitas itu memiliki 4 program, yakni pemberdayaan ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan sosial. Program komunitas yang awalnya hanya berada di kabupaten Bogor, kini penyebaran penerima manfaatnya sudah sampai ke 30 kabupaten. Yakni, di Pulau Jawa bagian Barat, Tengah, dan Timur. Seperti, Kabupaten Bogor, Ciamis, Bandung, Banjar, Tasikmalaya, Majenang, Indramayu, Cirebon, Bekasi, dan Pekalongan.

 

*Diterbitkan dalam harian Jawa Pos-Metropolitan Edisi 24 dan 25 Maret 2016 dengan beberapa perubahan oleh redaktur ^^v

 

Advertisements