Kubiarkan hujan mengawal rinduku
Padamu yang indah di sana
Kuhanyutkan hati menebus cintamu
Dan aku pun merasa bahagia
Malam ini tidak hujan. Rasanya beban di langit Jakarta sudah cukup ditumpahkan ke bumi seharian tadi. Hanya dalam beberapa hari ke depan, kota ini akan berstatus siaga banjir. Begitu kabar yang aku dengar dari teman wartawan di wilayah. Di sini, hujan tidak pernah absen setiap hari.

Tapi malam ini aku sedang mendengarkan Hujan. Yang sudah berbentuk MP3. Itu judul lagu yang dinyanyikan Ali Sastra sebagai salah satu OST film Tausiyah Cinta. Sepenggal puisi di atas itu lirik untuk bagian reffnya, yang kutulis dengan sebagian perubahan.

Bisa dibilang aku jatuh cinta pada pendengaran pertama dengan lagu ini. Saat itu di bioskop. Tapi aku juga cepat bosan, entah berapa lama aku bisa tidak suka lagi. Tapi sekarang belum.

Mungkin karena lagu ini cocok untuk orang yang sedang hidup sendiri (baca: anak kosan) *tunjuk hidung sendiri* Terutama saat memikirkan orang-orang yang dirindui. Yang nun jauh terpisah jarak juga jumpa.

#maaf, ini prolog yang terlalu panjang sebenarnya. Hehehe…

Seperti dalam lirik hujan, aku akan menebus sebuah tanda cinta. Lewat tulisan ini. Untuk kamu. Ya, kamu. Karena kamu yang lebih dahulu punya ide brilian. Membuat tanda cinta dalam sebuah tulisan. Narasi sejarah kita sejak pertemuan pertama! Kamu tahu itu sangat indah dan menjadi salah satu hadiah ulang tahun terindah selama 20-an tahun hidupku.

Ya, kamu bilang itu hadiah ulang tahun. Meski diberikan pada awal Februari (tepatnya 2015, jadi aku baru membalas setahun kemudian! Uhh, maaf kalau kamu terlalu lama menunggu). Sedangkan aku dilahirkan pada Juni. Sulit juga mengategorikan itu hadiah ulang tahun yang terlambat beberapa bulan, atau terlalu cepat. Hehehe.

Tapi perbedaan waktu itu sama sekali bukan masalah! Aku tahu kamu mungkin tidak tenang jika tidak segera menuangkan pikiran di kepala itu. Di situlah aku merasakan ada ketulusan yang dahsyat kamu tunjukkan dalam persahabatan kita. Aku mencintaimu juga. Lillah :*

Oke, tentang jabat tangan dan perkenalan pertama kita aku kira lewatkan saja. Aku pun sama denganmu, lupa persisnya peristiwa itu. Mungkin ini kesamaan pertama kita, sering melupakan hal-hal detil. Yang jelas kau benar, lokasinya di Parangtritis. Saat pelatihan menulis kita di komunitas Rumah Cahaya pertama kali digelar. Hmm.. ya.. kurasa di situ kita mulai bertukar nama. *masih berpikir keras*

Aku kurang tahu apa kamu mengingat yang sama. Kita dipersatukan dalam sebuah komunitas menulis. Waktu itu akhir 2009. Namun, satu-dua tahun pertama kita tak sedekat tahun-tahun berikutnya. Ya, sebagai anggota mula kita masing-masing masih suka bolos forum. *oops* Baru bertemu mungkin tidak sampai 1 kali setiap bulan.

Tapi sejak datang 2011 semua berubah. Aku ingat saat itu sedang di mushola fakultas, ketua organisasi kita meneleponku. Menawarkan menjadi sekretarisnya. Singkat cerita, aku akhirnya menerima. Meski sempat menolak. Kita pun dipertemukan dalam sebuah amanah yang tidak main-main. Menjadi dua pengurus harian paling muda. Dari 5 pengurus harian lainnya yang semua 2 tahun di atas angkatan kita.

Mulailah saat itu kita sering dijuluki saudara kembar. Atau tepatnya, juga sering menjuluki diri kita sendiri saudara kembar. Nama depanmu yang terlahir mirip dengan penulis besar itu -tanpa disengaja pastinya- sering kita ubah jadi Henny Tiana Rosa, saat muncul mood bercanda. Sementara aku yang jadi Maruti Asma Nadia *hahaha* Orang lain menganggapnya mungkin tidak lucu, terlalu mekso. Tapi kita tidak peduli dan kembali tertawa. *hahaha*

Kamu yang sejak awal menunjukkan bakat memesona pada tulisan fiksi *jujur 100 persen!* Sementara aku yang sejujurnya dari awal ingin mendalami fiksi, namun terpaksa lebih banyak menulis non fiksi karena tuntutan profesi (baca: sebagai bagian lembaga media kampus).

Amanah itu pun menyadarkan. Bahwa kita terikat bukan karena tuntutan kedekatan, mengurus kepanitiaan bersama, mengatur strategi dari rapat ke rapat berikutnya. Lebih dari itu, aku mengatakan, kita semakin terikat karena kecocokan jiwa. Kamu yang selalu memesona menulis cerita, memilih diksi, mengembangkan imajinasi. Diam-diam aku mencermati dan ingin sekali bisa sehebat itu. Juara 1 dalam lomba novel yang diadakan Indiva bagimu adalah takdir yang tepat. Dengan begitu, kamu banyak diundang ke berbagai acara dan bedah buku. Sungguh pembelajaran dari Allah yang amat berharga. Menularkan kepada orang-orang lainnya tentang ilmu seorang Henny. Yang diam-diam aku kagumi.

Meski dibanding aku mungkin kamu lebih pendiam. Aku yang lebih meledak-ledak. Entah itu dalam obrolan keseharian kita atau dalam rapat. Efeknya aku pun terkadang sulit menulis fiksi. Semacam sulit menulis dengan bahasa yang halus, mendayu, berderap. Lebih terbiasa to the point.

Aku ingat betul sore hari di taman perpustakaan waktu itu. Aku datang ke klub rabu kita membawa karya fiksi. Dua dari empat anggota yang datang selain kita mengkritikku pedas. Kata mereka terlalu menggurui, satu lagi berkata terlalu teknis. Ahh, itu kenangan pahit yang selalu membuat ingin menangis tapi juga tertawa geli.

Sementara setiap yang membaca karya fiksimu, seakan tersihir dengan kata ‘ya!’, ‘wah.. Apa kelanjutan kisahnya?’, ‘hmm.. cerita ini unpredictable’. Entah berapa karya cerpenmu? Mungkin puluhan. Dan satu novel utuh, serta novel-novel lain yang masih dalam pengerjaan? Tapi aku yakin, sebagian besar dari itu berhasil memberi inspirasi kepada banyak orang. Kepada sesama rekan kita, kepada orang-orang lain yang kita tidak kenal. Beberapa di antaranya mungkin peserta yang mendengarkan kamu bicara di atas panggung.

Beruntunglah kita yang masih berada dalam komunitas ini. Bertemu dengan orang-orang yang tak pernah jemu memberi kripik pedas. Seperti hiasan porselen yang mengilap, kilaunya hilang jika tertutup debu. Mereka ada, tidak mudah terlena pada kilau porselen, tapi selalu menjaga untuk menyingkirkan debu yang datang berulang. Menit demi menit, hari demi hari…. Di setiap senja yang dinanti.

Kini, rindu kita mungkin sama membuncahnya ingin kembali ke sana. Namun, kita tetap menjaga cinta dalam kesederhanaan yang kita mampu. Dengan daya yang kita bisa. Kamu di sana dengan segudang kesibukan itu, tanpa meninggalkan menulis. Dan aku di sini dengan pekerjaan yang tidak sebanyak tanggung jawab kita dulu sebenarnya, namun sangat menuntut totalitas dan profesionalitas.

Dan ingatkah kamu obrolan kita di atas motor siang itu? Rencana melanjutkan studi bersama. Di bidang masing-masing yang kita pilih dengan pikiran jernih, setelah mendengarkan nurani sendiri. Tanpa paksaan dari siapa pun dan pihak mana pun. Kita pun merancang sebuah mimpi besar. Harapan-harapan yang kadang membuat dada sesak dan air mata yang tak mampu dibendung lagi. Semoga AlLah kuatkan kita meniti jalan itu. Keberkahan pun turun menyertai setiap langkah kita. Aamiin…

Dan Dia Mahatahu
Bahwa hatiku mencintaimu

Jakarta, 11 Februari 2016
Ditulis 00.40-02.15 setelah pulang rapat kantor

 

Tulisan Henny sebelumnya untukku ada di siniiiiii
Advertisements