Di Grup Whatsapp kantorku, kemarin seorang atasan mengirimkan meme yang bertuliskan, “Please, don’t tell me it Monday tomorrow.” Bagi sebagian –atau mungkin kebanyakan- orang hari Senin adalah suatu momok. Aku pun terkadang merasakan sama. Namun, hari Senin 23 Maret kali ini berbeda. Aku belajar sebuah makna baru.

Hari ini adalah hari yang teramat bersejarah dalam hidupku. (Serius, akan kucatat dan setidaknya aku sendiri yang akan selalu mengingatnya, insyaaAllah. Buktinya pagi ini aku langsung menulis). Aku memulai hari pertama karir sebagai calon wartawan di hari ini. Setelah sebelumnya mengikuti training selama sepekan lalu (tepatnya lima hari training), hari ini pertama kalinya aku dan teman seangkatan calon wartawan terjun ke lapangan untuk melakukan liputan.

Di perusahaan tempatku bekerja, Jawa Pos, otomatis gaji diberikan kepadaku dan teman-teman seangkatan setiap tanggal 23 pula. Hehehe. 23 adalah angka yang sangat lovely bagiku, karena di tanggal itu aku dilahirkan ke dunia. Pun ketika studio Tugas Akhir S-1 Arsitektur dulu aku mendapatkan no absen 23. Hemm.. apa lagi ya, rasanya masih banyak takdir lainnya antara aku dan bilangan 23.

Tentunya sebagai calon wartawan yang baru bekerja di hari pertama, aku tidak dilepas sendirian mencari berita. Sistemnya setiap calon wartawan –termasuk aku- ditandem (dipasangkan dua-dua) bersama wartawan yang lebih senior. Ada sebuah perjuangan kecil yang aku lakukan sebelum mendapat tandemku saat ini. Seorang tandem perempuan yang baik hati. Tetapi nanti saja lah, terlalu panjang jika aku selipkan kisahnya di tulisan ini. Bersama Mbak Puji, tandemku, hari ini kami akan memburu berita di Dinas Pendidikan DKI. Nikmat Allah mana lagi yang bisa aku dustakan? Ia Menunjukkan begitu banyak jalan dan kemudahan dalam seminggu perjalanan menjadi calon wartawan ini.

Wow! Aku mampu bertahan seminggu menjadi calon wartawan resmi! Dan di Jakarta! Begitu banyak shocking things yang aku dapatkan selama seminggu di ibukota. Kata orang, ibukota lebih kejam dari ibu tiri. Ini adalah prestasi gemilang! (bagiku sendiri. Kamu tidak setuju? Gak apa-apa)

Di awal, saat ditanya “ingin masuk desk apa?” Aku menjawab dengan yakin, “pendidikan dan budaya.” Yah bagiku kedua desk itu adalah yang paling menarik dan paling aman, setidaknya untuk awal karirku yang masih sangat butuh banyak belajar. Alhamdulillah, Allah Kasih masuk desk pendidikan di kesempatan pertama. Dengan jujur, aku juga ingin mencoba desk lain di kesempatan berikutnya. Politik pemerintahan, lifestyle, kasustika, hiburan, anak muda, kuliner, dan ehmmm…. ekonomi dan olahraga, bisa tidak ya aku tidak usah mencoba dua desk ini? Asli rasanya aku gak ngerti apa-apa tentang dua desk terakhir.

Menjadi wartawan, adalah salah satu deretan mimpi dalam daftar hidupku. Daftar mimpi pribadi milik Maruti Ahs. Mimpi ini bukanlah akhir segala-galanya. Ia bagaikan sebuah pijakan anak tangga. Hari ini, hari pertama sebagai calon wartawan beneran (karena sudah akan mulai liputan) adalah sebuah Dream Comes True. Artinya ia adalah anugerah dari Allah. Aamiin.. aamiin.. ya Allah. Berdoa agar setiap lisan dan langkah hari ini berkah. Ikut doain aku yuk?! Semoga yang mendoakan akan dapat berkah yang sama pula.

Baiklah, aku harus bersiap-siap. Menyambut hari Senin yang luar biasa dengan perbuatan terbaik. Pekerjaan apa pun yang kamu lakukan aku yakin luar biasa. Bagaimana tidak luar biasa? Jika pekerjaan itu berisi kebaikan dan kemanfaatan saja. Berbangga dan bahagialah, jika pekerjaanmu tidak pernah jauh dari kebaikan, kata seorang teman. Ditambah dengan refresh obsesi di awal dengan pekerjaan itu (terutama yang mulai bosan), mungkin bisa menjadi sedikit bumbu. Semoga hari Senin ini super menyenangkan. (ahs)

Gambar: google

Advertisements