Jumat pagi itu menjadi hari yang cukup istimewa bagi saya. Saat itu pertengahan bulan Juni, saya dan beberapa teman dari FLP Wilayah Yogyakarta berkesempatan melakukan silaturahim kepada Teh Imun. Nama lengkap beliau Maimon Herawati. Seorang jurnalis, penulis novel, dosen jurnalistik, ibu dari empat anak, sekaligus mahasiswa doktoral yang sedang mengambil kuliah Media Studies di Newcastle University. Beliau juga salah satu penggagas berdirinya Forum Lingkar Pena.

Bagi saya beliau adalah “rockstar”. Sosok muslimah yang cerdas dan mengagumkan melihat kiprahnya di bidang media. Bertemu sang “rockstar” adalah hal yang perlu saya perjuangkan untuk menyerap ilmu darinya. Maka di sini saya akan berbagi dari apa yang telah beliau berikan.

Kami janjian di Hotel Grand Quality. Tidak susah mencari hotel bintang lima yang terletak di Jalan Solo itu. Kami menemui sang “rockstar” di lobi hotel. Membentuk lingkaran dari beberapa kursi di lobi yang kami temukan seadanya. Pas dengan jumlah orang yang hadir siang itu. Tujuh orang.

Teh Imun berpenampilan seperti biasanya. Jilbab lebar dan rok agaknya menjadi pakaian wajib beliau di mana pun berada. Sekali pun di negeri orang. Persis biasanya. Yang mengejutkan adalah meski di hotel ternama, ia tidak segan mengenakan sandal gunung dan tas punggung kecil yang nampaknya telah dimiliki bertahun-tahun. Seperti sudah sering beliau kenakan sejak masih kuliah S1. Entahlah, hanya tebakan.

Lepas dari segala detil sosok beliau yang saya kagumi diam-diam, kami sudah masuk kepada inti pembahasan. Saat itu sebagian besar perbincangan masuk kepada ranah media. Tema yang sudah cukup kenyang saya dapatkan selama hidup di kampus. Maklum, lima tahun di kampus saya tidak pernah lepas dari organisasi kemediaan. Tetapi Teh Imun selalu punya cerita baru. Pengalaman yang beliau dapatkan dari menjadi praktisi dunia jurnalistik dan kuliah di Inggris. Salah satunya yang paling membuat penasaran adalah Open Journalism.

Selama menimba pengalaman di beberapa organisasi kemediaan, barulah siang itu saya mendengar istilah Open Journalism untuk pertama kalinya. Apakah ia seperti citizen journalism? Yang beberapa tahun belakangan semakin marak di antara para netizen Indonesia. Sepertinya tidak.

Dalam tulisan ini saya akan berbagi sedikit pemahaman yang saya dapatkan tentang tema baru di dunia media ini. Tidak hanya itu, Open Journalism juga nampaknya membawa angin segar untuk perbaikan media di Indonesia. Di mana saat ini semakin banyak kita temukan, kemerosotan kepercayaan masyarakat terhadap kredibilitas media tanah air. Tentang hubungannya dengan media di Indonesia, akan saya bahas di akhir tulisan ini.

Open journalism merupakan sebuah istilah yang masih asing di kalangan masyarakat Indonesia. Memang pada kenyataannya belum ada satu pun media massa tanah air yang menerapkan metode ini. Seperti arti katanya, “jurnalisme terbuka”, apakah metode ini menganggap sistem jurnalisme lainnya tertutup? Apa perbedaan sistem ini dengan “jurnalisme tertutup”?

Teh Imun memberi penjelasan dengan ciri khasnya berbicara, mata berbinar, tangan yang ikut bergerak, dan kalimat penuh semangat. Beliau mengasosiasikan Open Journalism sebagai sebuah sistem yang membuka ruang redaksi sejernih aquarium. Seolah setiap mata mampu melihat dan mengawasi setiap proses penurunan berita yang terjadi di dalamnya. Berbeda dengan sistem yang diterapkan kantor berita konvensional, proses diangkatnya sebuah berita terjadi tanpa sepengetahuan pembaca. Bahkan tidak semua elemen di dalam keredaksian berhak tahu.

Sistem Open Journalism diterapkan oleh sebuah media internasional yang berpusat di Britania, The Guardian, sejak tahun 2010. Alan Rusbridger, yang menjabat sebagai kepala editor The Guardian menjelaskan bahwa Open Journalism adalah sebuah sistem jurnalisme yang terjalin dengan informasi-informasi di seluruh dunia dalam situs web. Sistem ini menghubungkan dengan berbagai sumber tersebut, menyaringnya, dan mengolaborasikan materi berita untuk menyajikan informasi tepercaya yang dapat dinikmati dunia.

Dalam masa awal percobaan Open Journalism ini, sekitar tahun 2010, The Guardian telah mencatat setidaknya ada sepuluh prinsip dasar dari sistem ini, di antaranya :

  • Mengundang partisipasi dan mempersilakan datangnya respon pembaca.
  • Dinamis, tidak lembam.
  • Membuat pembaca menginisiasi debat, mempublikasi materi, atau memberi saran. Seseorang dapat terlibat di dalamnya sebagaimana ia dapat menjadi pemimpinnya. Seseorang pun dapat terlibat pada proses pra-publikasi.
  • Membantu terbentuknya komunitas yang terikat dalam kesamaan ketertarikan, isu, dan individu tertentu.
  • Terbuka pada jejaring web dan merupakan bagian darinya.
  • Mengumpulkan dan/atau mengakurasi informasi lain.
  • Menyadari bahwa jurnalis bukan suatu pihak yang memiliki suara otoritas dan paling ahli.
  • Mengilhami keterjangkauan, refleksi, dan perbedaan sebagaimana mempromosikan nilai-nilai.
  • Mengenalkan bahwa publikasi dapat terjadi sejak awal proses jurnalistik tidak hanya akhirnya
  • Transparan dan terbuka pada tantangan, termasuk koreksi, klarifikasi, dan penambahan.

Sepuluh prinsip tersebut tidak dapat kita temukan di media konvensional. Di mana interaksi yang terjadi hanya satu arah antara media dan pembaca. Pembaca tidak memiliki sarana untuk memberi respon balik. Sedangkan saat ini kita telah banyak meninggalkan zaman itu. Merebaknya tren media sosial membuat masyarakat semakin mudah terkoneksi selama 24 jam dari seluruh belahan dunia. Saat ini kita telah masuk pada generasi well-connected. Lambat laun media konvensional pun sering ditinggalkan karena tak mampu menandingi kecepatan informasi media sosial.

Dalam sebuah artikel, Rusbridger mengeluarkan pernyataan, “Pengaruh sebuah media jurnalisme di masa depan dapat diukur dari seberapa terbuka dan transparannya proses jurnalistik tersebut.” Inilah agaknya kenyataan yang mesti kita terima di era digital saat ini. Menurutnya, Open Journalism adalah metode sesungguhnya yang dibutuhkan dalam era digital.

Open journalism merupakan metode yang mengandung lima sifat, yakni tranparansi, responsivitas, partisipasi, kolaborasi, dan jaringan koneksi. (Sill, 2012)1 Masyarakat berperan aktif dalam proses pengangkatan sebuah berita untuk dibagikan ke seluruh dunia. Masyarakat berperan sebagai jurnalis terhadap peristiwa di sekitar mereka yang jauh lebih mereka pahami daripada seorang jurnalis asing yang datang ke suatu tempat baru. Sementara pemilik media menyaring beragam informasi yang masuk untuk siap dipublikasikan kepada khalayak. Pergerakannya sangat dinamis dan menuai berbagai respon. Sistem ini seakan menempatkan meja redaksi di layar komputer para pembaca.

Dalam sebuah pertemuan dengan seluruh elemen Guardian, Rusbridger memaparkan contoh perbedaan antara open journalism yang diterapkan Guardian dengan jurnalisme konvensional yang diterapkan Times dalam menyajikan reportase revolusi Mesir. Dalam peristiwa tersebut Guardian memiliki penulis berkebangsaan Afrika dalam jumlah yang sangat banyak. Di sisi lain sangat sulit mencari pluralitas tersebut dari suara Times. Mereka berfokus pada para kolomnis yang notabene merupakan orang kulit putih. Guardian juga menerjemahkan berita ke dalam bahasa Arab agar dapat dibaca di Kairo, sebagaimana dapat dibaca di London dan Washington.

Melihat kondisi Indonesia saat ini, ada beberapa kecocokan dengan open Journalism sebagai metode baru jurnalisme. Didorong pula oleh semakin besarnya keresahan masyarakat terhadap media di tanah air yang semakin tidak sehat. Momen Pemilu pada April dan Juli 2014 lalu semakin menampakkan bahwa objektivitas media adalah mitos. Bahkan banyak media nasional yang semakin vulgar menampakkan keberpihakannya pada sang pemilik modal. Berita yang disajikan tak jarang hanyalah pesanan dari siapa yang berani membayar besar. Agenda setting yang diterapkan membentuk opini untuk memenangkan kepentingan politik tertentu. Akhirnya, media hanya menjadi pelayan bagi tuannya. Masyarakat semakin tak berminat melihat tayangan yang disajikan dengan kepalsuan.

Melalui Open Journalism agaknya mampu menghidupkan masa depan media Indonesia yang lebih baik. Dengan adanya transparansi alur media, masyarakat akan semakin percaya memilih media yang patut dijadikan acuan. Sebuah headline berita tidak muncul karena pesanan pemilik modal, namun pesanan dari suara terbanyak masyarakat Indonesia. Masyarakat berhak memberi ide berita dan mengangkat isu tertentu.

Terlebih dengan kondisi geografis Indonesia yang luas, sistem ini memungkinkan konten media semakin kaya dengan partisipasi masyarakat. Informasi tidak didominasi dengan kabar ibukota. Hal ini akan semakin baik pula untuk pendidikan generasi bangsa tentang kearifan daerah. Seorang remaja di ujung Sumatera tidak perlu meniru gaya hidup remaja ibukota.

Potensi lainnya kita memiliki modal masyarakat yang besar sebagai pengguna media sosial. Hal ini menjadi pintu yang terbuka lebar bagi jalannya Open Journalism yang berbasis web. Seorang aktivis media sosial, Hafidz Ary, mengatakan bahwa pengguna internet terbesar di dunia adalah Asia dan Indonesia termasuk dalam peringkat empat besar pengguna internet di Asia. Sumber lain mengatakan bahwa Indonesia merupakan pengguna facebook terbesar nomor dua sedunia.

Namun, sebagai sebuah sistem berbasis web yang terbuka terhadap semua respon masyarakat, belum dapat dibayangkan tentang kericuhan yang mungkin terjadi di dalam Open Journalism. Pemilik media akan ditantang bekerja keras mengakomodir kepadatan komentar dan ide yang berlalu lalang.

***

            Hari beranjak semakin siang, kami hampir tiba pada penghujung percakapan dengan Teh Imun. Menatap masa depan media Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari kontribusi yang bisa diberikan FLP. Jurnalisme merupakan cabang dari karya tulis non fiksi. Maka, jurnalisme sepatutnya juga merupakan wilayah garapan FLP. Dengan kekayaan anggota FLP yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia, menjadi mungkin untuk membuat sebuah laboratorium Open Journalism sendiri. Sarananya cukup dengan sebuah media online yang mewadahi.

Jika FLP sempat dianggap sukses mewarnai sastra mainstream di Indonesia, selanjutnya FLP pun rasanya dapat berdaya untuk mewarnai media mainstream di tanah air. Memberi angin segar pada masa depan media Indonesia. Seperti yang pernah dilontarkan Taufik Ismail, “FLP adalah hadiah Tuhan untuk Indonesia.” Selamanya FLP dapat menjadi hadiah itu.

1Mellani Sill. 9 Januari 2012. Dalam artikel berjudul “How to Begin Practicing Open Journalism”. http://www.poynter.org/how-tos/newsgathering-storytelling/158440/how-to-begin-practicing-open-journalism/

Referensi :

  1. http://www.theguardian.com/sustainability/sustainability-report-editorial-rusbridger. 7 September 2014.
  2. http://www.theguardian.com/commentisfree/2012/mar/25/alan-rusbridger-open-journalism. 7 September 2014.
  3. http://www.poynter.org/how-tos/newsgathering-storytelling/158440/how-to-begin-practicing-open-journalism/. 7 September 2014.

 Tulisan ini mendapat penghargaan kategori Essay Terpuji dalam FLP Yogyakarta Award (FOYARD) 2014 Nb. Sepertinya karena sedikit yang ngirim atau hanya saya sendiri X’D (entahlah)

Gambar : http://piazzadigitale.corriere.it/2013/03/07/open-journalism-tante-ricette-per-un-obiettivo-coinvolgere-il-lettore/

Advertisements