Subhanallah…. Cepat sekali Allah membolak-balik hati seorang hamba-Nya. Yang semula tak yakin menjadi yakin, yang semula yakin menjadi tak yakin, ada pula yang semula yakin menjadi semakin yakin. Beruntunglah mereka yang keakhirannya ditetapkan pada keputusan berlandas bashirah, mata nurani di bawah petunjuk Allah. Termasuk nikmat ber-Islam dan beriman hingga akhir yang husnul khatimah.

Cepat pula bagi-Nya untuk menyelipkan sebuah hikmah. Hikmah adalah kekayaan yang besar. Harta berharga orang beriman yang terserak, dan kita harus senantiasa mencari dan memungutnya. Hikmah yang satu menuju hikmah yang lain mengantarkan seorang manusia menjadi semakin bijaksana. Semakin mengenal dan mengenal Rabb-Nya.

Aku merasakannya. Akan kuceritakan pengalamanku sendiri di bawah peluk kasih sayang-Nya. Kisahnya akan kumulai sejak momentum kelulusanku. Pada 19 Agustus lalu aku resmi menjadi wisudawati Universitas Gadjah Mada dengan gelar Sarjana Teknik. Esoknya, tanggal 20 Agustus dengan keyakinan yang bulat aku sudah melamar sebuah pekerjaan. Kau tahu apa jenis pekerjaan itu?

Jurnalis. Ya, aku mendaftarkan diri untuk menjadi jurnalis. Bagi anggapan manusia pada umumnya, mungkin pilihanku dianggap aneh. Mungkin ada yang berpendapat aku salah jurusan. Atau bahkan berpikiran sayang sekali sudah susah-susah meraih gelar ST. Ujung-ujungnya jadi jurnalis, yang bisa dimasuki lulusan sarjana dari jurusan manapun. Ya, begitulah salah satu persyaratan yang kubaca sebelum malayangkan berkas lamaranku.

Namun, sebagian yang lain memberi dukungan. Dukungan mendalam, disertai doa ketulusan. Hal itu sudah aku dapatkan dari beberapa rekan dekatku. Sebagian orang yang sempat aku ceritakan tentang niatku mendaftar pekerjaan baru ini. Mereka yang memberi dukungan, rata-rata mengenalku cukup lama dan cukup dalam. Terutama tentang kebiasaanku berjibaku di dunia media selama lima tahun di kampus.

Begitulah dunia ini, selalu memiliki banyak sisi. Tak perlu jatuh dan menekuk wajah hanya karena satu-dua suara yang berbeda dari keyakinan kita. Bahkan jika seisi dunia mencoba mematahkan, kebenaran tidak tergantung pada mereka. Keyakinan yang berupa kebenaran hanya ada di sisi Pencipta dan selama kita bertahan di jalan-Nya yang lurus.

Pada akhirnya, 20 Agustus itu sukses menjadi hari pertama kalinya aku melamar pekerjaan sebagai jurnalis.

Hari berganti hari. Begitu pula hati, bisa berubah dari hari yang satu ke hari selanjutnya. Berhari-hari hingga dua pekan sudah terlewati, aku belum juga mendapat kabar kelanjutan dari pekerjaan yang kulamar. Sampai keinginanku untuk melanjutkan ke tahap berikutnya semakin tertutup. Hampir hilang motivasi untuk menjadi jurnalis dalam waktu dekat ini. Walaupun bukan berarti hilang sama sekali. Aku hanya berpikir mungkin ada waktu yang lebih baik di tahun depan atau tahun-tahun berikutnya lagi untuk mencoba pengalaman itu.

Aku mulai mencari kegiatan-kegiatan lain yang pikirku tidak kalah penting untuk kukerjakan. Di antaranya mencari informasi tentang les berbagai bahasa, mulai dari Bahasa Arab, Inggris, dan Jerman. Sejak duduk di bangku SD aku sudah menyukai bidang bahasa. Apalagi di dunia yang semakin kompetitif nantinya, belajar bahasa bukan lagi sebuah kemewahan atau pemuas minat, tetapi kebutuhan bagi siapa pun. Semakin banyak menguasai bahasa, semakin banyak pula ilmu yang bisa kita serap. Kemampuan multi bahasa juga kupikir akan sangat mandukung cita-citaku berikutnya, melanjutkan kuliah S2 suatu hari nanti. Di samping belajar bahasa, masih banyak pula sesungguhnya pekerjaan dan terget lainnya yang menungguku untuk diselesaikan.

Dua minggu itu cukup sudah untuk menutup motivasiku mengejar pekerjaan jurnalis di tahun ini. Sebuah kesempatan yang sejak lama aku nantikan, akhirnya pupus karena panggilan tahap selanjutnya yang tak kunjung datang. Sampai akhirnya, beberapa hari berselang setelah dua pekan itu aku mendapat panggilan untuk tes wawancara di tanggal 9 September.

Berhari-hari pikiranku berputar-putar. Bukannya semangat menerima panggilan untuk mengikuti tes tahap selanjutnya. Rasanya otak di kepalaku berubah menjadi tali yang terbelit-belit. Sulit menentukan selanjutnya harus bagaimana. Motivasiku untuk menjadi jurnalis di tahun ini sudah hampir tertutup. Ditimpa oleh tawaran les bahasa dan pekerjaan-pekerjaan yang menuntutku itu.

Rasanya beberapa hari itu aku hidup seperti zombi. Punya badan, tetapi tidak punya tempat berpijak. Di dunia ditakuti orang, di kuburan pun ditolak. Oke, analogi kali ini memang agak lebay. Yang jelas rasanya tidak nyaman. Aku hanya tidak suka menyebut sebuah kata yang sering diucap sejuta umat, galau. Errrrrghhhh…. Karena itu juga, karena tidak ingin berlama-lama menyandang status galau aku sekuat tenaga mencoba keluar dari zona ini.

Tetapi kau harus tahu, galauku tidak seperti asosiasi kebanyakan orang yang mengidentikannya dengan galau karena status jomblo. Apalagi sampai menghubungkan seluruh pembicaraan dengan tema pernikahan. Uhhhhhggg… Kalau yang seperti itu, aku sarankan segera ke rumah sakit. Aku berbeda dimensi galau dengan mereka. Kalau bukan beda dunia, beda planet, beda galaksi.

Sedikit beralih topik, aku dapati hampir 99,99% pemuda/pemudi yang baru lepas dari status mahasiswa memang pernah mengalami fase ini. Fase ga….. Ya itu lah tadi. Ga….. lau (uugggh) dengan berbagai tipe, ada yang sepertiku, ada yang seperti saranku harus masuk rumah sakit, dan ribuan tipe ga*** lainnya. Persentase itu murni tanpa riset, hehehe. Hanya asumsi yang kudapati dari mendengar dan mengamati pengalaman sebagian teman yang bercerita tentang kehidupan pasca kampus. Jadi, bagi yang belum siap-siap saja. Jangan takut untuk menghadapinya. Persiapkan hal terbaik agar tidak berlama-lama tergantung di fase ini, dan cari solusi setelah masuk ke dalamnya.

Aku sangat yakin solusinya sudah jelas. Setiap kegelisahan jenis apa pun sudah ada jawabannya. Hanya kita perlu mencari kunci jawaban itu. Kuncinya hanya satu, semakin mendekat kepada Yang Mempunyai kunci jawaban. Ya, solusinya sejernih itu. Aku hanya perlu menambah intensitas ibadah, semakin sering ingat Allah, semakin taat, dan sabar sampai Ia memberi kunci jawaban.

Untuk kondisiku saat ini, jawaban yang kubutuhkan hanyalah ketetapan hati. Maka, aku menunggu Allah kembali Membalik hati ini menuju jalan yang seharusnya aku susuri. Seperti sedang berjalan di lorong gelap, jawaban dari-Nya datang menjadi cahaya.

Tepat setelah tilawah siang ini, hari ini tanggal 7 Sepetember, aku seperti menemukan kembali keyakinanku. Keyakinan yang insyaaAllah lebih besar dari sebelumnya. Tentunya tentang jalanku setelah ini. Aku berniat membulatkan tekad untuk mengikuti wawancara sebagai jurnalis. Segala keraguanku sebelumnya kini sudah menemukan jawabannya. Jika selanjutnya tidak ditakdirkan menjadi jurnalis, aku pun tidak menyesal insyaaAllah. Seyakin aku akan menghadapi tes dua hari lagi.

Ia pun memberi jawaban beserta bonusnya. Siang ini, setelah tilawah itu, aku kembali berpikir tentang hakikat ilmu. Ilmu hakikatnya diciptakan hanya dengan satu tujuan, yakni agar manusia kembali mengenali Allah. Dalam Islam, ilmu tidak pernah dibeda-bedakan seperti yang kita jumpai sekarang, seakan ada ilmu dunia dan ilmu akhirat. Keduanya terpisah oleh sekat yang tebal, bahkan oleh sebagian manusia sengaja dijauhkan. Mencampurkan antara keduanya sebagian menganggap tabu. Bahkan lebih tabu daripada sarjana arsitektur yang ingin punya pengalaman menjadi jurnalis. Hehe.

Di dunia sekarang ini, kita menemui ilmu dengan berbagai macam ragam. Seolah seorang manusia dibatasi untuk menjadi ahli di satu bidang ilmu saja. Biarlah bidang ilmu yang lain dikuasai oleh manusia lainnya, mengingat jumlah populasi manusia yang semakin memadat. Perlu bagi-bagi kerja. Banyak manusia bahkan tak kerja. Padahal seorang manusia diciptakan dengan kemampuan lebih dari itu. Lebih dari menjadi ahli hanya di satu cabang ilmu yang kini kita kenal sebagai, matematika, fisika, ekonomi, politik, kedokteran, teknik, arsitektur, mikrobiologi, filsafat, dan berbagai cabang lainnya beserta cucu dan cicitnya.

Coba kita lihat Ibnu Sina, ia terkenal sebagai bapak kedokteran dunia, namun selain ilmu itu ia telah lebih dulu mengilmui al-Quran, hadits, fiqh, sastra, filsafat, fisika, matematika, makrokosmik, mikrokosmik, dan berbagai ilmu lainnya. Itu baru satu contoh saja di antara ratusan tokoh Islam yang menguasai banyak bidang. Mereka mampu karena mereka tahu hakikat ilmu itu sangat luas, tujuannya untuk menjadikan manusia semakin mengenal Tuhan dan memaksimalkan perannya sebagai pemegang amanah Tuhan di muka bumi. Hanya kita yang terkadang berpikir terlalu kerdil, dan tidak sepenuhnya memanfaatkan kemampuan berpikir yang Ia berikan. Semua itu pun tak lepas dari hidayah, pertolongan Allah pada setiap hamba, dan takdir yang telah Ia gulirkan.

Aku memilih tidak menyesal pada keadaan yang ada sekarang. Kenyataannya memang aku lulus sebagai sarjana teknik. Faktanya aku tidak menguasai seluruh bidang keteknikan. Aku hanya lulusan sarjana arsitektur. Yang kata dosenku, sarjana arsitektur hanya diberi bekal tentang dasar-dasar ilmu arsitektur serta profesi arsitek. Aku hanya memiliki segelintir dari ilmu arsitektur yang luas.

Kembali pada bahasan sebelumnya tentang ilmu yang luas, aku tidak hidup hanya untuk mengejar ilmu arsitektur. Tidak ada gunanya, karena bukan itu tujuan pencarian ilmu. Pun jika aku memilih untuk mengilmui arsitektur secara lebih dalam, tidak harus aku dapatkan di bangku kuliah arsitektur. Alam ini sangat luas dan ramah untuk berbagi ilmu arsitektur. Aku hanya perlu membuka mata, membuka pikiran, dan membuat sinergi untuk bisa bermanfaat lebih banyak lewat jalan arsitektur misalnya. Meski pada tahap tertentu, mengikuti kuliah arsitektur akan banyak menbantu.

Jika suatu saat diberi kesempatan menjadi jurnalis, aku pun masih bisa menyelami ilmu arsitektur. Misalnya lewat situs-situs bersejarah yang aku rekam, mengenal kehidupan masyarakat sosial sebagai objek yang dilayani arsitektur, atau melihat kekayaan alam Indonesia yang kini banyak hanya berupa potensi, belum berdaya maksimal sebagai sebuah titipan Tuhan. Itu hanya sebuah alternatif. Kuyakin selalu ada jalan. Hidup tentu tidak bisa diprediksi.

Aku ingin menjadi manusia yang apa adanya. Menikmati ilmu sebagai sarana untuk dinikmati. Tidak diperbudak olehnya. Karena ilmu adalah pengantar menuju Tuhan, tidak ada yang tidak nikmat jika menjadi pejalan ilmu yang semakin dekat dengan Tuhan. Mungkin setelah ini bisa saja aku tertarik pada ilmu filsafat, atau arkeologi, atau apa pun itu yang sungguh banyak macamnya dinamai oleh manusia.

Namun aku harus sadar, apa pun ilmu yang sudah kudapat dan akan kukejar bukan untuk diriku sendiri. Setiap ilmu yang aku kejar harus dilandasi dengan tanggung jawab. Harus berujung kepada sebesar-besar manfaat untuk manusia lainnya. Agar Allah ridho kepadaku.

ditulis 7 September 2014
dipost 17 September 2014 saat sudah lolos tes wawancara dan sedang menjalani tahap selanjutnya profesi (calon) jurnalis

Advertisements