Bagiku, adaptasi di setiap tempat itu berbeda. Ada yang susah dijalani ada yang mudah. Yang paling susah adalah beradaptasi dengan atmosfer kebebasan. Yang lebih mudah adalah beradaptasi dengan aturan, atau bahasa lainnya kehidupan tersistem. Aku menyadarinya sekarang.

Dua setengah tahun belakangan aku menjalani hidup di asrama. Sebuah pondok pesantren mahasiswi. Kau tahu, hampir semua orang yang mendengar tempat bernama asrama pasti mengaitkannya pula dengan frase “penuh aturan”. Apalagi sebuah pondok pesantren. Banyak juga yang menyebut nama lainnya sebagai “penjara suci”. Tapi aku ingat dua setengah tahun yang lalu, saat aku baru saja memulai hidup baru di sana, tidak ada yang terasa begitu berat.

Memang tempat tinggal itu bernama pondok pesantren, namun aku sama sekali tidak menemukan suasana ketat penuh aturan yang cenderung terasa sebagai keterpaksaan seperti beberapa orang lainnya yang tinggal di dalam ponpes. Bagiku sistem di dalam ponpes dibuat untuk memenuhi segala kebutuhan santrinya secara seimbang. Baik itu kebutuhan ruhiyah, fikriyah, maupun jasadiyah (yang ketiga ini tergantung pada gaya hidup masing-masing santri ya, ehmm kegiatan olahraga biasanya dilakukan secara mandiri, tidak kolektif). Yang kutemukan, ternyata aku bahagia. Merasa hidup lebih bernilai dengan hadirnya sebuah keseimbangan.

Kini, aku sudah lulus dari pondok pesantren mahasiswi. Saatnya untuk berbenah memindahkan semua barang di dalam kamar juga kehidupanku dari sana. Beruntung aku tidak perlu sibuk mencari kost atau kontrakan baru, karena tempat tinggal baru sudah lama tersedia. Bahkan lama menungguku. Aku kini tinggal bersama ibu bapak di rumah eyang dari bapakku. Sebuah rumah dengan banyak kamar yang juga dihuni oleh eyang dan adik-adik bapakku yang sudah berkeluarga.

Pelajaran pertama yang aku dapatkan dari tempat tinggal yang baru ini adalah tentang jarak. Jika asrama lamaku hanya membutuhkan 20 menit paling lama untuk mencapai kampus, rumah eyang membutuhkan waktu hampir tiga kali lipatnya. Perjalanan maksimal mencapai kampus kadang kutempuh selama 55 menit. Jelaslah ini sebuah ujian kesabaran yang besar bagiku. Setiap hari harus rela habis waktu di jalan selama hampir 2 jam (pp).

Namun ujian jarak perlahan mulai berhasil aku selesaikan. Bukan apa-apa, solusinya hanya sebuah hati yang dituntut lebih lapang. Aku harus lebih sering berlatih mengulang hafalan Quran di atas motor tanpa kehilangan fokus di jalan. Aku harus lebih terbiasa memperbanyak kalimat dzikrullah sembari berkendaraan. Setiap jengkal yang kulalui menuju tempat yang terberkahi insyaaAllah bernilai pahala. Semakin jauh semakin banyak pula nilai yang terhitung.

Kemudian, aku harus menghadapi ujian terbesar selanjutnya di antara ujian-ujian lain yang lebih kecil. Inilah dia, ujian atmosfer kebebasan. Suatu hal yang sudah aku bayangkan dan sangat aku takutkan di detik-detik menjelang kepindahan dari asrama. Kini aku benar-benar menghadapi monster itu. Sebagai mahasiswi yang menunggu wisuda, terkadang ada orang yang mendadak menjadi pengangguran alias selo maksimal. Namun sepertinya itu tidak terjadi padaku. Dalam dua bulan penantian momen wisuda saja sudah terdaftar 20 target pencapaian yang ingin aku lakukan. Beberapa di antaranya yang terbesar adalah pekerjaan sebagai penulis freelance sebuah buku tentang interior kamar tidur, project membuat naskah film bersama dosenku, permintaan desain rumah untuk keluarga baru Pak Wahyu (seniorku di kampus dulu), dan rencana bersama mbak Nadia membuat jasa desain interior bernama EVEarch. Belum lagi 16 terget yang lain.

Tapi coba lihat. Dari sekian banyak daftar itu hampir semua dapat aku lakukan di rumah. Tanpa harus ke kampus, bertemu dosen, memasuki ruang kuliah A menuju ruang kuliah B, asistensi, rapat organisasi A lanjut ke organisasi B, tanpa ruang kantor atau studio tempat bekerja, dan tanpa semua yang selama ini aku alami bersama orang-orang sibuk lainnya yang tidak berhenti bergerak. Kenyataannya, kini aku sendiri. Harus mengatur waktu sendiri. Harus mengatur semua unsur keseimbangan sendiri. Tidak seperti ketika di asrama, keseimbangan itu aku dapati di bawah kepatuhan pada sebuah sistem dan lingkungan yang mendukung. Di sini lah masalah itu terjadi. Aku kembali harus melawan diriku. Ini lah ujian terberat sepanjang masa. Setidaknya bagiku.

Tiba-tiba aku teringat lagi. Jauh sebelum ujian ini aku alami, aku sudah lama membayangkannya sebagai sebuah impian, bukan ujian. Impian bisa bekerja produktif dengan tanganku sendiri. Impian bisa mengembangkan wirausaha sembari mengasah naluri kreativitasku. Semua ini terasa dekat sedari dulu di dalam benakku. Semua ini adalah sebuah fase yang mencuat dari relung-relung doaku yang terkabulkan. Mungkin masa depanku akan menjadi seperti yang aku selama ini bayangkan. Aku hanya perlu melampaui satu ujian menuju satu ujian. Yang kini ia bernama adaptasi dengan kebebasan serta mandiri mencapai keseimbangan.

 

Melky, Bantul, 7 Agustus 2014
tulisan hangat – ditulis dan diedit beberapa menit lalu

Gambar : http://500px.com/photo/31915165/adaptation-by-dan-harris

Advertisements