(Petikan ibrah liburan di Bengkulu-Bangka)

Sepekan yang lalu saya melakukan kunjungan ke dua rumah keluarga besar. Rumah pertama adalah rumah keluarga eyang di Bangka. Rumah kedua adalah rumah keluarga saya sendiri di Bengkulu. Saya dan ibu sedang tugas belajar –begitu ibu menyebutnya- di Jogja, jadi sudah lima tahun tidak lihat rumah di Bengkulu. Ya, ini bukan kunjungan yang dekat. Untuk mencapai kedua rumah itu saya dan ibu harus enam kali naik pesawat (termasuk transitnya). Jogja-Jakarta-Bangka-Jakarta-Bengkulu-Jakarta-Jogja. Begitu rutenya.

Dibilang liburan mungkin bisa. Tapi karena misi yang cukup meleset dari sekadar tamasya, mungkin lebih tepat perjalanan ini disebut kunjungan. Saya dan ibu pergi berdua. Selama sebelas hari perjalanan kami memiliki tujuan utama silaturahim dengan keluarga.

Kronologi perjalanan kami seperti apa, cukuplah saya, ibu, dan Allah yang tahu. Memang bukan itu tujuan saya menulis ini. Saya cukup sadar diri ini belum se-terkenal artis sinetron atau calon presiden yang jalan ke bioskop saja bisa diliput puluhan wartawan. Hehehe.

Saya mau berbagi tentang hijab kepada seluruh wanita cantik di dunia ini. Terutama yang paham bahasa Indonesia dulu, ya. Hehee. Perjalanan sebelas hari yang lalu cukup menjadi ujian yang berat bagi saya menjaga konsistensi berhijab. Sebelumnya, standar hijab bagi saya sama dengan ajaran Rasulullah, yaitu menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan, tidak transparan, dan tidak menampakkan bentuk tubuh.

Praktiknya, saat bertemu yang bukan mahram saya harus selalu siap memakai jilbab yang menutup dada, baju longgar dan rok, atau gamis longgar, dan kaus kaki. No celana, no jilbab/baju/rok/gamis transparan. Jilbab yang menutup dada pun tidak cukup menutup dari depan saja, tapi dari samping kanan dan kiri juga. Kalau sudah sesuai standar ini barulah saya merasa nyaman bertemu yang bukan mahram. 🙂

Berlebihankah penampilan saya? No, dalam bahasa inggris. Nein, dalam bahasa jerman. Andwe, dalam bahasa korea. Tidak, sama sekali. Seperti yang saya bilang sebelumnya ini pakaian standar sesuai ajaran Rasulullah, artinya juga perintah Allah. Hanya wajah dan telapak tangan yang boleh terlihat. So kemana-mana harus sedia kaos kaki, harus sedia manset. Seorang teman saya pernah bilang, “setiap centimeter aurat kita yang terlihat oleh yang bukan haknya, akan dimintai pertanggungjawaban.” Widih, setiap pergelangan tangan yang kadang terbuka, setiap jempol kaki yang kadang kelihatan, nanti juga akan dimintai pertanggungjawaban kita. Jadi penting sekali untuk tidak memakai kaus kaki yang bolong di jempol, guys.

Selama di Jogja, bisa dibilang tidak ada masalah menjaga hijab seperti ini. Teman-teman yang konsisten dengan pakaian serupa pun sangat banyak jumlahnya. Tapi ketika bertemu sanak saudara, atau teman lama, yang sejak kecil main atau bahkan (maaf) mandi bersama, ada perasaan tidak enak jika selama 24 jam mereka menemui kita dengan pakaian yang serba tertutup ini. Ada saja ibu atau tante atau nenek yang mungkin bilang, “Lepas saja jilbabnya, kan sudah di dalam rumah.” Atau komentar lain yang berkata, “Sudah di rumah mbok ya kaos kakinya dilepas, nduk. Kalo kotor kan susah nyucinya.”

Kalau sudah seperti itu banyak mata yang memerhatikan kita. Sebagian menahan penasaran dalam diam, sebagian melontarkan pertanyaan atau kalimat suruhan. Padahal di sana ada sepupu kita, ada suami dari tante kita, atau ada teman lama kita yang semuanya tidak berstatus sebagai mahram. Bagaimana bisa kita menanggalkan hijab walaupun hanya sebelah kaos kaki saja? *lagian, sebelah kaos kaki? Kayak kakinya panu-an aja :p

Ya begitulah. Keadaan seperti ini sering kita alami di momen ramadhan, liburan, dan lebaran. Ketika intensitas bertemu dengan keluarga besar bertambah. Saat sudah bertemu keadaan seperti itu, tidak perlu berbohong dengan alasan misalnya, “kaki saya panu-an, bu” atau “rambut saya ketombean, takut nular”. Biasanya yang melontarkan komentar tentang penampilan kita adalah keluarga dari kaum hawa juga. Asumsi saya itu sebuah bentuk perhatian, tidak ingin melihat kita repot dengan pakaian.

Kalau keadaan ini sudah terjadi, menjelaskan dalil ayat alquran atau hadits yang kuat kepada mereka tidak cukup membantu. Kecuali jika komentar itu sudah berulang dan ada waktu untuk bicara berdua dalam suasana santai, boleh saja menceritakan latar belakang sikap kita. Tapi untuk sebuah komentar yang keluar pertama cukup bilang, “ya, bu gak apa-apa. Nanti saya copot kalau sudah di kamar.” No berbohong, no menggurui, tapi secara tersirat menyampaikan pesan bahwa kita sedang menjaga aurat. 🙂

Tentu setiap muslimah punya latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Ada keluarga yang sudah sangat paham bahkan mendukung dengan konsistensi menjaga aurat, ada yang kepahamannya sudah setengah, dan ada pula yang masih harus dipahamkan sedari nol. Maka yang terbaik adalah mengenali karakter setiap keluarga kita dan “treatment” terhadap mereka. *berasa tukang salon kerjanya nge-treatment rambut :p

Inti dari semua ini, menjaga hijab adalah sebuah proses yang tidak akan berhenti sampai akhir hayat. Bagi muslimah, yang sulit bukan hanya saat pertama kali memutuskan sudah siap berhijab. Artinya bagi yang belum berhijab, yuk sama-sama lampaui dulu level pertama J Batu loncatan untuk menjalani hari-hari yang semakin indah dan semakin berkah 🙂 Bukan menunggu hidayah, atau menunggu menikah. Sejak kita beriman, hijab sudah turun sebagai sebuah perintah. 🙂

Selanjutnya akan muncul hari-hari yang menuntut ujian kesetiaan kita dengan hijab. Ujian yang saya alami dari sepenggal cerita di atas, cukuplah diberi level cemen dibanding ujian teman saya yang mempertahankan hijabnya di negeri minoritas muslim. Atau lebih cemen lagi dibanding teman saya yang masih harus menyembunyikan keimanannya, untuk menghindari ancaman. Atau lebih cemen lagi dibanding teman laki-laki yang bersikukuh ingin berhijab… *kalo ini sih -_____-

Ya, begitulah. Begitu banyak cara Allah mengungkapkan “kerinduan” pada muslimah berhijab yang Ia Limpahi kasih sayang. Para muslimah merasakan hijab sebagai sebuah keterikatan dengan Allah. Ibarat sebuah tali, bila diberi beban bisa mengendur dan bisa bertambah kuat untuk menahan beban.

Perintah-Nya untuk berhijab berlaku saat seorang muslimah sudah sampai usia baligh. Artinya untuk melihat kedewasaan mental seorang wanita juga tampak dari caranya berhijab. Dari hijab, ia menunjukkan dua kedewasaan. Pertama, ia dewasa menjawab perintah dari yang paling pertama harus ia jalankan, Allah. Kedua, ia dewasa menjaga konsistensi ikatan dengan hubungan yang tidak boleh ia lepaskan, tali Allah. Kalau sekali-kali ada godaan, ingatlah Allah sedang melihat kita dengan bangga menjalankan perintah-Nya. 🙂

Advertisements