Judul: Aku Ingin Jadi Peluru
Penulis: Wiji Thukul
Penyunting: Khotimatul Husna
Penerbit: IndonesiaTera
Cetakan Pertama: Juni 2000
Tebal: 248 halaman
ISBN: 979-9375-07-XAku Juga Ingin Jadi Peluru:

 

Sebuah Tilikan Ringan
Mengapa Engkau membuatku terlahir di negeri ini,
yang para penduduknya puas dijadikan budak?
—Mohammad Iqbal

(1)

Sastra, termasuk puisi, adalah cermin bening yang istimewa. Padanya, kita dapat bersua dengan “pantulan kenyataan”, bahkan menemukan tampilan yang tidak tampak dengan benderang di permukaan kenyataan. Sapardi Djoko Damono pernah menuturkan bahwa sastra tidak hanya menampilkan diri kita layaknya apa yang terlihat di dunia nyata, tetapi sekaligus memperbaikinya. Karena cermin itu meniru apa yang dipantulkannya, maka sastra pada dasarnya dianggap sebagai mimesis—dalam hal ini, mimesis adalah tiruan yang juga memperbaiki apa yang ada pada yang ditiru. Pendek kata, jika kita mengikuti jalan pikiran Sapardi, ganjil rasanya jikalau kita mencoba menjauh-jauhkan sastra dari keseharian. Lantaran sastra meniru apa saja yang dicerminkannya, maka menghasilkan sastra berarti menyaksikan diri kita sendiri bermain di dunia rekaan.

Sastra—tersertakan puisi padanya—dan kenyataan, itulah titik tolak tilikan ini.

Tulisan ini dimaksudkan untuk bertualang ke rimba puisi Wiji Thukul, yang tersaji dalam Aku Ingin Jadi Peluru. Thukul, penyair yang belum ketahuan di mana rimbanya hingga hari ini, banyak bermain-main dengan keseharian, mempermain-mainkan kenyataan, meski akhirnya ia dipermainkan oleh keadaan.

(2)

Ketika kebenaran tidak berapi-api, maka itulah filsafat; ketika ia mendapat nyala dari hati, ia menjadi puisi. Begitu tutur Mohammad Iqbal dalam Peyâm-i Masyriq. Suatu ketika, Chairil Anwar mengumandangkan pekik yang senapas. Kata adalah kebenaran, katanya. Puisi jadi ladang bagi Wiji Thukul untuk bercocok-tanam kecemasan dan memperkarakan ketimpangan yang terlihat olehnya. Atau, seturut petuah Iqbal, Thukul menyalakan kebenaran yang diyakininya lewat puisi. Atau, searah ujaran Sapardi, Thukul memantulkan kenyataan sehari-hari melalui cermin bernama puisi. Ketika penguasa mengungkung kemerdekaan rakyatnya, Thukul berlari pada kata. Di sanalah ia kumandangkan gelora perlawanan, sebab kata—seperti pekik Chairil—adalah kebenaran.

Sekarang, mari kita bertamasya pada puisi pertama, Pulanglah Nang.

belajar yang rajin

biar nanti jadi dokter. 

[Pulanglah Nang, hlm. 4]

Pada titimasa puisi ini, Thukul mencantumkan tahun penciptaan, 1986: ketika Soeharto sedang asyik-asyiknya berkuasa; ketika keberadaan yang miskin dan yang kaya terpisahkan oleh jurang yang amat dalam; ketika tidak banyak orang yang berani bersuara. Pada era dengan jargon “gerakan pembangunan di segala bidang” merajalela dan dicangkokkan habis-habisan ke dalam benak generasi muda, kesejahteraan hidup selalu dipadu-padankan dengan tumpukan harta benda. Maka, tidak sedikit orangtua meminta—bila kita enggan memakai kata “menyuruh”—anak-anaknya bersekolah agar, kelak, bisa mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan. Dokter sebatas kata yang dicomot dengan sengaja oleh Thukul, guna mewakili “pekerjaan yang menjanjikan” dengan terminal akhir “tujuan hidup sejahtera yang kaya” itu.

Tidak. Thukul tidak sedang menggugat profesi dokter. Secara samar, ia sedang mengajak kita berkunjung ke jantung senyap kesendirian. Sekolah bukan sekadar sibuk mengejar ijazah, ritual penganugerahan gelar, lalu memburu pekerjaan, kemudian bermuara pada laku-tumpuk-harta. Sekolah juga ruang lapang untuk mengayakan jiwa. Dalam puisi ini, Thukul sedang mengecam dan mengancam apa yang ia sebut sebagai “tuntutan pembangunan” atas nama “martabat kemanusiaan” yang ia yakini. Martabat kemanusiaan tidak mesti ditakar dari sederet gelar. Sekolah hanyalah salah satu pintu guna memasuki martabat kemanusiaan itu. Sekarang, orang-orang yang berdiam di bui akibat dakwaan korupsi rata-rata alumni sekolah tinggi. Orang-orang yang sibuk mengisi kepala dan abai mengisi nurani. Orang-orang yang mengira harta negara adalah kekayaan pribadi yang bisa dikeruk sesuka hati. Maka, “belajar yang rajin” bagi Thukul bukan demi “menjadi dokter” belaka, melainkan agar kita dapat menjadi yang “sebenar-benarnya manusia”.

Kita boleh menjadi “apa saja”, asal tetap sebagai “manusia”.

(3)

Sudah barang tentu, sebagai manusia kita harus merawat kepekaan dan kepedulian. Saat angkara mewabah, kita bertugas sebagai pelawan. Itulah yang dilakukan oleh Thukul. Ia enggan berpangku tangan atau bersikap masa bodoh. Ketidakadilan dan ketimpangan ia pindahkan ke dalam puisi. Seperti Rendra dengan Potret Pembangunan Dalam Puisi-nya, kepekaan dan kepedulian Thukul terpantul terang lewat Aku Ingin Jadi Peluru. Ada kejadian yang ia serap dari nestapa teman-temannya, ada peristiwa yang ia sadap dari derita sanak-kerabatnya.

Coba kita tilik penggalan puisi-puisi ini.

ini tanah airmu

di sini kita bukan turis

[Sajak Kepada Bung Dadi, hlm. 15]

tukang becak

orang-orang kampung

yang berjasa dalam setiap pemilu

terbaring 

dan keadilan masih saja hanya janji

[Kuburan Purwoloyo, hlm. 27]

alamat rumah kami punya

tapi sayang

kami butuh tanah

[Sajak Tapi Sayang, hlm. 43]

Apa yang berharga dari puisiku

kalau adikku tak berangkat sekolah

karena belum membayar SPP

[Apa yang Berharga dari Puisiku, hlm. 51]

Jika puisi-puisi di atas dibaca dan direnungkan oleh para pemimpin negeri ini, mungkin mereka akan menyadari kehadiran orang-orang yang dipimpinnya. Pada larik “ini tanah airmu [wahai orang-orang pinggiran], [dan sesungguhnya] di sini kita bukan turis [yang sejenak datang melihat-lihat pemandangan lalu kembali ke negeri asal]”, kita—dalam hal ini, rakyat—diimbau untuk menyadari keberadaan sebagai warga. Maka, jelas bahwa kita harus bersuara meski sepahit apa pun realitas yang tersaji.

Kemudian, Thukul memindahkan corong puisinya ke hadapan penguasa—baik eksekutif maupun legislatif—bahwa mereka tidak ujug-ujug duduk di kursi empuk, tetapi karena jasa para pemilih. Simak saja, “tukang becak [dan] orang-orang kampung yang berjasa dalam setiap pemilu, [kini] terbaring [di kuburan purwoloyo], dan keadilan [yang kalian koar-koarkan sebelum pemilu] masih saja hanya janji.” Mengulang kembali nasihat Sapardi, puisi ini jelas-jelas cermin realitas. Tidak banyak pemimpin yang dipilih lewat pemilu kemudian bersungguh-sungguh menjadi negarawan, rata-rata sibuk mengurusi partai dan upaya pencalonan kembali. Sementara rakyat, yang dibujuk-bujuk agar tidak golput, tetap laksana “tukang becak dan orang-orang kampung”: terbaring dan terlupakan.

Selanjutnya, kita beralih pada petilan Sajak Tapi Sayang. “[Memang] alamat rumah kami punya, tapi sayang, [sebenarnya] kami [lebih] butuh tanah.” Pada lapisan pertama, Thukul berkisah tentang orang-orang yang tidur berdesak-desakan di rumah-rumah kardus, di petak-petak kontrakan, di gang-gang sempit. Mereka punya alamat rumah andaikan ada yang hendak bertamu atau memasukkan keterangan diri mereka ke dalam data kependudukan, tetapi mereka sebatas “turis”: kapan-kapan bisa terusir. Pada lapisan kedua, Thukul menyuarakan sengsara batin yang diidap para “pemilik alamat rumah nirtanah” itu. Ada kebutuhan yang lebih mereka dambakan, tanah. Lalu, coba kita kaji ulang slogan “negeri agraris” dengan petani-petani yang sulit menghidupi keluarga. Lalu, coba kita sigi lagi fakta betapa pasar kita diserbu hasil-hasil tanah dari luar. Lalu, coba kita sisir kembali bagaimana kebijakan dan di mana keberpihakan “orang-orang terpilih”. Sekarang, nyatanya, orang-orang kampung menyerbu kota karena desa tak lagi memesona.

Kemudian, kita sambangi sajak Apa yang Berharga dari Puisiku. Melalui puisi ini, Thukul bermain-main di “daerah perih” yang mencemaskan. “[Katakan padaku] apa yang berharga dari puisiku, kalau adikku [tetap] tak [bisa] berangkat [dan masuk] sekolah, [hanya] karena belum membayar SPP.” Ya, memang sekarang sudah ada dana khusus bagi anak sekolah. Tetapi, tidak berarti sajak ini menjadi usang. Sejatinya, SPP sebatas alegori. Mungkin juga, metafora. Kenapa? Sebab sekolah tidak sekadar bayar SPP. Di luar itu, boleh jadi “sekolah” dan “SPP” hanya serupa pintu masuk bagi Thukul dalam mengeja ketidak-berpihakan pada wong cilik: layanan kesehatan yang mahal, misalnya.

Dengan kesadaran jernih dan keberanian penuh, Thukul melawan. Ia tidak mau menjadi bagian dari orang-orang yang sungkan melawan “robot birokrasi”. Atau, dalam gelegak cemas Iqbal yang terpancar lewat kutipan di awal tulisan ini, Thukul menolak meletakkan jiwanya pada golongan orang-orang yang berpuas diri melihat negara yang dicintainya terus-menerus menjadi budak. Ia coba menguak kerumunan dan membangun barisan, seperti amanat Sukarno, penolak “bangsa kuli”.

Hanya saja, Thukul berhadap-hadapan dengan tiran.

(4)

Apakah gerakan melawan tiran itu berakhir sia-sia? Sejarah mencatat, tiran yang dilawan Thukul akhirnya tumbang. Pohon raksasa, yang sudah berakar puluhan tahun di dada anak pertiwi, akhirnya tidak mampu mengadang gelombang perlawanan. Sejarah juga mencatat, butuh banyak nyawa untuk menebus perlawanan itu. Thukul sendiri masih di negeri entah. Mungkin hilang, kemungkinan yang lebih besar “dihilangkan”. Suara lantangnya dibungkam. Negeri ini memang sarat lubang hitam yang digali rezim tertentu untuk “merampas nyawa orang-orang yang mereka cap sebagai para pembangkang”. Selain Thukul, ada Marsinah, Udin, Munir dan nama-nama lain yang lebih dari jumlah jemari.

Akan tetapi, suara perlawanan Thukul tidak pernah benar-benar hilang. Tiran sekuat apa pun takkan sanggup meredam geliat perlawanan. Sajak-sajak yang ia gubah dengan cucur-air-mata masih tersiar di tengah khalayak. Tiruan kenyataan yang ia pantulkan melalui cermin bernama puisi, belum banyak berubah. Ketimpangan dan ketidakadilan masih marak di seantero nusantara. Sastra dan kenyataan memang sulit dipisahkan, dijauhkan, apalagi diceraikan.

Thukul tak pernah pergi. Generasi yang lahir sesudah ia tiada masih gencar menyuarakan “perlawanan” itu. Gaungnya makin kencang, alih-alih berkurang. Di twitter, misalnya, ada akun @jadipengingat yang secara khusus meneruskan gelora perwalanan itu. Barisan Pengingat. Di sana, anak-anak muda berjajar dan “aku ingin jadi peluru” kembali mengumandang.

Sekali lagi, Thukul tidak pernah benar-benar pergi. []

Bogor, Januari 2014

@1bichara

Bahan Baca:

Kita dan Sastra Dunia. Makalah anggitan Sapardi Djoko Damono. Disampaikan dalam “Simposium Meningkatkan Peranan Buku dalam Upaya Membentuk Masyarakat Baru Indonesi” yang diselenggarakan oleh Yayasan Obor Indonesia pada 10-11 Februari 1999.

The Tulip of Sinai, terjemahan bahasa Inggris pada bagian pertama syair Lâle-i Tûr. Diterjemahkan oleh A.J. Arberry, London: 1947.

Chairil Anwar, Pelopor Angkatan 45. Ditulis oleh H.B. Jassin. Gunung Agung, Jakarta: 1959.

Sumber : http://bukubichara.com/aku-juga-ingin-jadi-peluru-sebuah-tilikan-ringan/

Advertisements