Di suatu daerah di negeri tercinta, terdapat dua orang anak laki-laki yang sama usianya.  Keduanya berada di kelas empat Sekolah Dasar. Namun, mereka tidak belajar di kelas yang sama, tidak satu sekolah. Hanya teman sepermainan, didekatkan oleh jarak rumah mereka yang masih berada dalam satu Rukun Tetangga atau RT.

Suatu hari, saat keduanya sedang bermain bersama di tepi jalan kampung, seorang lelaki tua yang raut mukanya nampak kebingungan datang mendekati mereka. Lelaki tua itu membawa sebuah benda yang dibungkus kresek di tangan kanannya. Tampak seperti berisi buah jeruk dari tumpukan siluet bundar yang mendesak kresek hingga penuh.

Lelaki tua berkata, “Nak, harga satu kilo jeruk yang dijual bapak-bapak di pinggir jalan itu berapa ya?”

Anak pertama menjawab, “Wah saya tidak tahu, Kek. Kenapa kakek bertanya begitu? Bukannya kakek yang barusan membeli jeruk?”

Anak kedua pun ikut menjawab, “Iya, Kek, ada masalah apa?”

“Kakek lupa harga satu kilo jeruk ini. Kalau tidak salah dengar tiga belas ribu. Tadi kakek membayar dengan uang dua puluh ribu. Tapi, hanya dikembalikan dua ribu.”

“Kenapa kakek tidak kembali ke sana dan bertanya?” anak pertama masih penasaran.

“Sudah jauh, Nak. Kakek lelah. Jeruk ini untuk istri kakek yang ingin makan buah.”

Anak kedua berujar, “Sebentar ya, Kek. Saya lari ke Pak Masri yang menjual jeruk itu.”

Beberapa menit kemudian si anak kedua telah kembali dari tukang penjual jeruk sambil membawa selembar uang. Kakek tua dan anak pertama yang menunggunya sambil duduk-duduk seketika berdiri bersama menyambut kedatangan anak kedua.

“Bagaimana, Nak?” tanya sang kakek.

“Benar, Kek. Harga satu kilo jeruk ini tiga belas ribu, jadi uang kembalian yang diberikan kepada kakek kurang lima ribu. Ini uang yang kurang, Kek.”

“Terima kasih banyak, Nak. Uangnya kakek terima, uang yang sedikit ini tadinya kakek pikir sangat berharga untuk melengkapi uang berobat istri kakek. Tapi sekarang kakek berikan lagi kepadamu. Kau anak yang cerdas dan suka menolong. Bisa kau belikan apa pun dan berbagi dengan temanmu. Kalau begitu, kakek pergi dulu.”

***

Kisah di atas menggambarkan tentang respon berbeda dari dua anak seumuran yang menghadapi masalah sama. Anak pertama seringkali penasaran namun tidak begitu cepat merespon masalah seperti yang dilakukan anak kedua. Sementara anak kedua lebih peka terhadap masalah dan cepat bertindak menemukan jalan keluarnya.

Sungguh banyak kisah yang maknanya serupa dengan kehidupan kita sesama manusia. Ada orang-orang hebat yang cemerlang di masa mudanya dibandingkan dengan pemuda rata-rata. Di masa para tabi’in, kita mengenal satu nama yakni Imam Syafi’i. Beliau adalah sosok ulama yang cemerlang sejak masa kecilnya. Saat berusia 9 tahun, Imam Syafi’i telah menghafal seluruh ayat Al Quran dengan lancar. Setahun kemudian kitab Al Muwatha’ karangan Imam Malik yang berisikan 1.720 hadis pilihan juga dihafalnya di luar kepala. Kecerdasannya juga mengantarkan dirinya dalam usia yang sangat muda (15 tahun) duduk di kursi mufti kota Mekkah.

Di kehidupan sekitar kita, juga banyak dijumpai pemuda produktif nan inspiratif. Mungkin banyak teman-teman di sekitar kita yang berstatus mahasiswa menyambi mengisi waktunya dengan bekerja. Semata untuk membiayai sendiri perkuliahannya, tidak bergantung pada kiriman orangtua karena ada perasaan malu meminta di hati mereka.

Contoh pertama dari Imam Syafi’I menunjukkan kisah kematangan intelegensi dan spiritual di masa yang sangat muda. Di saat anak-anak kecil di zaman kita masih belajar mengaji a-ba-ta namun beliau telah menghafal seluruh al-Qur’an. Sementara kisah kedua tentang rekan-rekan mahasiswa yang membiayai sendiri uang kuliah, menunjukkan adanya suatu kematangan manajemen waktu untuk melakukan beberapa fokus berbeda. Bagaimana dengan kematangan di sekolah kehidupan? Pertanyaan penting yang perlu kita jawab, sudahkah usia kita berada pada kelas yang semestinya di sekolah kehidupan?

Di sekolah formal, kita diajarkan mata pelajaran berhitung, sehingga di kelas tiga Sekolah Dasar biasanya seorang anak sudah paham pelajaran perkalian dan pembagian. Jika ada satu anak di kelas tiga yang tidak paham perkalian dan pembagian, bahkan belum mahir menjawab soal tambah dan kurang apakah ia tetap dipertahankan berada di kelas tiga? Sebagian besar jawabannya mungkin tidak, jika disesuaikan dengan kondisi pendidikan dasar formal Indonesia kini.

Bagaimana dengan sekolah kehidupan? Sudahkah kita saat ini menduduki kelas yang sesuai dengan usia kita? Jika usia kita semisal sudah mencapai 20 tahun, kematangan apa saja yang selayaknya sudah dimiliki oleh manusia yang sudah hidup selama 20 tahun? Jawabannya akan sangat berbeda, bagi manusia yang tumbuh dalam naungan Islam, dengan manusia yang tumbuh menggunakan sistem yang jauh dari Islam.

Hakikat Jalan Kehidupan

Jalan kehidupan terasa berliku-liku. Ini adalah pernyataan yang paling sering kita ucapkan mengingat deretan masalah yang pernah mampir di kehidupan kita. Jalan yang sangat rumit, hingga tak terlihat ujungnya karena tak ada penerang di ujung jalan. Tak jarang kita menyerah, akhirnya memilih jalan lain dan menemukan masalah dalam bentuk lain. Tak kalah gelapnya. Akhirnya, seluruh kehidupan menjadi suram karena tak lagi ditemukan cahaya.

Bagi seorang muslim, yang kokoh keyakinannya pada pertolongan Allah, kehidupan bukanlah jalan berliku dan gelap mencekam. Namun, kehidupan adalah jalan lurus yang terang menghangatkan. Inilah keyakinan yang bersumber dari iman yang selalu terikat dengan Pencipta-Nya. Tak ragu menghadapi masalah besar, karena ia memiliki Allah yang Maha Besar di atas segala apa pun.

Maka, kita perlu memulai membenahi cara pandang terhadap jalan kehidupan. Sebesar apa pun masalah yang membuat hati goyah dan sedih, tak perlu berlarut. Karena perasaaan berlarut akan menghentikan jalan kita menapaki jalan terang menuju titik yang Ia hamparkan.

Menyikapi Ujian, Memilih yang Baik, Bukan yang Buruk

Sesuatu apa pun di dunia, memiliki sisi baik dan buruk. Sekali pun itu suatu keburukan yang dipandang sangat buruk, tetap memiliki kebaikan. Begitu juga kebaikan yang dirasa sangat baik, tetap memiliki sisi keburukan.

Contohnya, sebuah dosa maksiat yang besar. Pandangan awal yang paling jelas terlihat adalah keburukan dari perbuatan itu. Maka, di mana sisi kebaikannya? Kebaikan dari suatu dosa besar adalah pertaubatan seseorang menuju pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Bisa jadi, dosa besar yang menjadi puncak segala dosa sebelumnya adalah titik balik dari masa kelam hidupnya.

Begitu pula untuk sebuah kebaikan. Suatu perilaku kebaikan misalnya bersedekah. Membantu orang lain memenuhi kebutuhannya, memberikan hak Allah bagi orang yang tidak mampu. Apakah kebaikan sebesar ini memiliki sisi keburukan? Jawabnya menjadi ya, jika sedekah itu bercampur dengan sifat riya’. Atau menyimpan alasan untuk pamrih. Apalagi niat sedekah yang tidak lurus, yaitu mengharap keuntungan duniawi yang lebih besar.

Maka sebuah ujian kehidupan, baik itu tampak baik atau buruk, masing-masing memiliki sisi kebaikan dan keburukan. Memilih sisi kebaikan memang berat dan butuh mental sekuat baja. Namun inilah tempaan yang harus dilalui manusia yang ingin melalui jalan kehidupannya ke sisi Allah. Karena di sisi-Nya hanya ada kebaikan, lengkap segala sifat kebaikan, dan Ia menyukai segala hal yang baik.

Di media, kita sering melihat berita tentang kasus korupsi. Ada dua perasaan yang mungkin muncul, yakni objek tersebut benar-benar orang yang buruk karena memakan uang tak halal, atau hati kita menyimpan tanya apakah berita yang disampaikan sesuai dengan realitanya. Bisa jadi objek yang diberitakan benar-benar melakukan tindakan keji korupsi dan prasangka yang kita miliki juga merujuk hal yang sama, kita membangun prasangka buruk bahwa ia benar-benar koruptor. Namun, apakah hati kita selamat di sisi Allah? Terlebih lagi jika objek yang dipersangkakan sesungguhnya tidak sesuai dengan prasangka buruk kita. Ia orang baik yang menjadi korban berita. Maka hati kita dua kali tidak selamat. Satu kali karena prasangka buruk, dan yang kedua karena prasangka yang tidak sesuai realita.

Akselerasi Lewat Ahsanu ‘Amala

Saat hati telah terbiasa dengan memilih yang baik, bukan yang buruk, terhadap apa pun ujian yang melanda, maka mudah jalan mencapai ahsanu ‘amala. Ustadz Syatori Abdurra’uf (dalam suatu kajian) mendefinisikan makna dari frase yang berarti “amal terbaik” ini adalah biasa melakukan hal baik dengan baik yang tidak biasa. Contohnya ketika bersedekah. Biasa melakukan sedekah artinya biasa melakukan hal baik, namun bersedekah dengan dibarengi ucapan, “Ibu, ini saya berikan harta untuk ibu dari Allah. Ini murni adalah hak ibu. Sama sekali bukan hak saya. Maka terimalah.” Ada makna yang dalam di balik pemberiannya, bukan menganggap bahwa harta yang disedekahkan adalah milik kita yang diberikan kepada orang lain, namun sejatinya adalah harta sang penerima sedekah sejak awalnya.

Akselerasi di sekolah kehidupan digambarkan sebagai jalan kehidupan yang lurus dan terang menuju Allah. Sehingga mudah melakukan percepatan terhadap kematangan usia yang dimiliki manusia. Tentu saja kematangan ini bukan sesuatu yang bisa dinilai manusia mana pun. Kematangan ini letaknya di hati paling dalam, dan hanya Allah yang menilainya dengan perhitungan yang sangat halus.

Akselerasi di sekolah kehidupan diawali dengan rasa “mengerti” terhadap maksud kedatangan sebuah masalah. Pengertian itulah yang disebut hikmah. Hikmah muncul dari hati yang jernih, yang terbiasa dengan tempaan-tempaan, namun lebih sering memilih menyikapi dengan yang baik daripada yang buruk.

Pejuang di jalan kehidupan memandang masalah seperti bukit yang harus didaki. Di puncaknya telah berkibar panji ahsanu ‘amala yang menanti. Maka pejuang kehidupan tidak mudah mengucap kata “sulit” atau “susah”. Karena keduanya menentukan di kelas berapa ia menjalani sekolah kehidupan. (ahs)

Ya Rabb, seringkali kami menganggap suatu kejadian dan kesempatan yang engkau berikan itu sulit.

Di saat hamba-Mu yang lain menganggapnya mudah.

Ya Rabb, seringkali kami masih merasakan kepedihan di balik kesabaran.

Di saat hamba-Mu yang lain melewatinya dengan perasaan ridho.

Ya Rabb, seringkali kami gelap terhadap hikmah ujian yang Engkau berikan.

Di saat hamba-Mu yang lain memandang kebaikan yang besar ada di baliknya.

Semoga kita dijadikan ahlul hikmah yang kuat karena kekuasaan-Nya.

Aamiin…

repost http://www.ugeem.com/akselerasi-di-sekolah-kehidupan/

Advertisements