Satu bulan terakhir ini, Allah memberi saya amanah yang unik. Menjadi juri sebuah lomba penulisan cerita pendek berskala nasional. Tak kurang dari 305 peserta yang ikut. Beberapa peserta mengirim lebih dari satu tulisan.

Semua tulisan harus dibaca dan dinilai hingga menghasilkan tiga juara saja, dan sepuluh naskah pilihan. Panitia memberi waktu satu bulan untuk kami menentukan pemenang. Rasanya, seperti sulit bernafas. Sulit saya temukan waktu untuk “bernafas” di antara sederetan kegiatan lain. Setiap ada waktu luang harus kembali ke laptop, membaca file satu demi satu, puluhan, hingga ratusan kisah berbeda.

Sulit memang. Namun Allah juga berjanji, telah menciptakan kemudahan bersama kesulitan. Kemudahan yang Ia selipkan banyak sekali. Contohnya, tulisan yang melenceng jauh dari ketentuan teknis, maka terpaksa tidak dinilai. Tulisan yang tidak terlihat seperti cerpen (beberapa ada yang membuat essay bahkan karya tulis), juga tidak memenuhi kualifikasi. Beberapa rahasia dapur lainnya yang sudah disepakati antar juri juga memberi kemudahan. Namun kemudahan yang paling indah adalah membayangkan kisah yang tertulis terjadi dalam kehidupan nyata (kurang lebih) 305 peserta ini.

Dari sini saya belajar. Kita selalu butuh Allah. Tidak hanya untuk menemukan hikmah (kekayaan orang mukmin yang tercecer hilang). Namun juga saat hikmah itu telah berada di depan mata. Ratusan jumlahnya. Bagai menemukan mutiara berkilau dalam berbagai ukuran. Ia butuh ruang lapang. Dan itulah hati. Saat seperti ini, kita tetap butuh Allah, selalu butuh Allah, untuk melapangkan hati ini menampung hikmah. Mungkin selama ini terlalu sempit… Jarang meminta dilapangkan…

Tercantum dalam ketentuan perlombaan, cerita pendek yang ditulis haruslah merupakan pengalaman pribadi sang penulis. Pengalaman apa? Pengalaman yang seringkali menjadi paling spesial dalam kehidupan muslimah. Pengalaman dengan jilbabnya. Tujuannya, berbagi cerita inspiratif dalam pengalaman berjilbab. Saya membayangkan setiap peserta seluruhnya memutar kembali memori mereka, memilah yang paling berkesan, dan mengubahnya dalam pilihan kalimat-kalimat terbaik yang mampu mereka tuliskan. Nantinya tulisan sang juara dan naskah pilihan akan dibukukan. Menjadi sebuah buku yang menginspirasi muslimah lainnya, insyaaAllah.

Secara logika, saya masih tidak habis pikir mengapa bisa terlibat dalam proyek ini sebagai juri. Sangat banyak orang dan rekan lain yang pantas. Cerpen-cerpen saya selama ini hanya mendarat nyaman di laptop pribadi, sebagian dibagikan kepada teman-teman klub Forum Lingkar Pena untuk saling dikritisi. Lomba cerpen seringkali berniat ikut, namun sering pula gagal mengirimkannya karena alasan ini-itu. Bukan tak mau berkarya banyak lewat cerpen, namun tuntutan profesi aka. amanah di lembaga selama empat tahun terakhir semakin mendekatkan saya pada dunia non-fiksi. Kejadiannya, saya diajak salah seorang senior di FLP, mbak Floweria, untuk mendampinginya menjadi juri kedua dalam lomba ini. Hingga akhir, kami hanya berdua saja. Mengulang nostalgia kami menyeleksi puluhan karya calon anggota baru FLP.

Saya ingat, sekitar dua tahun lalu yaitu tahun 2011, saya pernah bercita-cita membuat sebuah buku antologi yang berisi pengalaman berkesan para muslimah dengan jilbabnya. Cita-cita yang ingin diwujudkan lewat program kerja kemuslimahan Keluarga Muslim Teknik, sebuah unit kerohanian Islam di fakultas yang saya ikuti. Sudah banyak perbincangan dan diskusi yang dilakukan, hingga hal teknis pelaksanaan pembuatan buku. Namun kami berhenti di tengah jalan, menyerah pada kondisi yang sulit. Karena program ini hanya proker tambahan, di balik proker utama lainnya yang belum semua berjalan.

Allah tak pernah tidur. Ia tak pernah lupa. Sebiji zarrah pun niatan yang terbersit, juga jika itu sebuah impian. Ia tak pernah luput. Ia tak pernah lupa. Menggenggam dengan erat keinginan hati… Membentangkan jalan mencapai takdir…

Walaupun saya hanya berperan sebagai juri, tidak banyak membantu proses pembuatan buku ini, terasa sekali ini adalah sebuah nikmat. Membaca cerita-cerita yang jujur, memilihnya dengan pertimbangan yang berat, menentukan kombinasi kisah-kisah menarik yang harmonis dan renyah dikemas dalam sebuah buku. Buku ini harus punya daya yang kuat untuk menginspirasi beragam kalangan pembaca. Tanggungjawab yang berat. Namun sangat menikmatinya. Membangun kembali impian yang pernah tercetus. Allah menjawabnya dalam bentuk lain yang tidak kalah manis.

Kini satu saja impian, buku itu segera terbit dan segera hadir di pangkuan beragam pembaca. Agar menyesap manis yang sama… Allahumma aamiin

Advertisements