Hari ahad ketika langit cerah, saya berkumpul dalam sebuah forum bersama teman-teman dekat. Di awal acara, kami melakukan sebuah permainan. Permainan ini sangat sering dilakukan dalam forum lainnya. Misalnya, saat kepemanduan ospek, training motivasi, atau sekadar forum keluarga (forga) sebuah lembaga. Para peserta duduk melingkar, masing-masing mendapat selembar kertas. Instruksi pertama adalah menulis nama masing-masing di kertas itu. Selanjutnya kertas dipindahkan ke orang di sebelah kanan, orang yang mendapat kertas harus menulis kesan/pesan tentang orang yang namanya tertulis di kertas. Permainan yang sederhana dan mudah dilakukan, namun hasilnya dapat memberi perubahan besar bagi setiap peserta yang bermain.

Dalam forum ahad siang itu, waduk Tambak Boyo meliuk-liuk di sekitar kami, bagai ular raksasa menjaga air yang berharga untuk sumber kehidupan warga sekota. Matahari menurunkan sinar yang terik menusuk kulit. Beruntung kami duduk di bawah pohon yang sedikit berperan sebagai payung alam. Sebagian tubuh teduh, sebagian lagi hampir terbakar. Hehe. Hari itu memang siang bolong. Tetapi permainan pertama tetap kami jalani dengan lancar. Seusai permainan menulis kesan/pesan itu, kami tidak langsung membaca isi yang tertulis. Kami bersepakat membukanya di kost/asrama/kontrakan masing-masing agar tetap dapat melanjutkan forum hari itu dengan tenang. (tanpa rasa “shock” membaca tulisan yang tertera, red) #alibi waktu tidak cukup, hehe.

Selepas dari forum itu, saya lanjut menghadiri acara lain. Cepat-cepat tidak sabar ingin melihat isi tulisan. Setelah parkir motor dengan rapi, masuk ruangan, mencari tempat duduk, saya buka kertas yang sedari tadi terjepit di antara buku-buku di dalam tas. Masih rapi, Alhamdulillah. Kesan dan pesan yang saya dapatkan, dari orang-orang dekat itu (setidaknya saya menganggap mereka orang terdekat, red) ialah, kesan : kemudaan, pendiem, tenang, jutek, santai, anteng, lurus-lurus aja orangnya, pesan : semoga tetap istiqomah di media, semangat mb Utiii !!!, hm saling mengenal lebih lagi kali ya, tetap semangat, yang sabar ya dengan amanah ini. Jleb..

Membaca itu, di bagian kesan, saya seperti melihat diri saya sendiri tetapi juga seperti melihat bukan diri saya sendiri. Mungkin hampir semua orang merasakan yang sama dari hasil permainan ini. Kita dapat menganggap diri kita seperti air, tetapi orang lain melihat kita seperti api. Begitu pula sebaliknya. Beberapa kesan yang tertulis tidak sesuai dengan anggapan kita, menimbulkan persepsi teman tersebut belum sepenuhnya mengenal kita. Di sisi lain, saya sendiri berpikir bahwa satu kata yang memiliki padanan dengan kata sifat negatif (ribet amat jelasinnya, red) merupakan sifat yang orang lain ingin kita tidak lagi memeliharanya (tambah ribet jelasinnya, red). Saya mengandalkan kemampuan intelektual pembaca menyerap maksud dari kalimat sebelum ini, menyerah pada kemampuan menulis saya menjelaskannya (ex-pi, red).

Pada intinya semakin banyak sifat negatif yang orang lain ungkapkan tentang diri kita, semakin bersyukurlah kita, karena kekurangan itu kini nyata dihadapan kita. Bisa jadi (tidakk.. tidakk.. #sponsored by eatbulaga, red) kekurangan yang selama ini orang banyak memandang lekat pada diri kita, tidak diketahui oleh sang pemilik diri itu sendiri. Merasa dirinya sudah benar melakukan segala hal, sudah tepat bersikap pada semua orang. Padahal hakikat menjadi manusia adalah belajar sepanjang hayat, menempa kebodohan dan ketidaktahuan menjadi potensi yang berlipat dahsyat ^_^ #hashtagtarbiyah.

Hikmah selanjutnya, terkadang kita mengenal seseorang dan merasa sangat mengenalnya. Padahal tidak sebaliknya bagi orang itu. Banyak hal yang kita pahami darinya, tetapi dia tidak memahami sebanyak itu. #cintabertepuksebelahtangan. Benarkah cinta bertepuk sebelah tangan? Bisa jadi (tidakk.. tidakk.. #sponsor lewat lagi) Bisa jadi benar adanya ketika sudah banyak cinta yang tercurahkan namun tidak satu frekuensi. #teringat kalimat pak Hahibie dalam buku dan filmnya. Cinta kadang tak sampai karena kedua pihak hanya membuka diri (lisan dan pertemuan yang tampak, red), tanpa membuka jiwa. Padahal jiwa perlu disapa. Lisan dan pertemuan tak cukup seribu kali, jika tidak diiringi jiwa yang bicara dan jiwa yang bertemu. Hanya mulut dan raganya saja yang berbuat. Tanpa didasari dengan perbuatan jiwa.

Satu paragraf lagi ya ^_^ Terkadang kesalahan ada pada cara, jiwanya sudah setulus hati. Seperti kasih sayang ayah pada anak, yang berbeda halnya dengan ibu pada anak. Karakter seorang ayah terkadang enggan melontarkan kata-kata manis, sungkan memeluk, atau memberi hadiah rutin. Awalnya beranggapan ayah tak sayang. Tetapi sang anak yang kian lama beranjak dewasa, akhirnya mampu merasakan cinta mendalam tersimpan dalam hati ayah. Lewat peluh keringat, kulit menghitam, dan pengorbanan yang tercurahkan lewat kerja-kerja berat. Demi Allah, demi buah hatinya. Semua itu saat keduanya berada dalam satu frekuensi. Lewat pengalaman yang mendewasakan. Semoga kita menjadi insan yang diterangi jalan hikmah, dan piawai menyapa jiwa.

Ukhuwah itu bukan pada indahnya pertemuan,

bukan pula pada manisnya ucapan di bibir,

tetapi pada ingatan seseorang terhadap saudaranya di dalam doa.

(Imam Al-Ghazali)

Advertisements