Di atas motor kesayangannya, siang itu Dini menangis. Hembusan angin kencang dari arah depan tak cukup cepat mengeringkan air mata di wajahnya. Dini tidak sedang sedih, namun ia takut. Perasaan takut tidak mampu mengemban amanah baru yang Allah titipkan memaksa air matanya keluar. Ya, Dini baru saja mendapat amanah menjadi seorang pemimpin organisasi di kampusnya. Amanah besar yang tak selintas pun pernah ia bayangkan. Untuk posisi itu, ia memprediksi temannya yang lainlah yang akan mengisi.

Di sudut yang lain, Topan, yang juga merupakan aktivis kampus tak nyenyak tidur selama dua hari belakangan. Pikirannya terus berputar-putar pada wajah-wajah pemimpin di organisasi yang ia ikuti. Ia ingat betul wajah-wajah itu senantiasa dekat dengannya bahkan mempercayakan berbagai tanggungjawab besar kepada Topan selama di organisasi. Namun, mengapa mereka tidak memilihnya untuk melanjutkan posisi ketua yang baru. Justru temannya yang menurut Topan minim kontribusi ditunjuk sebagai pemimpin organisasi yang sangat ia cintai.

Itulah beberapa warna yang menghiasi episode kehidupan. Berjuta rasa dan pengalaman, menjadi bekal bagi seorang insan manusia untuk melewati setiap fase kematangan. Ialah orang yang kuat, bila mampu mengelola emosi, nafsu, dan perasaan mengganjal untuk tetap melangkah meniti jalan ke depan. Layaknya jalan lurus yang menerus namun perasaan kadang kala hadir sebagai batu cobaan yang ukurannya bisa kecil bisa besar.

Mungkin inilah yang dibahasakan dengan sangat indah dalam Al-Qur’an, “berjihad dalam keadaan berat maupun ringan”. Ketika itu, kaum muslimin diperintahkan untuk berangkat ke medan perang Tabuk sesudah penaklukan kota Mekkah. Mereka diperintahkan untuk berangkat, sedangkan pada saat itu sedang musim panas dan buah-buahan sedang mulai masak. Suasananya pada saat itu membuat orang-orang senang bernaung-naung di bawah pepohonan, dan sangat berat bila diajak untuk berangkat ke medan perang. Maka Allah menurunkan firman-Nya, “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. At-Taubah:  41).

Dalam riwayat yang lain, Ibnu Jarir mengetengahkan sebuah atsar (hadits/perkataan sahabat atau tabi’in) melalui Hadhramiy yang menceritakan, ia mendengar berita bahwa ada orang-orang yang salah seorang dari mereka sedang terkena sakit atau karena usia terlalu tua, lalu ia mengatakan, “Sesungguhnya aku berdosa karena tidak ikut ke medan perang.” Maka Allah SWT menurunkan firman-Nya, “Berangkatlah kalian baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat.” (QS. At-Taubah: 41).

Bergelut dengan sejuta perasaan, seringkali terlampau jauh dijadikan landasan penentuan keputusan. Perasaan benci terhadap suatu kaum, kadang kala membelokkan nurani untuk berlaku tidak adil terhadap mereka. Perasaan kasihan terhadap seseorang, seringkali melemahkan kita untuk menegakkan keadilan. Perasaan berat dan tidak puas, janganlah menjadi beban hati untuk berangkat sehingga diri tertinggal jauh dari barisan yang berjuang.

Hakikatnya perasaan hadir sebagai ujian. Ia perlu dibersamai sifat-sifat iman yang sabar, qana’ah, ikhlas, dan tawakkal. Ia pun butuh nasihat dari kalam-kalam Illahi. Ia juga butuh didoakan agar berangsur menjadi ketenangan. Agar hati tetap menerima dengan kelapangan dan segenap keridhoan meneruskan kehidupan. Seperti yang Rasulullah contohkan, “hasbunallah wani’mal wakiil, ni’mal maula wani’man nashiir” (cukup Allah bagiku sebagai Pelindung dan Penolong dan Allah lah sebaik-baik Pelindung dan Penolong).

Maka jangan biarkan ia (perasaan) terlarut menganalisa takdir Allah yang belum terjadi. Sebab takdir adalah keputusan terbaik dan tercocok dari-Nya yang Mahatahu dibandingkan segala sesuatu. Sebab, terkadang kita menyukai sesuatu padahal hakikatnya itu buruk, dan terkadang kita tidak menyukai sesuatu padahal hakikatnya itu baik. Keimanan pada Allah Yang Mahatahu harus mengatasi perasaan kita yang relatif dan berubah-ubah. Dan Allah tidak akan membebani seorang makhluk di luar kesanggupannya.

Sumber gambar : http://www.kamusipb.org/2012/10/telaga-hati.html

Advertisements