Bisa dibilang bagian terindah KKN saya dan teman2 yang baru saja berlalu adalah bisa berjumpa dengan anak-anak TPA. Kelompok TPA Dusun Bobosan yang kami beri nama TPA Bobosan Sejahtera. Sampai kami membuat lagu mars TPA untuk mereka. Tak usah lah dinyanyikan di sini, setidaknya sebagai sekelumit bukti tentang cinta kami yang pernah mekar. Sebuah kelompok TPA berisi 20an anak dengan seorang pengajar tetap. Sehingga warga lebih mengenal dengan sebutan “TPA Pak Yad”, karena Pak Yad satu-satunya perwakilan warga yang membuktikan kepeduliannya terhadap pendidikan Al-Qur’an bagi generasi Bobosan dengan terjun langsung mengajar mereka.

Ini gambaran sebuah memori bersama bagian terindah kami saat KKN. Bisa bersama mereka, menjadi nasihat dalam sekian banyak hal bagi saya. Kesederhanaan, ketulusan, cara mencintai pendidikan, dan rasa syukur yang tak terbatas apa pun. Ini lah sebagian dari mereka, yang tak pernah terlambat memberi arti…

#Seandainya mereka melihat, maaf… wajah adik-adik yang cantik sempurna jadi rusak di gambar ini. Tak pelik karena penciptanya pula yang Maha Sempurna, tak pantas dibandingkan dengan pen-sketsa gambar ini. Untuk kalian yang tak hanya tergambar di helai kertas, tapi terukir di relung hati. Semoga menjadi anak sholih-sholihah yang selalu tunduk pada Rabb-nya.

Ini wajah asli mereka…

atas kika: Fatma Tari Luvi Devi Gesti Hesti Devi
tengah kika: Pras Miftah Anggit (kecil) Angga Eko
bawah kika: Eva Irma Salsa Devi
#bukan kesebelasan sepak bola

Perjuangan ke lokasi TPA yang sempat terekam. Sebuah perjalanan melewati “onak duri” pedesaan yang jarang ditemukan di kota. Berikut ini gambarnya…

suasana jalan menuju lokasi TPA dari pondokan

Selanjutnya, tentang kondisi program belajar-mengajar selama TPA. Terekam dalam sajian interior “Rumah Cahaya Pak Yad Saat TPA” berikut ini…

Rumah Cahaya Pak Yad Saat TPA
*lihat kanan gambar atas
Klarifikasi aktivitas memipil jagung antara Gilang dan Mbak Tetty

Tak jarang muncul ide cemerlang di antara keterbatasan. Seperti gambar di samping ini. Sebuah penerapan teknologi baru dalam memipil jagung. Satu fungsi tambahan dari roda sepeda yang perlu dicatat. Karya anak-anak TPA dan Pak Yad 🙂

pewarnaan oleh penulis. gambar yang digunakan dalam final lomba mewarnai FAS. di waktu senggang, menemukan kembali sarana mencurahkan ekspresi 🙂

Saat-saat terakhir yang cukup intensif kami membersamai anak-anak adalah ketika membina Lomba Festival Anak Sholeh antar dusun. Alhamdulillah mereka yang kebanyakan anak cerdas dan sholih/sholihah berhasil mempersembahkan juara dan piala terbanyak bagi TPA Bobosan. (gambar 3 dari atas) Perjuangan sesungguhnya bukanlah demi penghargaan sekecil piala, satu hal yang diinginkan adalah belajar menghargai proses untuk berkembang ke level tetinggi. Bukan di mata siapa-siapa, tetapi di hadapan-Nya.

Dia yang tak terpelik dari sifat Maha Rahim, telah memberi kesempatan kami berada dalam episode indah berjudul ketulusan. Di hadapan-Nya dan hanya karena persaksian-Nya kami berbuat. Mencurahkan titipan ilmu yang kami punya, setipis apa pun dan serapuh apa pun kemampuan kami. Tetapi bersama “Bagian Indah” ini kami mempersembahkan sebuah bekal demi generasi penerus, yang nantinya akan menemukan hakikat hidup. Mengingat kembali janji kita sebelum ruh ditiupkan, hingga di akhir jalan pulang tetap bernaung di bawah tuntunan Al-Qur’an.

Advertisements