Sedikit cerita dari pengalaman selama KKN saya. KKN pertama dan terakhir (aamiin), untuk kehidupan selanjutnya cukup bernama KN (Kerja Nyata) tanpa embel-embel “kuliah” 🙂

Sekelompok mahasiswa yang terbiasa berjuang di panggung universitas, berpedang lisan yang tajam gaya kaum intelektual, dan dibuai teknologi modern. Sehingga pantaslah membayangkan 37 hari KKN yang akan kami hadapi sempat bertabur bumbu kecemasan pada mulanya.

Mengemas indah kehidupan KKN ini menjadi begitu penting. Dalam penuturan warga, kesuksesan mahasiswa menjalankan KKN dapat dilihat saat acara perpisahan. Acara pelepasan di penghujung program KKN. Seberapa besar kesedihan akibat berpisah dan ketidakrelaan melepaskan para mahasiswa adalah tolok ukur. Secara pragmatis, seberapa banyak warga yang tidak mampu memendung air mata pada momen pelepasan itu. Semata-mata karena hati yang telah terpaut melalui proses kedekatan bermasyarakat. Ibarat melepaskan kepergian bagian dari masyarakat desa itu sendiri. Melepaskan teman mereka, melepaskan kakak mereka, melepaskan anak mereka sendiri. Melepaskan bagian indah dari satu hingga dua bulan kehidupan mereka.

Bohong jika ada yang berpendapat bahwa KKN adalah kuliah bersantai-santai, atau pemanfaatan kesempatan liburan setelah kuliah di kampus, tidak akan menyita kesibukan. Karena yang menganggap demikian mungkin sengaja melupakan arti pengabdian dan membohongi amanah yang diembankan.

Terlebih bagi segelintir populasi mahasiswa yang seluruh waktunya digunakan untuk mencari keberkahan. Setiap gerak dan ucapannya terpilih dan terjaga untuk kebaikan. Sebagian mahasiswa yang memposisikan dakwah sebagai jalan hidupnya. Dakwah yang hakikatnya mengajak ke dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran. Sungguh kuantitas mereka mungkin hanya segelintir. Lebih banyak yang merasa telah berdakwah namun tanpa kesungguhan untuk melakukannya. Kadang kerikil masalah menjadi alasan untuk menyerah. Yang segelintir itu menilai dakwah bukan karena nyaman melakukannya, namun menyamankan kondisi apa pun untuk siap menerima dakwah.

Memang seperti itu KKN

KKN adalah cinta

Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu

Sampai pikiranmu

Berjalan, duduk, dan tidurmu

Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun  tentang KKN

Tentang warga desa yang kau cintai

Memang seperti itulah kuliah kerja nyata bagi pemilih jalan dakwah. Bukan jalan bebas hambatan, apalagi jalan pelarian dari amanah yang lebih besar. Sepenggal puisi tentang dakwah karya KH. Rahmat Abdullah di atas kembali menjadi pengingat tentang sebuah esensi. Tidak berlebihan tentang beberapa pengubahan yang saya lakukan pada redaksinya, untuk kembali menyadari esensi KKN bagi para penggiat dakwah.

Seperti namanya, Kuliah Kerja Nyata, masa KKN dapat menjadi momen terbaik untuk melakukan dakwah yang nyata. Momen baik yang belum tentu didapatkan saat berjuang di kampus. Banyak tenaga terkuras dari para penggiat dakwah kampus, namun tidak kunjung menampakkan hasil kerjanya. Bahkan mengorbankan produktivitasnya. Jika ditanya kepada para objek dakwahnya, mungkin lebih banyak yang tidak mengenal mereka. Namun dakwah di masyarakat memberi sebuah nasihat, tentang dakwah yang nyata. Tidak sekadar memandang objeknya namun menyentuh hati mereka, tidak sebatas teorinya namun pengejawantahan dalam praktik langsung. Ada sebuah kisah yang terjadi di kelompok KKN kami, bahkan seorang teman yang belum mengerti dakwah telah melakukan praktiknya ke masyarakat selama KKN. Seseorang berhati lembut yang masih terbata dalam membaca Al-Qur’an dengan izin Allah rutin menjadi pengajar TPA. Atau seorang teman putra yang belum pernah sekali pun mengisi ceramah di depan umum, namun dituntut mengisi kultum di musholla warga, hingga dijuluki ustadz.

KKN layaknya sebuah miniatur kehidupan. Besar kontrobusi yang mampu kita berikan kini, menjadi cerminan kontribusi yang dapat kita berikan di masa mendatang. Kemampuan bermasyarakat kita kini, menggambarkan kedekatan kita bermasyarakat di masa mendatang. Mengemas indah kehidupan ini kuncinya adalah keikhlasan. Untuk siapa dan untuk apa kontibusi yang disalurkan. Dari sana, terbagi tiga jenis kesejatian mental seseorang. Yakni mental budak, pedagang, dan sang juara. Seorang budak baru bekerja jika dicambuk dan diperintah. Tidak akan ia melakukan sebuah pekerjaan tanpa turun perintah dari atasan. Mental pedagang, harus menunggu datangnya reward dari sebuah usaha yang ia upayakan. Setiap pekerjaan mempertimbangkan untung dan rugi, semata untuk kepentingan pribadi. Namun, sang juara tidak menunggu perintah dan penghargaan semata. Juara berarti meraih sukses kini dan nanti, dunia dan akhiratnya. Sang juara bekerja untuk meraih ridho Tuhannya, dengan ada atau tidaknya perintah dan penghargaan. Tujuannya tidak untuk sebuah penghargaan atas kerja keras namun keridhoan Tuhan atas apa yang ia upayakan.

Mengemas indah kehidupan KKN, bukan untuk mengejar kebutuhan jam program. Hingga melupakan kepentingan bermasyarakat apalagi sengaja meninggalkannya. Mengemas indah kehidupan KKN adalah berusaha menjadi bagian indah dalam kehidupan masyarakat. Menjadi bagian dari mereka berarti memposisikan diri selayaknya warga yang sama. Bagian yang indah akan sulit dilepaskan karena kebaikan dan kebermanfaatannya. Bukan mustahil untuk diraih karena mental sang juara berbuah indah bagi masyarakatnya dan indah bagi Tuhannya.

Semoga kontribusi selama KKN dilipatgandakan di bulan Ramadhan yang mulia, dengan keseimbangan amal ibadah yang tidak luput karena kesibukan menjalankan program.

Selamat berproses menjadi Juara… Bagi yang sedang, akan, dan sudah pernah KKN. ^_^

Advertisements