Sewaktu ulang tahunku yang ke sembilan ibuku memberi sebuah kado istimewa. Kado itu adalah sebuah Al-Qur’an berwarna merah jambu kesukaanku. Kata ibu, “Zahra, kau harus jaga baik-baik hadiah ini ya, Nak. Sekarang Al-Qur’an ini menjadi milikmu dan spesial untukmu. Kau bisa membawanya ke mana pun kau pergi.”

Aku sangat suka hadiah ini. Ukurannya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, sehingga mudah dibawa kemana-mana dan tidak sulit dibaca. Sejak saat itu aku semakin sering membaca Al-Qur’an. Saat ke sekolah, pergi tamasya, ke rumah nenek, dan tempat-tempat lainnya aku selalu membawa Al-Qur’an ku. Ibu berpesan juga bahwa aku harus menjaga Al-Qur’an ku. Harus diletakkan di tempat terbaik dan suci.

Semakin lama aku bersama Al-Qur’an ku yang spesial aku mempunyai hobi baru, yaitu membaca Al-Qur’an. Setiap hari setidaknya aku membaca empat halaman Al-Qur’an.

Suatu hari, aku ingin membaca Al-Qur’an sehabis shalat Maghrib seperti biasa. Namun aku tidak menemukannya. Aku ingat dua hari yang lalu saat di sekolah Al-Qur’an ku masih ada di dalam tas. Namun esoknya hari minggu dan hari seninnya adalah hari libur nasional. Sehingga terakhir kali aku membaca Al-Qur’an ku adalah dua hari yang lalu.

Aku sudah mencari ke dalam tas berulang kali. Di kamar ku pun tidak ada, di seluruh tempat di rumah aku tidak berhasil menemukannya. Lalu aku mengadu pada ibu. Hingga aku tidak bisa menahan tangis karena kehilangan Al-Qur’an yang spesial ibu berikan.

“I… Ibu… maafkan Zahra sudah menghilangkan Al-Qur’an dari I… Ibu… Zahra sudah lalai menjaganya,” aku pun meminta maaf sambil menangis sesenggukan.

Namun ibu tidak marah, beliau mengusap air mataku menggunakan ujung mukenahnya.

“Sudah, sudah, anak manis. Kalau menangis nanti manisnya hilang. Yuk kita cari lagi. Sambil berdoa Alloh akan mengembalikan Al-Qur’an itu kalau masih rezeki buat Zahra.”

Kemudian aku dan ibu mencari lagi bersama-sama. Sewaktu sedang mencari di ruang bermain, ibu melihat sebuah benda mengilap berwarna merah muda. Ibu terlebih dahulu menyisihkan beberapa bonekaku yang berada di atas benda itu. Setelah terlihat jelas, ternyata itu adalah Al-Qur’an ku. Bahagia sekali rasanya dapat melihat kembali Al-Qur’an kesayanganku. Aku merasa bersalah karena tidak meletakkannya di tempat yang baik. Aku teringat pula sempat langsung meninggalkan Al-Qur’an ku, karena diajak temanku bermain selama libur seharian.

Sebelum lamunanku sempat buyar, ibu berjalan mendekat ke arahku. “Ini, Nak. Setelah ini jaga dengan lebih baik, ya. Ibu tahu Zahra anak yang dekat dengan Al-Qur’an. Satu hal yang harus Zahra tahu, Al-Qur’an itu makhluk pencemburu, Nak.”

“Makhluk pencemburu, Bu? Apa maksudnya itu?” tanyaku tak mengerti.

Mata ibu menyipit, senyum manisnya mengembang, sambil menjawab, “Iya, makhluk pencemburu. Jika suatu kali kita menjauhinya karena kesibukan dunia, Al-Qur’an akan lebih menjauhi kita. Zahra enggak mau dijauhi Al-Qur’an kan?”

“Enggak mau, Bu… Zahra takut dijauhi Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an bekal terbesar kita masuk syurga Alloh kan, Bu?”

“Zahra anak yang cerdas. Ibu bangga padamu, Nak. Jaga baik-baik hubungan kita dengan Al-Qur’an ya, Nak. Sini anak manis ibu peluk.”

Di dalam pelukan ibu aku berjanji akan menjaga Al-Qur’an yang spesial ini hingga aku besar. Aku tak akan membuatnya cemburu lagi.

Cernak pertama sejak cernak terakhir saat masih kelas 5 SD. Alhamdulillah menemukan genre favorit baru ^_^ Menulis cernak ternyata penyegaran yang baik bagi otak, dan sarana belajar sederhana dari ketulusan anak-anak.

Bobosan, 18 Ramadhan 1433

Advertisements