(Featured Image: Musholla Teknik UGM)

                Tahun 1945 menjadi babak baru bagi terciptanya perdamaian dunia yang ditandai dengan berakhirnya Perang Dunia II. Sebelumnya, kehidupan umat manusia berada dalam cengkeraman rasa takut dan gusar dalam kondisi perang tak berkesudahan. Kini, perang konvensional terbesar dunia tersebut tinggal sejarah, namun perang yang lebih berbahaya muncul dalam wujud berbeda. Perang pemikiran. Di mana umat manusia dijejali pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan hati nurani, namun sangat memanjakan hawa nafsu. Perang ini yang berpotensi menjadi cikal-bakal kehancuran lebih besar karena dampaknya tidak hanya pada kehancuran fisik tetapi juga batin yang mengendalikan setiap perilaku manusia.

                Amat beragam cara-cara para oknum yang menyuburkan berkembangnya perang pemikiran di masyarakat dewasa ini. Mulai dari upaya westernisasi, sekularisasi lewat industri musik, penunggangan kepentingan media dengan orientasi materi, hingga modus pengumpulan harta berkedok agama. Seperti isu yang merebak beberapa minggu terakhir, media didominasi pemberitaan seputar  ‘pencucian otak’ dan Negara Islam Indonesia (NII). Dampaknya luar biasa, berbagai pihak langsung alergi terhadap simbol-simbol Islam. Tak hanya itu, beberapa pengelola perguruan tinggi sudah ada yang mengeluarkan larangan terhadap pergerakan lembaga dakwah di kampus.

                Isu NII telah berkembang menjadi momok siang bolong di tengah ketenangan menjalankan perintah agama bagi umat Islam Indonesia. Berita penculikan, pemerasan harta, serta cuci otak dalam proses bai’at NII hampir ditayangkan setiap hari dalam layar kaca dan media cetak harian. Setiap orangtua semakin ketat mengawasi tingkah laku anak mereka dan mewanti-wanti setiap kali sang anak berkegiatan di luar rumah. Layaknya sihir yang bereaksi dalam sekejap, isu NII telah memunculkan sikap paranoid masyarakat terhadap segala bentuk kegiatan berbau Islam tanpa menelaah benar dan salah.

            Kancah pergerakan lembaga dakwah kampus pun tak lepas dari imbasnya. Beberapa kali berita di televisi mengeluarkan statement bahwa lembaga dakwah kampus berpotensi menjadi basis pergerakan NII. Ditambah lagi dalam dialog kenegaraan dengan tema Modus Baru Teror Bom dan Stablitas Daerah pada 24 April lalu, Sidney Jones sempat mengutarakan pernyataan kontroversial bahwa ROHIS adalah gerbang masuknya para teroris. Pernyataan pengamat terorisme dari Crisis Group International tersebut ditentang keras oleh mantan presiden PKS, Hidayat Nur Wahid. “Sidney Jones jangan asal bicara dan menghadirkan teror kepada ROHIS. Bahkan kehidupan di sekolah yang tadinya bagus, hubungan antara guru dan murid bagus, sekarang (gara-gara Sidney Jones) bisa saling mencurigai,” ungkap Hidayat Nur Wahid.

Isu NII memang tidak mungkin berhubungan dengan kegiatan ROHIS maupun Lembaga Dakwah Kampus. Kegiatan-kegiatan LDK bertujuan menciptakan lingkungan kampus yang lebih Islami sesuai syariat jauh bertentangan dengan praktik-praktik penyimpangan agama yang dilakukan NII. Gerakan yang mengatasnamakan Negara Islam Indonesia ini telah banyak memberi pengaruh terhadap distorsi pemahaman ajaran Islam. Masyarakat yang terserang Islamophobia pun mulai bermunculan. Hingga tidak sedikit kemungkinan mahasiswa yang mulai menjauhi kegiatan-kegiatan dakwah kampus.

Atas pencorengan nama Islam tersebut, Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) pada 24 April lalu melaksanakan Rakernas ke-V di Malang yang dihadiri Lembaga Dakwah Kampus (LDK) seluruh Indonesia. Merasa perlu menyikapi isu-isu yang berkembang di kampus dan masyarakat, BKLDK mengeluarkan pernyataan yang sebagian di antaranya adalah sebagai berikut :

  1. Menyerukan kepada civitas akademika kampus, khususnya mahasiswa agar tidak terpancing dangan isu-isu negatif terhadap perjuangan Islam di kampus dan masyarakat.
  2. Menyerukan kepada aktivitas dakwah kampus agar tetap teguh, sabar, dan istiqomah memperjuangkan syariah dan Khilafah sesuai dengan metode Rasulullah SAW, yaitu bersifat pemikiran (intelektual) dan tanpa kekerasan.
  3. Menyerukan kepada ummat Islam agar bersatu melawan propaganda negatif terhadap Islam.

Kampus Islami merupakan cikal bakal yang potensial bagi proses meraih kembali kejayaan peradaban Islam. Di mana para kaum intelektual muda calon penerus tangkup pemerintahan ditanamkan pemahaman yang kaffah tentang Islam. Di sinilah peran penting lembaga dakwah kampus sangat dibutuhkan. LDK dengan sederatan kegiatannya di lingkungan mahasiswa berusaha mendekatkan civitas akademika kampus kepada nilai-nilai Islam. Tanda-tanda keberhasilan gerak dakwah tersebut di antaranya penerapan tradisi kejujuran di setiap lini masyarakat kampus, integralisasi pengetahuan yang didapatkan di ruang kuliah dengan kandungan al-qur’an, serta lulusan-lulusan universitas yang menyadari peran penting berdakwah kepada masyarakat luas kelak.

Sejarah Islam pun mencatat bahwa peradaban Islam yang pernah dialami pada zaman kekhalifan dahulu diiringi dengan keunggulan kaum muslimin dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Para ahli yang sekaligus alim ulama pada zaman itu mengetahui benar urgensi keselarasan antara ilmu agama dan Iptek. Pada capaian harmonisasi antara kedua hal inilah kaum muslimin dapat dipandang dunia internasional dan Islam dianggap sebagai agama yang dinamis.

“Barangsiapa menempuh suatu jalan yang padanya dia mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan dia menempuh jalan dari jalan-jalan (menuju) jannah, dan sesungguhnya para malaikat benar-benar akan meletakkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu, dan sesungguhnya seorang penuntut ilmu akan dimintakan ampun untuknya oleh makhluk-makhluk Allah yang di langit dan yang di bumi, sampai ikan yang ada di tengah lautan pun memintakan ampun untuknya…”  (HR. Abu Dawud no.3641, At-Tirmidziy no.2683, dan isnadnya hasan, lihat Jaami’ul Ushuul 8/6)

Namun apa jadinya jika para ahli di bidang Iptek tersebut tidak memiliki cukup bekal tentang pemahaman agama? Hasilnya adalah kaum intelektual sekuler atau pun atheis yang ilmunya digunakan untuk perjuangan hal-hal selain Islam, yang berpeluang membawa dunia kepada lubang kehancuran. “Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim yang Allah menjadikan ilmunya tidak bermanfaat.” (HR. Al-Baihaqi)

Dengan hadirnya LDK, akan menghindari peluang-peluang buruk yang demikian. Para Akitivis Dakwah Kampus dibentuk agar memiliki karakter muslim yang selalu mengedepankan syariat Islam. Nilai keteladanan sebagai seorang da’i pun digodok agar menyebarkan syiar keindahan Islam bagi mahasiswa lain dan lingkungan sekitarnya. Berbeda 180 derajat dengan gerakan sesat NII yang dikabarkan selama ini di mana nilai-nilai syariat telah banyak ternodai oleh pemahaman yang mereka selewengkan.

Justru pembekalan diri yang paling mudah agar tidak terseret ke dalam lubang hitam aliran sesat semacam itu saat ini adalah lebih mendekatkan diri kita kepada kegiatan-kegiatan LDK. Mengikuti setiap kajian yang digelar akan menambah pemahaman akidah dan perbendaharaan ilmu agama. Tema kajian kontemporer pun sangat baik untuk meraih cita-cita menjadi cendekiawan muslim yang mengembalikan peradaban mulia dahulu, Islam yang menyeluruh sebagai rahmatan lil ‘alamin. Pun jangan cepat termakan isu yang berkembang di banyak media komersial karena dibaliknya terkadang terselubung konspirasi dan kepentingan pribadi. Tidak seperti media terbitan LDK yang senantiasa merujuk kepada kebenaran dan dikembalikan kepada al-quran dan as-sunnah. Yakinlah media usungan LDK layak menjadi konsumsi sehat yang menambah khasanah cakrawala pengetahuan serta kebenaran fakta dibalik isu yang diputarbalikkan media komersial.

Tetap berprasangka baik kepada bentuk-bentuk pergerakan Islam yang murni. Jangan menjadi pribadi merugi dikarenakan hasutan “penghitaman” Islam oleh masyarakat yang sekadar mengatasnamakan Islam. Padahal di balik itu tersimpan modus busuk dan rencana besar memecah-belah umat muslim yang mulai dianggap lemah. Kuatkan upaya berpegang teguh kepada tali agama Allah dan lantangkan semangat kebanggaan bahwa aku adalah seorang muslim!

Advertisements