Ingin saya mulai tulisan ini dengan sebuah anekdot. Rasulullah SAW yang diciptakan sebagai teladan terbaik seluruh manusia tidak lepas dari sifat “cair”, dalam arti kadangkala beliau senang menyegarkan suasana dengan bercanda. Nabi yang mulia tidak pernah berkata kecuali perkataan yang benar. Seperti lontaran canda beliau yang diriwayatkan Tirmidzi satu ini. Kekasih Allah ini pernah berkata kepada seorang wanita tua, “Tidak ada wanita tua yang masuk surga”. Cukup “kasar” apabila ditangkap oleh telinga “awam”. Kemudian beliau mengucapkan ayat, “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan”.   ^-^

Sudah menangkap hikmah dari penggalan riwayat tersebut? Pesan dalam kisah wanita tua itu bukan sekadar kehormatannya dapat berinteraksi dengan Rasulullah SAW, atau sebatas teladan tutur kata Rasulullah yang tidak pernah mengingkari kebenaran. Mari meluaskan pandangan berpikir kita pada ibrah yang terselubung di baliknya. Sebelumnya ingat kembali QS. Al-Waqi’ah : 22-24, “Dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah. Laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan.” Apa korelasi ayat tersebut dengan anekdot sang wanita tua? Ada kesamaan yang dapat ditangkap jelas, keduanya mengungkapkan bahwa surga dipenuhi oleh bidadari-bidadari jelita yang muda dan terjaga. Sebuah balasan amal kebaikan yang sangat diidamkan kaum adam. Bagaimana sikap kita kaum hawa mengimani janji imbalan bagi penghuni surga tersebut? Tidak ada wanita normal di dunia ini yang benar-benar membutuhkan sosok seorang bidadari, secantik dan sesempurna apa pun.

Kitalah bidadari itu. Kita pula yang telah dianugerahi kehormatan oleh Sang Maha Pencipta untuk berpeluang menempati sandaran-sandaran dipan dan permadani indah mendampingi pasangan pujaan yang telah menenggelamkan kehidupan dunianya dalam cahaya iman. Saya yakin, bukan itu motivasi terbesar kaum muslimah mengharap keabadian hidup di jannah-Nya kelak. Kembali kepada Rabb dan menjalani kehidupan akhirat yang diridhai Allah cukuplah menjadi tujuan. Namun Allah SWT adalah sebaik-baik pemberi balasan, tak mampu terhitung “bonus” yang Ia siapkan bagi hamba yang taat menjaga cahaya iman dan menghujamkan syahadat menjadi landasan amal-amalnya selama hidup di dunia fana.

Jika surga diibaratkan sebagai sebuah kamar, maka akan ada banyak pintu untuk menuju kamar itu. Satu pintu memiliki kunci yang berbeda dengan pintu lainnya. Sebagai gambaran dalam kepala saya, pintu pertama kuncinya dipegang oleh manusia yang menjaga sholatnya, pintu kedua untuk manusia yang memelihara sedekahnya, pintu ketiga dapat dimasuki oleh orang-orang yang ahli puasa, dan seterusnya. Bagi muslimah, kunci itu hanya diberikan bagi dia yang memelihara kemaluannya, menundukkan pandangannya, dan menjaga ketaatannya. Dalam hadits Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa godaan terberat bagi seorang lelaki adalah wanita. Secara fitrah memang wanita memiliki aurat yang menggoda kaum lelaki. Betapa berat amanah yang dititipkan Rabb kepada kita. Dapat kita anggap para muslimah sedang mengemban sebuah misi besar, misi menjadi wanita yang mampu meredam hasrat kaum pria dibalik fitrah kecantikan yang dikaruniakan kepada kita. Dan kecantikan yang maksimal adalah saat akhlaqul karimah terpancar dari balik kesederhanaan fisik kita.

Tidak bisa disangkal, bahwa muslimah sangat kaya dengan karakter. Muslimah mewarnai dunia dengan warna-warni sikap dan kebiasaan yang beragam. Pernah bertemu dengan seorang ukhty yang busananya selalu hitam dari ujung kepala sampai kaki? Atau teman periang yang rutin mengikuti kajian dengan warna terang jilbabnya selalu beragam? Ada pula teman kita yang sangat peduli dan baik hati, jarang melihatnya tidak tersenyum sejarang bertemu dengannya di acara kajian keislaman, namun sering mengunjungi salon langganan dua mingguan. Muslimah selalu beragam, namun apakah Islam menerima keberagaman itu sebagai konsekuensi kodrat sifatnya yang mudah berubah warna? Warna-warni dengan rentang frekuensi yang sangat panjang. Dari warna semangat kezuhudan hingga warna gairah modernitas. Seperti contoh ukhty berbusana hitam-hitam dan ukhty yang hobi berganti gaya rambut dua-mingguan. ^-^

 

Islam mengaturnya dalam sebuah identitas. Tanda pengenal yang merupakan simbol kemuliaan seorang muslimah. Di mana akan timbul rasa aman yang ajaib merasuk melalui sela pori-pori tanda pengenal itu. Hijab atau lebih dikenal jilbab. Keduanya punya arti agak berbeda, hijab yang berarti penutup/pembatas memiliki makna yang lebih dalam daripada jilbab yang memiliki kedekatan arti dengan sekadar kerudung di kepala. Identitas ini bisa dibilang kunci pertama seorang muslimah menaklukkan pintu surga. Sekaligus kunci utama bagi muslimah menjalani hari-harinya dalam bingkai taqwa. Izinkan saya sedikit bercerita, ketika Allah menurunkan perintah berhijab dalam surat An-Nuur : 31, seluruh kaum pria di Madinah langsung menyebarkan berita itu kepada istri-istri mereka, anak-anak perempuan mereka, dan saudara-saudara perempuan mereka. Apa yang dilakukan para muslimah Anshar mendengar hal itu? Seketika itu mereka langsung menyobek kain-kain yang ada di rumah mereka dan menutupi seluruh tubuh mereka, sebagai wujud kepatuhan pada Kitabullah dan keimanan mendalam pada turunnya wahyu Allah. Dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir, setelah peristiwa itu kaum muslimah Anshar berada di belakang Rasulullah dengan mengenakan kerudung seperti ada burung-burung gagak yang hinggap di atas kepala mereka (mengenakan busana serba hitam, red). Begitu taat mereka mendapati perintah menutup aurat, sebagai wujud ketundukan para muslimah itu kepada nilai-nilai syariat. Jangan tanya kondisi kita sekarang, berapa banyak jilbab dan kerudung beragam rupa yang terlipat rapi di dalam lemari, menunggu dikenakan pemiliknya yang cantik. Saya yakin lebih dari satu, dan itu sangat cukup, dibandingan kaum muslimah Anshar yang menggunakan kain sarung sebagai hijab pertama mereka.

Kembali konsentrasi pada hal yang sempat saya ungkapkan di atas, tentang misi yang sedang kita emban. Sering mendengar ungkapan “berpakaian tetapi telanjang”? Sebuah sindiran keras bagi kaum wanita yang belum sanggup mengelola penutup auratnya sesuai syariat. Sengaja saya memilih diksi “belum sanggup” karena sesungguhnya mereka bukan “belum mampu” mengenakan identitas kehormatan tersebut, namun keberatan di dalam batin mereka lah yang memunculkan rasa belum sanggup tunduk pada perintah Rabb dengan sempurna. Apakah tidak perlu diragukan letak ketauhidannya apabila keberatan masih menjadi alasan? Maka, pemikiran pun mengembang, bahwa sekadar identitas saja tidak cukup menyukseskan misi yang diemban. Tindakan lahiriah yang bersifat fisik memiliki sumber lebih dalam yakni kesadaran yang sifatnya batiniah. Seperti “mindset” yang terimplementasi secara jujur ke dalam perbuatan dan kebiasaan. Pun hijab yang menutupi seluruh tubuh tak akan sempurna tanpa hijab yang menjaga akhlaqul karimah seorang muslimah. Masih sering menemui muslimah berjilbab masih seperti “lemper”? ^-^ Perlu bahasan yang panjang dan insya Allah jadi bahan untuk tulisan level 2 saya tentang jilbab (yang ini level 1 hehe, red). Hijab lahir dan batin, ada dua hijab yang harus dijaga kerapatannya oleh kita. Yang mutlak menjadi simbol kemuliaan sebagai bidadari dunia, mengantarkan seorang muslimah menjelma sebagai “mutiara yang terjaga” di syurga abadi.

 

Misi ini menanti, apa kita masih punya banyak waktu meragukan kewajiban berhijab? “Cukuplah kematian menjadi nasihat terbesar”. Tinggalkanlah keraguan, ganti dengan tekad yang menghujam mewujudkan iman dengan patuh-tunduk kepada perintah-Nya. Muslimah bukanlah makhluk lemah yang rela menggadaikan syariat hanya karena alasan berkurangnya kecantikan, belum datang hidayah, atau beribu alasan lain yang syetan ciptakan untuk menggoyahkan kekaffahan (kemurnian, red) beriman.  Toh, wanita tua yang (maaf) dipenuhi keriput seperti dalam anekdot pun akan menjelma menjadi bidadari jelita. Karena kehidupan yang sesungguhnya adalah nanti setelah mati. Modal kecantikan bidadari syurga hanya satu, yakni ketaqwaan pada Rabb-nya yang harus kebal dari bujuk rayuan duniawi. Salam semangat perbaikan diri!

-diiringi jatuh cinta yang “parah” kepada saudari seimanku. punya cita-cita kita bisa reunian dan liburan tak terbatas waktu di syurga-Nya nanti. ditulis di sela-sela waktu mengerjakan pra desain office yang disuruh Bu Medy. Semoga cukup bermanfaat. ^-^ –

Advertisements