Ada Sesuatu yang lebih dekat denganmu daripada dirimu. Ada Kekuasaan yang menggenggam lahir batinmu, sama sekali itu bukan jiwa atau ragamu. Kau bagai seorang asing bahkan dalam hati dan pikiranmu jika dibanding Yang Maha Mengetahui.

Pernahkah kita melupakan hal itu? Bahkan lebih berbahaya, belum menyadari kedekatan Sesuatu yang Maha Menguasai itu? Sejenak coba rasakan denyut nadi di leher Anda. Begitu kuat, begitu dekat? Bahkan Allah SWT lebih dekat dengan kita daripada denyutan itu.

Coba rasakan kembali, denyutan itu, sebuah indikator yang sepantasnya kita balas dengan rasa syukur atas anugerah kehidupan dan merasakan nikmat-Nya tidak terbatas. Di pagi hari, sejak terbangun dari lelap malam kita sudah diliputi nikmat terbesar. Bangkit dan berusaha di siang hari, hingga terjaga di malam hari, kita pun dalam naungan nikmat yang terbesar. Apakah nikmat itu? Dari dasar hati, yakinlah dengan jawaban, nikmat iman dan Islam.

Pertanyaan lebih lanjut pun muncul, sudahkah kita meyakini iman dan Islam yang kita yakini sebagai nikmat terbesar? Sangat sederhana, jawabannya terimplementasi dalam sikap dan perbuatan kita sehari-hari. Pribadi yang menjawab “sudah”, artinya cukup yakin bahwa tidak ada pilihan lain baginya kecuali melakukan hal-hal baik dan bermanfaat dalam 24 jam yang bergulir. Menjauhkan segala bentuk kesia-siaan mengisi waktu-waktunya, beraktivitas dengan tujuan ridho Allah SWT semata. Yang dalam hati menjawab “belum”, mari saya ajak Anda menyingkap keindahan di balik sebenar-benarnya nikmat terbesar ini.

Islam rahmatan lil ‘alamin. Sebuah konsep peran eksistensi Islam yang diucapkan oleh Allah SWT langsung dalam al-Qur’an. Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam mengajarkan kebaikan, keramahan, cinta terhadap sesama manusia dan lingkungan. Bukan dengan aturan kosong yang mengikat, tapi syariat yang sesuai fitrah untuk kesejahteraan. Bukan pilihan-pilihan mengambil tindak kekerasan, jusru sistem hidup yang sangat mencintai kedamaian. Dengan keyakinan yang menghujam, berpikirlah sebelum terpengaruh orang-orang yang mengeruhkan kemurnian Islam dengan kekerasan.

Bercermin pada masa-masa kejayaan Islam, saat kekasih Allah sekaligus tauladan kita masih memimpin para sahabat, Islam dijadikan sebuah sistem yang mengatur seluk-beluk kehidupan mereka. Begitu pula saat zaman khulafaur rasyidin masih bertahta, hingga kerajaan-kerajaan Islam sebelum abad ke-18. Saat semua berpegang teguh pada tali agama Allah, dan tanpa ragu menerapkan Islam yang menyeluruh sebagai sistem kehidupan, rahmat itu terasa begitu dalam. Berikut beberapa bukti kejayaan Islam masa-masa itu:

1.      Tingginya kemampuan literasi. Buku menjadi penting sebagai inspirasi kemajuan peradaban masa depan, peradaban Islam dahulu telah menjadi peradaban terdepan yang ditopang oleh buku.

Pada abad ke-10 misalnya, di Andalusia sudah terdapat 20 perpustakaan umum. Perpustakaan Umum Cordova, salah satu diantaranya, saat itu memiliki tidak kurang dari 400 ribu judul buku. Perpustakaan Umum Tripoli di Syam —yang pernah dibakar oleh Pasukan Salib Eropa— bahkan mengoleksi lebih dari 3 juta judul buku, termasuk 50 ribu eksemplar al-Quran dan tafsirnya.

Memandang hal ini, Bloom dan Blair menyatakan, “Rata-rata tingkat kemampuan literasi dunia Islam di abad pertengahan lebih tinggi daripada Byzantium dan Eropa. Karya tulis ditemukan di setiap tempat dalam peradaban ini.” (Jonathan Bloom & Sheila Blair, Islam – A Thousand Years of Faith and Power, Yale University Press, London, 2002, p-105).

2.      Lahirnya banyak ilmuwan besar dan karya-karya fenomenal. Dari kemampuan literasi yang sangat tinggi, dimulailah cikal-bakal lahirnya ilmuwan-ilmuwan muslim dengan karya yang mengagumkan. Sebut saja contohnya Ibnu Sina, seorang pakar kedokteran yang sebelumnya merupakan penjaga dan pengawas perpustakaan. Al-Idrisi, seorang pakar geografi. Ia dikenal oleh orang-orang Barat sebagai seorang ahli geografi. Dialah yang pertama kali memperkenalkan teknik pemetaan dengan metode proyeksi, suatu metode yang baru dikembangkan oleh ilmuwan Barat, Mercator, empat abad kemudian. Satu lagi penyumbang peradaban dunia, Jabir Ibn Hayyan, ahli ilmu kimia yang diakui oleh dunia. Ide-ide eksperimennya sekarang lebih dikenal sebagai dasar untuk mengklasifikasikan unsur-unsur kimia, utamanya pada bahan metal, non-metal dan penguraian zat kimia.

Selama ratusan tahun Islam pernah menguasai dunia dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan peradaban yang tinggi. Bahkan jika belajar dari sejarah, perkembangan kaum Barat yang kita rasakan sekarang berhutang pada kemajuan peradaban Islam dahulu.

Janji Allah SWT tentang kembalinya kejayaan Islam. Bahwa dalam Q.S. An-Nur: 55 Allah SWT berjanji kepada hamba-hamba yang beriman, akan mengembalikan kejayaan Islam dan mereka yang berkuasa di muka bumi. Sesungguhnya ada lima masa perjalanan Islam di bumi Allah yang kita tumpangi, yakni masa kenabian, masa para khalifah, masa kerajaan-kerajaan Islam, masa Mulkan Jabriyyan (masa yang muram bagi umat Islam, inilah masa sekarang), dan masa berulangnya kejayaan Islam. Entah kapan masanya kebangkitan kejayaan Islam itu, hanya Allah SWT yang tahu. Yang jelas apakah yang sudah kita persiapkan untuk menyambutnya? Ataukah kita termasuk orang-orang yang terlewatkan tanpa kontribusi meraih kejayaan kembali? Mari koreksi kembali ke-Islam-an kita. (ahs)

Advertisements