The Power of Muslimah

Tentang kemuslimahan dan korelasinya dengan dakwah kampus. Tema yang mengurat nadi dengan aktivitas sehari-hari saya, bukan berarti saya insan yang paham dan sudah mengamalkan maksimal dalam gerak langkah. Namun, inilah sebuah penuturan yang diniatkan untuk membagi rasa tentang ukhuwah dalam dakwah yang tidak pernah habis rasa manisnya, memunculkan ketenangan seperti pita pelangi tak berujung di dalam hati, persaudaraan seiman atas nama cinta dan ketaatan kepada-Nya.

Suatu hari seorang ukhti dilanda kegundahan dalam batinnya, antara mau-tidak mau hanya untuk membubuhkan sebuah tanda tangannya saja. Tanda tangan pada formulir pendaftaran suatu lembaga dakwah kampus yang sudah lengkap diisi identitas pribadinya. Baginya tidak bisa diputuskan sepintas lalu.

Semua keputusan yang ia ambil pastilah akan diminta pertanggungjawabannya, baik itu pertanggungjawaban di dunia dengan makhluk-Nya maupun di yaumul akhir. Sungguh dalam kedalaman hatinya ukhti itu sangat ingin bergabung dalam jama’ah pengusung dakwah. Merasakan nikmat yang akan ia dapat kelak bersama saudara-saudara semuslim dan dibimbing menjadi pribadi lebih berkualitas dalam lingkungan yang kental dengan atmosfer Islam. Mencapai titik kesalihan hakiki, insya Allah. Pertimbangan yang memberatkannya adalah kecemasan akankah ia sanggup berbagi waktu dengan jadwal kuliah super padat dan pengalamannya di lembaga kerohanian yang nol, alias belum pernah berkecimpung dalam jama’ah dakwah apa pun. Diragukan oleh bayangan amanah bertubi yang menjumpainya di jalan ini nanti. Namun, motivasi dari kedalaman batinnya terlalu kuat untuk dilawan. Akhirnya ukhti itu pun memantapkan hati mengisi kolom tanda tangan formulir itu dan menaruhnya di bagian paling atas tumpukan formulir lain yang telah diisi oleh pendaftar-pendaftar sebelum dia.

Contoh kasus ukhti di atas sering dijumpai pada kader-kader baru sebuah lembaga dakwah. Calon mujahid atau mujahidah Islam yang sudah hanif namun belum mengetahui kesadaran tarbiyah. Artinya, sudah memiliki sikap kecenderungan kepada agama Allah dan kukuh di dalamnya, namun belum tersadarkan untuk berusaha membina kaum muslimin lainnya ke arah Islam yang haq, mengajak mereka mengamalkan hukum-hukum Islam, dan berhias diri dengan keutamaan dan akhlak Islam. Ini bukanlah suatu masalah, justru tahap pertama yang harus dicapai suatu lembaga dakwah. Yakni terwujudnya kesalihan pribadi para penyiar dakwah tersebut barulah ditularkan untuk mencapai sasaran kesalihan sosial di lingkungannya. Jadi teringat, sebaris kalimat yang menempel selalu di jaket almamater KMT tercinta, “Bersama Menuju Kesalihan Pribadi dan Sosial”. Semoga kalimat itu juga akan terpatri selalu dalam hati-hati kita.

Fokus kembali kepada sebuah urgensi dakwah kemuslimahan. Seorang muslimah, atau dalam hal ini perempuan, memiliki derajat yang dimuliakan dalam Islam. Tidak dibedakan derajatnya dengan kaum adam, kecuali dari tingkatan amal shalih dan ketaatannya kepada Allah.

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang berserah diri, laki-laki dan perempuan yang beriman, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bershadaqah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang menjaga kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah… Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab: 35)

Bahkan sesuai yang telah disabdakan Rasulullah SAW bahwa wanita dilambangkan sebagai tiang negara. Hancur atau majunya suatu negara tergantung dengan kontribusi serta kondisi wanita di dalamnya. Seperti jasa yang tak terbalas dari ibu kita, madrasah pertama tentang nilai-nilai kehidupan yang lebih dulu dicicipinya. Ingat kembali masa kecil kita, saat kelincahan jiwa anak-anak membuat kita tidak sengaja menumpahkan kuah sayuran ke baju, ada ibu yang sabar membersihkan semua. Mungkin kelak ada saat bagi kita ketika ibu telah menua, kitalah yang harus turun memandikannya. Ketika kita tidak sadar menertawakan ibu saat ia menanyakan masalah kecil tentang teknologi terbaru, kemudian dibalas dengan senyum perihnya mengingat dahulu, hanya dialah yang dengan sabar menjawab setiap ‘mengapa’ yang kita ajukan. Itulah sifat lahiriah keistimewaan wanita, terutama seorang ibu, terus sabar dan tanpa lelah merawat serta menjaga hingga anaknya berkembang menjadi pribadi unggul nan membanggakan. Hingga Rasulullah meninggikan ibu tiga tingkat di atas ayah.

Yang demikianlah salah satu tujuan pencapaian dalam forum dakwah kemuslimahan. Untuk menyiapkan kader akhwat tangguh yang harus paham tentang hak dan kewajibannya di masa depan. Harapannya dalam pengoptimalan peran muslimah tersebut akan tercipta mujahidah-mujahidah yang paham dengan peran-peran khususnya, yakni:

  1. Taat kepada Allah, menjalankan rukun Islam dan rukun Iman selalu dalam perjalanan hidupnya.
  2. Menyadari peran sebagai bagian dari lingkungannya, muslimah pun adalah makhluk sosial yang harus menjaga dan menjalin hubungan baik silaturahmi.
  3. Menuntut ilmu, sebagai pengembangan dari potensinya yang dikaruniakan Allah kepada setiap manusia. Agar muslimah mampu beraktivitas secara profesional (itqan) dan dapat ikut mendukung kebangkitan umat.
  4. Menolong agama Allah dengan potensi dakwahnya.
  5. Menjaga amar ma’ruf nahi munkar.

Jika diumpamakan dakwah itu adalah sebuah lingkaran, maka kepentingan dakwah muslimah adalah setengah lingkaran tersebut. Dakwah kemuslimahan harus punya porsi yang sama, untuk ditata, dikelola, dan diorganisir secara teratur dengan manajemen yang baik. Dalam sebuah wadah pergerakan yang memiliki kepemimpinan yang kokoh dari seorang kader terbaik kelompok muslimah tersebut.

Keterlibatan seorang muslimah dalam lembaga dakwah kampus, berada pada irisan perlambangan lingkaran tersebut. Dimana ia menempati dua zona berbeda, lembaga dakwah secara umum yang di dalamnya ikut terlibat kaum ikhwan, dan satu lagi lembaga khusus kemuslimahan. Di dalam lembaga dakwah yang umum pun muslimah tetap memiliki peran dan bagian-bagian spesifiknya, tentu yang membutuhkan keahlian serta kelebihan khusus muslimah, seperti jabatan sekretaris dan bendahara yang perlu keuletan atau pelayanan umat yang khusus mengurusi kebutuhan jamaah perempuan.

Sedikit berbalik kepada kisah ukhti yang disampaikan di awal tadi. Allah telah membulatkan tekadnya karena niat ikhlas ingin menggabungkan diri dalam lingkaran dakwah di jalan Allah. Ia diterima dengan baik dalam lembaga dakwah tersebut. Dirangkul dan dibimbing perlahan dalam proses adaptasi gerak dakwah. Saking ‘kuper’nya ukhti ini dengan organisasi kerohanian, tidak jarang ia bertemu dengan istilah-istilah bahasa arab yang memutar otaknya. Kali pertama ia diajak syuro (rapat koordinasi) misalnya, sang ukhti yang belum paham esensi menggunakan hijab menganggapnya hal aneh luar biasa. Walaupun lambat laun dalam diam ia merasakan sendiri manfaat yang muncul dengan dibentangnya kain lebar pembatas akhwat dan ikhwan itu. Pun saat ada hal-hal penting mengenai kelembagaan yang harus dibicarakan langsung dengan seorang ikhwan, sang ukhti mengira ada kelainan dengan orang yang berbicara di depannya. “Kenapa, ya si akhi tadi? Bicara dengan saya seperti orang juling saja?” Bahkan sempat terbersit pertanyaan semacam itu dalam hatinya. Maklumlah, baru pertama baginya. Barulah ia sadar setelah beberapa kali bicara dengan seorang ikhwan di lembaga dakwahnya, bahwa menjaga pandangan itu harus, arah pandangan menyimpang kurang lebih 10˚ ke samping mata lawan bicaranya. Bukan sekadar pandangan, lebih dari itu hal ini dimaksudkan untuk penjagaan hati yang ringkih akan kesucian.

Masih panjang daftar hal-hal baru dan terasa asing bagi ukhti yang masih beradaptasi ini. Namun, tak pernah sekali pun ia menganggapnya sebagai beban apalagi alasan untuk berhenti dan berbelok dari  jalan dakwah. Karena semakin lama ia menjalaninya, semakin kuat faedah yang tak bisa disangkal lagi. Contoh ringannya, kebijakan tidak tertulis bahwa para akhwat harus berada di rumah selepas waktu maghrib, bukan untuk mengekang apalagi diskriminasi hak untuk beraktivitas bagi kaum akhwat. Secara tidak langsung penegasan ini diberlakukan untuk memuliakan kita, saudariku. Sebagai upaya pencegahan akan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi dan penjagaan bagi kehormatan kita. Tentu ada perbedaan di mata kaum adam antara perempuan yang sering keluar malam dengan yang menjaga dirinya tetap berada di rumah dalam koridor etika syar’i.

Lembaga dakwah muslimah harus mampu menetralisir segala paradigma yang salah tentang muslimah. Maksudnya adalah, meluruskan paradigma muslimah agar tetap sejalan dengan fitrah yang dimilikinya. Berbagai pandangan yang salah tentang hakikat seorang muslimah semakin berkembang seiring makin beragamnya pemikiran manusia. Tentang emansipasi yang berlebihan misalnya, justru membuat pilar-pilar yang terbangun dalam sebuah rumah tangga menjadi lemah. Atau pandangan tentang feminisme yang sering mengganggu naluri keislaman kita karena tidak sejalan dengan gaya hidup muslimah semestinya. Tentu salah jika menganggap peran muslimah nantinya hanya sebatas tembok-tembok rumahnya mengemban peran sebagai ibu rumah tangga biasa. Sesungguhnya dibalik itu ada peran yang lebih besar sebagai perempuan pembangun peradaban dan kebangkitan umat.

Sang ukhti yang kita bicarakan tadi, pun rutin mengikuti beragam kegiatan kemuslimahan dalam lembaga dakwahnya. Seperti terjerumus ke dalam jurang keberkahan, serasa dirangkul oleh sayap-sayap malaikat surga, saat ia berkumpul bersama saudari-saudarinnya di sana. Yang selalu mengajak kepada kebaikan, menasihati dalam kesabaran, dan mengingatkan di saat lalai. Yang ia dapatkan melebihi bayangan tertingginya sebelum benar-benar menjalani ukhuwah ini. Seiring proses pemahamannya kepada Islam yang kafah, perubahan itu terlihat nyata. Pendewasaan tingkah-lakunya, kelembutan tutur katanya, bertambah lebar pula jilbabnya mengikuti metamorfosis kepribadiannya menjadi muslimah salihah yang syamil.

Suatu kali, dalam rangka melaksanakan agenda rutin forum kemuslimahannya berupa pengajian  bersama, ukhti itu mendapat giliran menjadi tuan rumah pengajian. Sambutan terbaik untuk saudari-saudarinya ia rencanakan dan persiapkan semaksimal mungkin. Acara dimulai pukul 06.00, dipilih sebagai waktu terbaik mengingat beragam kesibukan para anggotanya. Maka, sang ukhti yang sama seperti mahasiswa kebanyakan -tinggal di sebuah kos-kosan- menyiapkan sajian makanan ringan dan minuman di dapur sejak fajar belum terbit dari peraduannya. Apapun bentuknya, kegiatan bersama keluarga barunya di lembaga kemuslimahan ini terasa sayang untuk dilewatkan. Semuanya mengajarkan hal-hal yang belum tentu didapat di luar atau lembaga dakwah umum, tentang fiqh wanita misalnya. Ia pun dididik lewat pengalaman dan praktik langsung yang mengembangkan potensi muslimah. Dalam kajian kemuslimahan diterapkan tugas bergilir untuk memandu acara, kesempatan yang belum tentu ia dapati di luar forum muslimah. Tidak diutamakan dalam kajian umum, bagi seorang akhwat untuk menjadi pemandu acara.

Di jalan dakwah ini kadang dijumpai onak dan duri. Hambatannya datang dari berbagai penjuru. Ketika timbul penyakit diri, berupa hawa nafsu yang diperturutkan tanpa landasan iman, saat urusan duniawi mendominasi, hingga konspirasi eksternal yang terkadang menginginkan agar cahaya dakwah ini padam. Mujahidah militan yang siap terjaga disaat mengantuk, tetap tersenyum ketika bersedih, dan memberi saat sebenarnya membutuhkan. Pelipurnya ada di hati, saat ikhlas dan keteguhan merajai lewat doa yang bergulir dipanjatkan kepada sang penggenggam hati. Hati di jiwa muslimah shalihah bagai cahaya, sinarnya terang memancar ke luar menentukan karakter pribadinya. Saat hati-hati itu, saat cahaya-cahaya itu bersatu dalam kelambu halus ukhuwah, sinarnya melebihi bintang-gemintang. Hingga tersinari seluruh alam dan peradaban. Keep hamasah, wahai muslimah. Let’s show to the whole world the real power of us! ^^

Maruti A. Husna

… ditulis untuk buku akhir tahun pejuang MO

 

Advertisements